Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 44


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 44...


...------- o0o -------...


“Terserah Bapak aja, deh,” ujar Lastri pasrah. Bagaimanapun juga semua keputusan senantiasa dia pasrahkan dan percayakan sepenuhnya pada lelaki tersebut. “Aku mau masak dulu, buat persiapan makan malam kita.” Perempuan itu bergegas meninggalkan suaminya ke dapur, ditemani oleh Aryan dan Maryam yang ikut sibuk berbenah.


Basri menatap sosok istrinya hingga lenyap di balik pintu dapur baru, kemudian meletakkan ponsel yang sudah siap dihidupkan tadi ke lantai, mendengus beberapa kali, dan terakhir malah duduk merenung di sana. ‘Kasihan sekali Lastri. Dia harus ikut menanggung beban atas apa yang kulakukan selama ini,’ membatin lelaki ini. Tatap matanya menerawang ke atas langit-langit. Mengingat masa-masa sulit dulu selama tahunan lebih, tapi Lastri jarang sekali terdengar mengeluh. Dia senantiasa bersabar dan menerima apa pun yang diberikan suami. Kini, di kala roda perekonomian keluarga sudah membaik, perempuan tersebut justru malah terlihat sebaliknya. Apalagi beberapa pekan yang lalu ....


“Bu, kamu sakit?” tanya Basri keesokan hari usai menemukan Lastri tergeletak pingsan di kamar mandi. “Enggak, Pak. Aku ngerasa sehat-sehat saja. Alhamdulillah,” jawabnya seraya tersenyum seperti biasa. “Cuman kepalaku saja yang rasanya agak sedikit pusing. Kayak abis kebentur ‘gitu lho, Pak.”


“Kamu semalem pingsan, Bu,” ujar Basri.


“Ah, masa, sih?” Raut wajahnya memperlihatkan keheranan. “Semalem aku gak ngerasa apa-apa.”


“Semalem aku nemuin kamu pingsan di kamar mandi, Bu. Mana lampu rumah juga mati semua,” tutur Basri menjelaskan. “Sebenernya kamu ini kenapa? Kecapekan?”


“Enggak ah, Pak,” balas Lastri bersikukuh. “Semalem itu aku ketiduran abis sholat Maghrib. Bangun-bangun hampir janari. Makanya aku buru-buru bangun buat sholat Isya.”


Alis Basri terangkat naik. Heran.


“Serius kamu gak inget apa-apa?”


“Iyalah. Masa, sih, aku bohong? Yang ada itu kamu, Pak, bangun Subuh siang ‘mulu.”


Lelaki itu makin tidak mengerti. Padahal sewaktu tersadar malam-malam, dia terbangun karena Lastri sudah berada di atas tubuhnya, mengajak berhubungan intim. Bahkan sampai beberapa kali dan sikap istrinya juga tidak seperti biasa. Sangat menggairahkan. ‘Ada apa dengan Lastri? Masa dia tidak ingat apa pun?’ bergumam sendiri Basri diliputi berbagai tanya dan prasangka. Hingga esoknya hendak diajak berobat, dia menolak. “Aku sehat kok, Pak. Ngapain berobat?” ujarnya bersikukuh.


Bukan sekali itu saja Basri menemukan keganjilan pada sikap istrinya. Terkadang dia memperhatikan raut wajah Lastri murung seperti memendam sesuatu, tapi beberapa waktu kemudian berubah ceria penuh semangat. Hal yang tidak biasa selama mereka berumah tangga.

__ADS_1


‘Tidak mungkin jika itu pengaruh dari Jimat Tali Mayat yang aku punya,’ kata Basri berusaha mengusir pikiran-pikiran aneh tentang benda khusus tersebut. ‘Benda pemberian Ki Jarok itu hanya akan berefek padaku seorang, bukan terhadap Lastri maupun anak-anak.’


Basri ingat betul, semua saran dari dukun tua tersebut senantiasa dia lakukan seorang diri di waktu-waktu tertentu. Malam Jumat Kliwon. Melakukan ritual khusus untuk mengurus dan merawat jimat tersebut. Tidak ada yang terlewat sama sekali. Terkecuali nanti, setahun sekali dia harus menemui Ki Jarok untuk mengikuti persembahan besar.


“Tepat dua belas bulan dari sekarang, kauharus datang ke sini, Basri,” pinta Ki Jarok mewanti-wanti sebelum lelaki ceking tersebut meninggalkan gubuk tuanya di kaki Gunung Halimun beberapa bulan lalu. “Di saat tengah malam purnama, untuk melakukan ritual besar demi keampuhan Jimat Tali Mayat yang sudah kaumiliki sekarang.”


“Tentu, Ki. Saya akan selalu ingat pesan Aki yang satu itu,” balas Basri berjanji.


