Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 77


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 77...


...------- o0o -------...


PLAK!


Sebuah tamparan keras kembali mendarat telak di wajah perempuan tersebut. Dia menjerit kesakitan dan terbanting menyakitkan di atas tanah. Belum sempat mencoba bangkit, tiba-tiba tubuhnya ditindih kasar dan berat oleh Mance. Duduk menghimpit kuat mengunci pergerakan kedua bagian pada serta kaki.


“Jangan, Kang!”


“Diam!” bentak Mance seraya menarik paksa belahan pakaian di bagian dada Lastri hingga terbuka bebas dan memperlihatkan dua gumpalan menakjubkan di depan mata. Mata pemuda itu takjub melotot geram disertai dengkusan napas memburu. Kemudian dia mencengkeram dan menekan kuat-kuat kedua tangan perempuan tersebut agar tidak banyak bergerak menutupi pemandangan indah tadi.


“Jangan, Kang! Lepaskan!” jerit Lastri di tengah usaha perlawanannya.


PLAK! PLAK! PLAK!


“Aaahhh!”


Perlakuan Mance kian beringas. Usai menampar beberapa kali, lalu kepalanya turun menyerbu bagian dada Lastri dengan cucup bibirnya menikmati dua kuncup, begitu sisa penutup akhir aurat perempuan itu direnggut paksa.


Tamparan bertubi-tubi yang diterima tadi membuat Lastri seperti kehilangan kesadaran sesaat. Pandangannya berubah menguning disertai dengung suara memekakkan ruang pendengaran untuk beberapa saat. Tidak lagi memedulikan bagian-bagian pribadinya sedikit demi sedikit dilucuti hingga benar-benar terbuka dan ....


“Aaahhhh!” jerit Lastri untuk yang kesekian kali saat pinggang Mance mulai bergerak maju, mendorong kuat dan memaksa. Memberikan rasa sakit dan perih luar biasa di ujung pangkal paha. “Jangan, Kang!”


“Sudah lama aku ingin merasakan nikmatnya tubuh perempuan! Dan sekarang ... aku harus mendapatkannya darimu, Lastri! Ha-ha!” geram Mance di tengah jeritan kesakitan perempuan yang berada di bawah himpitannya.


Sia-sia Lastri melawan. Perlahan-lahan tubuhnya turut bergerak-gerak lirih diterjang perlakuan Mance yang teramat kasar. Dia pasrah dan memilih terdiam dengan lelehan air mata hangat menyusuri kulit wajahnya yang masih terasa perih.

__ADS_1


“Astagaaa!”


Sayup-sayup di antara setengah kesadarannya yang masih tersisa, Lastri mendegar pekik mengejutkan dari sosok yang berada di atas tubuhnya. Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba saja sesak yang sejak tadi menghimpit, berubah melega, disertai gerak seperti melepaskan diri dan bangkit.


Apa yang terjadi?


Mata pemuda itu terbelalak kaget. Menatap ketakutan pada sosok perempuan yang sedang dia nikmati tubuhnya tersebut. Kemudian cepat-cepat menghindar, bangkit menjauh, tersurut ke belakang.


“S-siapa k-kamu?!” tanya Mance setengah berteriak kaget. Dia menunjuk-nunjuk pada Lastri seperti tengah menahan rasa ketakutan. “K-kamu ... k-kamu ....”


Suaranya tersendat-sendat seraya mundur teratur lebih menjauh dalam kondisi tidak mengenakan selembar benang pun menutupi, usai mempekerjai Lastri. Mendadak dia lupa akan keasyikan yang tadi tengah dia rasakan. Padahal belum tuntas mencapai puncak persetubuhan yang sedari tadi menggelegak hebat.


Di mata Mance, rupa Lastri mendadak berubah wujud. Bukan lagi seorang perempuan biasa, akan tetapi kini sudah menjelma menjadi sosok menakutkan. Wajah mulus yang tadi sempat dia hantam beberapa kali, kini tidak ubahnya rupa sesosok makhluk menyeramkan.


“Enggaakkk! Enggaakkk! Ini gak mungkin terjadi!” pekik Mance berulang-ulang di sisa tenaganya yang mendadak sirna dan berusaha sekuat tenaga untuk bangkit berdiri, berniat untuk melarikan diri. “Enggak mungkin! Kamu bukan Lastri! K-kamu ... k-kamu ....”


