Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 52


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 52...


...---------- o0o ----------...


Waktu sudah menunjukkan hampir seperempat tengah malam. Usai melewati azan dan salat Isya, hampir semua warga Kampung Sirnagalih lebih memilih berdiam di dalam rumah mereka masing-masing. Berkumpul bersama keluarga atau bahkan tidur lebih awal.


Hujan deras disertai angin kencang sejak sore hingga petang tadi, membuat suasana alam begitu dingin mencekam. Meninggalkan jejak basah berkubang, menggenang di sepanjang jalan tanah perkampungan.


Asih, janda muda yang sudah lebih dari setahun bekerja di rumah Juragan Juanda, sibuk bersolek di depan cermin di kamar pribadinya. Perempuan itu sibuk memoles wajah dengan bedak putih mewangi dan rupa-rupa warna di beberapa bagian mata serta pipi, mempercantik diri. Tidak lupa, rona menyala turut memerahi ranum bibirnya.


“Kang Sadam pasti lagi nungguin aku di tempat biasa,” gumam Asih seraya tersenyum-senyum sendiri memandangi cermin. “Malam ini aku harus terlihat lebih menarik dari biasanya. Hi-hi. Supaya dia gak lagi ngerasa kecewa kayak tadi siang.”


TOK! TOK! TOK!


Asih menoleh ke arah daun pintu kamar. Keningnya mengerut seketika, bertanya-tanya sendiri. ‘Siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini? Ceu Elimkah? Atau Mang Aat?’ Dia menerka-nerka. Menyebut kedua orang tersebut. Orang yang sama-sama bekerja di rumah besar Juragan Juanda.


“Tunggu sebentar!” ujar Asih buru-buru membereskan sisa riasannya yang hampir selesai. Kemudian memburu pintu untuk membukakan. “Siapa, ya?”


TOK! TOK! TOK!


Tanpa ada suara jawaban, ketukan itu terdengar kembali.


“Siapa, sih?” desis perempuan itu sambil memutar anak kunci dan menarik perlahan-lahan daun pintu kamar. “Oohh ....”


Seraut wajah muncul begitu daun pintu terkuak. Memberinya senyuman dan tatapan penuh arti. “Asih belum tidur, ‘kan?” tanya sosok tersebut dengan suara pelan. Tidak asing dan sangat mengejutkan.

__ADS_1


“J-juragan ....” panggil Asih terbata-bata menyebut nama sosok yang tidak lain adalah Juragan Juanda, majikannya.


“Asih belum mau tidur, ‘kan?” Untuk kali kedua pertanyaan itu diajukan. Kini dibarengi dorongan pada daun pintu dan perlahan-lahan sosok lelaki berusia 50’an tahun tersebut memasuki kamar.


Asih membiarkan majikannya masuk, dibarengi detak jantung, berpacu mengalirkan darah dengan cepat memenuhi rongga kepala. “B-belum, Juragan,” jawabnya gugup.


“Boleh saya masuk?”


Sebuah pertanyaan klasik dan berbau basa-basi, karena yang bersangkutan malah sudah berada di dalam.


Sedikit dilanda rasa bingung, Asih mencoba menjawab. “T-tentu saja boleh, J-juragan. T-tapi ....”


“Terima kasih,” timpal Juragan Juanda diiringi senyum dan tatapan saksama. Dia menutup pintu kamar kembali dan melihat-lihat sebentar kondisi ruangan tidur pembantunya. “Kamarnya wangi sekali, Asih. Apa kamu ....” Tiba-tiba lelaki itu mendekatkan kepala, memperhatikan wajah Asih yang tampak cantik dengan hasil riasannya tadi. “Kamu bersolek?”


Asih mengangguk pelan.


“Mau ke mana?” tanya Juragan Juanda keheranan. “Kamu mau ke luar? Malem-malem ‘gini?”


“Serius?”


“I-iya, Juragan,” jawab Asih semakin gugup. Buru-buru dia mengambil selembar kain, bermaksud untuk menghapus riasan yang sudah terlihat sempurna memperlihatkan kecantikan perempuan muda tersebut.


“Jangan!” Juragan Juanda mencegah. Lelaki ini menahan gerak tangan Asih yang sudah bersiap-siap mengelap wajah. “Jangan dihapus! Biarin kayak ‘gitu, Asih!”


