Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 19


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 19...


...------- o0o -------...


Beberapa bulan setelah itu, Basri mencari-cari kabar sendiri mengenai tempat kediaman dukun yang bernama Ki Jarok tersebut. Kebetulan Gunung Halimun hanya berjarak beberapa ratus kilo meter dari tempat kelahirannya dulu. Tidak mudah memang mencarinya, tapi tekad kuat sudah membaja di sanubari laki-laki ini. 'Aku harus mengubah nasib, sekaligus membuktikan diri pada Bapak bahwa aku pun bisa sukses tanpa berharap bantuan darinya!' membatin dia sehari sebelum keberangkatannya menuju kawasan gunung yang dimaksud. Itulah sebabnya, Basri tidak meninggalkan pesan apapun pada Lastri. Tiba-tiba saja dia menghilang begitu saja dari rumah. Bukan hanya sehari hingga tiga hari seperti biasa, akan tetapi sepekan lebih laki-laki ini berguru pada Ki Jarok.


"Hhmmm, jadi kausanggup buat menjalani ujiannya, Anak Muda?" tanya dukun tua tersebut usai berhasil ditemui dan mendengar penuturan Basri perihal maksud kedatangannya. Laki-laki bertubuh kurus kering itu menyanggupi. Ki Jarok pun tertawa terbahak-bahak, lantas lanjut berucap, "Ha-ha! Bagus … bagus sekali, Anak Muda. Aku suka sekali dengan orang sepertimu … hhmmm … Bas … Bas … siapa tadi namamu? Bas … rèng?"


"Basri, Ki," jawab suami Lastri tersebut merasa senang sekali, karena maksud kedatangannya disambut baik oleh Ki Jarok.


"O, iya … Basri. Akan kuingat namamu itu, Anak Muda. He-he," ujar dukun tua itu seraya memperhatikan raut wajah Basri dengan saksama. "Hhmmm, ternyata manis juga kaupunya rupa, Basri."


"He-he, makasih, Mbah," balas Basri agak risi diperhatikan sedemikian rupa oleh tetua pemilik kawasan hutan menyeramkan itu. " … tapi saya sudah menikah dan punya istri, Ki."


Ki Jarok mendelik. "Apa peduliku tentang itu, Basri! Huh!"


"Eh, maaf, Ki," balas laki-laki itu seraya menghaturkan sembah maaf. "Saya cuman memperkenalkan diri saja. Mohon maaf."


"Huh!" seru Ki Jarok dengan muka masam, tapi masih menatap Basri seperti tadi. "Dari rupamu itu … sepertinya mengingatkan aku pada seseorang, tapi siapa, ya? Aku sendiri lupa."


"Anak Aki maksudnya?" Basri mencoba menerka.


"Bukan," jawab dukun tua itu seraya menggeleng-geleng pelan. "Aku tidak punya anak, karena belum pernah menikah."


"Mantan mungkin, Ki?"


Tebakan kedua Basri masih salah. Kali ini malah mendapat sentakan luar biasa galak. "Apa maksudmu, Basrèng? Kaupikir aku pernah berkasih-kasihan dengan seorang le—"


"Maksud saya, seorang perempuan yang wajahnya mirip saya, Ki. Maaf, bukan bermaksud menuduh Aki yang bukan-bukan."

__ADS_1


"Sialan!" umpat Ki Jarok seraya kembali mendelik. "Sudahlah, lupakan saja tentang itu. Sekarang, kaufokus pada niatmu tadi. Pelajari, pikirkan, persiapkan, dan hafalkan mantra-mantra yang kuajarkan padamu tadi, Anak Muda. Karena ini penting buatmu nanti di saat sedang menjalani ritual dan melaksanakan prosesi ujiannya."


"Iya, Ki. Saya paham."


"Baguslah," ujar Ki Jarok, lantas menaburkan bubuk getah bening ke dalam pedupaan. Seketika ruangan sempit, pengap, dan temaram itu pun dipenuhi asap putih menyendatkan. "Kupikir kautidak bodoh-bodoh amat, Basrèng. Otakmu pasti encer waktu sekolah dulu."


'Terserah elu, deh, Aki-aki!' membatin Basri keki.


"Makasih, Ki."


"Hik-hik."


'Sialan, malah ngetawain dia. Dasar, Bujang Lapuk! Huh!' gerutu laki-laki cungkring itu tambah kesal.


