Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 79


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 79...


...------- o0o -------...


“Lengkapi semua pakaianmu, Anak Muda!” ujar Ki Jarok seraya melemparkan jaket tebal yang tergantung di dekatnya pada Basri. “Kelak perjalananmu akan terhadang cuaca dingin dan berkabut.”


Ah, memang benar, pikir Basri kala itu. Dia mengintip celah dinding yang terbuat dari anyaman ilalang kering menutupi sekujur bangunan. Kondisi alam sekitar memang sudah menampakkan tanda-tanda tidak bersahabat untuk hari tersebut.


“Ki ....”


“Hhmmm.”


“Tentang pertanyaan saya itu.”


“Apa?”


“Saya melihat sosok Sukaesih ada di sana. Menjadi salah satu tawanan Ratu Galimaya di dalam sebuah kerangkeng,” ujar Basri terlihat serius, “menurut Aki, apa itu maksudnya? Benarkah itu sosok Sukaesih sebenarnya atau—“


“Anak muda ....” tukas Ki Jarok diiringi batuk-batuk ringkih menyesakkan, “apapun yang kau lihat dan temui di sana, tidak semuanya bersifat nyata.”


“Maksud Aki, sosok Sukaesih itu—“


“Bisa saja begitu, Bas,” Lagi-lagi Ki Jarok menukas. “Lagipula, apa sih yang sulit bagi makhluk-makhluk itu untuk mengubah dirinya sendiri menjadi bentuk dan rupa yang mereka kehendaki? Tidak sulit, Anak Muda. Itu hal kecil.” Sosok tua tersebut menjentikkan jari kelingking. “Jadiku, jadimu, Sukaesih, maupun Selasih ... misalkan.”


“Selasih? Istri Aki dulu?” tanya Basri kaget begitu Ki Jarok menyebutkan nama tersebut secara tidak sadar.


“Eh, memangnya apa yang aku sebut barusan?”


“Aki ngucapin nama seseorang bernama Selasih, Ki.”

__ADS_1


Tiba-tiba Ki Jarok tertawa cekikikan sendiri. “Lelucon macam apa ini? Hi-hi. Bagaimana mungkin aku bisa teledor menyebutkan sebuah nama lain, sementara aku sendiri belum yakin akan keaslian sosoknya dan tidak tahu juga siapa dia.”


‘Tidak mungkin kalau sampai Dukun Tua ini lalai menyebut sebuah nama? Aku yakin banget, nama itu pasti mengandung makna tertentu. Mungkin saja ....’


SREK!


Lamunan Basri seketika buyar begitu suara seperti ranting terpijak patah kembali terdengar. “Ah, kali ini bukan lagi tentang angin. Suara itu memang ....” Secepat kilat lelaki ini membalik badan dan menyapu hampir setiap penjuru pandangan untuk memeriksa. Sejenak ujung matanya seperti menangkap sebuah pergerakan kecil di balik rimbunan rumpun batang-batang bambu di depan. ‘Apa ini hanya sebuah tipuan mataku saja? Yakin sekali, rasanya tadi aku sempat melihat sesuatu yang ganjil di sana,’ batinnya seraya mengayunkan kaki ke depan secara perlahan-lahan. Diiringi sorot mata tajam serta penuh kewaspadaan pada satu titik yang dia maksud tadi.


“Hei, siapa di sana?” tanya Basri setengah berteriak. “Percayalah, persembunyianmu itu akan menjadi sia-sia, karena aku sudah tahu keberadaanmu itu! Cepat, tunjukkan dirimu sekarang juga!”


Ditunggu sekian lama, sosok yang diharapkan muncul dari rimbunan batang-batang bambu tersebut tidak juga kunjung menampakkan diri.


“Hei, keluarlah!”


Tetap tidak ada pergerakan apa pun, hingga Basri merasa kesal sendiri. Kemudian dia mendekat dan kian mendekat, sampai kemudian ....


SREK! SREK!


Dua sosok bertubuh besar dan tinggi berlari tunggang langgang meninggalkan tempat yang disangkakan area persembunyian. Basri sempat tercengang dibuatnya dan hanya bisa melongo untuk beberapa detik.


Basri tidak bernafsu untuk mengejar. Kondisinya yang benar-benar letih tidak memungkinkan dia berlari-lari sedemikian rupa.


“Sialan!”


