Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 26


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 26...


...------- o0o -------...


“Kamu ini mimpi ‘ngkali, Bu. Sudahlah, kalo emang masih ngantuk, tidur saja duluan, gih. Aku mau nelpon dulu temen kerjaanku, ya.” Basri keluar dari kamar hanya mengenakan kaos singlet dan celana pendek. Sebentar kemudian terdengar gaung suaranya bercakap-cakap melalui pesawat telepon genggam di beranda rumah.


‘Mimpi? Beneran tadi cuma mimpi?’ tanya Lastri masih tidak percaya. Lekas dia menuju ruang belakang, memeriksa kamar mandi yang memang terlihat terang benderang. Tidak ada sisa lilin di sana. Cicak di dinding, mungkin? Ada beberapa ekor menempel kuat di dinding atas sana. Bahkan ketika membuka laci meja tempat penyimpanan persediaan lilin di dapur, benda putih panjang itu masih utuh belum pernah digunakan.


Aryan dan Maryam pun sudah tergolek lelap di kamar masing-masing begitu Lastri memasuki ruangan tidur mereka.


‘Syukurlah kalo memang tadi cuma sekedar mimpi,’ pikir Lastri begitu kembali ke kamarnya. ‘Tapi ... rasanya seperti nyata saja.’


Dipikir-pikir kembali, akhir-akhir ini dia sering dilanda rasa kantuk luar biasa menjelang waktu Magrib tiba. Malas untuk berwudu dan kucuran air pun laksana tusukan ribuan jarum yang menancapi lobang pori-pori kulit. Bahkan jika sebelumnya suka mengaji Al Quran sambil menunggu waktu Isya tiba, sudah beberapa pekan ini nyaris tidak lagi dilakukan. Kalau saja tadi tidak dibangunkan Basri, mungkin dia akan tertidur sampai pagi besok. Meninggalkan dua waktu ibadahnya secara sia-sia. Berdosa, sudah pasti. Akan tetapi penyesalan hanya tinggal sebuah kata, enggan untuk menggantinya di lain waktu.


Samar-samar dari depan rumah masih terdengar suara obrolan Basri. Masih dihinggapi separuh rasa malas, Lastri memaksakan diri untuk ke belakang. Bermaksud untuk mengambil air wudu dan segera menunaikan ibadah salat Isya sebelum kantuk itu kembali melanda.


“Ya, Allah! Kenapa kamar mandi itu kembali gelap? Bukannya tadi lampunya masih menyala?” Perempuan itu terkesiap begitu melihat ruangan kecil dekat dapur tersebut dalam keadaan menghitam. “Paakkk!” panggil Lastri hendak meminta bantuan suaminya. Hening. Padahal belum lama tadi gema suara lelaki tersebut masih terdengar. “Bapak! Tolongin sini sebentar, dong!”


Tidak ada sahutan.


“Ke mana, sih, dia?” tanya Lastri bergegas ke depan rumah. Tidak ada siapa-siapa di sana. Bahkan pintu utama pun masih dalam keadaan terkunci dari dalam. Aneh. Begitu pula dengan kamar anak-anak. Kosong melompong.

__ADS_1


“Iyan! Iyam! Kalian di mana?”


Sunyi.


Di saat tengah kebingungan, tiba-tiba seluruh lampu di rumah tersebut padam. Pekat menghitam pun segera menggayuti seantero alam penglihatan. Mendadak rasa takut itu mendekap erat di sanubari perempuan tersebut. Bulu kuduk turut meremang, bangkit menakutkan.


Wuusss!


“Pak?”


Daun telinga Lastri seperti ada yang meniup dari belakang. Aromanya pun teramat busuk menusuk indera penciuman. Dia berusaha menggapai-gapai di dalam kegelapan. Berharap ujung jemarinya menyentuh dinding dan bisa menuntun menuju laci meja di dapur untuk mengambil sebatang lilin.


...------- o0o -------...


Basri dan kedua anaknya, Aryan dan Maryam, serempak mempercepat langkah sepulang dari musala. Mereka berlari-lari kecil begitu melihat kondisi rumah dalam keadaan gelap gulita.


