Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 60


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 60...


...------- o0o -------...


“Saya sudah melakukan semua perintah dari Aki. Membuatnya sakit secara perlahan-lahan. Tapi ....” Perempuan itu menelan ludah sejenak. “ ... Mengapa tidak sebaiknya kita buat mati saja dengan cepat seperti anaknya dulu, Ki?”


“Jangan, Cah Ayu!” cegah lelaki tua tersebut. “Jangan bertindak sembrono! Jika dilakukan sama dengan kematian anaknya, Sukaesih, orang-orang akan menaruh curiga. Terutama padamu, Asih, sebagai orang terdekat dan setiap hari mengurusi perempuan tua tidak berguna itu.”


“Tapi saya sudah muak dengan semua ini, Ki!” seru Asih mulai tidak mampu menahan rasa kesalnya. “Saya ingin urusan ini cepat selesai. Juragan Sumiarsih mati dan aku bisa menjadi istri dari Juragan Juanda.”


“Sabar ... bersabarlah untuk beberapa waktu, Cah Ayu.”


Janda muda tersebut kembali mendengkus. “Semua ini gara-gara si Sadam keparat itu!”


Tiba-tiba wajah sosok tua berjanggut dan berambut panjang memutih itu berubah. Terkesiap begitu mendengar Asih menyebut nama.


“Sadam?”


“Iya, Sadam, Ki,” jawab Asih seraya mengerutkan kening. “Aki kenal dengan lelaki itu?”


“Sebentar ... sebentar ....” ujarnya mengingat-ingat. “Bukannya dia orang kepercayaannya si Juanda?”


“Benar. Aki kenal?”


Sosok tua itu mengangguk perlahan. “Dia pernah datang menemui saya beberapa bulan yang lalu, kalo saya tidak salah ingat.”


“Apa? Beneran itu, Ki?” Asih terkejut.

__ADS_1


“Iya, Cah Ayu,” jawabnya meyakinkan. “Dia minta tolong untuk membantunya mendapatkan hati seorang perempuan pujaan. Sadam tidak banyak cerita waktu itu, tapi dia hanya menyebut satu nama ... yaitu Selasih.”


“Itu nama saya, Ki.”


“Saya sudah menduga-duga itu sebelumnya, Cah Ayu. Hik-hik!” Kembali kekeh khas itu terdengar menyebalkan. “Laki-laki bujangan itu meminta bantuan agar Selasih jatuh hati padanya. Saya pikir, mungkin itu kamu, Asih. Ternyata benar, bukan? Makanya setengah hati saya beri dia beberapa cara, agar kepercayaannya pada saya tidak lantas terabaikan.”


“Aki jahat sama saya!” jerit Asih diiringi tangisannya. “Berarti secara tidak langsung, Aki juga sama-sama berkomplot untuk menggagalkan impian-impian saya itu!”


“Tenanglah, Cah Ayu,” kata sosok tua tersebut menenangkan. “Saya tidak bermaksud begitu. Justru karena campur tangan dialah, kelak rencanamu itu akan bisa kamu dapatkan tanpa harus bersusah payah.”


“Maksud Ki Jarok?” tanya Asih atau Selasih pada dukun tua yang juga merupakan guru dari Basri tersebut. Mendadak perempuan itu menghentikan tangis dan menatap dalam-dalam pada Ki Jarok.


Lelaki tua itu menarik napasnya dalam-dalam, lantas lanjut bertutur panjang, “Jauh sebelum si Sadam datang ke sini, kamu adalah satu-satunya perempuan yang berani menemui saya seorang diri. Saya tahu, sebelum menginginkan si Juanda itu, sebenarnya kamu pernah jatuh cinta pada si Sadam, ‘kan?” Asih mengangguk membenarkan. “Kamu berharap dia kelak yang akan menjadi kekasihmu. Tapi sesuatu telah terjadi. Lelaki yang kamu idamkan itu justru memiliki hubungan khusus dengan perempuan lain. Sukaesih, anak semata wayang majikannya sendiri. Apa yang menjadi niatnya, sama pula dengan rencanamu itu, Asih, yaitu ... sama-sama berharap mendapat cipratan harta kekayaan dari si Juanda. Benar begitu, Cah Ayu?”


“Iya, Ki. Saya mengakuinya,” jawab Asih pelan. “Tapi akhir-akhir ini, saya memang merasa jatuh cinta pada Juragan Juanda, Ki. Soal harta, itu bukan persoalan penting.”


“Hik-hik!”


“Hik-hik!” Ki Jarok malah tambah panjang mengekeh. “Kelakuan kamu itu ... tidak ubahnya seperti si Sadam. Keras kepala, mudah tersinggung, tapi ... bedanya ... lelaki bujang itu gampang dilanda amarah cemburu, ‘kan? Hik-hik!”


Asih tersenyum ketus. “Wajar saja Aki tahu. Soalnya dukun.”