Kemudian dia pun buru-buru berbalik arah meninggal tempat tersebut. Bergegas untuk segera tiba di bibir perkotaan dan segera mencari penginapan. Rasa perih di perut juga sudah mulai memanggil-manggil. Itu berarti sebelum benar-benar beristirahat nanti, dia harus mencari makanan terlebih dahulu.


Dengan langkah terseok-seok keletihan dan mulai gelap, suami Lastri itu terus berjalan sendirian di bawah terpaan sinar senter yang sebelumnya sengaja dipersiapkan. Tidak ada hal-hal aneh di sepanjang jalan, hingga akhirnya tiba di gerbang masuk jalan menuju lereng Gunung Halimun.


“Haaahhh, capek banget aing! Haduuhhh!” gerutu Basri seraya membanting diri ke atas rerumputan di pinggir jalan raya kecil. Sepi sekali. Bahkan beberapa menit berada di sana, belum ada satu pun kendaraan yang tampak lewat. “Huh, haram jadah! Sampai kapan lagi harus nungguin! Belom ada juga tukang ojek yang lewat. Mana perut ini bunyi terus. Perih kepengen makan. Huh, anjing! Pikanajiseun!”


Sumpah serapah kerap terucap begitu saja dari lisan seorang Basri. Dia sudah benar-benar merasa kesal dan putus asa di tengah dera kelaparan dan rasa lelah yang kian menggerogoti. Kelopak matanya pun mulai perih menuntut hal untuk tidur, akan tetapi tidak juga bisa terlelap walaupun hanya untuk sesaat.


“Bangsat! Apa sih sebenarnya yang sedang terjadi saat ini? Sial banget nasib gua, Tuhan!” gerutu Basri sendirian. “Gua cuman kepengen bebas istirahat sampe besok pagi, Tuhan! Aarrgghhh, anjing banget sih! Kesal gua!”

__ADS_1


KRUUKKK! WUK!


“Astagaaa!” Basri tersentak kaget. Hampir saja dia tersurut menjauh jika tidak lekas-lekas menyadari keadaan. Bola matanya berputar-putar hendak mencari-cari sumber suara yang barusan mengejutkannya. “Burung hantu sialan! Gua pikir apaan lu! Bangsat jadah!”


‘Di mana dia sekarang?’


Seringai lelaki itu pun lantas tergurat aneh membelah batas area bibir dan pipinya. Membentang sedemikian rupa menghiasi mimik wajah sosok tersebut yang terlihat menyimpan isi kepala tidak baik. “Ayolah, kemari. Mendatang, Sayang,” ujar Basri berbunga-bunga begitu melihat sesosok penampakan seekor burung bermata bulat besar di atas dahan sebuah pohon. Tidak jauh dari tempat dimana saat itu dia berada.


“Ayooo, terbanglah ke sini. Datangi aku ....”


WUK!


Bunyi itu kembali terdengar. Seakan menjawab atas permintaan yang diajukan barusan.


“Iyaaa ... kamu ... sini ... datanglah, Nak.”


WUK!


Jakun lelaki itu bergerak turun-naik. Mereguk sedikit demi sedikit lelehan air liur yang tiba-tiba membanjiri ruang mulutnya. Diiringi seringai aneh dan tatapan tajam ke arah tempat dimana burung tadi masih bertenger dingin.


Basri leletkan lidah berulang-ulang. Beberapa lama keduanya saling adu tatap. ‘Matilah ... matilah ... matilaahhh ....’ bisiknya dengan mata tidak mau lepas memandangi. Aneh sekali, seketika mata burung itu pun seperti terhipnotis kian mendalam atas tatapan tajam Basri padanya. Kemudian bulatan besar itu pun meredup ... meredup ... meredup ... laksana diterjang rasa mengantuk tidak berkesudahan. Dan ....


WUUSSS! BRUK!


Tiba-tiba saja burung hantu itu pun jatuh melayang dan mendarat di atas tanah dengan keras.


“Aha!”


Basri segera datang memburu. Meraih onggokan burung tadi, lantas kembali duduk laksana bertafakur di tempatnya semula.


KROOAAKKK!


Mendadak paruh burung tersebut menjerit-jerit, di antara rasa sakit serta ketakutan, suara-suara tersebut hanya beberapa detik memekakkan telinga hingga akhirnya terhenti sama sekali.

__ADS_1


KRAK!


...BERSAMBUNG...


__ADS_2