
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 70...
...------- o0o -------...
Untuk beberapa saat lamanya, Lastri memilih untuk duduk-duduk terlebih dahulu di dapur sambil mengawasi kedua anaknya dari kejauhan.
‘Entah apa yang terjadi denganku? Kok, rasa perih ini seperti ....’ Diam-diam perempuan ini segera memeriksa area pribadinya di saat anak-anak sedang berada di luar. ‘Sshhh ....’ Dia meringis sendiri begitu menyentuh bagian kewanitaannya dan menemukan seperti ada cairan licin di dalam sana. ‘Air apa ini?’ tanyanya lantas membaui sejenak untuk memastikan. ‘Ini seperti ... ah, tidak mungkin! Semalam Kang Basri tidak pulang. Tapi ... apakah yang semalam itu juga benar-benar dia yang ....’
“Bu!” Aryan dan Maryam sudah kembali dari belakang.
“Eh, iya, Nak. Ada apa?” Lekas Lastri menyeka cairan yang ada di ujung jemarinya ke kain dia gunakan. “Kalian udah wudhunya?”
“Udah, Bu,” jawab kedua anak tersebut diiringi anggukan.
“Ya, sudah,” timpal kembali perempuan itu berusaha tenang atas buah pikiran yang sedang bergolak di dalam kepala. ”Cepetan kalian sholat Subuh, ya? Ibu juga harus ke belakang dulu.”
“Wudhu juga?”
“I-iya. W-wudhu!” jawab Lastri gagap, walaupun sebenarnya dia sendiri bingung apa yang mesti dilakukan.
“Baik, Bu.”
Sepeninggal kedua anaknya, Lastri kembali termenung sendiri. Menerka-nerka apa sebenarnya yang telah terjadi pada dia semalam.
‘Apakah aku semalam bermimpi? Rasanya ... aku memang merasakan bahwa semalam itu ... Kang Basri pulang dan mengajakku ....’
__ADS_1
TOK! TOK! TOK!
“Assalaamu’alaikum! Bu Lastri! Bu Lastri!” Terdengar panggilan seseorang.
Lastri menoleh ke arah ruangan depan. “Siapa itu?” tanyanya dengan kening berkerut hebat.
“Bu Lastri, tolong buka pintunya, Bu!” Suara itu kembali terdengar menyeru dari luar rumah.
Istri Basri tersebut buru-buru bergegas ke depan untuk membukakan pintu. “Iya, wa’alaikum salaam!” jawabnya, “ada apa, ya? Akang ini ....”
“Bapak saya, Bu Las. Bapak saya!”
Lastri memerhatikan sosok muda yang ada di hadapannya dengan tatapan tajam. “Bapak? Bapak siapa, ya? Akang ini siapa?”
Titik keringat kecil tampak membasahi sosok muda tersebut. Sebentar-sebentar dia menengok ke belakang seperti tengah mengkhawatirkan sesuatu, lantas kembali menatap Lastri dengan wajah memucat pasi.
“S-saya ... s-saya anaknya Mbah Karni, Bu Las,” ujar pemuda yang ternyata adalah Mance. Anak semata wayang Mbah Karni, pemilik rumah kontrakan yang kini dihuni oleh Basri sekeluarga. “B-bapak saya ... B-bapak saya ....”
Untuk beberapa saat Mance tampak kebingungan. Namun raut ketakutan itu tampak jelas dan sulit untuk disembunyikan dari tatap Lastri.
“A-apa semalem ... Bapak ke sini?” tanya pemuda itu terbata-bata. Lastri menggeleng. “Enggak, Kang. Semalem Mbah Karni gak ke sini. Lagian suami saya juga lagi gak ada di rumah. Terakhir ke sini, itu pun waktu kami baru pindahan beberapa minggu lalu. Emangnya ada apa, sih?”
Mance kembali menoleh ke belakang. Tepatnya ke arah rimbunan area semak belukar yang ada nun jauh di depan rumah kontrakan. “B-bapak s-saya ... belum pulang dari rumah sejak semalem,” tutur pemuda tersebut akhirnya.
Kening Lastri berkerut. Lantas berkata-kata penuh keheranan, “Saya gak tahu ke mana Mbah Karni, Kang. Kalopun emang iya ke sini, gak semestinya juga dateng malem-malem, ‘kan?”
