
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 87...
...------- o0o -------...
“Saya belum paham apa yang Bapak maksud? Sebenarnya ada apa, sih?”
Sekali lagi Aat kembali menyapu pandangan ke semua sudut ruangan surau. Ada beberapa warga yang masih duduk-duduk sambil berzikir di sana, sehingga membuatnya ragu untuk menceritakan hal secara keseluruhan.
“Sebaiknya kita cari tempat yang aman untuk berbicara, Pak,” ujar lelaki tua tersebut akhirnya. “Saya janji, pagi-pagi ini ... saya akan menemui Mbah di rumah.”
Mbah Jarwo mangut-mangut.
“Baiklah kalau memang begitu maunya Pak Aat. Saya tunggu kedatangan Bapak pagi ini.”
“Terima kasih, Mbah,” ucap Aat sebelum berpamitan pulang. “Sekarang saya harus kembali ke rumah Juragan Juanda dan secepatnya akan datang ke rumah Mbah Jarwo.”
Benar saja. Di saat fajar baru saja menyingsing, Aat menepati janjinya. Kebetulan jalan yang dilalui menuju rumah Mbah Jarwo harus melewati arah rumah Sarkim. Di sanalah akhirnya kedua orang tua tersebut bertemu kembali.
“ ... Saya rasa, istri saya sudah ikut terlibat dalam lingkaran masalah ini, Mbah,” tutur Aat di akhir penuturannya kemudian. “Entahlah, apa yang selama ini dia lakukan terhadap Juragan Sumiarsih. Aku berpikir, mungkin ini ada hubungannya dengan rencana yang tengah disusun oleh Sadam. Entah rencana macam apa. Yang pasti juga, ada kisah cinta segi tiga di antara Juragan Juanda, Asih dan Sadam. Persisnya, saya belum tahu. Apalagi sampai sejauh mana keterlibatan istri saya dalam perkara ini.”
Mbah Jarwo dan Sarkim serentak mangut-mangut dan sama-sama berpikir usai mendengarkan penuturan dari Aat barusan.
“Bagaimana menurut Mbah Jarwo?” tanya Aat kemudian. “Mbah selaku Tetua Kampung tentu bisa membantu menyelesaikan permasalahan ini, ‘kan?”
Mbah Jarwo melirik pada Sarkim. Lantas berucap perlahan-lahan, “Begini, Pak Aat ... sejujurnya ... mengenai hubungan Asih dengan Sadam, sudah lama pula saya mengetahuinya.”
“Apa?”
“Iya, Pak,” balas Mbah Jarwo kembali. “Tapi sejauh ini, saya juga belum bisa memastikan sepenuhnya sejauh apa hubungan mereka berdua itu. Hanya saja, mengenai Juragan Juanda sendiri ... justru baru kali ini saya mengetahuinya. Itu pun dari Bapak, barusan.”
“Terus, apa yang sudah Mbah Jarwo lakukan selama ini?”
__ADS_1
Tetua Kampung itu menarik napas dalam-dalam, lantas lanjut berkata, “Yaaa ... saya belum bisa berbuat banyak, karena hal ini menyangkut urusan pribadi seseorang.”
“Tapi juga membahayakan posisi Juragan Juanda, Mbah!” desak Aat dengan raut wajah yang menggambarkan rasa khawatir.
“Itu juga termasuk urusan pribadi Juragan Juanda sendiri. Masalah rumah tangga dia.”
“Terus, apa untungnya kalau begitu saya capek-capek menemui Mbah kalau hasilnya cuma seperti ini?”
“Tenang dulu, Pak,” ujar Mbah Jarwo seraya menepuk pundak Aat. “Mengenai Sadam, saya sendiri tengah menyelidiki orang itu sejak lama. Ini di luar daripada masalah hubungannya dengan Asih, ya? Ini beda lagi.”
“Masalah apa?”
Mbah Jarwo melirik pada Sarkim sejenak.
“Sepertinya dia terlibat masalah lain yang berhubungan dengan kasus pembongkaran kuburan Sukaesih beberapa bulan yang lalu.”
“Maksudnya? Saya jadi bingung.”
“Kalau soal rasa bingung, saya pun jauh lebih bingung, Pak,” timpal Mbah Jarwo. “Beberapa kejanggalan telah saya temukan pada keterangan demi keterangan yang pernah diutarakan oleh Sadam dulu. Karen fakta yang ada malah banyak yang bertolak belakang. Artinya, ada sebuah rahasia yang sengaja disembunyikan oleh Sadam terkait kasus pembongkaran kuburan almarhumah Sukaesih itu.”
