
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 35...
...------- o0o -------...
“M-mereka salah sasaran orang, M-mbak,” lanjut Basri usai membasahi tenggorokannya. Tiba-tiba saja seperti mendahaga. Kering kerontang dan teringat pada Lastri.
Glek!
“Makanya saya dilepas begitu saja ama Bos judi itu tadi.”
Posisi duduk laki-laki ini terlihat sudah mulai tidak nyaman. Beberapa kali dia bergerak-gerak ganti posisi. Apalagi dengan usapan lembut tangan Lilis mengenai lutut, terus naik sedikit demi sedikit ke atas. “Ooohh, begitu. Syukurlah. Saya sempet khawatir, lho, sama Mas Abas ini. Takut kenapa-kenapa, ‘gitu. Makanya buru-buru saya nyusul ke sana meskipun saya sendiri juga takut. He-he.”
“I-iya. Makasih atas bantuannya tadi, Mbak.”
“Sama-sama, Mas,” balas Lilis dengan suara sedikit memarau dan senyuman nakal. Usapannya kian berani kini. “Saya cuman ... balas budi aja, Mas.”
“B-balas budi tentang apa? Aahhh ....”
Jawab perempuan tersebut seraya menggeser duduk makin mendekat, “Uang tips yang Mas Abas kasihin tadi. Cukup banyak banget. Gak kayak tamu-tamu lainnya, termasuk Pak Brutus sendiri. He-he.”
“M-mbaakk, aaahhh!”
“Apalagi Mas ini sempet nolak waktu saya ... eemmfftt!” Ucapan Lilis tiba-tiba berhenti begitu saja. Mendadak Basri bergerak maju, menyorongkan wajah, dan langsung menghajar bibir perempuan tersebut disertai napas memburu.
Terdengar suara ‘keciplak’[2] menggema di ruangan sempit itu. Kemudian disusul lenguh tarikan napas yang kian membahana. Gerah pun turut menyambangi dua insan tersebut. Memacu peluh hangat, terpompa cepat, merembes kilap dari dalam lubang pori-pori.
...------- o0o -------...
“Ya, Allah ... Bas! Dari mana aja lu?” seru Juned begitu Basri tiba di kamar kontrakannya menjelang waktu Subuh. “Gua nyari-nyari elu sama Cemong berdua semaleman muter-muter kota. Tapi kagak nemu-nemu juga. Elu dibawa ke mana sama mereka, Bas?”
“Kasih gua minum dulu, Ned,” kata Basri begitu masuk ke dalam kamar. “Gua capek banget, nih. Astaga!”
Juned bergegas mengambilkan segelas air minum, lantas diberikan pada Basri seketika itu juga. “Minumlah, Bas. Waduh kasian banget sih, elu. Astaghfirullah!”
Tidak sampai setengah menit, gelas pun kembali kosong melompong, habis direguk Basri. Kemudian usai melewati beberapa waktu, laki-laki ceking itu mulai bercerita. “Gua berhasil kabur dari orang-orang itu, Ned,” tuturnya dengan mimik serius. “Di tengah jalan, gua minta turun. Gak tahan pengen kencing ....”
“Pengen kencing?” Dahi Juned mengernyit. “I-iya ... iya, kencing. Terus?”
__ADS_1
Basri lanjut bertutur. “Pertamanya mereka ‘kan ngelarang. Ya, udah, gua ancem aja kencing di dalam mobil. Tambah dilarang gua. Alesan bau pesinglah, inilah, itulah. Eh, akhirnya dibolehin juga, dong,” kata laki-laki tersebut berapi-api. “Terus gua turun di tengah perjalanan, dikawal ketat, sampe akhirnya gua lari begitu dapet kesempatan. Gua dikejar, Ned, tapi mereka kalah cepet ama lari gua. Maklumlah badan segede ‘gitu, mana bisa lari kenceng. Iya gak?”
“Iyalah. Terus ... terus ....”
“Ya, terus ... gua ngumpetlah di semak-semak. Sampe akhirnya gua jalan kaki ke sini. Haduh, capek banget gua!”
“Ya, Allah! Kasian banget sih, lu, Bas. Untung aja elu gak kenapa-kenapa. Syukurlah. Terus, sekarang ‘gimana?” tanya Juned bingung. “Elu pasti laper, ‘kan?”
“Gua pengen tidur. Istirahat. Capek,” jawab Basri pura-pura kelelahan.
“Tapi laper juga gak?”
Laki-laki ceking itu menatap temannya tersebut.
