
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 74...
...------- o0o -------...
“Jangan banyak tanya! Oleskan saja pada lukamu!”
“Maksud saya ... luka di pinggang saya ini, Ki,” ujar lelaki ceking itu menjelaskan. “Seingat saya, semalem luka ini belum ada.”
Ki Jarok tidak menjawab secara jelas. Dia hanya berucap tanpa mau balas menatap sorot mata Basri yang terlihat masih kebingungan, “Ada banyak hal yang belum kaupahami tentang dunia gaib, Anak Muda. Nanti, lambat laun pasti kau akan mengetahuinya.”
“Memang, Ki. Termasuk sosok Sukaesih semalam di sana.”
“Huh, itu lagi yang kaubicarakan!”
“Kalau saja Sukaesih benar-benar masih hidup, lantas ... kuburan siapa yang dulu saya gali itu, Ki? Apakah benar kuburan Sukaesih? Lalu mengapa sekarang dia ada di alam lain?”
Ki Jarok mendelik.
“Aku mau cari makan dulu,” kata lelaki tua tersebut seraya bangkit dan bergegas keluar gubuk. “Kalau kau bermaksud pulang, kembalilah ke rumahmu sekarang juga.”
“Ki! Aki belum menjawab pertanyaan saya!”
Dukun tua itu tidak menggubris.
‘Ah, sialan!’ rutuk Basri kesal. ‘Dia tidak mau menjawab. Apakah benar-benar tidak tahu atau ada sesuatu yang sengaja tidak mau dia ungkapkan padaku? Tapi ....’ Dia tidak meneruskan gumamannya. Sesaat mata lelaki ini terbentur pada sesuatu yang tergeletak di atas tembikar. Persis di tempat dimana Ki Jarok tadi duduk-duduk. ‘Apa ini?’ Dipungutnya benda tersebut, lantas diperhatikan dengan saksama. ‘Sobekan kain ....’ gumam Basri, lantas berusaha berpikir dan mengingat-ingat. ‘Ada banyak jenis dan corak kain seperti ini. Salah satunya dimiliki oleh Lastri. Lalu ... mengapa ada di sini? Apa hubungannya Ki Jarok dengan sobekan kain ini? Apakah justru dia yang membawanya ke sini?’
Cepat-cepat Basri memasukkan sobekan kain tersebut ke dalam saku baju pangsinya. Kemudian berusaha bersikap tenang, seolah-olah tidak pernah menemukan apa pun di sana.
__ADS_1
...-------------------- o0o --------------------...
Siang itu, Mbah Jarwo tampak tengah duduk santai di depan rumah usai sepulang dari kebun. Membawa sedikit buah tangan berupa beberapa batang singkong, hasil tanamannya beberapa bulan lalu.
“Siapkan air panas, Bu,” ucap lelaki tua itu sebelum melangkah ke luar hendak mencari angin segar, pada istrinya Emak Sari. “Hari ini, Sarkim akan datang ke rumah.”
“Mau ngobrolin masalah apalagi, Pak? Masih tentang pembongkaran kuburan Sukaesih itu?” tanya Emak Sari dengan tatapan tajam. “Masih belum tuntas juga, ya? Terus urusan Bapak sama si Sadam itu sebelumnya, bagaimana?”
“Memangnya kenapa kalo iya?” Balik bertanya Mbah Jarwo. “Aku ini Kepala Kampung, Bu. Sudah sepantasnya ikut terjun mengurusi hal-hal yang terjadi di masyarakat Kampung Sirnagalih.”
“Terus hasilnya?”
Lelaki tua itu bingung hendak menjawab.
“Sudahlah, Pak,” imbuh Emak Sari kembali. “Lupakan saja. Toh, Juragan Juanda sendiri udah ngelupain masalah itu, ‘kan? Lebih baik, Bapak urusin tuh anak kita, si Abas.”
“Basri?” Tiba-tiba Mbah Jarwo jadi teringat pada sosok anak semata wayangnya tersebut.
“Iya, siapa lagi?” Emak Sari masih menatap suaminya dalam-dalam. “Cobalah untuk berdamai dengan anak itu, Pak. Dia anak kita satu-satunya, lho. Kita berdua, sekarang, udah sama-sama tua. Siapa lagi yang akan nerima kekayaan sawah dan kebun kita, kecuali dia.”
