
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 98...
...------- o0o -------...
Kini balas Ki Jarok yang membelalak galak. "Kaupikir apa yang sudah kulakukan padamu, Anak Setan?! Sialan!" rutuk sosok tua itu merasa tersinggung dengan sikap Basri baru saja. "Aku hanya membantu membersihkan tubuhmu dan juga menjauhkanmu dari pengaruh buruk mayat yang telah kauobrak-abrik kuburannya itu. Paham?!"
"I-iya, Ki. M-maafin saya," timpal Basri buru-buru menghaturkan sembah maafnya. Dia ragu untuk lanjut turun dari balai tersebut atau cukup berdiam saja menunggu titah Ki Jarok selanjutnya.
Tiba-tiba dukun tua itu melemparkan lembaran pakaian ke arah Basri. "Pakailah ini dan lekas kenakan sebelum aku muntah melihatmu seperti itu!" sentaknya dengan nada risi.
Cepat-cepat Basri menyambar pakaian tadi dan segera mengenakannya saat itu juga. Agak berbau apek dan cukup kasar bahannya begitu dipakai. Setelan berwarna hitam-hitam mirip model pangsi serta agak besar begitu dicoba.
"Terlalu longgar, Ki," ujar Basri usai membalut utuh tubuh kerempengnya dengan pakaian pemberian Ki Jarok tadi. Tentu saja ucapan laki-laki itu baru saja, membuat mata tua dukun tersebut membelalak galak. Sentaknya menggelegar, "Manusia tidak tahu diri! Sudah kubantu kau, malah sekarang bicara yang tidak-tidak!"
"M-maaf, Ki. B-bukan maksud saya—"
"Diam kau!" imbuh Ki Jarok kembali masih dengan nada marah. "Kautahu pakaian apa yang kuberikan padamu itu, hah?!"
Basri memperhatikan pakaian yang sedang dia kenakan. Hanya baju dan celana pangsi biasa. Tidak ada yang istimewa. Baunya juga seperti bekas disimpan lama dan bercampur aroma kemenyan.
"Tali mayat itu sudah aku satukan di dalam baju itu, Basri!" seru Ki Jarok dengan raut sebal melihat Basri. Spontan laki-laki itu meraba-raba baju di tubuhnya. "Tepat di dalam katok celanamu!"
"Apa?"
Basri langsung memeriksa pangkal celananya. Di sana seperti ada yang mengganjal bulat tertanam di dalam jahitan. "Astaga!" Dia terkaget-kaget. 'Kenapa harus ditaruh di sini, sih? Gak adakah bagian lain yang lebih pantas untuk menyimpan benda sialan ini? Huh!'
"Ha-ha!" Tiba-tiba terdengar gelak Ki Jarok membahana di dalam ruangan pengap dan remang-remang itu. "Kaupasti bertanya-tanya, 'kan? Ha-ha! Sengaja aku taruh di situ, sebagai simbol akan pentingnya kaumenjaga dan merawat benda itu selama kaumiliki."
Basri mengernyit bingung. "Maksud Aki?" tanyanya seraya memperhatikan wajah dukun tua tersebut.
Ki Jarok baru menjawab usai tawanya mereda, "Sama pentingnya dengan organ kelelakianmu itu, Basri. Jika kaulalai memenuhi persyaratan yang kuberikan, maka hidupmu akan berubah sia-sia dan hancur perlahan-lahan. Hik-hik."
"Saya masih belum paham, Ki," ucap Basri makin bingung. "Bisa bicara yang lebih spesifik gak?"
"Lagak lu, Kampret!" umpat dukun tua itu merasa tersinggung. "Dengarkan apa yang kukatakan ini baik-baik …."
...-------------------- o0o --------------------...
__ADS_1
Usai menerima perintah, Basri segera bangkit terhuyung dalam kondisi telanjang bulat, lantas melangkah mendekati sosok dukun tua tersebut.
"Cepat kenakan pakaianmu!" titah Ki Jarok yang berdiri membelakangi Basri. Tanpa menimpal, lelaki itu cepat-cepat menuruti. "Sudah?" tanya dukun itu setelah beberapa waktu berlalu.
"Sudah, Ki," jawab Basri.
"Hhmmm," deham Ki Jarok seraya membalik badan. "Kauboleh pulang sekarang, Basri."
"Sekarang?"
"Ya. Masih betah kautinggal di sini, hah?!"
Basri gelagapan. Ujarnya kemudian, "Maksud saya bukan itu, Ki, tapi …."
"Apalagi? Masih belum cukup apa yang kuberikan padamu?" Mata tua itu melotot galak, menyeramkan.
"Pakaian saya, Ki," ujar laki-laki kerempeng itu sungkan. "Tidak mungkin saya pulang dengan baju seperti ini. Nanti dikira orang-orang … saya kembaran Aki."
"Kurang ajar kau!"
"Maaf, Ki, saya gak bermaksud menyaingi tampilan Aki, tapi—"
"Basri, Ki. Bukan Basrèng, apalagi Cirèng."
"Suka-suka akulah," ujar Ki Jarok seraya mendelik hebat.
