
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 43...
...------- o0o -------...
Lilis tergolek lunglai seperti kehabisan tenaga. Bahkan untuk sekedar bangkit pun, dia tidak mampu. Laki-laki ceking itu benar-benar telah menguras semua energi yang tersisa, hingga terlupa akan niat awal untuk mengorek rahasia Basri yang sebenarnya.
“Saya pulang dulu ya, Mbak,” ucap suami dari perempuan bernama Lastri tersebut usai mengenakan kembali semua pakaiannya. Meninggalkan Lilis yang masih terbaring kelelahan di bawah dekapan selimut tebal. Kemudian Basri bergegas menaiki angkutan umum daring yang dipesan menggunakan ponsel penghuni kontrakan tersebut. Hal terakhir inilah kesalahan kedua lelaki ini, meninggalkan jejak jelas di kediaman Juned. Beberapa hari setelahnya, gerombolan Brutus datang ke sana. Tepat di saat keluarga Basri hendak berpindah rumah. “Gawat, Bas. Anak buah Bos judi itu barusan datang ke kontrakan gua.” Demikian Juned memberi kabar waktu itu.
Sementara sosok Lilis sendiri baru tersadar begitu waktu sudah menunjukkan lewat tengah hari. “Astaga!” seru perempuan tersebut kaget seraya menyibak selimut dan perlahan-lahan mencoba bangkit dari kasur lantai. Berjalan tertatih-tatih seperti perawan yang baru kehilangan mahkota kesucian. Nyeri dan ngilu menyerang di hampir sekujur tubuh, tapi tetap memaksakan diri mengenakan pakaian yang berserak. ‘Laki-laki itu gila!’ rutuknya saat teringat kejadian sepanjang malam tadi. ‘Dia benar-benar membuatku mati kutu. Sialan!’
Barulah menjelang petang, Lilis mengadakan pertemuan khusus dengan Brutus. Sekalian memenuhi kewajiban kerja di tempat hiburan karaoke seperti biasa.
“Pakaian pangsi?” tanya lelaki berwajah penuh lubang bekas cacar tersebut usai mendengarkan cerita Lilis. “Bener, Bos. Mungkin pakaian itulah yang dijadikan jimat oleh si Abas itu,” timpal perempuan penghibur itu melengkapi laporannya. “Ini hanya kemungkinan saja, Bos. Saya sendiri belum yakin sepenuhnya.”
Brutus merenung sejenak seperti tengah berpikir dan mengingat-ingat. Lantas bertanya kembali untuk kali kedua, “Apa di bagian katok celananya ada tonjolan? Kayak sesuatu yang diumpetin di dalem dan dijahit ulang?”
“Iya, bener banget, Bos,” jawab Lilis membenarkan. “Saya yakin banget. Ciri-cirinya sama ama yang saya lihat semalem.”
“Enggak salah lagi!” ujar Brutus disertai gemeretak gigi. “Si Bangsat itu make cara curang!”
“Maksud Bos Brutus apa, ya? Saya gak ngerti. Apa itu—“
“Dia punya Jimat Tali Mayat!”
“Jimat Tali Mayat?” tanya Lilis mengulang kalimat Brutus.
Laki-laki berwajah bopeng itu menoleh. Menatap tajam perempuan yang duduk di sebelahnya. “Iya, dia punya jimat itu. Jimat Tali Mayat. Sebuah benda persekutuan dengan setan buat ngedapetin kekayaan melalui cara judi,” tutur Brutus berapi-api. “Gua gak tahu, tambahan jimat apalagi yang bisa bikin dia kuat—“
__ADS_1
“Kuat?” Alis Lilis terangkat naik. Tiba-tiba teringat persetubuhannya semalam. Tidak sekalipun laki-laki ceking itu kalah atau tampak kelelahan. Malah perempuan tersebut yang dibuat kepayahan, tidak berdaya. Namun sekaligus mendapatkan pengalaman sangat berharga di sepanjang melayani para lelaki hidung belang lain, termasuk sosok di sampingnya ini.
“Ya, kuat,” tukas Brutus kembali, “kayak kebal pukulan dan juga ....” Dia melirik kembali. Melotot ke arah Lilis dengan delik menyeramkan. “Elu semalem maen sama dia, Lis?”
Perempuan itu tersurut mundur ketakutan. “Enggak, Bos. Semalem cuman—“
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Lilis. Spontan perempuan itu pun menjerit kesakitan.
“Dasar perempuan murahan!” sentak Brutus marah. “Berapa kali elu berdua maen, hah?!”
“Enggak, Bos!”
PLAK!