“Cobalah ... beri dia sedikit saja modal,” imbuh Emak Sari melanjutkan ucapannya tadi, “supaya dia punya usaha sendiri. Gak mesti ninggalin si Elas sama cucu-cucu kita itu. Begitu lho, Pak.”
“I-iya, Bu. Nanti aku pikirin itu,” balas Mbah Jarwo sekadar ingin agar Emak Sari tidak lagi membicarakan hal tersebut.
“Kalo gak dari sekarang, kapan lagi, Pak? Inget, lho, umur itu gak ada yang tahu.”
“I-iya, kita bahas itu lagi nanti ya, Bu,” tukas lelaki tua itu kemudian. “Sekarang, Ibu siapin aja dulu air panas buat bikin kopi. Sebentar lagi si Sarkim akan datang. Hari ini aku minta dia ngadep.”
Emak Sari cemberut, lantas berujar, “Ah, Bapak ini. Tiap kali aku ajak ngomong tentang anak, pasti deh berusaha ngelak terus. Bahas inilah ... bahas itulah ... kayak gak ada lagi urusan lain yang lebih penting, selain tentang anak kita, si Abas.”
Mbah Jarwo menarik napas dalam-dalam sejenak, kemudian menimpali, “Iya, Bu. Tadi ‘kan aku udah ngomong, perkara si Abas nanti kita lanjutin obrolannya. Sekarang aku ada urusan lain dulu sama si Sarkim.”
__ADS_1
“Sarkim lagi ... Sarkim lagi,” rutuk Emak Sari kesal. “Terus tentang si Abas kapan?”
Mbah Jarwo mendengkus keras.
“Bu, terakhir beberapa bulan kemarin kita ngunjungin mereka, Ibu lihat sendiri ‘kan bagaimana kehidupan anak kita itu? Menurut Lastri, si Abas sekarang sudah punya kerjaan enak. Gajinya gede. Terbukti ‘kan, di rumahnya sekarang udah punya barang-barang bagus. Dulu-dulu sih boro-boro.”
“Iya, Pak. Tapi ‘kan tetap aja mesti ninggalin mantu ama cucu-cucu kita itu, lho. Kasihan Iyan sama Iyam. Bagaimana kalo tiba-tiba ada apa-apa ama mereka, sementara si Abas lagi gak ada di rumah?”
“Ibu mikirnya terlalu jauh dan ngada-ngada, sih.”
“Bukannya ngada-ngada, Pak,” timpal Emak Sari tidak mau kalah. “Yaaa ... wajar dong sebagai orang tua, kita ngekhawatirin mereka.”
“Lha iya. Betul itu. Makanya banyakin doa saja. Udah, itu saja udah cukup, kok.”
“Kalo soal doa sih, gak usah diingetin, Paaakkk! Aku tuh tiap waktu selalu ngedoain mereka. Tapi masalahnya, Bapak sama si Abas ini yang belom bisa berdamai. Cobalah sesekali kita yang ngalah demi anak. Si Abas itu bukan orang lain lho, Pak. Dia anak kita satu-satunya.”
“Yang bilang si Abas itu anak orang lain, siapa?”
“Dih, Bapak ini. Diajak ngomong kok malah ngawur.”
“Sudahlah, nanti kita lanjutin lagi obrolan ini,” ujar Mbah Jarwo berusaha mengalihkan pembicaraan. “Sekarang cepat sana siapin air panas. Entar keburu dateng si Sarkim, kopinya belom siap.”
“Bapak ini ....” Emak Sari semakin cemberut. Kesal. “Ya, udah. Sana urusin sendiri si Sarkim. Peduliin dia. Gak usah mikirin anak kita lagi.”
“Hati-hati lho, Bu, ucapan orang tua sama anaknya itu bisa jadi doa,” kata Mbah Jarwo mengingatkan.
“Lah itu Bapak sendiri ngomongnya laen-laen tentang si Abas.”
“Laen-laen apa? Dari tadi juga aku gak ngomong keburukan si Abas. Ibu aja yang nyerocos sendiri gak karu-karuan.” Suasana makin memanas. Buru-buru Mbah Jarwo menghindar. “Sudah, ah. Jangan dulu bahas yang enggak-enggak. Nanti malah jadi ribut lagi. Malu, Bu, kita ini udah pada tua.”
“Bapak sendiri yang ngajak ribut. Sama anak sendiri aja gak mau ngalah.”
__ADS_1
“Ya, Allah ... Bu! Istighfar!”
...BERSAMBUNG...