Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 67


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 67...


...------- o0o -------...


Basri menyipitkan mata. Berusaha memperjelas penglihatan pada sosok yang dia sangka perempuan di dalam itu tadi. ‘Siapa dia? Wajahnya tidak begitu jelas, karena tertutup rumbai rambutnya,’ membatin lelaki ceking itu seraya terus menerus mempertajam tatapannya. ‘ ... Tapi, sepertinya aku ... pernah melihat wajah itu sebelumnya. Di mana? Siapa? D-dia ... d-dia ... ya, Tuhan!’ Dia menjerit sendiri dengan mulut terbuka lebar dan mata membulat besar.


“T-tolong ... lepaskan aku ....” ujar sosok tidak berdaya itu kembali lirih dan wajah memelas.


Di saat Basri merasa terkejut luar biasa, para makhluk berwajah menyeramkan itu malah tertawa-tawa.


“K-kesih ....” panggil Basri menyebut sosok di dalam ceruk yang merupakan sebuah kerangkeng tersebut.


Serta merta sosok perempuan tadi mengangkat wajah lebih tinggi dan menatap tajam pada lelaki bertubuh ceking tersebut. “S-siapa k-kau?” tanyanya mendalam. Begitu kepayahan saat berusaha untuk berucap.


“B-benarkah kau Sukaesih?”


“A-aku ... a-ku ... memang S-suk—“


“Bangun dan jalan! Cepat!” bentak wujud penjaga Ratu Galimaya tiba-tiba seraya menarik ke atas tubuh Basri dengan enteng. “Kau tidak ingin bernasib sama seperti perempuan itu, ‘kan? Hah? Ha-ha!”

__ADS_1


“Kesih!” panggil Basri kembali di tengah dorongan kasar atas tubuhnya. “Itu Sukaesih, ‘kan?”


“Jalan!”


“T-tunggu!” teriak sosok perempuan yang dipanggil Sukaesih tadi dengan nada lemah dan hampir berupa desah sayup.


‘Ya, Tuhan! Benarkah itu tadi Sukaesih?’ tanya Basri di dalam hati. ‘Tidak mungkin! Bukankah perempuan itu telah lama meninggal? Lalu mengapa dia ada di sini? Ini sangat mustahil sekali! Tapi makhluk-makhluk ini menawan mereka bukan tanpa sebab. Pasti ada sebuah alasan lain. Itu sudah pasti! Dan aku belum mengetahui itu karena apa. Haram jadah!’


Di saat berjalan mengikuti langkah-langkah besar para penjaga Ratu Galimaya, Basri melihat bukan hanya perempuan yang disangka Sukaesih tadi yang ada di sana. Ada beberapa lagi dan tentunya masih banyak berjubel di sana. Perempuan maupun laki-laki. Masing-masing menempati kerangkengnya tersendiri dengan kondisi yang hampir serupa. Dibelenggu menggunakan rantai besi besar dalam keadaan tubuh kurus kering. Sampai kemudian dia dibawa kembali ke ruangan khusus sebelumnya, kamar Ratu Galimaya.


“Bagaimana, Anak Manusia? Kau sudah melihat-lihat semuanya, ‘kan? Hi-hi,” tanya sosok perempuan cantik yang tidak lain adalah pimpinan sekumpulan para makhluk terkutuk tersebut. “Kelak, kau pun akan bernasib serupa seperti mereka jika tidak mau patuh terhadap perintahku. Paham kau sekarang, hah?!”


Basri tidak menjawab. Rasa takut itu tiba-tiba menyergap memenuhi relung hatinya. Serta merta dia pun jatuh terduduk, seperti hendak bersimpuh di hadapan sosok perempuan bernama Ratu Galimaya tersebut.


TREK!


Ratu Galimaya naik ke atas ranjang. Merebahkan diri dengan posisi miring dan kepala terangkat dipangku sebelah tangan. Sementara jemari lainnya bergerak turun menyusuri balutan kain, menarik sedikit belahan penutup bagian kakinya yang bertumpang tindih. “Kemarilah, Anak Manusia,” pintanya kemudian seraya melambai-lambai penuh makna. “Kau adalah tamu khususku malam ini dan tentunya bukan sebuah kebetulan diutus dukun tua itu untuk datang. Bukankah begitu?”


‘Benar dugaanku,’ membatin kembali Basri. ‘Ritual tahunan khusus yang Ki Jarok maksud rupanya adalah seperti ini. Aku ditumbalkan dia untuk memenuhi hasrat gila pemimpin makhluk-makhluk terkutuk itu!’


