Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 59


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 59...


...------- o0o -------...


“Bu, mau makan gak?” tanya Basri membuyarkan lamunan. Dia dan anak-anak sudah bersiap-siap di meja makan. “Kok, malah bengong?”


Buru-buru perempuan itu mengulas senyum.


“Eh, enggak, Pak. Aku cuman ... tiba-tiba saja inget sama Abah dan Ambu.”


“Hhmmm,” deham lelaki ceking tersebut. “Nanti kalo ada waktu, kita ke Sirnagalih lagi, Bu. Sekarang, ‘kan, belom ngemungkinin.”


Lastri mangut-mangut. “Aku cuma khawatir, Abah sama Ambu dateng ke Cijengkol, tapi kitanya sudah gak tinggal di sana. Kasihan banget, ‘kan?”


Basri melirik ke arah Aryan dan Maryam.


“Ya, sudah. Jangan dulu mikirin itu, Bu. Sekarang kita makan. Anak-anak sudah kelaperan, tuh. Bener, ‘kan, Iyan-Iyam?”


“Iya, Pak!” jawab kedua anak tersebut berbarengan.


Menu biasa yang tersaji sungguh menggugah selera. Ayam goreng lengkap dengan nasi pulen hangat mengepul di dalam penanak nasi listrik. Namun seperti biasa, Basri tidak akan mau ikut menyantap. Cukup nasi ditaburi sedikit garam dan sambal kesukaannya.


Diam-diam Lastri melirik memerhatikan piring suaminya, kemudian bergumam kembali di dalam hati, ‘Itu juga. Kebiasaan makannya yang aneh. Sama sekali tidak pernah mau ikut menikmati hasil masakanku yang enak-enak dan berbahan daging. Benarkah karena faktor penyakit? Selama ini Kang Basri terlihat sehat-sehat saja. Bahkan sangat bertolak belakang dengan penuturan Ambu dulu, bahwa Kang Basri sangat menyukai penganan daging bebek sejak kecil.’ Sambil menyuapkan makanan, perempuan ini terus berpikir. ‘ ... Hati kecilku mengatakan, ini bukan karena faktor penyakit. Tapi Kang Basri seperti tengah menjalani syarat dan pantangan tertentu. Entah itu apa. Pusing sekali aku terus bertanya-tanya seperti ini! Huh!’

__ADS_1


Pertanyaan demi pertanyaan datang silih berganti. Benak perempuan itu nyaris penuh tanpa ada satu pun jawaban yang mampu meringankan rasa penasarannya. Dia memang sengaja untuk tidak banyak bicara terkait perihal tersebut, akan tetapi diam-diam terus memantau sikap suaminya itu. Bahkan hingga suatu saat pamit hendak pergi seperti biasa.


“Aku pergi dulu, ya, Bu,” ujar Basri berpamitan. “Tolong jaga anak-anak. Kalo sekiranya butuh bantuan, kamu bisa minta sama Mbah Karni. Atau hubungi aku segera, ya?” Perempuan itu berdecak saat suaminya menyebut nama lelaki tua pemilik rumah kontrakan yang mereka tinggali.


“Berapa lama kamu bakal pergi kali ini, Pak?” tanya Lastri seperti merasa berat hendak ditinggalkan laki-laki tersebut. Jawab Basri, “Seperti biasa, Bu. Paling-paling cuman dua atau empat hari. Nanti aku bakal ngasih tahu, deh, kalo udah waktunya pulang. Kamu mau minta oleh-oleh?” Kekeh kecil menguar dari wajah kusamnya.


Gumam Lastri, ‘Aku tidak minta itu, Kang Basri. Cuma ingin kejujuranmu saja. Itu.’


“Gampang, deh, Pak. Entar aku bilangin pas kalo kamu mau pulang, ya.”


Kini bergantian lelaki itu bicara pada kedua anaknya, Aryan dan Maryam. “Kak Iyan dan Adek Iyam, jangan nakal, ya? Bantuin Ibu di rumah selama Bapak pergi.”


“Iya, Pak,” jawab keduanya. “Kalo minta mainan boleh gak, Pak?” tanya Aryan, disusul oleh Maryam mengajukan hal senada. “Beliin boneka baru, dong, Pak. Boneka lama Iyam sudah mulai rusak.”


Basri tersenyum haru.


