
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 50...
...------- o0o -------...
Aryan menoleh diiringi suara menggeram keras. “Siapa kamu?” tanya anak itu sambil menunjuk tepat ke arah Basri. “Apa yang kamu lakuin di sini? Mengganggu ketenanganku saja!”
“Ya, Allah ... Iyan, ini Bapak, Nak! Kamu ingat, ‘kan?” Laki-laki itu tetap merangsek maju mendekati anak sulungnya tersebut. “Apa yang terjadi ini?”
“Aku bukan Iyan! Dan kamu bukanlah bapakku!” jerit Aryan semakin menjadi-jadi.
Lastri mundur menjauh dan segera masuk ke dalam kamar bersama Maryam. Anak perempuan itu pun tidak henti-hentinya menangis ketakutan.
‘Sialan!’ rutuk Basri kesal. ‘Ini jelas bukan sosok setan yang selalu menampakkan diri padaku itu! Ada makhluk lain yang ikut menempati rumah ini, rupanya. Hhmmm ....’
Tanpa menunggu waktu lama, Basri bergegas ke kamar. Mengambil tas kecil berisikan pakaian pangsi pemberian Mbah Jarok atau Jimat Tali Mayat. “Ibu sama Iyam jangan keluar dari kamar sebelum aku beres menangani Iyan, ya?” ucap laki-laki tersebut memberi perintah. Padahal maksudnya agar mereka berdua tidak melihat Basri mengenakan pakaian jimat tadi.
“Iya, Pak. Hati-hati,” kata Lastri sambil mendekap Maryam.
‘Hhmmm, akan kucoba, apakah makhluk itu bakal takluk dengan jimat kebanggaanku ini? He-he!” gumam Basri seraya membuka pakaian sendiri dan menggantinya sesegera mungkin dengan pangsi.
Benar saja, begitu memasuki kamar, reaksi Aryan langsung berubah seperti ketakutan. Anak itu tersurut mundur sambil mengibas-ngibaskan tangan. “Kau ... j-jangan mendekat! Jangan masuk! A-aku ... a-ku ....”
Basri merasa lebih unggul sekarang. Dengan langkah pongah, dia melangkah kian mendekat. “Takut, ya? He-he. Pergi jauh-jauh dari sini sekarang juga dan jangan pernah mengganggu anak-istriku! Paham kamu? Pergi!” teriaknya melengking hingga suaranya menembus masuk ke dalam kamar sebelah.
“I-iya. A-ampun. A-aku pergi sekarang juga!” Aryan berseru memohon ampunan.
“Pergi!”
“I-ya. Aku pergi.”
Hanya begitu dan seperti itu. Tidak ada perlawanan sama sekali. Aryan pun tiba-tiba terbaring lemah di atas lantai. Keadaan itu tentu saja dipergunakan Basri untuk segera kembali mengganti pangsinya dengan pakaian tadi. Khawatir akan dilihat dan diketahui oleh Lastri. ‘Hhmmm, jimat ini ternyata lebih sakti dari yang aku perkirakan. He-he. Kupikir hanya untuk bermain judi. Ternyata, urusan seperti ini pun dengan mudah aku tangani. He-he!’
__ADS_1
“Iyan sayang. Bangunlah, Nak,” ucap Basri begitu usai mengganti kembali pakaian dan langsung memburu tubuh anaknya. “Ini Bapak, Nak. Bangunlah.”
Aryan melenguh sesaat, lantas membuka mata dan bangkit dibantu oleh Basri.
“Bapak .....”
“Tidurnya pindah, yuk, ke kamar sebelah. Jangan di sini, ya, Nak.”
“Bapak ... badan Iyan lemes banget, Pak.”
“Ya, sudah. Bapak gendong ke kamar lain, ya?”
Aryan mengangguk lemah.
Kemudian Basri segera memindahkan anak tersebut ke kamar satunya lagi. “Syukurlah, Nak. Akhirnya kamu sadar juga. Alhamdulillah ... ya, Allah!” seru Lastri menyambut begitu pintu dibukakan. “Tidurin di sini saja, Pak!” Dia meminta suaminya untuk membaringkan Aryan di kasur tebal yang sudah disiapkan di sana. “Astaghfirullahal’adziim ... sebenarnya apa, sih, yang terjadi sama kamu, Nak? Ibu sampe ketakutan banget dari tadi.”
“Sudahlah, Bu. Jangan dulu diajak ngomong,” ucap Basri usai membaringkan Aryan. “Biarkan Iyan istirahat dan tidur di sini.”