Mance mengangguk. “Iya juga, sih, Bu. Saya cuman pengen tahu aja. Siapa tahu Bu Lastri tahu ke mana Bapak saya itu pergi. Makanya ....”
“Maaf, Kang, saya gak tahu,” tukas Lastri seperti ingin buru-buru mengakhiri percakapan tersebut. “Coba aja Akang cari tahu ke tempat lain, mungkin Mbah Karni ada di sana.”
__ADS_1
“Bapak saya jarang ke mana-mana, Bu,” timpal Mance seraya memerhatikan sesaat kondisi pakaian Lastri yang masih terlihat acak-acakan. “Di kampung ini, posisi rumah Ibu dan saya terpencil jauh dari tetangga yang lain. Saya hanya mencoba berpikir, mungkin Bapak saya—“
“Enggak, Kang. Saya bener-bener gak tahu sama sekali. Maaf, ya.”
“O, iya. Gak apa-apa, Bu,” tukas Mance. “Maaf juga kalo kedatangan saya ini ngeganggu Bu Las.”
“Iya, Kang.”
Mance segera pamit pergi. Namun dari sudut mata pemuda itu, dia seperti menyimpan sebuah pertanyaan lain di dalam kepalanya.
‘Orang aneh ....’ gumam Lastri sepeninggal anak semata wayang Mbah Karni tersebut. ‘Nyari Bapaknya, kok, ke sini? Mana mungkin aku memasukkan laki-laki lain di saat suamiku gak ada di rumah.’ Kemudian kembali meringis merasakan perih yang masih mengujam **** ************* tadi. ‘Aku sendiri masih bertanya-tanya, apa yang telah terjadi padaku semalam. Rasa perih ini ... ah, moga-moga saja ini hanya sekedar imajinasiku saja. Barangkali memang benar, semalam itu hanya mimpi belaka.’
Di kala hendak menutup daun pintu, tiba-tiba mata perempuan ini memerhatikan lubang kunci. ‘Sebentar ... aku pikir dari tadi aku belum membuka pintu ini, tapi mengapa ....’ Ucapannya terhenti begitu saja dan lantas memeriksa lebih teliti. ‘Ya, Allah! Ini ... ini ....’ Dia melihat ada anak kunci tergantung di bagian luar pintu. ‘Mengapa ada kunci di sini? Punya siapa? Rasanya semalam aku sudah memeriksa dan mengunci pintu ini. Terus ... kalau begitu, siapa yang sudah membuka pintu ini?’ Benaknya berpikir-pikir keras. ‘Tidak mungkin! Ini sangat tidak mungkin! Rumah ini ... ya, rumah ini ... tentu yang memiliki kunci cadangan rumah ini adalah pemiliknya sendiri, bukan? Dan itu ... berarti ... ya, Allah! Apakah benar laki-laki tua itu telah memasuki rumah ini tanpa sepengetahuanku? Bagaimana bisa? Kapan dan apa saja yang dia lakukan di sini?’
“Bu!” Tiba-tiba terdengar suara panggilan. Lastri menoleh. Aryan dan Maryam sudah berdiri persis di dekatnya. “Eh, Kak Iyan! Dek Iyam!” seru perempuan tersebut terkejut.
“Kami laper, Bu.”
“Astaghfirullah! Ibu sampe lupa, Nak!” Lastri membuang sejenak buah pertanyaan yang masih menggayuti di dalam benak. Tentang keberadaan Mbah Karni dan juga kondisi pintu tadi. “Eh, kalian berdua ... semalem atau tadi pagi gak keluar rumah, ‘kan?”
Aryan dan Maryam menggeleng.
‘Aku percaya pada anak-anakku,’ membatin ibu dari dua anak ini. ‘Tidak mungkin mereka keluar tanpa sepengetahuanku. Lagipula, bukannya mereka tadi sama-sama terbangun siang seperti halnya aku?’
“Emangnya kenapa, Bu?” tanya si sulung Aryan terheran-heran memerhatikan raut wajah ibunya yang tengah kebingungan.
“Ah, enggak. Ibu cuman nanya aja, Kak Iyan,” jawab Lastri seraya mendengkus keras. “Sebentar, ya, Ibu siapin dulu sarapan buat kita bertiga. Ibu sendiri masih belom sempet sholat Subuh. Kalian berdua, tunggu saja di sini. Jangan ke mana-mana.”
“Iya, Bu.”
__ADS_1
...BERSAMBUNG...