Bukan hanya lampu depan, nyatanya begitu tiba di beranda rumah, hal yang sama pun terjadi di dalamnya. “Bapak sendiri gak tahu, Yan,” jawab lelaki tersebut sembari mengintip celah kain gorden jendela. Pekat menggulita. “Mungkin KWH-nya ngejepret atau Ibu ketiduran,” imbuhnya kembali was-was. Segera memeriksa meteran listrik yang berada tepat di samping atas pintu akses utama keluar-masuk rumah. Normal. Masih dalam kondisi semestinya.


“Assalaamu’alaikum!” ucap Aryan dan Maryam berbarengan seraya mengetuk-ngetuk pintu. “Bu, kami pulang!”


Buru-buru Basri merogoh anak kunci yang di bawanya sejak keluar tadi petang, membuka slot, dan memutar panel pintu seketika. “Kalian tunggu dulu di sini sebentar,” ujar lelaki tersebut pada kedua anaknya. “Bapak mau meriksa kondisi di dalam rumah, ya?”


“Iya, Pak,” jawab mereka patuh.


Dengan bantuan cahaya dari flash telepon selulernya, perlahan-lahan Basri mengendap-ngendap memasuki rumah. Pertama-tama yang dia cari adalah tombol saklar lampu di dinding. Terlihat masih dalam posisi mati. ‘Pantesan, belum dinyalain rupanya,’ gumam laki-laki bertubuh ceking tersebut. Sebentar kemudian kondisi rumah pun berubah terang benderang. ‘ ... Tapi, Lastri ke mana, ya? Ketiduran atau lagi keluar rumah? Gak ‘tisasari’-nya.’

__ADS_1


Usai menerima isyarat dari bapaknya, Aryan dan Maryam pun turut memasuki rumah. Melihat-lihat sekeliling ruangan, mencari-cari sosok ibu mereka.


“Buuu!” panggil anak sulung pasangan Basri dan Lastri tersebut. “Kami pulang, Bu. Ibu di mana?” imbuh anak lelaki tersebut bertanya. Tidak ada jawaban maupun sahutan. Sementara bapaknya langsung memeriksa kamar tidur. Juga kosong. “Ibu kalian gak ada di kamar, Anak-anak,” ujar laki-laki tersebut dengan raut wajah cemas.


“Ke mana, ya, Pak?” tanya Aryan bingung. Sementara adik perempuannya mulai tampak ketakutan seraya memegangi lengan sang kakak. “Ibu, kok, gak ada, ya, A Iyan?” tanya gadis kecil itu bernada sendu. Jawab Aryan seketika, “Tenang saja, Dik. Mungkin Ibu lagi ke warung Bu Bariah.”


“Malem-malem begini?”


“Yaaa ... siapa tahu begitu,” jawab kembali anak lelaki tersebut walaupun dia sendiri belum bisa memastikannya.


Usai menutup pintu depan dan menguncinya, Basri meminta anak-anak untuk berdiam sebentar di ruangan tersebut. “Bapak mau ke ruangan belakang dulu. Siapa tahu Ibu lagi nyuci di kamar mandi,” katanya seraya mendudukkan kedua anaknya di atas kursi.


“Iya, Pak,” balas Aryan dan Maryam serempak.


Diliputi berbagai tanya dan rasa ketar-ketir, Basri bergegas ke ruangan dapur dan kamar mandi. Sekalian menyalakan lampu-lampu di sana yang masih dalam keadaan belum dinyalakan.


“Astagh ... eh, Bu!” seru laki-laki tersebut begitu memasuki dan menyalakan lampu kamar mandi. “A-apa yang terjadi sama kamu, Bu?!” Dia langsung panik melihat sosok istrinya ternyata berada di dalam sana. Tergeletak di lantai basah dalam kondisi tidak sadarkan diri. “Duh, Gusti Nu Agung! Ada apa ini?”


Basri segera mengangkat tubuh Lastri, membawanya keluar dari sana menuju kamar tidur. Aryan dan Maryam langsung berteriak histeris begitu melihat ibunya dibopong oleh bapak mereka yang kepayahan.


“Ibuuu!”


“Jangan mendekat, Anak-anak! Beri Bapak jalan sebentar. Kalian tunggu aja di sini, ya? Bapak mau ganti baju ibu kalian yang basah ini,” seru Basri terengah-engah.


“Tapi, Pak ....” rengek si kecil Maryam hampir meledak tangisnya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2