“Eh, Juragan ....” desah Asih malu-malu dan semakin merasa tidak enak hati, kini, karena jarak wajah mereka kian mendekat.


“Kamu cantik sekali dengan riasan itu, Asih,” bisik Juragan Juanda. “ ... Dan saya suka sekali ngelihatnya.”


“Ah, Juragan.”

__ADS_1


Perlahan-lahan cekalan tangan lelaki itu terlepas. Kini berganti terayun naik dengan jari telunjuk mengacung, menyentuh ujung dagu Asih. “Selama ini ... belum pernah sama sekali saya ngelihat kamu berias kayak ‘gini, Asih,” bisiknya kian pelan disertai dengkus napas hangat menyapu wajah perempuan tersebut. “Enggak nyangka, ternyata kamu punya rupa jelita begini. S-saya ... saya ....”


“Jangan, Juragan!” seru Asih menjauhkan kepala begitu kepala Juragan Juanda tiba-tiba maju mendekat. “Jangan lakuin ini sama saya.”


“Kenapa, Asih?” tanya sosok terkaya di Kampung Sirngalih tersebut heran. “Kamu gak suka sama saya?”


Janda muda tersebut tidak langsung menjawab. Dia menjauh, memutar badan membelakangi sosok majikannya, kemudian berkata, “Juragan ini orang baik. Majikan saya pula. Ini bukan tentang suka atau enggak, Juragan. Tapi ....”


“Karena Sumiarsih?”


Tiba-tiba lelaki itu mendekat, lantas mengusap pinggang Asih dari belakang.


“Juragan .... ah, jangan!” elak perempuan itu kembali. Tidak berusaha menghindar cepat, akan tetapi malah membalikkan badan berhadap-hadapan. Tentu saja hal tersebut memberi makna lebih pada Juragan Juanda bahwa sebenarnya Asih tidak akan menolak jika ....


“Asal kamu tahu saja,” bisik lelaki berusia 50’an tahun tersebut seraya merapatkan badan, “sudah lama saya kepengen begini ... dari kamu, Asih.”


“Ah, Juragan.”


“Sumiarsih udah lama gak bisa lagi ngasih apa yang masih saya butuhin selama ini,” ucap Juragan Juanda semakin berani mendaratkan jari telunjuknya di ujung hidung Asih, kemudian turun ke bibir, dagu, leher, dan berakhir tepat di bagian tengah antara dua bulatan kembar khas perempuan tersebut. “Dia sakit-sakitan, tambah tua, sedangkan saya ....”


“Jangan, Juragan,” pinta Asih begitu majikannya tersebut hendak menyentuh area dadanya semakin mendalam. “Saya gak ingin ngekhianatin Juragan Sumiarsih.” Kemudian perempuan ini menjauhkan jemari tua itu dari dirinya. “Saya banyak berhutang budi sama Juragan perempuan. Disamping berasal dari kampung yang sama, juga karena udah ngasih saya kepercayaan buat bekerja di sini, ngebantu merawat beliau dan juga Juragan sendiri.”


“Asih!” seru Juragan Juanda dengan suara agak meninggi kini. Lelaki tua namun masih terlihat gagah itu mencekal kedua lengannya, lantas berucap, “Kamu pikir kalo bukan karena izin saya, kamu bisa kerja di sini? Begitu, hhmmm? Kamu juga harus sadar diri, Asih, kalo bicara masalah hutang budi, kamu juga berhutang banyak sama saya.”


Asih menunduk. “Maafin saya, Juragan. Tapi ....”


“Udah lama saya menyukai kamu, Asih,” ujar Juragan Juanda mengejutkan, sampai-sampai membuat perempuan tersebut ternganga-nganga. Lantas menggeleng-geleng tidak percaya. “Ya, saya suka sama kamu, Asih.”


“Gak mungkin, Juragan,” ujar janda muda itu masih menggeleng-geleng. Dibalas cepat oleh majikannya, “Apanya yang gak mungkin? Normal-normal saja, bukan? Kamu bukan perempuan yang lagi terikat oleh hubungan pernikahan. Sedangkan saya, laki-laki beristri yang masih punya hak untuk menikah atau menambah istri.”

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2