
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 81...
...------- o0o -------...
“Percaya sama saya sekarang, Kang,” ucap perempuan itu kembali berusaha meyakinkan. “Kedatangan saya ini memang ... bukan merupakan sebuah kebetulan, seperti yang Akang bilang tadi. Saya mencari-cari Akang dan berusaha menemukan keberadaan Akang, sampai akhirnya menuntun saya ke sini. Malam ini.” Lilis kembali mendekat. Menyentuh pakaian Basri dan mengusap bagian dada lelaki tersebut dengan lembut. “Nanti kita bicarakan lebih banyak lagi. Ini ada hubungannya juga dengan ... Brutus, Kang.”
“Hhmmm.”
“Terserah Akang mau percaya atau enggak. Di samping saya, lelaki bertampang jelek itu pun sama-sama sedang mencari keberadaan Akang, bukan?”
Ya, benar. Brutus pun pernah mendatangi kediaman keluarga Basri di Kampung Cijengkol beberapa bulan lalu. Salah satu alasan itu pula, dia bersama istri dan anak-anak berpindah dari rumah kontrakannya di sana dan kini menetap di dekat kediaman Mbah Karni.
“Kamu juga tahu kalau Brutus mencari-cari saya? Bagaimana bisa tahu? Hhmmm, ini jelas sangat—“
“Sstttt ....” Telunjuk Lilis dengan cepat menempel ketat di bibir Basri. Perlahan perempuan itu mendekatkan wajah dan berbisik panas di dekat daun telinganya. “Tentu saja saya tahu, Kang. Karena saya sangat mengkhawatirkan keselamatan Akang dari rencana busuk si Brutus itu. Maka dari itu pula, saya bela-belain diri saya mencari-cari keberadaan Akang.”
Tidak disangka-sangka, Lilis menggesekkan pipinya ke wajah Basri. Kemudian perlahan mencari-cari bibir lelaki itu dengan ujung kecupnya dan terakhir mendaratkan sebuah ciuman hangat menggelora di sana. Anehnya, Basri sendiri tidak lantas menolak maupun berusaha menghindar seperti tadi, tapi malah menerima rekahan bibir Lilis dengan juluran lidah menyelusup di antara pagutan-pagutan panas. “S-saya ... menyukai Akang sejak pertemuan kita dulu itu, Kang,” bisik perempuan itu lirih di tengah-tengah jeda pertemuan kedua bibir mereka yang saling menyeruput. “Tiba-tiba saja ... saya jatuh hati sama Akang.”
“Lis ....” desah Basri dengan degup jantung yang kian bertalu-talu.
“S-saya gak ingin terjadi apa-apa sama Akang dari rencana busuk si Brutus itu, Kang,” imbuh kembali Lilis dengan suara membisik panas. Perlahan tangannya bergerilya hebat menyusuri dada, turun ke bawah dan bergerak-gerak lincah di bawah ikatan sabuk di pinggang Basri. “Saya kangen sama Akang Basri ....”
“Lis? Aahhh!”
Mata Basri mengerjap-ngerjap sesaat merasakan sensasi rasa yang ada, akibat jemari perlakuan Lilis di bagian luar kelelakiannya.
“Kita pergi dari sekarang juga ya, Kang?” ajak perempuan tersebut seperti tengah menggoda dan memberikan kode khusus.
Basri mengangguk perlahan, lantas disambut senyuman semringah Lilis.
Tidak berapa lama keduanya pun kemudian segera berlalu dari tempat itu. Berboncengan berdua dengan erat dan rapat. Basri sendiri yang kini membawa kendaraan.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari berdua, diam-diam ada beberapa sosok lain yang mengendap-ngendap keluar dari balik rimbunan rerumputan begitu Basri dan Lilis meninggalkan tempat tersebut. Sebentar kemudian, sosok-sosok tersebut sibuk bicara dengan alat komunikasi jarak jauh.
“Siap, Bos! Laksanakan!”
...---------- o0o ----------...
Petang merayap memasuki waktu malam. Usai menikmati santapan malam, Juragan Juanda segera meninggalkan meja makan. Bergegas memasuki kamar tidur untuk memeriksa kondisi istrinya yang tengah berbaring lemah di atas pembaringan.
Sumiarsih, perempuan yang telah lama menemani hampir separuh usia hidupnya tampak terbujur kaku dengan mata terkatup rapat. Entah tengah tertidur atau masih terjaga. Tidak ada perbedaan sama sekali. Sehari-hari hanya pemandangan seperti itu yang tampak dari sosok istrinya.
“Bu ....” panggil Juragan Juanda pelan pada Sumiarsih. “Ibu sudah tidur?”
