Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 55


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 55...


...------- o0o -------...


Asih semakin merapatkan katupan kelopak matanya. Bertahan dan berharap, genangan bening itu tidak sampai meluber dan membasahi pipi. ‘Kesih ....’ gumamnya di dalam hati. Seketika rasa perih itu kian menyayat.


“Asih ....” panggil Juragan Juanda mengentak lamunan. Buru-buru perempuan tersebut menyahut terbata-bata, “I-iya, J-juragan.” Lekas dia menyeka rembesan basah yang hampir saja meleleh dari benteng pelupuk matanya.


“Kamu denger apa yang saya ucapkan tadi, ‘kan?” tanya lelaki itu seraya memerhatikan pembantu rumah tangganya tersebut.


“I-iya, T-tentu saja, Juragan. Hiks!” Tidak sadar dia terisak.


“Kamu menangis, Asih?” Juragan Juanda bangkit dari duduk, mendekati Asih dari samping, dan menatap wajah janda muda itu kian merapat.


“Ah, enggak, Juragan!” jawab Asih buru-buru mengalihkan muka. “S-saya cuman ... inget sama mendiang ... Neng Kesih. Hiks! Hiks!”


“Ya, Allah! Kamu nangis, Asih!” seru Juragan Juanda seraya memegang bahu Asih dan membalikkannya hingga berhadap-hadapan. “Kenapa? Duduk ... duduklah dulu di sini, Asih,” pinta lelaki tua perlente itu, menarik serta mengajaknya duduk di pinggiran balai-balai saung. “Tenanglah. Ada apa ini sebenarnya?”


Asih menggeleng.


“Enggak apa-apa, Juragan. S-saya ... cuman ikut ngerasa sedih atas kepergian Neng Kesih dulu. Hiks! Hiks!”


“Iya ... iya, Asih. Tenanglah dulu. Jangan nangis.”


Usapan lengan kekar lelaki itu di bahunya, sedikit membuat Asih merasa jauh lebih tenang. Namun di balik semua itu, tiba-tiba saja perempuan tersebut seperti tengah mendapatkan angin segar atas apa yang selama ini dia tahan. Tanpa sadar dan malu-malu, janda muda itu memiringkan tubuh ke samping, menjatuhkan kepala, tepat di pundak Juragan Juanda.

__ADS_1


“M-maafin s-saya, Juragan,” ucap Asih tersedu sedan. “Maafin saya ....”


Lelaki tua itu terperangah. Untuk beberapa saat dia hanya terdiam disertai detak jantung mendadak bertalu-talu. Tidak menyangka sama sekali jika Asih akan bersikap seperti itu padanya.


“I-iya, gak apa-apa, Asih. T-tenanglah ....” ujar Juragan Juanda gagap. Sementara usapan jemarinya kian menghangat. Laksana seorang bapak memperlakukan anak kandungnya sendiri. “Kamu ini sudah saya anggap sebagai keluarga saya sendiri di sini. Kalo ada apa-apa, ceritalah. Ada apa? Mungkin saya bisa bantu atau—“


“Ya, Allah!” seru Asih tiba-tiba kembali seraya mengangkat kepala dan menjauh dari samping Juragan Juanda. “Maafin saya, Juragan! Astaghfirullah!”


“Asih?”


“Maaf, Juragan. Saya khilaf! Astaghfirullahal’adziim!”


Perempuan itu seketika bangkit dan langsung berlari ke dalam rumah. Tidak memedulikan walau Juragan Juanda berkali-kali memanggilnya.


‘Bodoh sekali!’ rutuk Asih di tengah larinya. ‘Mengapa aku bisa sebodoh ini, Tuhan?! Tidak bisakah aku bertahan sedikit saja? Tidak berlaku sembrono seperti tadi! Ah, sialan! Aku benar-benar merasa malu kini pada Juragan Juanda! Huh!’


BRAK!