Kemudian Mbah Jarwo menceritakan tentang penemuan barang bukti yang sengaja dihilangkan oleh Sadam, berupa lampu lentera yang ditemukan di dalam bongkahan makam Sukaesih. Ternyata lampu yang dimaksud masih ada dan disimpan di sebuah tempat lain, yakni sebuah gubuk di salah satu kebun terpencil milik Juragan Juanda.
“O, iya, Mbah,” imbuh Aat kembali seperti baru saja diingatkan. “Mengenai Asih, perempuan itu pernah kedapatan oleh kami, saya dan istri, menangis histeris di suatu malam. Kata dia sih, Juragan Juanda telah berbuat asusila terhadapnya.”
Alis tua Mbah Jarwo tiba-tiba naik tinggi. Sama halnya dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Sarkim.
“Apa? Kapan itu?”
“Beberapa minggu yang lalu. Kira-kira sudah lebih dari sebulan lewat, Mbah.”
“Saya malah enggak pernah mengetahuinya, Pak,” kata Mbah Jarwo.
“Saya juga,” timpal Sarkim sama-sama merasa terkejut.
Aat mangut-mangut.
__ADS_1
“Ya, memang. Masalah itu sengaja kami simpan dan enggak ingin warga lain sampai turut mengetahuinya, Mbah.”
“Lalu?”
“Kami masih ingin menjaga marwah majikan kami, sampai malam tadi ... cerita Asih itu seperti bertolak belakang dengan kenyataan yang ada.” Kemudian Aat menuturkan hasil pengamatannya akan perilaku mereka berdua semalam, Juragan Juanda dan Asih. “Sangat mustahil sekali jika ada seorang perempuan yang pernah dinodai oleh seorang laki-laki, terus memutuskan untuk pergi, lalu kembali lagi dengan sikap menyebalkan yang melebihi perilaku seorang perempuan berkelas murahan.”
“Maksud Pak Aat?” tanya Mbah Jarwo dan Sarkim serempak.
“Semalam ... justru saya melihat, Asihlah sebenarnya yang telah berusaha menggoda Juragan Juanda, hingga akhirnya ... perbuatan itu pun terjadi di saat Juragan Sumiarsih tengah terbaring sakit-sakitan.”
Mbah Jarwo dan Sarkim menyimak dengan saksama.
Lanjut Aat bertutur, “Secara logika, jika memang benar Juragan Juanda masih mencintai Juragan Sumiarsih, sudah pasti dia enggak akan pernah mau mengkhianati istrinya sendiri dengan cara berkasih-kasih dengan perempuan lain. Di rumahnya sendiri pula. ‘Kan, aneh ya, Mbah?”
“Berapa lama Asih pergi meninggalkan rumah Juragan Juanda setelah mengaku telah diperlakukan secara enggak manusiawi itu, Mbah?”
“Kurang kebih ....” Aat berpikir-pikir sejenak, “ ... sekitar dua mingguan, Mbah.”
“Bapak tahu ke mana Asih pergi selama dua minggu itu?”
“Saya gak tahu, Mbah.”
“Apa mungkin pulang ke kampung halamannya?”
“Kalau memang pulang ke sana, kecil sekali kemungkinan dia mau kembali menemui Juragan Juanda, apalagi dengan perilaku dia yang memuakkan itu.”
Mbah Jarwo pun berpikir-pikir sejenak. Namun tiba-tiba saja Sarkim menyeletuk, “Mungkin mencari seorang dukun, Mbah.”
“Buat apa meminta bantuan dukun, Kim?” tanya Aat.
Jawab Sarkim enteng, “Yaaa, mungkin untuk mengguna-gunai Juragan Juanda supaya dia jatuh cinta dan tergila-gila sama Asih.”
“Buat apa? Juragan Juanda ‘kan sudah mulai tua. Sedangkan Asih sendiri sudah memiliki hubungan khusus dengan Sadam.”
“Teorinya ‘kan seperti itu, Pak,” balas Sarkim sengit. “Jangan dilihat dari usia Juragannya, dong, tapi pikirkan juga akan harta kekayaan yang Juragan Juanda punyai sekarang. Perempuan mana sih yang mau nolak bersuamikan laki-laki kaya raya? Apalagi target incarannya adalah seorang suami kesepian yang beristrikan seorang perempuan sakit-sakitan.”
__ADS_1
“Jaga mulut kamu ... hei, Anak Muda! Kamu sudah lancang menghina majikan saya!” sentak Aat geram.
...BERSAMBUNG...