Tidak ada respons maupun reaksi apa pun dari sosok lemah tersebut. Lelaki itu menarik napas dalam-dalam. Bias pucat tertampak di sana. Mengaburkan sisa-sisa kecantikan seorang Sumiarsih yang dulu sempat membuat Juragan Juanda tergila-gila. Kini tidak ubahnya laksana jerangkong hidup dan tidak berdaya.
“Juragan ....”
Satu suara memanggil lelaki dari arah ambang pintu kamar. Perlahan Juragan Juanda menoleh.
“Ada apa Ceu Elim?” tanya Juragan Juanda begitu mengenali sosok yang tengah berdiri di sana. “Juragan perempuan sudah Euceu kasih makan ‘kan malam ini?”
“Sudah, Juragan,” jawab perempuan yang sudah mulai memasuki usia uzur tersebut pelan. “Tadi sewaktu Juragan makan, Juragan perempuan terbangun dan langsung saya suapi makan malam.”
“Aahhh, syukurlah,” balas Juragan Juanda lega. “Ada apalagi?” tanyanya kemudian begitu memerhatikan Elim belum juga undur diri dari tempatnya semula.
Perempuan itu terlihat hendak berkata-kata, akan tetapi tampak ragu. Hal tersebut membuat Juragan Juanda terheran-heran dan penasaran, lantas melangkah mendekat. “Euceu mau ngomong sesuatu?”
Elim kembali mengangguk pelan. Kemudian menjawab terbata-bata, “Juragan ....”
“Ya? Ada apa, Ceu?”
“Di luar ... ada ... Asih,” jawab Elim akhirnya.
“Apa?” Juragan Juanda terkesiap, kaget. “Dia datang lagi?”
“Iya, Juragan,” jawab kembali Elim bimbang. “Asih ingin bertemu dengan Juragan.”
__ADS_1
“Aahhh ... ada urusan apalagi perempuan itu datang ke sini? Saya pikir ... dia enggak akan berani lagi menampakkan batang hidungnya sama saya.”
“Saya gak tahu, Juragan,” timpal Elim dengan wajah tertunduk. Perempuan itu tidak berani mengangkat wajah dan beradu tatap dengan majikannya. Segan dan teringat akan penuturan Asih beberapa waktu saat menceritakan perlakuan tidak senonoh Juragan Juanda terhadap pekerjanya tersebut.
“Ya, Tuhan!” pekik Elim dan Aat usai mendengar penuturan Asih waktu itu. “Enggak nyangka banget Juragan bisa berbuat seperti itu sama kamu, Asih.”
Asih berpura-pura menangis pilu.
“Saya takut, Ceu,” ujar jandaa muda tanpa anak itu seraya memeluk Elim. “Juragan memaksa saya buat menuruti keinginannya. Tapi saya berusaha menolak.”
“Ya, Allah!” ucap Aat prihatin.
“Saya bingung harus bagaimana sekarang, Ceu-Kang?” tanya Asih pada Elim dan Aat. “Saya takut, Juragan bakal terus memaksa saya buat ngelakuin perbuatan terkutuk itu! Saya gak ingin ngekhianatin Juragan Perempuan! Kasihan!”
Akhirnya atas saran Elim dan Aat, Asih memutuskan untuk pergi secara diam-diam malam itu dari kediaman Juragan Juanda. Bukan pulang menuju kampung halamannya, akan tetapi malam menemui Ki Jarok.
“Di mana dia sekarang?” tanya Juragan Juanda membuyarkan lamunan Elim akan kejadian pada malam tersebut.
“Di sana, Juragan,” jawab Elim seraya menunjuk arah belakang rumah dengan jari jempolnya. Tentu saja yang dimaksud adalah pintu keluar di ruangan dapur. “Asih ada di sana ... menunggu Juragan.”
“Hhmmm!” Juragan Juanda mendengkus. Kemudian bergegas menuju belakang rumah usai memberi perintah pada Elim untuk menjagakan istrinya, Juragan Sumiarsih.
Benar saja, begitu daun pintu akses keluar ruangan dapur, tampak sosok Asih tengah berdiri menunggu di sana.
“Juragan ....” sapa Asih langsung mendekat dan berusaha untuk menggapai tangan mantan majikannya untuk bersalaman.
“Asih ....”
“Maafin atas kelancangan saya ini, Juragan. Malam-malam begini ... datang menemui kembali Juragan,” ucap Asih seraya menciumi lengan Juragan Juanda dengan takzim. Anehnya, lelaki tersebut tidak berusaha untuk menghindar sebagaimana seseorang yang merasa kesal atau tidak menyukai kehadiran sosok yang sebelumnya tidak diharapkan tersebut. “Saya terpaksa kembali ke sini, karena saya bingung harus menitip ke mana badan ini, Juragan. Saya menyesal karena telah pergi begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu pada Juragan.”
“Asih ....”
Sorot mata lelaki perlente itu tidak mau lepas memandangi sosok Asih. Nyaris enggan mengedip, seperti terpesona dan bahagia.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1