
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 34...
...------- o0o -------...
“O, iya. Kenalin, nama saya Lilis,” ujar perempuan itu memperkenalkan diri begitu tiba di sebuah tempat. Bukan kamar kontrakan Juned sebagaimana yang diharapkan Basri. “Tadi kita belum sempet kenalan. Habisnya, Mas ini ....”
“Abas. Panggil saja begitu.”
Lilis tersenyum memikat. “Oh, Mas Abas ini ... tadi waktu di tempat karaokean sendiri terus, sih,” ujarnya kemudian seraya menarik tangan Basri, menuntunnya memasuki sebuah rumah kecil dan sederhana di sana. “Ini rumah kontrakan saya. Lumayanlah buat numpang neduh dan istirahat. Masuk, yuk.”
Usai membuka pintu dan memasukkan kendaraan, mereka berdua segera masuk. Sebuah hunian yang hanya memiliki tiga buah ruangan; dapur, toilet, serta ruang depan sekaligus tempat tidur. Selembar kasur lantai terhampar di sana sebagai alas tidur. “Maaf, ya, rumahnya berantakan begini, Mas. Maklumlah, nyari kontrakan yang murah di sini itu susah. Dapet beginian juga udah syukur banget. He-he,” tutur Lilis seraya melepas tas selempang dan membuka jaket tebalnya. Menggantungkan di dinding berbahan triplek dengan warna cat yang sudah pucat memudar. “Duduk-duduklah dulu, Mas.” Dia menunjuk hamparan kasur lantai tipis tadi. “Sebentar, saya bikinin kopi dulu, ya. Mau?”
“Gak usah repot-repotlah, Mbak. Saya--“
“Kopi hitam atau yang pake krimer?”
Basri menggaruk kepala, lantas menjawab pasrah, “Kopi hitam saja deh, Mbak.”
__ADS_1
“Nah, begitu, dong,” balas Lilis diiringi senyumannya yang menggoda. “Tunggu sebentar, ya.”
Perempuan bertubuh sintal itu beranjak ke ruangan dapur. Kecil dan nyaris hanya bisa dimasuki satu orang. Sementara Basri memilih duduk menyandar melipat kaki di atas hamparan kasur tipis tadi, seraya memandangi sosok yang sedang sibuk menyeduh kopi di depan sana. Tidak ada daun pintu maupun penutup tirai sebagai pembatas, sehingga terlihat jelas keberadaan Lilis saat itu. Mengenakan kaos tipis ketat dipadu balutan celana jin membungkus lekuk gempal bagian paha dan bokongnya. Seketika tidak sadar, lelaki ceking tersebut beberapa kali mereguk air liur sendiri diiringi jakun bergerak turun-naik.
“Silakan diminum kopinya, Mas Abas,” ucap Lilis mengejutkan. Perempuan itu tiba-tiba sudah berada tepat di depannya. Berjongkok begitu menaruh gelas kopi di hadapan Basri. Tidak sengaja, mata laki-laki ini pun tertuju tepat pada dua gumpalan besar milik penghuni ruangan tersebut.
“E-eh, iya. T-terima kasih, Mbak,” sahut Basri tergagap-gagap kikuk mendapati lamunannya buyar seketika. Tadi dia sempat teringat pada Lastri serta kedua anak kesayangan; Aryan dan Maryam. Tidak terkecuali juga Juned. Saat ini pasti dia pun sedang memikirkan keberadaannya. Memikirkan Basri dan mengkhawatirkan tentang keselamatan juga hidup lelaki ceking tersebut.
Percakapan awal pun mulai terucap di ruangan itu di sela-sela meminum kopi. Bercerita tentang kisah hidup, pengalaman, sampai aktivitas terakhir pertemuan mereka di tempat hiburan tadi. Intinya, Lilis adalah seorang perempuan mandiri yang mencari penghidupan di kota demi keluarga. Janda beranak satu dari sebuah perkampungan di salah satu daerah di Jawa Barat.
“Terpaksa saya ngelakonin kerjaan yang sekarang ini, Mas, karena gak ada pilihan lain lagi. Pendidikan saya pun cuma sebatas MI. Keterampilan gak punya, dan akhirnya ... beginilah saya sekarang. Kerja di tempat hiburan seperti itu,” tutur Lilis di pengujung kisah hidupnya. “Di tempat itu pula, saya kenal dengan Pak Brutus.”
