
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 83...
...------- o0o -------...
Perlahan Lilis membuka matanya. Dia menatap tajam sosok lelaki yang tengah dia peluk. “Wajar gak kalo dari rasa suka ini, terus saya memiliki keinginan buat selalu bersama-sama?”
“Menikah?”
“Saya gak akan memaksa Akang kalo memang Akang gak mau,” jawab Lilis enteng, “asalkan Akang rela berbagi waktu dengan saya sesekali, rasanya itu sudah lebih dari cukup.”
Basri tersenyum kecut.
“Apa kamu gak nyadar akan risiko dan konsekuensinya, Lis?”
“Saya tahu itu.”
“Termasuk perihal dosa?”
Tiba-tiba tawa perempuan itu pecah mengagetkan. Kemudian menjawab begitu saja. “Apa bedanya sama yang selama ini Akang lakuin, Kang? Mencari uang dengan jalan yang enggak diperintahkan sama Tuhan.”
Basri terkesiap.
“K-kamu ....”
Lilis tersenyum.
“Saya sudah tahu sejak awal pertemuan kita dulu itu, Kang.”
“Maksudmu?”
“Akang berjudi dengan cara yang enggak wajar, ‘kan?”
Jawaban Lilis kali ini semakin mengejutkan lelaki tersebut. Serta merta dia melepaskan belitan tangan yang mengalungi tubuhnya, lalu bangkit seraya menatap tajam perempuan di sampingnya.
“K-kamu ....”
“Santai saja, Kang,” ucap Lilis turut bangkit dengan kondisi tubuh masih sama-sama polos terbuka bebas. “Gak ada yang perlu Akang khawatirkan tentang itu. Saya gak peduli apa pun yang Akang lakuin. Cuma sebatas tahu dan setelah itu ... saya bersikap gak peduli, itu bermakna kalo saya memang berharap sama Akang apa adanya.”
“Bukan itu masalahnya, Lis,” ucap Basri dengan nada suara tambah meninggi. “Bagaimana kamu bisa tahu tentang saya? Sementara saya sendiri belum pernah bercerita banyak sama kamu selama ini.”
Lilis mendorong tubuh Basri hingga kembali pada posisinya semula. Terlentang di atas pembaringan dan langsung ditindih rapat perempuan tersebut dari ujung kaki hingga sebatas dada.
“Akang pikir apa yang selama ini sudah saya lakuin? Hanya mencari-cari Akang begitu saja?” tanya Lilis seraya membetulkan letak himpitan kedua *********** di dada Basri. “Enggak, Kang. Sejauh ini, saya sudah berusaha mencari-cari tahu tentang latar belakang kehidupan Akang ... dengan berbagai cara.”
__ADS_1
“Cara apa maksudmu?”
“Juned sudah bercerita banyak sama saya tentang Akang.”
“Ah, haram jadah banget dia!”
“Gak perlu marah-marah, Kang,” ujar Lilis. “Percayalah, saya benar-benar gak peduli tentang hal itu. Saya hanya menginginkan Akang. Gak lebih.”
Basri mendengkus kesal.
“Sebanyak apa yang sudah kamu ketahui tentang saya selama ini, Lis?”
“Hanya beberapa, Kang,” jawab perempuan itu diiringi seulas senyum menggoda. “Enggak begitu banyak, tapi saya rasa sudah cukup dan gak perlu lagi mencari-cari. Karena sekarang, saya sudah menemukan kembali Akang. Di sini ... bersama-sama. Bukannya begitu?”
Namun Basri masih menyangsikan jika ucapan Lilis hanya sekadar memancing belaka. Dia yakin, tentang urusannya dengan Ki Jarok dan benda keramat yang selama ini menjadi andalannya dalam meraup harta duniawi, belum sepenuhnya diketahui olehnya. Lantas, bagaimana dengan ....
“O, iya ... sebelumnya kamu sudah janji sama saya, Lis,” imbuh Basri mendadak teringat akan percakapan mereka berdua beberapa saat lalu di jalan sebelumnya. “Apa saja yang ingin kamu omongin sama saya? Terutama perihal ... si Brutus itu.”
Perempuan tersebut tidak langsung menjawab. Dia malah bangkit kembali, melepaskan himpitannya atas tubuh polos Basri dan segera mengenakan pakaian seadanya.
“Mau aku pesenin segelas kopi, Kang?” tanyanya menawari. “Obrolan kita rasanya akan semakin panjang malam ini. Akan lebih nyaman kalo disertai minum-minum dan isapan rokok.”
Basri mengangguk.
“Sebentar ... aku pesenin dulu,” ujar Lilis lantas beranjak menuruni tempat tidur dan memburu sebuah pesawat telepon di atas meja kamar. Dia memesan apa yang mereka butuhkan malam itu, sekaligus makanan serta dua bungkus rokok pada pihak pengelola penginapan. “Jujur saja, Kang,” imbuh Lilis melanjutkan ucapannya tadi usai menyalakan sebatang rokok, “sejak awal saya mengenal Akang dan mengetahui pekerjaan Akang itu, saya sudah mulai menduga-duga ... bahwa Akang sering menghabiskan waktu di tempat-tempat perjudian. Sepintar-pintarnya seseorang bermain judi, kemungkinan buat menang terus ... sangat kecil sekali. Itu gak mungkin. Karena apa? Saya sudah banyak tahu dunia bandar judi dari si Brutus dulu sewaktu kami masih bersama-sama. Sementara bagi Akang, faktor keberuntungan itu ... mungkin gak akan bisa begitu saja berlaku. Terkecuali kalo dibarengi oleh sesuatu yang mendukung.”
