Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 64


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 64...


...------- o0o -------...


Gemerlap dunia dengan segala keindahan dan godaannya akan terus membutakan mata hati dan pikiran manusia sampai kiamat. Kurangnya rasa syukur serta ketidaksanggupan untuk bersabar dalam menghadapi ujian, seringkali pula menanggalkan keimanan yang ada. Itu akan terus berlanjut, karena sumpah dan janji setan pada Tuhan dulu masih tetap berlaku.


Basri, lelaki kurus kering anak semata wayang Mbah Jarwo, calon pewaris tunggal harta kekayaan keluarga, nyata-nyatanya malah memilih jalan pintas untuk mengubah perekonomian keluarga. Menjadi penghamba duniawi dengan bantuan makhluk terkutuk ketimbang berjerih payah memeras keringat di tengah terik padang ilalang. Walaupun kini kehidupannya sudah berubah drastis dan mulai berkecukupan, tapi masih belum mau melepaskan diri dari jerat-jerat rayuan sesat setan. Dia bertahan menekuni dunia perjudian dari tempat ke tempat untuk menghidupi keluarga, akan tetapi tidak sekalipun bisa turut dinikmatinya sendiri secara hakiki. Itulah jerat lingkaran sifat setan. Sekilas seperti hendak mencukupi, di balik semua itu sebenarnya hanya ingin menjerumuskan umat manusia ke tingkat derajat yang serendah-rendahnya. Harta kekayaan yang dimiliki dengan jalan salah, peruntukkannya hanya untuk sekadar pamer kesombongan belaka. Jauh di dasar kejujuran yang ada, ternyata kaum penganut pesugihan lebih celaka dan menderita.


Basri tahu konsekuensi persekutuannya tersebut akan berimbas pada keluarga kecil tercinta. Mulai dari gangguan-gangguan fisik dan mental terhadap Lastri serta Aryan dan Maryam sejak lalu. Namun dia masih bersikukuh untuk tetap menjalani kesesatannya. Karena yakin bahwa semua akan bisa ditangani dengan mudah melalui bantuan Ki Jarok. Sebagaimana yang disampaikan pada pertemuan dia dengan dukun tua itu beberapa waktu kemudian di kaki Gunung Halimun. “Enggak, Anak Muda. Itu cuman keisengan jin penunggu jimat itu saja. Hik-hik,” tuturnya memberi penjelasan.


‘Iseng? Sangat tidak masuk akal!’ Basri menyangsikan. ‘Bagaimana mungkin sebangsa makhluk seperti itu suka bersikap konyol?’


“Dia hanya ingin mengenalkan diri pada keluargamu saja, Basri,” imbuh Ki Jarok kembali. “Buktinya selama ini kalian semua baik-baik saja, bukan? Hik-hik!”


“Ya, memang seperti itu, tapi jelas itu membuat saya sering merasa enggak nyaman jika harus meninggalkan mereka lama-lama, Ki,” balas Basri masih belum bisa meyakinkan diri.


“Tenang saja, Anak Muda. Selama kau tidak melalaikan tugas kewajibanmu terhadap jimat itu, semuanya akan baik-baik saja,” tutur Ki Jarok menjelaskan kembali. “Bahkan … tanpa harus kaupinta pun, aku sudah memberimu sosok penjaga tangguh yang akan menjagamu dari situasi yang tidak kauinginkan.”

__ADS_1


“Sosok penjaga? Maksud Aki ….”


Dukun tua itu tertawa-tawa.


“Hik-hik, kau tidak pernah menyadarinya selama ini, Basri?” Ki Jarok malah balik bertanya. Tentu saja hal tersebut membuat lelaki kerempeng itu berpikir-pikir untuk beberapa saat. Gumamnya di dalam hati, ‘Apa mungkin yang dimaksud Ki Jarok ini ada hubungannya dengan sesuatu yang pernah terjadi sewaktu si Brutus dan anak buahnya kabur terbirit-birit malam itu? Juga … tentang kejadian yang menimpa Aryan saat kami baru menempati rumah kontrakannya Mbah Karni? Ya, bisa jadi … bisa jadi. He-he. Baguslah, setidaknya kini aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan hal-hal yang tidak kuinginkan itu. Tapi … bagaimana dengan keluargaku saat ditinggal pergi nanti?'


Lantas tentang kejadian yang pernah dialami oleh Lastri beberapa bulan sebelumnya, apakah itu juga termasuk sebuah keisengan sosok makhluk yang dimaksud Ki Jarok?


“Lekas lepaskan semua pakaianmu, Anak Muda,” titah Ki Jarok sebelum Basri sempat mengungkapkan isi kepalanya tadi. “Purnama sebentar lagi akan menampakkan diri tepat di atas langit sana.”