'Hhmmm, tampilan dukun ini cukup sangar, tapi kadang tingkahnya mirip hantu temennya Si Manis Jembatan Penyeberangan. Siapa, ya, namanya? Kalo gak salah … o,iya, Onzy Syahputri. Hiiyy … gelay!' membatin Basri diiringi cengengesannya.
"Apa kau? Ketawa-ketiwi begitu. Ada yang lucu sama akyu?" tanya Ki Jarok 'merengos'.
Cepat-cepat Basri menjawab, "Bukan, Ki. Saya inget masih ada sedikit sisa uang di kantong celana saya yang kotor itu. Sengaja saya sisain buat ongkos pulang. Makanya saya tanyain pakaian saya itu."
"Ambil sendiri di bawah dipan bekas semalaman kautidur di sana!" ujar Ki Jarok dengan nada ketus.
"Oh ... makasih, ya, Ki," ucap Basri kemudian masuk ke dalam rumah gubuk. Sebentar kemudian dia kembali dengan pakaian kotor di tangan. "Saya pulang dulu, ya, Ki."
"Jangan lupa pesan-pesanku, Basri," kata dukun tua itu sambil menyirami tanaman anggrek kesayangannya. "Tiap bulan purnama, kauharus—"
"Iya, Ki. Akan selalu saya ingat pesan-pesan Aki itu, kok."
"Baguslah," timpal Ki Jarok seraya mengibaskan gerai rambut putih panjangnya. "Jadi aku tidak perlu capek-capek menjelaskan kembali."
__ADS_1
Basri mendekat, meraih tangan tua dukun tersebut, lantas bersalaman dan mencium takzim.
"Ih!"
"Saya pulang dulu, Ki," ujar laki-laki kerempeng itu berpamitan. "Terima kasih atas semuanya, ya, Ki. Kita ketemu lagi pas bulan purnama mendatang."
"Hhmmm."
Setengah berat hati perlahan-lahan Basri melangkah meninggalkan sosok tua yang selama sepekan ini sering dia temui. Menuruni jalanan terjal di daerah perbukitan, tempat dimana Ki Jarok tinggal. Hampir mirip separuh hutan belantara. Berada di tengah-tengah rimbunan pepohonan yang menjulang tinggi.
...-------------------- o0o --------------------...
"Hhmmm, jadi kausanggup buat menjalani ujiannya, Anak Muda?" tanya dukun tua tersebut usai berhasil ditemui dan mendengar penuturan Basri perihal maksud kedatangannya. Laki-laki bertubuh kurus kering itu menyanggupi. Ki Jarok pun tertawa terbahak-bahak, lantas lanjut berucap, "Ha-ha! Bagus … bagus sekali, Anak Muda. Aku suka sekali dengan orang sepertimu … hhmmm … Bas … Bas … siapa tadi namamu? Bas … rèng?"
"Basri, Ki," jawab suami Lastri tersebut merasa senang sekali, karena maksud kedatangannya disambut baik oleh Ki Jarok.
"O, iya … Basri. Akan kuingat namamu itu, Anak Muda. He-he," ujar dukun tua itu seraya memperhatikan raut wajah Basri dengan saksama. "Hhmmm, ternyata manis juga kaupunya rupa, Basri."
"He-he, makasih, Mbah," balas Basri agak risi diperhatikan sedemikian rupa oleh tetua pemilik kawasan hutan menyeramkan itu. " … tapi saya sudah menikah dan punya istri, Ki."
Ki Jarok mendelik. "Apa peduliku tentang itu, Basri! Huh!"
"Eh, maaf, Ki," balas laki-laki itu seraya menghaturkan sembah maaf. "Saya cuman memperkenalkan diri saja. Mohon maaf."
"Huh!" seru Ki Jarok dengan muka masam, tapi masih menatap Basri seperti tadi. "Dari rupamu itu … sepertinya mengingatkan aku pada seseorang, tapi siapa, ya? Aku sendiri lupa."
"Anak Aki maksudnya?" Basri mencoba menerka.
"Bukan," jawab dukun tua itu seraya menggeleng-geleng pelan. "Aku tidak punya anak, karena belum pernah menikah."
"Mantan mungkin, Ki?"
Tebakan kedua Basri masih salah. Kali ini malah mendapat sentakan luar biasa galak. "Apa maksudmu, Basrèng? Kaupikir aku pernah berkasih-kasihan dengan seorang le—"
"Maksud saya, seorang perempuan yang wajahnya mirip saya, Ki. Maaf, bukan bermaksud menuduh Aki yang bukan-bukan."
"Sialan!" umpat Ki Jarok seraya kembali mendelik. "Sudahlah, lupakan saja tentang itu. Sekarang, kaufokus pada niatmu tadi. Pelajari, pikirkan, persiapkan, dan hafalkan mantra-mantra yang kuajarkan padamu tadi, Anak Muda. Karena ini penting buatmu nanti di saat sedang menjalani ritual dan melaksanakan prosesi ujiannya."
"Iya, Ki. Saya paham."
...BERSAMBUNG...
__ADS_1