Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 71


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 71...


...------- o0o -------...


“Emangnya kenapa, Bu?” tanya si sulung Aryan terheran-heran memerhatikan raut wajah ibunya yang tengah kebingungan.


“Ah, enggak. Ibu cuman nanya aja, Kak Iyan,” jawab Lastri seraya mendengkus keras. “Sebentar, ya, Ibu siapin dulu sarapan buat kita bertiga. Ibu sendiri masih belom sempet sholat Subuh. Kalian berdua, tunggu saja di sini. Jangan ke mana-mana.”


“Iya, Bu.”


Dengan langkah gontai, Lastri bergegas ke dapur. Menyiapkan beras untuk dimasak, lantas menuju kamar mandi terbuka di belakang dapur. Dia bingung apa yang mesti dilakukan. Berwudu langsung atau mandi terlebih dahulu sebelum menunaikan ibadah salat Subuh yang sudah terlewat. Demi menghilangkan keraguan, akhirnya perempuan ini memilih untuk mandi besar.


‘Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku sebenarnya,’ membatin Lastri sendiri sebelum memutuskan untuk mandi. ‘Seumur hidup, baru kali ini mengalami kejadian aneh seperti ini. Terbangun di siang hari dalam kondisi badan letih lunglai, seperti habis didatangi suami sendiri semalaman tadi. Tapi, Kang Basri jelas-jelas sedang tidak ada di rumah. Lalu ... cairan itu ... dari mana datangnya, ya? Ya, Allah ... aku benar-benar bingung sekali.’


Sambil menunggu nasi matang, Lastri bergegas ke kamar usai mandi besar untuk menunaikan ibadah salat Subuh. Namun baru saja menyelesaikan rakaat pertama, tiba-tiba pintu depan kembali ada yang mengetuk.


TOK! TOK! TOK!


“Assalaamu’alaikum, Bu Lastri!”


Aryan dan Maryam yang membukakan pintu. Mance kembali dengan wajah makin memucat pasi dan napas terengah-engah. “Ibunya ada, Dek?” tanyanya terbata-bata.


Yang menjawab si sulung Aryan, “Ada di kamar lagi sholat.”


“Lagi sholat?” Mata Mance berubah membesar disertai kerutan hebat di keningnya. “Sholat apa jam segini? Dhuha?”


“Sholat Subuh,” jawab Aryan polos.


“Sholat Subuh? Jam segini?”


“Iya.”

__ADS_1


“Ya, Tuhan!” seru Mance bingung dan melongok sedikit untuk melihat-lihat kondisi di dalam rumah. Berharap sekali sosok Lastri segera muncul di sana, menghampirinya. “Masih lama gak, Dek?”


Aryan menggeleng pelan.


Terpaksa Mance diam berdiri di depan rumah untuk menunggui hingga Lastri keluar dari kamar. Dari mimik serta gerak tubuhnya, tampak sekali ada sesuatu yang hendak disampaikan oleh pemuda tersebut pada istri Basri itu.


“Ada apalagi, Kang?” tanya Lastri beberapa waktu kemudian usai diberitahu Aryan perihal kedatangan Mance tadi. “Udah ketemu Mbah Karni-nya?”


Mance menatap perempuan itu beberapa saat, lantas dengan bibir gemetar dan raut wajah pucat pasi, dia menjawab, “B-bapak saya ... meninggal, Bu.”


“Innalillahi wainnailaihi raaji’uun!” seru Lastri terkejut.


“B-bapak ... saya temuin di ... balik semak-semak sana ... dalam keadaan sudah gak bernyawa,” tutur Mance terbata-bata. “Kondisinya ... sangat mengenaskan.”


“Apa? Maksud Akang?” tanya Lastri seraya menutup mulutnya yang menganga lebar karena rasa kejut luar biasa.


“Tubuh Bapak biru lebam, Bu. Seperti habis dipukuli,” ujar Mance kembali melanjutkan penuturannya, “ ... dan dari mulutnya pun ....”


“S-sudah! S-sudah! Jangan diterusin, Kang!” tukas Lastri buru-buru memotong ucapan Mance. Dia lekas menoleh ke arah Aryan dan Maryam di dalam yang turut mendengarkan obrolan mereka. “Saya gak pengin denger apa pun dari Akang. Ada anak-anak saya di sini. S-saya ... s-saya ... udah cukup tahu saja dan gak pengin denger kelanjutannya.”