Sambil mendekap Maryam yang kini sudah kembali tenang, Lastri mengusap-usap kepala Aryan penuh kasih sayang. “Ya, sudah. Sekarang kamu tidur, ya, Nak? Kita tidur di sini bareng-bareng malam ini sama Bapak, Ibu, dan adikmu Iyam.”
“Badan Iyan sakit, Bu. Lemes,” rengek Aryan di antara baringnya.
“Iya, Bu,” jawab Aryan lemah.
Maka malam itu, mereka berempat tidur bersama-sama dalam satu kamar. Terpaksa dilakukan untuk mencegah hal-hal seperti tadi terulang kembali. Nyatanya memang tidak terjadi apa pun hingga Subuh datang menjelang.
“Terima kasih, ya, Pak,” ucap Lastri keesokan harinya. “Kalo kamu gak ada, aku gak tahu harus berbuat apa. Di sini belum ada satu pun yang aku kenal. Bingung minta tolong sama siapa.”
“Ya, sudah. Syukuri saja, Bu. Anak-anak sudah kembali ceria, kok.”
“Hari ini masih banyak kerjaan yang belom sempet aku beresin,” tutur Lastri memulai. “Dapur juga masih berantakan dari sejak kita dateng. Untunglah, kamu sudah mau bantu-bantu bersiin bekas tumpahan minyak goreng di dapur kemaren sore.”
“Bersiin minyak goreng?”
“Iya, Pak. Waktu Iyam terkena tumpahan minyak panas.”
__ADS_1
“T-tapi ... aku gak ngerasa bersiin, kok, Bu?”
“Halah, jangan bercanda, Pak. Masih pagi, nih.”
“Tapi aku emang belom ngerasa sempet bersih-bersih dapur, kok. Apalagi bersiin minyak segala.”
“Bapak serius?” tanya Lastri mulai terheran-heran.
“Iyalah. Masa aku bohong? Mungkin Iyan yang bersiin atau malah kamu sendiri, tapi lupa.”
“Gak, ah. Aku sama anak-anak ada di kamar waktu kamu ngobrol sama Mbah Karni kemaren.”
“Lah, terus ... siapa yang ngerjainnya?”
“Ya, gak tahu.”
“Lho, kok?”
“Apaan?”
“Jadi ....”
“Apaan, sih?”
“???”
Basri termenung sejenak sambil pura-pura tersenyum-senyum di saat istrinya tengah mengernyit keheranan. “Maaf, Bu,” kata lelaki ceking tersebut kemudian, “Iya, itu emang aku yang ngerjain, kok. Hi-hi.” Dia melirik ke arah ruang dapur. “Aku cuman bercanda. He-he.”
“Ah, Bapak ini!” Lastri bersungut-sungut. “Aku kira beneran. Dih!”
Dalam hati, lelaki tersebut bergumam, ‘Hhmmm, aku sendiri malah tidak paham. Ini ulah siapa sebenarnya? Makhluk penghuni rumah ini atau sosok pemilik jimat itu?’
Sejujurnya, Basri sendiri belum mengetahui sepenuhnya tentang kegunaan jimat pemberian Ki Jarok itu. Niat semula memang hanya ingin mendapatkan kekayaan, tapi dari kejadian-kejadian yang telah dilalui, dia semakin yakin bahwa fungsi lain Jimat Tali Mayat tersebut bukan hanya itu. Terbukti sewaktu dihajar anak buah Brutus beberapa hari lalu, tidak merasakan apa pun. Justru mereka yang meringis kesakitan dan lari tunggang langgang di tengah malam buta.
“ ... Tapi mengenai kejadian semalam yang menimpa Iyan, apa itu candaan juga, Pak?” Pertanyaan Lastri membuyarkan lamunan Basri. “Terus semalam juga, aku denger ... suara Iyan kayak ketakutan ‘gitu waktu kamu bentak-bentak, Pak? Sebenarnya ... Bapak ini ....”
__ADS_1
“Bukan apa-apa, Bu,” tukas Basri cepat-cepat memotong kalimat istrinya. “Tentang yang terakhir itu, aku sendiri malah gak paham. Semalem, aku hanya ngekhawatirin kondisi anak kita. Itu saja. Makanya nyoba diberani-beraniin aja. Eh, tahunya berhasil, ‘kan? Mudah-mudahan aja gak ada lagi gangguan apa-apa di rumah ini, ya, Bu.” Dia berharap istrinya itu tidak akan bertanya-tanya kembali tentang hal tersebut. Apalagi sampai mengetahui rahasia yang selama ini dipendam rapat-rapat.
...BERSAMBUNG...