“Pak Brutus?”
“Oh, namanya Brutus,” ucap Basri seraya mengangguk-angguk. “Tapi ‘gimana Mbak bisa tahu kalo saya--“
Tukas Lilis kembali, “Saya denger-denger ada keributan di luar, sewaktu Mas Abas dan kedua teman Mas ini keluar dari ruangan. Tadinya saya pikir, mungkin cuma orang-orang mabok biasalah, Mas.” Perempuan itu menyulut sebatang rokok mild mentol begitu rokok sebelumnya habis. “ ... Tapi begitu ikut keluar dan melihat kedua teman Mas itu di sana, saya pun tanya-tanya sana-sini. Sampai akhirnya tahu bahwa yang ngebawa Mas Abas tadi itu adalah anak buahnya Pak Brutus.”
“Terus, ‘gimana juga Mbak Lilis ini tahu kalo saya dibawa ke tempat itu tadi?” Basri masih penasaran sambil sebentar-sebentar memandang belahan besar dada perempuan tersebut.
Glek!
__ADS_1
Satu tegukan liur kembali membasahi rongga kerongkongan.
“Saya cuman ngira-ngira aja, Mas,” jawab Lilis diiringi senyum kecut. “Dulu saya pernah deket sama Pak Brutus. Sering diajak jalan keluar juga. Bahkan beberapa kali ikut bersama dia, nemenin, nanganin orang-orang yang punya masalah khusus sama Pak Brutus. Tempat itulah tadi yang sering dijadikan tempat penyelesaian akhir, Mas.”
Alis Basri terangkat tinggi-tinggi. Tanyanya, “Tempat penyelesaian terakhir? Maksudnya--“
“He-he. Mas Abas mungkin tahu, dunia mereka itu seperti apa. Ya, begitulah. Paling-paling dibikin bengep, cacat, tapi gak sampe lebih dari itu. Kalopun iya juga, pasti tempatnya bukan di sana. Gak tahu di mana, karena saya sendiri gak pernah sejauh itu, tahu semua tentang urusan mereka. Makanya, dulu, pelan-pelan saya berusaha menjauhi Pak Brutus. Kalopun masih ketemuan, ya ... paling sebatas di tempat hiburan itu tadi.”
Imbuh kembali perempuan itu usai mereguk kopinya, “O, iya ... tapi saya heran, ngelihat Mas Abas saat ini, kok, kayak masih seger-seger ‘gitu, sih?”
“Maksud Mbak Lilis?” Basri pura-pura tidak paham. Namun sebenarnya dia tidak ingin pembicaraan ini bakal melangkah lebih jauh. Terutama tentang rahasia di balik kejadian tersebut tadi. Brutus dan anak buah lari tunggang langgang seperti ketakutan. Penyebabnya, laki-laki ini pun bahkan belum mengetahui persis.
“Mustahil banget kalo Pak Brutus masih berbaik hati sama Mas Abas,” jawab Lilis kemudian. Dia bangkit, meminta izin untuk melepaskan balutan celana jinnya. Berganti dengan jenis yang sama, tapi berukuran lebih pendek. Seperti sengaja ingin memperlihatkan bentuk dan warna jenjang kaki itu hingga ke atas pada sosok laki-laki di depannya, sambil terus berkata-kata. “Biasanya orang-orang yang punya masalah sama dia, dijamin badannya gak akan semulus Mas Abas ini. He-he. Tapi beneran, Mas Abas gak diapa-apain sama Pak Brutus?”
Basri mencoba memutar otak sejenak. Mencari-cari alasan sendiri agar perempuan tersebut tidak lagi bertanya-tanya. “Enggak, sih, Mbak. Ini hanya kesalahpahaman aja. Saya dan mereka sama sekali gak ada masalah apa-apa.”
“Serius?” tanya Lilis seakan belum bisa percaya sepenuhnya. Dia kembali duduk di depan Basri, bersilang kaki.
“I-iyalah,” jawab laki-laki tersebut gagap. Kali ini perhatiannya ganti tertuju pada pangkal paha Lilis yang nyaris hanya tertutup kain celana pendek tadi, selebar dua rangkap jemari tangan.
Glek! Glek!
__ADS_1
...BERSAMBUNG...