“Iya, sih. Dikit.”
“Ya, udah. Gua cariin makanan sekarang, deh,” ujar Juned antusias.
“Oke, Ned. Makasih, ya.”
Juned tidak lantas bergegas keluar. Dia masih berdiam di dekat Basri.
“Pergi sana. Katanya mau nyariin gua makanan,” imbuh Basri kembali heran. Tiba-tiba temannya itu mengangsurkan telapak tangan. “Duitnya?”
“He-he, maklumlah, Bas.”
Usai menerima uang dari Basri, Juned segera bergegas mencarikan makanan. Sementara lelaki ceking ini malah jatuh tertidur, keletihan, setelah semalaman penuh memadu hasrat bersama Lilis di rumah kontrakannya. Benar-benar melelahkan dan membuat perempuan itu terkapar lunglai sampai tidak sadar ditinggal pergi Basri secara diam-diam. Dia sendiri lantas pulang menggunakan angkutan umum memasuki waktu janari tadi.
...------- o0o -------...
“Begitulah kejadiannya, Mong,” ujar Juned mengakhiri penuturannya pada Cemong di tempat makan. “Pokoknya, posisi kita bertiga saat ini benar-benar gak aman. Anak buah Bos judi itu pasti lagi nyari-nyari lagi.”
“Wah, gawat!” seru Cemong mendadak ciut nyalinya.
“Makanya, kita harus pindah dari kota ini secepatnya.”
“Ke mana?”
Juned melirik ke arah Basri. “Ke mana, Bas?” tanyanya bingung.
Jawab yang ditanya seraya berpikir, “Kota lain pastinya, Ned-Mong.”
__ADS_1
“Iya, tapi ke mana?” tanya kembali keduanya berbarengan.
“Gua sendiri masih mikir-mikir.”
“Aahhhh.” Juned dan Cemong berseru kecewa. “Bagaimana ini? Masa gua mesti balik lagi ke Lampung.”
“Gua malah ke Kalimantan, Ned. Rencananya, sih, entar sambil nunggu pindahan besar,” kata Cemong tampak serius.
“Pindahan besar? Maksud lu?” tanya Basri dan Juned kaget.
Cemong malah mengikik geli melihat respons kedua temannya tersebut, kemudian menjawab, “Ikut sama pindahan ibu kota negara, Bas-Jed. Ha-ha!”
“Setan!”
“Anjing! Boro mah gua serius!”
“Ha-ha!” Tawa Cemong makin keras hingga beberapa pengunjung dan pemilik warung serentak melirik ke arah mereka bertiga. “Maaf ... maaf ... gua cuman bercanda doangan, kok. Ha-ha.”
“Setan!”
“Bangsat!”
Sumpah serapah pun berhamburan dari mulut Basri dan Juned. Kemudian mereka bersiap-siap meninggalkan meja makan. Bagian pembayaran, tentu saja tugas bapaknya Aryan dan Maryam.
...------- o0o -------...
Dua hari setelah kejadian di depan tempat hiburan karaoke tersebut, Basri memutuskan untuk pulang ke rumah di Kampung Cijengkol. Disambut istri dan kedua anaknya dengan penuh suka cita. “Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang kembali, Pak,” ucap Lastri semringah. Seperti biasa langsung disajikan minuman dingin oleh perempuan itu dan gelayut manja Aryan dan Maryam meminta uang jajan. “Kemarin ada Abah sama Ambu dateng, Pak.”
“O, iya? ‘Gimana kabar Bapak sama Emak. Sehat, ‘kan?” tanya Basri merasa senang mendengar kedua orang tunya itu berkenan menyambangi keluarga kecilnya. Jawab Lastri, “Alhamdulillah sehat wal’afiat, Pak. Terus nanyain kamu juga, Pak.”
“He-he. Terus kamu jawab apa, Bu?”
“Ya, aku bilang ... kamu lagi kerja ke luar kota kayak biasa. Gak lebih dari itu, kok.”
“Ooohhh.”
“Teruusss ....”
“Ada lagi?”
Lastri berpikir sesaat sebelum menjawab. “Ada temen kamu juga yang dateng kemarin. Nanyain kamu, Pak.”
__ADS_1
“Temen?” Basri terkejut. “Temen yang mana? Siapa namanya?” Bukan apa-apa. Selama ini yang datang ke rumah paling hanya sebatas tetangga. Juned dan Cemong sendiri belum mengetahui tempat tinggalnya hingga kini.
...BERSAMBUNG...