Asih kembali menatap cermin, perlahan-lahan membuka kebaya dan penutup dadanya. Lantas berputar-putar meneliti detil lekuk tubuh sendiri. Kemudian senyum itu pun mengulas membelah kedua pipi. ‘Hhmmm ... aku yakin sekali, Juragan Juanda masih memiliki hasrat. Walaupun umurnya sudah tidak lagi muda, tapi dia ....’


TOK! TOK! TOK!


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar.


“Siapa?” tanya Asih terkejut dan buru-buru meraih selimut di atas kasur, guna menutupi bagian atas tubuhnya yang terbuka.


Tidak ada jawaban. Hening.


“S-siapa, ya?”

__ADS_1


TOK! TOK! TOK!


‘Ah, siapa, sih? Apakah itu ....’Perlahan-lahan Asih membukakan pintu sedikit. Memberi celah untuk mengintip ke luar. Dan ....


“Juragan?”


Laki-laki tua itu tampak tersenyum. Dia mendorong daun pintu dan menyelinap masuk ke dalam kamar. Anehnya, Asih sama sekali tidak berusaha untuk menahan maupun melarang majikannya tersebut merangsek maju.


“Saya gak bisa tidur, Asih,” ujar Juragan Juanda bernada bisik, lantas mendorong mundur daun pintu dengan bokongnya hingga kembali tertutup rapat.


“Apa yang akan Juragan lakuin? S-saya ....”


“Saya masih ingin ngobrol sama kamu, Asih,” bisik lelaki tersebut seraya memegang kedua bahu pembantunya. Asih bermaksud menepis, tapi justru cekalan pada kain selimut di tubuh perempuan itu terlepas begitu saja. Serta merta, mata tua itu pun terbelalak hebat.


“Ah, maafin, Juragan,” ujar Asih buru-buru hendak menutupi kembali bagian dadanya tadi.


“Jangan, Asih! Biarin kayak ‘gitu!” seru Juragan Juanda mencegah jemari lentik tersebut menarik kain selimut ke tengah. “S-saya ... sangat menyukai ... nya.” Tanpa dipinta, lengan kekar itu pun terangkat naik dengan jari-jari mengembang lebar. Menjamah perlahan bagian yang terbuka tadi.


“J-juragan ....” desah Asih disertai gemuruh mengentak dada. Berharap sekali bahwa saat itu bukanlah mimpi yang sebelumnya dia alami sewaktu tertidur bersama Sadam di saung tadi. “J-jangan ... Juragan.”


Bukannya berhenti, lelaki tua tersebut malah semakin menjadi-jadi. Dengkus napas memburu seketika terembus hangat menerpa permukaan kulit belakang telinga dan area leher. Mata Asih pun terpejam ayam. Menikmati perlakuan majikannya, bagai seorang bayi raksasa yang tengah dilanda rasa haus bertahun-tahun lamanya.


“Saya sangat menginginkannya, Asih,” bisik Juragan Juanda di antara tarikan napas tersengal-sengal menyerang paru-paru tuanya. “Berbulan-bulan saya bertahan dengan perasaan ini sama kamu, Asih. Sekarang ... saya ingin ....”


“Juragan ....”


Keduanya jatuh bergulingan ke atas pembaringan keras dan sedikit berbau. Mereka tidak peduli. Apalagi dengan suara derit pergesekan ranjang kayu menahan beban berat tubuh-tubuh yang tengah bermaksiat tersebut. Perempuan muda itu malah tersenyum penuh kemenangan, seraya bergumam riang di dalam hati, ‘Akhirnya ... laki-laki tua ini jatuh juga ke dalam pelukanku. Hi-hi. tinggal beberapa langkah lagi, semuanya akan kudapatkan bulat-bulat. Cintanya ... juga hartanya.’


“Aahhh!” Asih mendesah lirih begitu kepala lelaki tua itu turun menyusuri setiap inci tubuhnya. Perlahan-lahan dengan suara kecup yang tidak berkesudahan, mulut Juragan Juanda berhenti mencucup. Tepat di bagian atas perut yang sudah tersingkap sedemikian bebas.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2