
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 80...
...------- o0o ------...
KROOAAKKK!
Mendadak paruh burung tersebut menjerit-jerit, di antara rasa sakit serta ketakutan, suara-suara tersebut hanya beberapa detik memekakkan telinga hingga akhirnya terhenti sama sekali.
KRAK!
Kali ini suara itu bukan berasal dari paruh burung hantu, melainkan patahan tulang kecil di lehernya atas gigitan ganas tanpa ragu dari seorang Basri. Lantas menarik koyakkan daging yang masih penuh bebuluan dengan ganas. Darah pun memuncrat segar dan ikut terseruput dengan nikmat, masuk ke dalam mulut lelaki tersebut.
“Aarrgghh!”
Bagai kesetanan, Basri mengunyah-ngunyah daging mentah hasil gigitannya berkuahkan cairan mentah beraroma amis. Tidak ada rasa jijik sama sekali tertampak dari raut wajah lelaki tersebut. Malah seperti tengah menikmati sepenuh hati karena desakan rasa lapar teramat.
KRAK! KRAUK! KRAUK!
Sedikit demi sedikit tubuh mentah burung hantu itu digigiti dan masuk ke dalam perut Basri. Mengurangi rasa perih yang sebelumnya sangat menyiksa. Beberapa kali dia meniupkan bebuluan yang ikut terkoyak bersama hamparan kulitnya. Sampai akhirnya tinggal menyisakan bagian-bagian keras dan tidak penting, seperti paruh dan kaki-kaki.
Basri mendengkus penuh nikmat, lantas melemparkan sisa bagian tubuh hantu tersebut ke atas tanah. Dia menyeka tepian mulutnya yang penuh bercak darah.
“Aahhh ... akhirnya kenyang juga,” gumam suami Lastri itu dan kini mulai merasakan tenaganya perlahan-lahan kembali. Kemudian menengok ke kanan-kiri, memerhatikan sudut jalanan yang begitu sepi. “Sialan, belum ada juga kendaraan yang lewat. Bagaimana ini? Apa gua mesti berjalan ke arah perkotaan?”
Untuk beberapa saat dia memutuskan menunggu dan menunggu. Berharap ada motor atau tukang ojek yang lewat menggunakan jalan di depan.
__ADS_1
‘Sepertinya gua memang harus meneruskan perjalanan ini dengan berjalan kaki,’ membatin Basri sembari menggaruk-garuk kepala menahan rasa kesal. ‘Siapa tahu di tengah perjalanan nanti, bertemu seseorang dan bisa gua pintai bantuan.’
Benar. Akhirnya Basri memutuskan untuk kembali berjalan kaki. Apalagi kini kondisi badannya berangsur-angsur segar dan dirasa cukup kuat untuk melangkah. Lantas usai melirik jam tangan yang sudah menunjukkan waktu petang, lelaki itu bangkit, menggendong ransel di belakang punggung dan mulai mengayunkan kaki.
Di saat bersamaan, baru saja beberapa langkah meninggalkan tempat, sayup-sayup terdengar seperti ada deru kendaraan bermotor meraung-raung dari kejauhan.
‘Aaahhh, tukang ojekkah itu?’ tanya Basri seraya menajamkan pendengaran. Berharap sekali kelak jika melewatinya, bisa langsung dipintai pertolongan dan lantas bergegas menuju daerah perkotaan untuk mencari penginapan. ‘Hhmmm, sepertinya memang suara itu menuju arah sini. Syukurlah.’ Senyum kecil seketika menyeruak dingin menandakan bahwa hati lelaki tersebut merasa semringah.
Tidak berapa lama, dari kejauhan tampak kerlip cahaya meliuk-liuk disertai deru mesin kendaraan menghampiri. Basri bersiap-siap berdiri mematung dan menunggu. Lalu melambaikan tangan meminta pengendara untuk berhenti begitu mulai mendekat.
“Permisi ....” ujar Basri sesaat setelah kendaraan berupa sepeda motor itu berhenti beberapa langkah di depannya. “Maaf mengganggu. S-saya lagi butuh bantuan tumpangan. Bisakah Anda—“
“Kang Basri ....” Satu suara memanggil dari pengendara di depan di balik helmnya.
Basri tertegun. Bukan hanya karena sosok di atas tunggangan kuda besi itu mengenali dirinya, melainkan suara tersebut dipastikan milik seorang perempuan.
