Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 41


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 41...


...------- o0o -------...


“Ya, saya gak tahu, Bu. Kenal aja enggak,” jawab Lastri jujur. “Waktu saya tanya maksud kedatangan mereka, eh ... malah pada buru-buru pulang lagi.”


“Lho, kok ... bisa, ya? Padahal mereka itu, ‘kan, temen bisnisnya suami Mbak Las.” Bariah bersikukuh sekaligus ingin memastikan bahwa dugaan dia sejak kemarin itu benar demikian.


“Saya bilang juga gak tahu, Bu,” jawab kembali Lastri agak kesal. “Mereka ngakunya cuman temen lama Kang Abas. Katanya udah lama gak ketemu. ‘Gitu aja sih, Bu.”


“Ah, masa?”


“Iya, Bu. Masa saya ngada-ngada?”


“Tapi kelihatannya kayak udah akrab ‘gitu sama Mas Basri,” ujar Bariah sok tahu. “Kayak rekanan bisnis begitulah, Mbak. He-he.”


“Saya pikir sih bukan, Bu. Kalo emang temen kerjanya Kang Abas, ngapain mereka dateng ke mari? Bukannya Kang Abas lagi ada di kota dan kerja? Kalo ada perlu, ya ... samperin aja di tempat kerjanya. ‘Kan, sama-sama kerja.”


“Ooohh, iya juga, sih. He-he,” ujar Bariah kembali sambil menggaruk-garuk kepala.


“Nah, terus sekarang ... hubungannya sama saya gak boleh belanja di sini tadi, apaan, Bu?” tanya Lastri akhirnya. Pemilik warung gosip itu bingung hendak menjawab. Matanya jelalatan melihat-lihat penghuni rumah-rumah di depan yang masih berkerumun memperhatikan. “Duh, apaan, ya? Saya sendiri bingung, Mbak?” katanya serba salah.


“Lho, kok ... malah bingung sendiri, sih? Katanya tadi ngikutin saran dari warga sini? Saran apaan, sih, Bu? Emang salah saya apa?” Bertubi-tubi istri Basri itu bertanya demi mendapatkan kejelasan, sampai-sampai Bariah sendiri bingung untuk menjawab.

__ADS_1


“Duh, saya bingung jawabnya, Mbak. Gak enak hati, nih. Maaf, ya.”


“Bilangin aja, Bu. Gak apa-apa, kok, biar semuanya jelas dan gak ngambang kayak ‘gini,” ujar Lastri mendesak. Tanya pemilik warung tersebut, “Beneran gak apa-apa, nih, Mbak?”


“Iya, Bu. Gak apa-apa. Saya pengen tahu."


Wanita tua itu kembali menyorongkan badan. Berkata lebih pelan nyaris sebuah bisikan. “Sebelumnya mohon maaf nih ya, Mbak, menurut warga sini, Mas Basri itu ... begal.”


“Astaghfirullahal’adziim!”


“Beneran, Mbak, tapi itu menurut warga, lho. Bukan saya yang ngomong,” kata Bariah berbohong. Padahal justru dari mulut wanita tua itulah kabar miring itu bermula. “Saya, sih, tetap gak percaya, Mbak. Soalnya udah lama juga kenal sama Mas Basri dan Mbak Lastri ini. Apalagi Iyan dan Iyam juga sering main sama anak-anak tetangga sini. Pokoknya bagi saya, keluarga Mbak Las ini keluarga baik-baik, deh. Maaf lho, Mbak.”


Tiba-tiba rasa perih itu mulai menyayat-nyayat hati Lastri. Entah mengapa, di saat keluarganya sedang beranjak membaik, ujian baru itu pun datang menerjang.


“ ... Makanya warga sini ngelarang saya buat nerima Mbak Las belanja di sini. Soalnya ... menurut mereka, duit yang dipake Mbak Las itu ... uang haram,” imbuh kembali Bariah seraya menahan senyum yang sedari tadi menggelitik bibirnya. “Terus terang saja, Mbak, saya jadi serba salah. Jadi ngerasa gak enak hati sama Mbak Las. Ke sana tetangga, ke sini tetangga. Saya, sih, pengennya baik-baik aja sama semua orang. Tapi ... kalo sampe gak dengerin suara mereka, saya takut bangkrut. Mana udah gak punya suami, anak masih nganggur, dan yaaa ... inilah satu-satunya usaha saya sekarang. Makanya terpaksa saya—“


“He-he. Maaf ya, Mbak,” ucap Bariah sambil menganggukkan kepala sekali.