“Anjing!” serunya makin emosi. “Jangan coba-coba elu bohong sama gua, ya? Lihat ini!” Brutus menunjuk leher Lilis yang dipenuhi tanda-tanda kemerahan. “Elu pikir semalem cuman kerokan masuk doang sama si Bangsat sialan itu! Haram jadah!”
PLAK!
“Berapa kali?”
“Gak tahu, Bos. Saya gak ngitung. Habisnya keenakan banget,” jawab Lilis tidak sadar berucap.
PLAK!
“Sialan!” Laki-laki itu mengumpat untuk yang kesekian kali. Sementara Lilis hanya bisa meringis-ringis kesakitan. “Gua udah curiga sejak awal dia dateng dulu,” ujarnya mulai bertutur mengingat sosok Basri, “orang ini pasti make cara gak wajar. Gak mungkin dia bisa menang judi terus-terusan kalo gak ada sesuatu di belakangnya. Salah satu jimat yang gua kenal, ya itu tadi; Jimat Tali Mayat.”
Masih meringis dan mengusap-usap perih di wajah, Lilis memberanikan diri untuk bertanya. “Dari mana Bos bisa tahu kalo dia punya jimat kayak ‘gitu?”
Brutus mengekeh pelan. “He-he, tentu aja gua tahu. Karena gua ... dulu pernah punya. Makanya gua bisa kayak sekarang.” Suaranya sudah mulai melemah.
__ADS_1
“Terus sekarang, ke mana jimat itu, Bos?”
“Hilang diambil sama pemiliknya.”
“Siapa?”
“Orang yang gak bakal elu kenal, Lilis! Percuma aja gua sebut namanya juga! Elu gak bakal tahu siapa dia! Tapi gua masih ingat orangnya!” Suara Brutus kembali meninggi. Lilis siap-siap menggeser tubuh agar tidak lagi mendapat tamparan berikutnya. “Bertahun-tahun ini gua masih nyari si Bangsat haram jadah itu! Huh! Atau jangan-jangan ... jimat yang dimiliki si Basri itu adalah punyaku? Hhmmm, siapa tahu, ‘kan?”
“Gak tahu, Bos,” jawab Lilis polos.
PLAK!
“Kasih gua jawaban yang bisa bikin gua seneng, Lilis!”
“Iya, Bos. Maafin saya.”
PLAK!
Perempuan itu kembali menjerit kesakitan. Dia sampai mengiba menyembah-nyembah di kaki agar lelaki tersebut tidak lagi menghajarnya. Enam kali tamparan telah mendarat telak menghiasi kulit wajah Lilis dengan rona membekas merah.
Sepeninggal Brutus dari tempat tersebut, Lilis hanya duduk termenung seraya mengusap-usap wajah dan bibir pecah berdarah. ‘Si Anying[2]... sudah aku bantu malah memberiku siksaan. Awas, ya, suatu saat akan aku balas dia!’
Semua sudah terlanjur. Semula berharap akan mendapatkan imbalan sepadan, lelaki berwajah bopeng tersebut malah menghadiahinya tamparan bertubi-tubi. Benih-benih dendam kesumat pun mulai menjalari sanubarinya. Dia bertekad menuntut balas atas apa yang selama ini dilakukan Brutus terhadap Lilis. Sayang sekali, segala informasi yang didapat sudah tersampaikan tanpa tersisa. Entahlah, apalagi yang akan dilakukan Bos judi itu kemudian.
Sementara itu Basri bersama keluarganya menempati sebuah rumah kontrakan baru. Di sebuah tempat terpencil dan jauh dari hiruk pikuk daerah perkotaan. Apalagi bertetangga dengan wanita tua seperti Bariah serta kawan-kawan gibahnya.
“ ... Hanya untuk sementara saja, Bu,” ucap laki-laki ceking tersebut beralasan pada Lastri, “sampai nanti kita menemukan tempat yang cocok untuk tinggal.”
“Terus bagaimana sama Abah dan Ambu, Pak?” tanya istrinya masih memendam ragam tanya atas keputusan pindah mereka ke sana, Kampung Kedawung. “Kita belom ngasih tahu mereka perihal kepindahan kita ini. Nanti kalo nyari-nyari ‘gimana?”
“Gampang,” jawab Basri enteng. “Nanti aku pikirin lagi, deh, Bu.” Dia kembali sibuk memasang kartu perdana baru di ponsel. Menggantikan nomor lama yang khawatir akan dilacak oleh Brutus dan anak buahnya melalui Juned dan Cemong. “Nanti kalo keadaan udah mulai aman dan normal, kita beli tempat dan ngebangun rumah sendiri. Kalo perlu, aku bikin usaha baru di sana. Biar gak usah ninggalin kamu dan anak-anak lagi.”
__ADS_1
...BERSAMBUNG...