Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 48


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 48...


...------- o0o -------...


‘Sialnya, otakku kotorku beberapa pekan yang lalu memang benar adanya. Asih yang tidak sengaja kupergoki waktu itu bersama Sadam, ternyata mereka berdua habis melakukan ....’ Gumaman sosok lelaki tua yang tidak lain adalah Mbah Jarwo itu mendadak terhenti, begitu melihat sosok yang sedang dia intip, terlihat bersiap-siap pergi dari depan sana. ‘Mau ke mana lagi mereka? Apakah terus kubuntuti atau ... pulang saja untuk mencumbui istriku sendiri? Bah!”


Sosok tua tersebut memutuskan untuk mengikuti langkah Sadam dan Asih. Dari arah yang mereka tempuh, sepertinya hendak kembali ke rumah Juragan Juanda. Semula hendak berhenti membuntuti, akan tetapi urung dilakukan, karena di tengah perjalanan keduanya berpisah.


‘Mengapa si Sadam tidak terus mengantar si Asih sampai tiba di rumah Juragan Juanda?’ bertanya-tanya Mbah Jarwo sendirian di balik batang sebuah pohon besar. ‘Dari arah yang dipilih, jelas kalau si Asih memang mau pulang ke rumah majikannya. Tapi ... si Sadam? Mau ke mana lagi dia?’


“Pulanglah duluan, Nyai,” kata Sadam sebelum mereka berpisah arah. “Saya masih ada keperluan lain. Nanti malam kita ketemu di tempat biasa. Oke?”


“Akang mau ke mana?” tanya Asih manja, menyebalkan. Jawab lelaki di sampingnya, “Saya mau nemuin seseorang.”


“Siapa?”


“Uyat.”


‘Uyat?’ tanya Mbah Jarwo di balik pohon besar tadi. ‘Ada keperluan apa dia hendak bertemu dengan si Uyat?’ Benaknya mulai dipenuhi ragam pertanyaan. Namun hal tersebut jelas membuat dia lebih memilih untuk lanjut mengikuti langkah Sadam. ‘Aku mulai mencium aroma-aroma aneh dengan sosok-sosok mereka semua. Hhmmm, ada baiknya kuikuti saja kemanapun si Sadam pergi.’

__ADS_1


Sepeninggal Asih, Sadam segera mengeluarkan ponselnya. Menghubungi seseorang dan mengadakan janji bertemu di suatu tempat. “Oke, saya tunggu sekarang juga, Yat!” ujar Sadam di pengujung percakapan jarak jauh mereka. Kemudian usai menoleh ke beberapa penjuru pandang, lelaki yang masih betah membujang tersebut melanjutkan langkah. Menyusuri jalanan yang tidak biasa dilalui. Itu terlihat dari arah pijakan kaki, menembus rerumputan hijau yang masih baru dan menembus aral batang-batang pepohonan di sepanjang ayunan kaki.


‘Sepertinya dia akan menuju arah kidul[1]sana,’ gumam Mbah Jarwo sambil terus membayangi langkah-langkah Sadam dari kejauhan di belakang. ‘Sengaja memilih jalan pintas menuju area tanah perkebunan Juragan Juanda yang lain. Hhmmm, ini semakin membuatku penasaran dan mencari-cari tahu sendiri, apa sebenarnya yang akan mereka bicarakan di sana nanti. He-he. Tidak sia-sia selama beberapa hari ini aku menguntit manusia yang satu itu. Sejak awal-awal bertemu pun, aku sudah menaruh syak wasangka dengan dia. Bah!’


Dengan penuh kehati-hatian, Mbah Jarwo melangkah secara perlahan-lahan. Mata merah lelaki itu fokus mengawasi sekeliling, khawatir jika ada pihak lain turut berada di belakang. Sejauh ini membuntuti, tampak masih terbilang aman tanpa kendala. Namun terkadang suara obrolan sosok-sosok yang diikuti, nyaris tidak bisa ditangkap dengan jelas oleh telinga tuanya.


Benar saja, tidak seberapa jauh mengikuti, akhirnya Mbah Jarwo tiba di suatu tempat. Area selatan perkebunan milik Juragan Juanda yang jarang sekali turut Kepala Kampung Sirnagalih tersebut singgahi. Bahkan baru mengetahui detik itu pula, jika di sana pun ternyata sudah dibangun sebuah pondokan kecil dan bisa didiami.