Lastri tersenyum hambar. Dia segera pamit pulang dengan hati penuh luka. Berjalan lunglai menuju rumah dengan tangan hampa. Rencana semula hendak memasak seperti biasa teruntuk anak-anak. Namun kini, air ludah pun mendadak berubah jadi pahit. Tidak ada semangat maupun rasa lapar yang sedari tadi mengentak. Bahkan ketika Aryan dan Maryam datang menyambut, perempuan itu tidak sanggup lagi berkata-kata.


“Ibu, kok, gak bawa apa-apa? Katanya tadi mau belanja?” tanya Aryan terheran-heran. Ditimpali oleh adiknya dengan sikap polos, “Kita hari ini gak makan di rumah, ya? Pasti ngajak makan di luar, ‘kan, kayak sama Bapak kemaren?”


‘Ya, Allah!’


Tidak tahan lagi menahan gejolak hati sedari tadi, Lastri bergegas masuk ke dalam kamar. Tersedu sedan sendiri menumpahkan keperihan yang tengah dirasakan.


“Kang Abaaasss!” jerit perempuan itu usai membanting diri ke atas tempat tidur. Sementara kedua anaknya berteriak-teriak memanggil ibunya sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar yang tertutup rapat.

__ADS_1


“Ibuuu!” panggil Aryan dan Maryam berbarengan. “Ibu kenapa? Ibu nangis?”


“Ibu buka pintunya! Iyam laper pengen mamam, Bu!”


“Ibuuu!!!”


Sementara itu sosok di warung tadi sibuk berkata-kata sendiri usai beberapa waktu kepulangan Lastri, ‘Hhmmm, pantas saja usaha saya tidak maju-maju. Si Supri pun susah mendapatkan pekerjaan. Ternyata selama ini saya ikut makan uang haram dari si Basri. Kurang ajar sekali. Kalau saja tahu dari awal, tidak sudi saya menerima uang pembayaran belanja si Lastri. Huh! Pasti sekarang si Basri sedang dikejar-kejar tiga orang lelaki kemarin itu! Syukurin! Rasain! Itu akibat suka mencuri hak dan milik orang lain. Hi-hi!”


“Eh-eh, ‘gimana-‘gimana, Bu? Apa kata si Lastri tadi? Cerita, dong! Beneran, ‘kan, lakinya begal rampok? Terus itu kemaren, preman bopeng itu polisi yang lagi nyamar, ‘kan?” Sekelompok ibu-ibu yang tadi mengintip percakapan Bariah dan Lastri serentak berlarian ke warung dan sibuk bertanya-tanya.


“Huh, belanja dulu, dong! Baru saya cerita,” balas Bariah tidak mau kalah.


“Lho, apa urusannya? Kok, jadi belanja?” tanya mereka terheran-heran.


Sambil bergaya angkuh, wanita tua pemilik warung gosip tersebut menjawab, “Gak ada informasi yang gratis, Bu-ibu. Maaf, ya. Hi-hi.”


“Huuhhh!” Ibu-ibu tersebut berseru kecewa, tapi menuruti permintaan Bariah tadi. Belanja tidak penting.


“Hi-hi!”


...------- o0o -------...


Sosok perempuan itu berlari-lari dari ruangan karaoke menuju pelataran parkir. Sebelum memutuskan keluar, dia berhenti sejenak di dekat jendela kaca gedung. Mengintip sebentar, memperhatikan tiga sosok lelaki berbadan besar sedang beradu mulut di sana. ’Itu, ‘kan, anak buahnya Bos Brutus,’ gumamnya ragu hendak mendekat dan melihat secara langsung, terutama untuk menemui tiga orang lainnya. Mereka adalah pengunjung tempat hiburan tersebut barusan. ‘Ada perlu apa mereka dengan tamu-tamuku tadi itu? Sepertinya ada masalah.’


Tidak berapa lama, satu orang di antara ketiganya diseret paksa lelaki berbadan besar tadi, masuk ke dalam sebuah kendaraan yang sudah siap tidak seberapa jauh dari sana. Sisanya tergeletak kesakitan sambil memegangi perut masing-masing.


“Mas Juned! Mas Cemong! Apa yang terjadi?” tanya sosok perempuan tadi seraya menghampiri, begitu ketiga lelaki kekar tadi sudah meninggalkan tempat.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2