Lelaki ceking yang sedari awal sudah dalam keadaan tubuh polos tersebut menurut. Dia bangkit, mendekat, lantas menaiki pembaringan serta ikut tergolek di sebelah Ratu Galimaya. Dasar rasa takut yang ada, usai menyaksikan para tawanan di dalam kerangkeng tadi turut menyebabkan dia tidak lagi memiliki pilihan lain, selain patuh.


“Minumlah dulu ramuan khusus ini, Anak Manusia,” ujar Ratu Galimaya setelah membalik badan untuk mengambilkan segelas kecil minuman aneh di atas sebuah nakas antik di sebelah ranjang. Begitu dingin dan mengepulkan uap sejuk dengan rasa yang serupa.

__ADS_1


Basri lekas meneguk habis isi gelas tersebut. Masuk menyusuri rongga kerongkongannya, meresep begitu mendalam hingga menyejukkan di setiap helaan napas. Ada rasa aneh yang segera menyelimuti separuh jiwa lelaki tersebut setelahnya. Gelegak kelelakian dia tiba-tiba seperti menyentak-nyentak, lantas nanar menatap sosok jelita di samping penuh gairah.


Ratu Galimaya tersenyum menggoda seraya membukakan lilitan kain yang menutupi hampir seperempat bagian dadanya.


“Kemarilah ....” bisiknya menggelora. “Berikan aku kepuasan semalaman ini, Anak Manusia.”


Basri menyeringai, lantas bergumam hangat, ‘Tentu saja, Lastriku sayang ....’ Dia mulai meraba-raba bagian terbuka di depan matanya dengan sentuhan-sentuhan lembut.


...----------------- o0o -----------------...


Sementara itu di waktu yang sama di rumah kontrakan Basri di Kampung Kedawung. Usai menunaikan ibadah salat Isya dan memeriksa keadaan Aryan dan Maryam di kamar sebelah, Lastri kembali memasuki kamarnya sendiri. Rasa kantuk yang menyerang sedari awal petang tadi tidak lagi dapat dia tahan lebih lama. Kemudian lekas merebahkan diri di atas pembaringan setelah sebelumnya pergi ke belakang untuk membuang hajat kecil. Sebentar kemudian dia pun jatuh terlelap begitu mendalam.


Bersamaan dengan itu, tanpa diketahui oleh penghuni rumah, seseorang menyelinap masuk melalui pintu depan. Perlahan-lahan dia menguak daun pintu untuk menghindari derit engsel yang sudah lama berkarat, kemudian menjejakkan kaki penuh kehati-hatian di lantai. Lantas mengayunkan kaki langkah demi langkah sambil menahan helaan napas memburu. Matanya bergerak-gerak lincah menyapu setiap sudut pandang, seakan-akan ingin memastikan terlebih dahulu bahwa keadaan di dalam rumah tersebut sudah aman dan sunyi.


‘Agaknya dia sudah tertidur lelap. He-he. Baguslah ....’ membatin sosok tersebut. ‘Jadi aku tidak perlu lagi bersusah payah untuk segera mendatangi perempuan itu.’


Setelah dirasa aman, perlahan-lahan dia mendorong pintu kamar. Mengintip sebentar kondisi Lastri yang sudah tergolek di atas tidur, lantas segera masuk dan tidak lupa menutup kembali daun pintu rapat-rapat.


‘Hhmmm, tidak terlalu buruk untuk ukuran seorang perempuan kampung seperti dia,’ ujar sosok itu kembali diiringi kekeh kecil menyebalkan. ‘Seenggaknya, aku bisa turut menikmati tubuh perempuan berkulit sawo matang itu semalaman ini. Hik-hik. Lumayanlah, daripada terus-terusan dengan si janda muda Selasih itu. Hik-hik.’


Disertai degup jantung yang bertalu-talu menahan entakkan gelora meninggi, sosok itu duduk di sisi tempat tidur, tepat di samping golek tubuh Lastri. Sejenak dia menatap wajah perempuan itu, lantas mengusap lembut bagian dadanya yang tidak begitu besar.


“Hhhmmm,” erang Lastri masih dengan posisi mata terpejam begitu merasakan ada pergerakan halus menyusup masuk ke dalam belahan dadanya. “Kang ... kamu sudah pulang?”

__ADS_1


Sosok lelaki tadi tertegun. Dia tidak menjawab, tapi lekas mengusap wajah Lastri sekali. “Tidurlah, biar aku sendiri yang melakukannya,” ujarnya setengah berbisik.


......BERSAMBUNG......


__ADS_2