“Aku memang banyak tahu, Cah Ayu.”


‘Hhmmm, tapi membedakan nama Asih dan Selasih saja harus menduga-duga. Dasar dukun sok tahu! Hi-hi!’ gumam janda muda tersebut tiba-tiba merasa geli sendiri.


“Terus, langkah apalagi yang harus saya lakukan untuk keluar dari masalah yang sedang hadapi saat ini, Ki?” tanya Asih tidak sabar. “Saya takut, Juragan Juanda justru akan berbalik membenci saya dan menjauhi saya.”


Ki Jarok menaburkan getah pohon di atas pedupaan sebelum menjawab. Seketika asap pun kembali membubung memenuhi ruangan dengan aroma menyesakkan. “Tenanglah, Cah Ayu. Tidak ada masalah yang sulit bagi saya. Soal hati, itu pekerjaan mudah sekali. Tapi sebelumnya, ada hal lain yang sulit saya tahan dari tadi.”


“Apa itu, Ki?” tanya Asih mulai menduga-duga memperhatikan kilatan mata merah tua seketika melahap bulat-bulat tubuhnya.

__ADS_1


“Kamu tahu, ‘kan, apa yang sedang saya pikirkan sekarang, Cah Ayu? Hik-hik!”


Asih mendelik.


‘Dasar bangkotan tua! Tidak dimana-mana, keinginan laki-laki hampir semuanya sama. selalu saja begitu dan begitu!’ gumamnya begitu memahami maksud dari ucapan Ki Jarok. ‘Terpaksa, malam ini aku harus bermalam penuh dengan dukun cabul ini. Tidak apalah, yang terpenting urusanku dengan Juragan Juanda akan cepat terselesaikan.’


Beberapa detik kemudian, perempuan itu berdiri seraya membuka pakaiannya satu per satu. Seketika itu pula, mata tua Ki Jarok berubah membesar disertai leletan lidah.


“Hik-hik! Akhirnya ... tidak perlu malam ini saya bercinta dengan jari-jariku sendiri. Hik-hik!”


...------- o0o -------...


Beberapa bulan sebelum peristiwa pembongkaran kuburan mendiang Sukaesih oleh Basri, Juragan Juanda bersama keluarganya bertandang ke kampung halaman Sumiarsih di Kampung Sindang Astana. Mereka berada di sana hampir sepekan lamanya. Kedatangan orang terkaya di Kampung Sirnagalih tersebut, tentu saja banyak menyita perhatian warga setempat, tidak terkecuali bagi Selasih sendiri. Perempuan berusia tiga puluhan tahun dan menyandang status janda itu tiba-tiba merasa tertarik untuk mengenal lebih dekat dengan keluarga Juragan Juanda. Hal pertama yang dia lakukan pada waktu itu adalah mendekati sosok Sadam, satu-satunya orang kepercayaan lelaki tua tersebut tapi masih terlihat perlente.


“Nama saya Selasih, Kang,” ucap Asih memperkenalkan diri pada saat pertama kalinya mereka bertemu di sebuah tempat. Sadam tersenyum seraya membalas, “Saya Sadam.”


“Saya sudah tahu,” timpal Asih dengan sikap sedikit menggoda.


“Lho, sudah tahu, ya?” Lelaki bujang itu terheran-heran. “Perasaan ... kita baru saja ketemu kali ini, Teh?”


Janda muda tersebut kembali mengulas senyum simpul laksana seorang perawan yang baru mengenal lawan jenisnya. “Tentu saja saya tahu, Kang,” jawab Asih memanis-maniskan sikap. “Siapa, sih, yang gak kenal sama Akang Sadam? Orang terdekat yang baik hati dari keluarga kaya raya Juragan Juanda. He-he.”


“Ah, Teteh bisa saja. He-he.” Wajah Sadam mendadak berubah warna. “Ngomong-ngomong, Teh Selasih mau ke mana? Bawa belanjaan sebanyak ini, dari pasar?” Dia memerhatikan dua keranjang penuh yang tergolek di samping Asih.


“Saya mau pulang, Kang,” jawab perempuan tersebut seraya mengipas-ngipaskan tangan ke wajah mencari angin segar, “ngaso dulu sebentar di sini sambil ngembaliin tenaga buat jalan lagi. He-he.” Dia sengaja menunduk untuk menghindari tatapan Sadam yang enggan beralih sedikit pun darinya.


“Pulangnya ke mana keurah, Teh? Biar saya bantu antar sampe ke rumah Teteh,” ucap Sadam menawarkan bantuan.


Asih tersenyum semringah. Memang itu yang sedang dia tunggu-tunggu sejak awal, sekaligus salah satu bagian dari rencananya untuk mendekati keluarga Juragan Juanda melalui Sadam. “Rumah saya gak begitu jauh dari rumah keluarga Juragan Sumiarsih, Kang,” balas Asih.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2