‘Hhmmm, belasan tahun aku menjadi Kepala Kampung, baru kali ini melihat ada gubuk di sini,’ gumam Mbah Jarwo terheran-heran. ‘Sial, ada banyak hal yang luput dari pengamatanku selama ini! Dan itu menjadi hal-hal baru bagiku terkait berbagai permasalahan yang ada di dalam warga Kampung Sirnagalih ini! Apakah itu juga ada hubungannya dengan ....’


“Sudah tiba duluan rupanya kamu, Yat!” seru Sadam begitu melihat sesosok lelaki tengah duduk terdiam di balai-balai depan gubuk. “Cepat banget? He-he. ‘Gimana, apa kabarmu?”


“Baik, Dam,” balas Uyat. Mereka berdua bersalaman. “Kamu sendiri bagaimana? Ada kabar terbaru lagi?”


“Asih maksudmu?” tanya Uyat disertai senyuman penuh makna. Timpal Sadam kembali, “Apalagi? He-he. Perempuan itu makin jatuh cinta sama saya.”


“Tuh, ‘kan? Apa kata saya juga dulu. Urusan begituan mah[2]gampang banget, Dam,” ujar Uyat, “dukun pilihan saya itu memang terbukti sakti, ‘kan? Ha-ha!”


“Ha-ha!” Sadam ikut tertawa terbahak-bahak. “Bener pisan[3], Yat. Kalo tahu begitu, kenapa gak dari dulu saja, ya, saya make cara itu? Ha-ha!”


“Iya, ‘kan? Jangankan cuman urusan pelet-peletan, urusan lain kayak ....” Sejenak Uyat memelankan suara kala mengucapkan kalimat lanjutan berikutnya. “ ... Itu juga sudah berhasil dia lakuin. Buktinya sekarang, dia sudah hidup enak dan kaya raya. Ha-ha!”


‘Sial! Apa yang mereka bicarakan barusan? Aku sama sekali tidak mendengarnya dari sini!’ gerutu Mbah Jarwo di balik tempat persembunyiannya.

__ADS_1


“Bagaimana kabar dia sekarang?” tanya Sadam beberapa waktu kemudian. Jawab Uyat dengan nada pelan seperti tadi, “Sudah lama saya gak ketemu dia, Dam. Gak tahu sekarang ‘gimana. Mungkin malah sudah lupa sama kita-kita.”


Bujangan lapuk itu mendengkus.”Sudahlah, gak usah lagi kita ngomongin dia. Salah-salah, malah nanti bakal ngimbas ke kita-kita lagi, Yat. Si Juanda sendiri saja, sudah gak mau lagi membahas kejadian yang satu itu. Gak tahu sudah lupa atau mungkin dia sudah mulai terkena bujuk rayu si—“


“Ssttt! Jangan pernah nyebut nama lagi, Dam,” tukas Uyat mengingatkan. “Bahaya!”


“He-he! Gayamu itu sudah kayak si Asih saja, Yat. Mirip banget. Selalu berhati-hati kalo lagi ngomong.”


“O, ya?”


“Ya, begitulah,” jawab Sadam. “He-he, tapi justru itu bagus banget. Artinya dia selalu berusaha ngingetin saya agar jangan bertindak gegabah. Apalagi dalam perihal yang bersifat sangat sensitif.”


“Itu juga, ‘kan, kita ngambil pelajaran dari pengalaman yang sudah-sudah.”


“Termasuk kasus pembongkaran kuburan Sukaesih? Bukannya malah kamu sendiri yang ngebocorinnya, Yat? Ha-ha!”


Balas Uyat tidak mau kalah, “ ... Atas perintah Anda sendiri, Bos! Ha-ha!”


“Ha-ha!”


Kening tua Mbah Jarwo semakin mengerut hebat. ‘Oh, jadi mereka berdua yang menyebarkan rahasia itu? Hhmmm, tidak kusangka. Ternyata ada banyak musuh dalam selimut di antara wargaku sendiri. Kasihan sekali Juragan Juanda. Eh, tapi ... apa sebenarnya maksud mereka membocorkan kasus pembongkaran kuburan Kesih dulu itu? Ada rahasia apa sebenarnya yang sudah mereka sembunyikan selama ini?’ pertanyaan demi pertanyaan kian menghujani benak sosok tua tersebut. Namun selama mengintip dan menguping, tidak ada satu pun obrolan Sadam dan Uyat yang mengarah pada jawaban. Seketika, kedua lelaki di atas balai-balai itu hanya bercakap-cakap biasa. Tidak menarik bagi kuping seorang Mbah Jarwo. Hingga akhirnya pergi dari tempat tersebut secara bersama-sama.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2