“Iya, Pak.”


Setelah itu, Basri pun mulai melangkah pergi meninggalkan keluarga kecilnya. Diiringi lambaian serta senyum dari ketiga orang-orang tercinta di depan halaman rumah.


“Berangkat, Pak?” tanya Mbah Karni begitu lelaki ini melewati depan rumahnya. Jawab Basri, “Iya, Mbah. Biasalah ... usrip (kerja berat). He-he.”


“Istri dan anak-anak ditinggal di rumah, Pak?”


“Iya, Mbah,” jawab kembali lelaki ceking tersebut, lantas berpesan pada Mbah Karni, “Titip keluarga saya ya, Mbah, selama saya pergi. Kalo ada apa-apa, cepet hubungin saya.”


Sosok tua itu terkekeh. “Oh, gampang itu, Pak. Pokoknya Pak Basri tenang-tenang saja di luar sana, biar urusan tadi saya bantu-bantu.”

__ADS_1


“Oh, terima kasih banget, Mbah,” ujar Basri seraya menyalami Mbah Karni. “Saya gak tahu mesti bilang apa, terkecuali berterima kasih. He-he.”


“Halah, jangan sungkan-sungkan, Pak Basri. Kita, ‘kan, bukan siapa-siapa lagi. Anggap saja, keluarga dari jauh ‘gitu. Hik-hik.”


“He-he. Mbah bisa saja.”


Sepeninggal Basri, Mbah Karni diam-diam mengulas senyum kambing. Beberapa kali dia mangut-mangut sendiri dan menoleh ke arah letak rumah kontrakannya di samping sana.


...---------- o0o ----------...


Setelah kejadian pada tengah malam itu, diam-diam Asih pergi dari rumah Juragan Juanda di pagi buta. Hanya membawa beberapa bekal pakaian dan uang seadanya, janda muda tersebut mengendap-endap keluar melalui jalan dapur.


‘Aku harus cepat-cepat pergi dari sini untuk sementara waktu, selagi ada kesempatan,’ gumam Asih seraya menoleh ke seputar arah untuk memastikan bahwa situasi saat itu aman. ‘Sikap Juragan Juanda tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Aku harus mencari jalan lain agar dia kembali mau dekat denganku. Huh, sialan! Semua ini terjadi gara-gara si keparat Sadam!’


Bukan perjalanan mudah dan dekat yang harus dijalani Asih, dia harus terus menerobos rerimbunan rumput tinggi dan dedaunan pohon-pohon yang menghadang di sepanjang langkah. Menuju sebuah tempat terpencil dan dulu pernah dia singgahi sebelumnya.


“Ada keperluan apalagi datang ke sini, Cah Ayu? Hik-hik,” tanya seseorang begitu perempuan tersebut tiba di tempat tujuan hampir menjelang waktu sore hari. Asih mendengkus keras, cemberut, dan berkata layaknya anak terhadap seorang ayah. “Ini masih terkait masalah yang dulu itu, Ki,” jawabnya mengadu.


“Masalah apa, Cah Ayu? Urusan si Juanda lagi? Hik-hik!” Tawa khas itu kembali mengekeh, menggaung di dalam ruangan kecil dan nyaris gelap. Bau kemenyan yang berasal dari asap pedupaan, membuat Asih beberapa kali harus terbatuk-batuk perih usai menjawab melalui anggukannya. “Belum selesai juga rupanya niatmu untuk memikat hati laki-laki tua itu, Asih.”


“Sesuatu telah terjadi di antara kami, Ki,” tutur janda muda tersebut kembali mengadu. “Juragan Juanda mengetahui kalau aku ternyata ada main pula dengan lelaki lain. Itu sangat fatal sekali, Ki. Padahal, sedikit lagi, saya akan mendapatkan lelaki tua rupawan itu. Huh!”


Sosok lelaki tua berjanggut panjang dan putih itu mengangguk-angguk. “Terus ... bagaimana dengan kondisi Sumiarsih saat ini? Apakah dia—“


Tukas Asih dengan cepat, “Saya sudah melakukan semua perintah dari Aki. Membuatnya sakit secara perlahan-lahan. Tapi ....” Perempuan itu menelan ludah sejenak. “ ... Mengapa tidak sebaiknya kita buat mati saja dengan cepat seperti anaknya dulu, Ki?”


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2