“Ah, benarkah?” Anak semata wayang Mbah Jarwo itu menengadah ke langit-langit gubuk. Mengintip seberkas cahaya putih yang menerobos masuk melalui celah atap rumbia.”"Cepat sekali waktu berlalu, Ki.”


“Hhmmm ….” Dukun tua tersebut mendeham menjawab pertanyaan Basri. Kemudian dia segera merapikan duduknya, bersila takzim di depan pedupaan dengan kepulan asap putih menyesakkan. Perlahan-lahan mengatupkan mata dan mulai merapal kalimat-kalimat mantra.


Sapuan dingin angin malam yang menerobos dinding gubuk tiba-tiba datang mengentak. Terasa menusuk-nusuk nyeri di setiap lobang pori-pori yang disapui. Membuat tubuh Basri sebentar-sebentar goyah meliuk ke samping kanan dan kiri, menahan gertakan gigil di sekujur sendi. Itu bukanlah sekadar fenomena alam biasa, melainkan sebagai salah satu pertanda bahwa gerbang dimensi dunia kegelapan sudah mulai terkuak lebar-lebar. Mengantar para penghuni makhluk-makhluk astral menyeberangi jembatan alam kehidupan manusia.


“Aarggghhh!” Suara erangan Ki Jarok sejenak mengejutkan suasana sesak yang kini sudah berubah menghitam, tanpa ada setitik pun nyala pelita yang bertenger pongah di dalam ruangan sempit dan apek tersebut. “Datanglah … datanglah ….” gumam dukun tua berambut putih memanjang itu di antara desah mencekam. “Datanglah … wahai para penghuni dunia kegelapan. Di sini kami sudah menunggu ….”


Basri mencoba mengintip dari pejam ayamnya. Sekadar ingin mengetahui suasana apa yang kini sedang terjadi. Namun tidak ada satu pun yang tertampak. Hanya sesak dan warna senada di sana, yakni hitam mengelam. Entah sejak kapan lentera kecil yang tergantung di dinding sana itu padam sebelum dia merajut kelopak mata tadi. Mungkinkah karena ….


“Ah!”

__ADS_1


Lelaki bertubuh ceking itu tersentak kaget, begitu merasakan permukaan kulit pundaknya seperti ada yang menyentuh lembut, diiringi suara-suara mendesah aneh, serta embusan dingin menerpa daun telinga.


‘Siapa ini?’ tanya Basri berbarengan dengan riak bulu-bulu di tengkuknya serempak mengacung tinggi-tinggi. ‘Apakah Ki Jarok? Ah, tidak mungkin dia yang melakukannya. Sentuhan ini seperti rambut kemoceng yang menyapu lembut secara perlahan-lahan. Dan ….’


Karena penasaran, Basri segera menggerakkan tangan ke atas hendak meraih sesuatu yang masih tengah menyentuh-nyentuh pundaknya tersebut. Tercekal seperti berupa jari jemari dipenuhi bebuluan lebat dengan kuku-kuku memanjang.


“Aaarrgghhh!” Terdengar pekik sebuah suara disertai gerakkan menepis dari cekalan jemari Basri. Begitu cepat menghindar dan entah sengaja atau tidak, sempat menggaruk tajam kulit lelaki tersebut hingga menimbulkan rasa perih.


“Astaga!” Basri ikut menyentak.


“Diamlah ….” Sebuah bisikan kecil dan pendek mengingatkan agar lelaki ceking itu tidak mengeluarkan ucapan apa pun. Entah siapa, tapi dia menduga itu adalah suaranya Ki Jarok.


“Ki ….”


“Hi-hi ….”


‘Ya, Tuhan … suara siapa lagi itu? Jelas bukan Ki Jarok.’ Basri kian menggigil hebat. Kali ini bukan karena serangan dingin angin tadi, melainkan akibat rasa takut yang mulai menjalar hingga ubun-ubun.


Tidak hanya sampai di sana, diawali suara-suara tawa cekikikan, lantas bertambah dengan gaung seperti percakapan banyak orang-orang di sebuah ruangan bergema. Anehnya, tidak satu pun kalimat yang terdengar tersebut dipahami oleh Basri. Lantas semakin lama kian mendekat dan ….


Tiba-tiba kesadaran Basri berubah melemah. Hitam pekat yang semula tertampak di antara picing dan kerjap, perlahan-lahan menguning pucat diiringi denging berputar-putar mengelilingi seputar kepala.

__ADS_1


‘Apa yang terjadi padaku? Ini … ini … seperti ….’


...BERSAMBUNG...


__ADS_2