Seharian penuh, Basri dibimbing Ki Jarok menjalani ritual demi ritual disertai ujian pelafalan mantra-mantra. Tidak butuh waktu lama, hampir separuh perjalanan prosesi mereka telah dilewati dengan lancar. Hingga akhirnya, sosok dukun tua itu memberikan kabar penting sekaligus puncak dari semua ujian yang akan dijalankan Basri.


"Kudengar di sebuah kampung di bawah sana, ada seseorang yang baru saja dikuburkan, Anak Muda," kata Ki Jarok terlihat serius. "Namanya Kampung Sirnagalih," ungkapnya menambahkan.


"Ya, di Kampung Sirnagalih," tukas Ki Jarok disertai anggukan beberapa kali. "Seorang perempuan bernama Sukaesih atau Kesih, masih perawan, dan mati karena bunuh diri."


Tidak sadar, laki-laki ceking itu berseru kaget, "Astaghfirullahal'adziim!" Dukun tua itu tersurut ke belakang dengan mata membulat galak memelototinya. "Eh, maaf, Ki. Saya gak sengaja ngucap begitu."


Dia baru mau melanjutkan penuturan usai menambahkan bubuk getah bening ke atas bara pedupaan. "Uhuk! Uhuk!" Terdengar batuk berat disertai mata merah berair begitu kepulan asap memerihkan itu menyerbu wajah tuanya. "Kautahu apa itu artinya, Anak Muda?" tanya Ki Jarok setelah sibuk mengucek-ngucek perih matanya.


"Arwahnya gak bakal diterima, Ki, karena mati dengan cara bunuh diri dan kondisi keimanannya termasuk kaf—"


"Bukan itu maksudku, bodoh!" sentak dukun itu marah.


"Eh … salah, ya, Ki? Duh, maaf. Soalnya setahu saya, sih, begitu."


"Diam!"


Eh, iya. Maaf, Ki."

__ADS_1


"Dengarkan!" titah Ki Jarok dengan suara menggelegar. "Yang kumaksud itu adalah … kematian perempuan itu sangat memenuhi syarat-syarat atas keinginanmu itu, Basri! Paham kau?" Basri mengangguk. "Bagus! Gali dan ambil tali mayat perempuan itu padaku!"


"Haahhh?!" Basri melongo terkaget-kaget.


"Ya! Gali kuburannya tepat pada tengah malam dan bawa talinya padaku sesegera mungkin malam itu juga," ungkap Ki Jarok menegaskan. "Ingat, harus kauambil dengan gigimu sendiri, Basri!"


"Haahhh?!"


"Jangan pernah kaulepas sejak kauambil dari leher mayat itu! Jika tidak, kautidak akan mendapatkan pengaruh apapun dari tali mayat itu!"


"Ya, Allah!"


"Heh!" Mata tua dukun itu berkilat merah.


"Eh, maafin saya, Ki. Kelepasan ngomong," ujar Basri seraya menghaturkan sembah maaf untuk kesekian kali pada Ki Jarok. Kemudian termenung selama beberapa waktu. Berpikir keras. Mungkin bagian ujian inilah yang menyebabkan kaum pemuja duniawi itu mundur, mengurungkan niat semula dan mencoba menggunakan jalan lain ; yang lebih mudah serta tidak menyiksa diri.


Rencana Basri hendak membongkar kuburan Sukaesih terkendala. Beberapa malam dia mengendap-endap mengawasi titik tujuan, makam itu selalu ramai dijaga oleh warga yang mengaji di sana. 'Sial! Kalo begini terus, kapan aku bisa mengeksekusi mayat si Kesih itu?' rutuk laki-laki tersebut kesal.


"Bagaimana ini, Ki?" tanya Basri pada Ki Jarok usai menuturkan hasil pantauannya. "Di kuburan perempuan itu selalu ada orang yang ngaji sampe Subuh."


Dukun tua itu hanya tersenyum. "Tenang saja, Anak Muda," katanya kalem. "Malam ini, lakukanlah sampai tuntas. Kebetulan nanti malam Jumat Kliwon. Malam kesempurnaan untuk sebuah tujuan dunia hitam. Ambang gerbang keemasan bagi penghuni alam kegelapan. Sungguh suatu kesempatan teramat berharga untukmu, Basri."


"Maksud Aki?"


Ki Jarok mengibaskan rambut putih panjangnya sebelum menjawab, lantas berucap penuh keyakinan, "Ini rezekimu. Lakukanlah malam nanti. Akan kubantu kau dari sini. Hik-hik."


Basri menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Apa yang akan Aki lakuin?" tanyanya penasaran.


"Hik-hik."


'Sialan! Malah nyengir dia!'


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2