Dengan susah payah, pemuda itu berusaha menggeser tubuhnya dengan entakkan kedua kaki pada permukaan tanah. Tidak lagi sudi membalik tubuh, apalagi menatap sosok menyeramkan di dekatnya. Namun mendadak, gerakkan anak muda tersebut terhenti begitu kedua jenjang kakinya terasa sakit ditindih kuat-kuat.


Tidak ada jawaban apa pun dari bibir perempuan tersebut. Perlahan-lahan dia membungkuk dengan tangan menjulur ke bawah dan jemari menari-nari liar hendak menggapai. Arah yang dituju tentu saja titik bagian khas Mance sebagai lelaki. Kemudian secepat kilat bergerak maju dan terangkat begitu saja disertai lengkingan keras laki-laki itu penuh kesakitan.


BRET!


Terdengar suara mengilukan seperti urat-urat di tubuh yang diputus paksa disertai darah memuncrat di udara.


“Aaahhh!”


Jeritan kesakitan Mance membahana memenuhi alam sekitar. Jelas sekali teramat sangat dan sulit untuk dijelaskan secara gamblang, terkecuali hanya bisa membayangkan secara sesaat.


“Hi-hi!”


Lastri tertawa terkikik-kikik dengan tangan mengacung ke atas langit dan jemari yang menggenggam sesuatu yang panjang berdarah-darah disertai rumbai urat-urat tergantung tidak beraturan menggantung di udara. Sementara di antara jerit kesakitan Mance, laki-laki tersebut menatap arah bagian bawah perutnya yang terkoyak lebar. Darah segar memercik kuat dari ceruk daging segar yang terbuka tanpa menyisakan sedikit pun ciri kelelakiannya.

__ADS_1


“Ampuuunnn, Lastriii!” jerit Mance memohon sambil menahan rasa sakit yang teramat sangat. Namun lengkingan suara itu tidak juga menyurutkan Lastri untuk berhenti menyakiti, kemudian tanpa terbebani sedikit pun dia menjejakkan kaki tepat di bagian luka tadi. “Aarghhhh!”


“Rasakan!” umpat Lastri sembari cekikikan seram dan mengacung-acungkan benda dalam genggamannya yang telah dia tanggalkan secara paksa tadi dari bagian kekhasan tubuh lelaki tersebut. “Dasar ... manusia cabul! Hi-hi!”


“Aahhhhh! Ampun, Lastri! Ampuunnn!” pekik Mance untuk yang kesekian kali di tengah deraan rasa sakitnya. Dia berusaha melepaskan diri dari pijakan kaki Lastri dengan cara menendang-nendang ke sana ke mari. Hingga akhirnya jeritan lirih laki-laki muda itu terhenti dengan mata membelalak hebat dan mulut menganga lebar. Itu terjadi begitu serangan jemari lain perempuan tersebut terhujam hebat, melesak menembus kulit perut, lantas terangkat naik sambil menarik seisi di dalamnya. Darah kembali memercik hebat melayang di udara. Tersapu amis dengan warnanya yang memerah sadis.


“Hi-hi!”


Usai memastikan kondisi Mance yang sudah tidak bernyawa, perlahan-lahan Lastri melepaskan pijakannya pada kedua batang betis lelaki tadi. Lantas berjalan terseok-seok meninggalkan tempat tersebut dengan pandangan kosong menatap ke depan tanpa kedip sekali pun.


...---------- o0o ----------...


“Buuu ....”


“Ibuuu ....”


Suara-suara panggilan itu sayup-sayup terdengar memenuhi ruang dengar. Lambat laun nuansa hitam itu berubah kelabu, menguning, lantas memutih terang. Kemudian setitik cahaya hadir menyilaukan pandangan.


“Aahhh,” desah Lastri mengerang lirih.


Perlahan-lahan dia membuka kelopak mata. Mengerjap-ngerjap sejenak seraya memerhatikan sekeliling.


“Ibuuu ....”


Bola mata perempuan itu bergerak-gerak mencari-cari asal suara, hingga akhirnya terfokus pada dua sosok yang berada persis di dekatnya. “Iyan ... Iyam ....” panggil Lastri begitu mengenali. “A-apa yang terjadi sama Ibu, Nak? I-ibu ... i-ibu ....”


Kedua anak lelaki dan perempuan itu mendekat. Mengelus-elus lengan Lastri dengan mimik wajah kebingungan.


“Tadi Ibu pulang dan langsung tidur, Bu,” ujar Iyan pelan sembari memerhatikan bercak darah yang sudah mengering di pakaian serta lengan ibunya. “I-ini ... noda a-apa, Bu?”


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2