“Akhirnya ... kita bertemu lagi, Kang,” ujar sosok yang memang merupakan wujud seorang perempuan dengan seulas senyumannya. “Akang masih inget sama saya, ‘kan?”
“Lilis?”
Sosok itu kian melebarkan senyumannya. “Iya, Kang. Saya memang Lilis,” jawab sosok tadi seraya turun dari atas tunggangannya. “Kaget, ya? He-he. Dunia ini begitu sempit buat kita berdua ya, Kang? Gak nyangka banget kita bakalan bertemu kembali di sini.”
Basri menggeleng-geleng tidak percaya. Sosok tersebut memang Lilis. Perempuan yang telah dia kenal sebelumnya sewaktu bermain-main di tempat hiburan karaoke beberapa waktu lalu bersama kedua temannya, Juned dan Cemong. Lebih dari itu, setahu Basri, Lilis juga adalah kaki tangan dan mantan kekasih dari seorang lelaki berwajah bopeng bernama Brutus. Pertanyaan yang timbul sekarang adalah mengapa tiba-tiba saja perempuan tersebut bisa berada di tempat sama dengan dirinya? Persis seperti kejadian dulu usai Basri dibawa paksa anak buah Brutus ke suatu tempat. Apakah ini suatu kebetulan? Sisi kenormalan otak Basri sedikit menyangkal.
“Mengapa kamu ada di daerah sini, Lis?” Lelaki bertubuh kerempeng itu mulai bertanya-tanya.
“Aneh ya, Kang? Hi-hi,” ucap Lilis disertai tawa kecilnya sembari berjalan mendekat. “Bukan sebuah kebetulan tentunya, Kang. Saya memang sudah lama mencari-cari Akang.”
“Mau apalagi? Atas suruhan si Brutus?”
__ADS_1
Lilis menggeleng, lantas menjawab perlahan, “Enggak, Kang. Sudah lama saya juga menjauh dari lelaki jelek itu. Sudah sejak lama juga saya mencari-cari Akang. Soalnya ada banyak hal yang ingin saya omongin sama Akang.”
Kening Basri berkerut hebat.
“Nyari-nyari saya? Mau ngomong apalagi?” Otak Basri berkelana. Dari kejadian sebelumnya dulu pula, dia harus bersikap hati-hati berhadapan dengan perempuan tersebut.
Mata Lilis terkesiap sesaat, menatap baju yang dikenakan Basri. “Akang terluka?” tanyanya seraya kian mendekat dan meraba-raba pakaian lelaki itu. “Ada banyak noda darah di baju Akang.”
Basri mundur sedikit. Menjauhi. “Jangan sentuh saya!”
“Jangan takut, Kang,” ujar Lilis menegaskan. “”Saya enggak bermaksud apa-apa sama Akang. Percayalah. Saya bukan Lilis yang Akang Basri kenal sebelumnya.”
“Aku bilang ... jangan mendekat, Lis!”
“Kang Basri.”
“Dari mana kamu tahu kalau aku ada di sini?”
Terdengar dengkus napas Lilis.
“Itu juga salah satu hal yang ingin saya bicarakan sama Akang,” jawab Lilis lirih. “Berbulan-bulan saya mencari-cari Akang, sampai saat ini secara kebetulan ... saya menemukan Akang di sini.”
“Enggak! Kamu bohong, Lis! Ini bukan sebuah kebetulan! Ini memang sudah kamu rencanakan sebelumnya, bukan?” balas Basri bersikukuh. “Jangan-jangan ... kamu memang sengaja menguntit saya, ‘kan?”
“Percayalah! Semuanya akan saya ceritakan nanti sama Akang,” timpal Lilis. “Sekarang ... sebaiknya kita segera pergi dari sini. Aku lihat, sepertinya Akang lagi butuh istirahat. Akang kecapekan.”
Basri menggeleng. Usai mengalami kejadian dulu, sudah sewajarnya jika lelaki tersebut tidak lantas bisa menaruh kepercayaan begitu saja terhadap perempuan itu. Namun dipikir-pikir ulang beberapa kali, tidak ada salahnya juga jika malam ini dia menerima tawaran bantuan Lilis untuk pergi dari tempat tersebut. Apalagi sejak tadi belum ada seseorang pun yang bisa dimintai bantuan. Setidaknya bisa menumpang hingga menemukan tempat penginapan, misalkan. Setelah itu, terserah. Mungkin kehadiran Lilis tidak lagi menjadi hal utama.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1