Ujar kembali Ki Jarok, “Baguslah. Aku harap memang begitu. Kalau tidak, kau akan tanggung sendiri akibatnya, Basreng!”


“Iya, Ki. Saya tahu dan akan selalu ingat itu.”


“Hik-hik.”


Basri tersenyum-senyum sendiri mengingat-ingat kejadian yang telah dia lalui dan lakukan sebelumnya.


“Hik-hik!”


“Hik-hik!”


“Aki?” Basri menoleh ke arah sumber suara. “A-aki ... ah! Astaga!” Spontan dia tersurut mundur. Terkejut bukan alang kepalang. Suara tertawa itu bukan milik dari dukun tua itu, melainkan ....


Sesosok putih berkain kumal lengkap dengan lima ikatan dari kaki hingga ujung kepala, berdiri terkekeh-kekeh di sudut ruangan. “M-makhluk itu ....” desah Basri langsung memucat pasi. Ingin berlari menghindar, tapi tenaganya mendadak sirna. “Mau apa kamu ngikutin kami?” tanya lelaki ini pelan laksana berbisik lirih.


“Hik-hik!”


Di saat bersamaan, tiba-tiba terdengar tangis Maryam dari arah dapur. Anak perempuan itu menjerit-jerit keras menambah rasa kejut yang tengah dialami Basi.


“Bapaakkk!” panggil Lastri histeris memanggil suaminya. Disusul suara Aryan berusaha menenangkan Maryam. “Bapaakkk!”


“Makhluk sialan! Apa yang telah kamu lakuin sama anakku?” Basri menggeram marah kini. Perlahan-lahan dia bangkit walaupun masih terasa lemah, hendak bergegas ke arah dapur. Usai tertawa sejenak, makhluk berwujud pocong tadi perlahan-lahan menghilang dari pandangan. Seketika itu juga, kekuatan laki-laki itu langsung berubah normal.

__ADS_1


“Iyam! Apa yang terjadi, Nak?” teriak Basri memburu suara anaknya di dapur. Sesampai di sana, anak perempuan itu masih menjerit-jerit histeris dipegangi oleh Lastri dan Aryan. “Ada apa ini?” tanya kembali Basri panik.


Jawab Lastri, “Iyam kebanjur minyak panas, Pak!”


“Ya, Tuhan!” seru Basri lekas meraih tubuh Maryam dan membawanya keluar dari dapur. “Cepat ambilin botol kecap, Bu!” titahnya pada Lastri. Secepat kilat, yang disuruh segera mengambilkannya dari tumpukkan kardus yang belum diberesi. Beberapa kali dibolak-balik, benda yang dicari belum kunjung ditemukan.


“Cepetan, Bu! Ambilin botol kecap!” teriak Basri dari ruang depan.


Lastri kembali mengubek seisi kardus mencari-cari yang dipinta suaminya. “Duh, ke mana kecap, ya? Kok, gak ada di sini?” Dia makin panik. Kemudian bertanya pada Aryan, “Iyan, kamu lihat botol kecap gak, Nak?”


Aryan yang tadi ikut berlari bersama Maryam dan Basri ke depan, langsung kembali ke dapur. “Itu ... yang Ibu pegang, botol kecap, Bu,” kata anak tersebut seraya menunjuk tangan ibunya.


“Hah? Kok, Ibu gak sadar, ya?” Lastri terheran-heran sendiri. “Astaghfirullahal’adziim!” Kemudian dia segera berlari menghampiri suami dan anaknya.


“Kok, lama amat, sih, Bu?” tanya Basri setengah emosi.


“A-aku tadi nyari-nyari dulu di dapur, Pak,” jawab Lastri bingung campur panik.


Tanpa menunggu lama, Basri segera mengambil botol kecap di tangan istrinya dan langsung menuangkan pada tangan Maryam yang terkena minyak panas tadi. Sesaat jerit tangis anak perempuan tersebut semakin menghebar, tapi perlahan-lahan mereda dan berhenti.


“Masih sakit?” tanya Basri. Maryam mengangguk. “Ya, sudah. Mudah-mudahan gak apa-apa, ya? Besok kita berobat.” Anak perempuan itu mengangguk masih diiringi sisa isak tangis.


“Hik-hik!”


Basri langsung menoleh begitu mendengar kekehan khas tersebut. Namun kali ini berasal dari tempat berbeda. Arah yang sedang ditunjuk oleh Aryan secara tiba-tiba dan pandangan melotot menakutkan.


“Iyan? Kamu kenapa, Nak?” tanya Lastri heran dan buru-buru menghampiri anak lelakinya tersebut.


Aryan tidak menjawab, tapi tetap menunjuk arah tadi.


“Hik-hik!”

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2