Lilis malah tersenyum-senyum sendiri. Lantas berimbuh kembali, “Akang menggunakan sesuatu, ‘kan?”
“Sesuatu apa?”
Lagi-lagi Lilis tersenyum. Kali ini kian melebar.
“Saya pikir ... mungkin sejenis jampi-jampi, mantra, atau juga berupa barang tertentu,” jawab perempuan tersebut makin membuat Basri penasaran. “Akang pasti paham apa yang saya maksudkan tadi itu, bukan?”
“Enggak!” jawab Basri berbohong.
“He-he ....” Lilis tertawa kini. “Terserah Akang mau menjawab apa, tapi sebagai orang yang pernah berkecimpung dalam dunia bandar perjudian, hal-hal semacam itu sudah bukan merupakan rahasia lagi, Kang. Saya tahu itu. Terlepas Akang mau mengakui atau enggak, saya meyakini kalo Akang ... pasti memiliki faktor pendukung itu. Hanya saja, saya sendiri belum mengetahui persis jenisnya apa. Makanya ... selama mencari-cari Akang beberapa waktu itulah, akhirnya kesimpulan saya itu sampai pada sebuah jawaban. Benar atau enggak, saya sendiri gak tahu. Terkecuali Akang sendiri yang mau ngakuinnya.”
“Kamu ....”
“Akang punya sejenis jimat, ‘kan?”
“Jimat? Jimat apa maksudmu, Lis?”
“Jimat Tali Mayat, Kang.”
Darah Basri seketika seperti mendadak terseruput langsung memenuhi batok kepalanya. Ucapan Lilis kali ini benar-benar telah membuat berada pada level keterkejutan yang teramat luar biasa. Laki-laki ini tidak lantas menjawab jujur, dia masih berusaha untuk berkelit.
__ADS_1
“Saya gak tahu apa yang kamu maksudkan itu, Lis.”
“Terserah Akang,” timpal Lilis seraya menyerahkan sebatang rokok pada Basri beserta pemantik apinya. “Tapi dari berbagai sumber dan berdasarkan pengalaman saya selama ini, hasil pengamatan saya terhadap Akang selalu berakhir pada kesimpulan yang satu itu. Jimat Tali Mayat.”
Basri pura-pura cuek dan tidak mau membalas.
Imbuh Lilis kembali, “Apa Akang gak kepikir, kenapa saya bisa muncul di tempat Akang berada tadi? Hhmmm? Sebuah tempat yang menjadi satu-satunya gerbang menuju seseorang yang bisa membantu seseorang untuk mendapatkan benda menyeramkan itu. Tempatnya persis berada di lereng Gunung Halimun ... yaitu—“
“Kamu juga mengetahui tentang sosok Ki Jarok?” tanya Basri akhirnya tidak bisa mengelak lagi.
Lilis menjentikkan jemari.
TRAK!
“Tepat banget, Kang!” ujar Lilis sangat meyakinkan. “Sudah lama saya juga mendengar tentang adanya sosok seorang dukun tua yang bisa membantu mewujudkan keinginan seseorang, terkait Jimat Tali Mayat itu. Awalnya saya pikir cuman sekadar kabar burung belaka, tapi nyatanya memang benar adanya. Benda yang sangat sulit didapatkan karena harus melalui ujian praktik berat itu, ternyata ... berhasil dimiliki oleh Akang. Benar ‘kan, Kang?”
“Terus ... apalagi yang kamu ketahui, Lis?”
Lilis mengisap batang rokoknya dalam-dalam sebelum kembali meneruskan ucapannya.
“Berhari-hari saya berusaha mencari tahu seputar kabar Jimat Tali Mayat, Ki Jarok, dan akhirnya sampai pada sebuah nama ... yaitu Gunung Halimun. Sejak itu pula, pengamatan saya akan sosok Akang ... akhirnya sampai pada sebuah rencana.”
“Rencana?”
“Iya, sebuah rencana untuk menemukan Akang dan itu terwujud pada malam ini.”
“Terus bagaimana kamu sampai tahu kalo malam ini saya akan muncul di sana sepulang dari Gunung Halimun?”
“Saya tahu dari seseorang, Kang.”
“Seseorang?”
Kepala Basri kini kian dipenuhi berbagai pertanyaan tidak jelas. Jawaban serta ucapan Lilis yang panjang lebar sejak tadi membuatnya dirasa semakin tidak berdaya untuk mengelak sekaligus menimbulkan rasa penasaran semakin tinggi.
“Iya, Kang, dari seseorang.”
“Siapa? Ki Jarok sendiri?”
“Secara tidak langsung ... mungkin iya. Tapi seseorang yang saya maksud ini ... saya pikir Akang gak akan mengenalnya sama sekali dan itu gak penting.”
“Sebutin saja, Lis,” desak Basri, “saya sudah mau jujur ngakuin. Iya. Saya memang punya Jimat Tali Mayat. Terus siapa seseorang yang kamu maksud tadi itu?”
Wajah Lilis tertunduk lesu, seperti berat saat hendak menyebutkan sebuah nama yang sedari tadi membuat Basri kian penasaran.
Perempuan itu bukannya langsung menjawab, akan tetapi malah menyulut kembali sebatang rokok baru usai yang pertama tadi habis tersulut.
“D-dia ... d-dia ... adalah kakakku sendiri.”
__ADS_1
...BERSAMBUNG...