“Apa maksudnya ini?” Lastri menerima sodoran potongan kain tersebut dan merasa mengenalinya sekali. “I-ini ... i-ini ... bukannya ini ....”


Sorot mata Mance tiba-tiba berubah menajam. Lanjut dia berkata, “Potongan kain itu saya dapet dari genggaman tangan Bapak saya, Bu. Sekarang Ibu paham, ‘kan, apa alasan saya datang nemuin Ibu?”


Lastri menggeleng. “Gak mungkin! Ini mustahil!” serunya dengan bias wajah yang kini berubah memucat.


“Potongan kain ini sama dengan kain yang sedang Ibu kenakan saat ini. Lihat saja!” ujar Mance seraya menunjuk pada kain di bagian bawah yang menutupi kedua kaki Lastri. Terkoyak di ujung dan memiliki corak yang sama. “Ibu bisa jelasin apa artinya itu sekarang, hhmm?!”


“Gak mungkin! Ini gak ada hubungannya sama sekali dengan saya, Kang!”


“Tapi sobekan kain yang ada di dalam genggaman mayat Bapak saya, sama dengan kain yang Ibu pake sekarang!” Nada suara Mance berubah meninggi. “Gak mungkin gak ada hubungannya!”


Balas Lastri setengah memekik, “Saya emang bener-bener gak tahu, Kang!”


“Bohong!”

__ADS_1


“Demi Allah saya gak tahu!”


“Terus ... kenapa sobekan kain itu ada di tangan Bapak saya?!” sentak Mance kini membuat lastri ketakutan. Aryan dan Maryam serentak berlari menghampiri ibunya dan berlindung di balik kaki perempuan tersebut. “Pasti semalem Bapak saya ke sini, ‘kan? Terus telah terjadi sesuatu dan Ibu yang mencelakai Bapak saya. Iya, ‘kan?”


“Demi Allah! Semalem, saya gak pernah kedatangan Mbah Karni, Kang!” timpal Lastri seraya menggeleng-geleng ketakutan. “Lagipula, buat apa Mbah Karni harus dateng malem-malem ke sini?”


“Saya gak tahu, tapi saya menduga ... pasti telah terjadi sesuatu antara kalian berdua. Iya, ‘kan?” desak Mance disertai gemeretak gigi menahan amarah. “Apalagi selama ini, Bapak saya mempunyai rasa suka sama Ibu.”


“Ya, Allah!” pekik Lastri. “Itu gak bener, Kang! Itu fitnah! S-saya ....”


“Ngaku saja, Lastri!”


“Enggak!” balas Lastri bersikukuh. “Suami saya lagi gak ada di rumah. Akang tunggu saja sampe nanti Kang Basri pulang. Saya bener-bener gak tahu apa yang terjadi sama Mbah Karni.”


Tiba-tiba Mance menyeringai.


“Justru ... karena suamimu lagi gak ada di rumah, terus ... kamu dan Bapak saya semalem—“


“Enggak! Demi Allah! Hentikan semua omonganmu itu, Kang! Ada anak-anak saya di sini!” ujar Lastri seraya menenangkan Aryan dan Maryam yang ketakutan di belakang tubuhnya. “Saya mohon, tunggulah sampe suami saya pulang nanti. Kita bicarakan baik-baik. Bukan sekarang ini!”


“Enggak! Ikut saya sekarang!” sentak Mance lebih keras dan mulai menarik-narik lengan Lastri dengan kasar. “Lihat mayat Bapak saya sekarang juga dan akui saja semua perbuatan kamu semalam itu, Lastri!”


“Lepaskan! Jangan paksa saya, Kang!”


“Kamu harus ngelihat mayat Bapak saya!” sentak pemuda tersebut semakin membuat anak-anak Lastri menangis histeris ketakutan. “Di sini cuman ada kami dan kalian! Bagaimana aku bisa percaya kalo bukan kamu yang membunuh Bapak saya!”


“Jangan, Kang! Lepaskan!” pekik Lastri berusaha menahan tarikan kuat jemari Mance untuk keluar dari dalam rumah.


“Ibuuuu!!!” Aryan dan Maryam berteriak ketakutan.


“Ikut sama saya sekarang juga, Perempuan Sundal!”


“Lepaskan saya! Lepaskan saya!”


“Ibuuu!!!”

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2