
...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 91...
...------- o0o -------...
Kini semuanya telah musnah. Persahabatan, persaudaraan, serta percintaan yang justru membawa Basri ke dalam ceruk kehancuran. Di kala sudah berada di tingkat terendah itulah, tiba-tiba saja benak lelaki tersebut teringat pada sosok-sosok tercinta di rumah; Lastri, Aryan, dan Maryam. Dia masih belum mengetahui bahwasanya keberadaan mereka bertiga saat itu pun sama-sama terlunta di luar alam bebas sana.
Lastri memutuskan untuk segera pergi dari rumah kontrakan milik Mbah Karni tersebut. Kejadian demi kejadian yang sangat tidak diharapkan dan teramat mengerikan, memaksa hati perempuan itu untuk kabur. Apalagi tempat terpencil yang sengaja dipilihkan oleh suaminya itu dengan alasan untuk menyelamatkan diri dari kejaran seseorang yang bernama Brutus, nyatanya justru merupakan ruang neraka baru bagi keluarga tersebut.
“Terus ... kalo Bapak nyariin ‘gimana, Bu?” tanya Aryan sebelum bergegas mengikuti langkah Lastri ke luar rumah.
“Biar itu jadi urusan nanti, Kak,” jawab Lastri kalut. “Yang terpenting sekarang adalah kita bertiga harus segera pergi dari sini secepatnya.”
Perempuan itu terlihat sangat kuyu dan ketakutan. Sosok Mance dan kabar tentang kematian Mbah Karni yang tidak jauh dari kediamannya, jelas siapa pun tidak akan pernah sudi bertahan di tempat serupa. Satu-satunya cara adalah dengan pergi walaupun belum ada persetujuan dari pihak Basri sendiri.
“Bapak kalian masih belum bisa dihubungi, Anak-anak,” tutur Lastri saat Aryan dan Maryam mengeluh ingin bertemu dengan Basri. “Ibu sendiri gak tahu kenapa sebabnya. Gak biasanya begini. Mudah-mudahan saja Bapak segera balik nelepon, ya?”
Dalam sebuah kehidupan memang selalu terselip sebuah harapan. Hal itu pula yang kerap membuat seseorang bertahan ketika ujian adalah sebagai bentuk kasih sayang dari Tuhan.
Begitu pun dengan Lastri. Berharap dan terus berharap suaminya akan segera pulang, menjemput, lalu membawa mereka dari ruang lingkup yang penuh aroma neraka tersebut. Entah di mana kelak, tempat ternyaman yang bisa dijadikan sebagai persinggahan. Kembali ke kehidupan awal atau mengakui kekalahan akan kerasnya hati di hadapan Tuhan.
...-------------------- o0o --------------------...
Sebenarnya apakah yang terjadi dengan Juned? Perlukah diceritakan di sini?
Jauh sebelum peristiwa pembongkaran makam almarhumah Sukaesih itu terjadi, di dalam hati Juned sudah lama terbersit keinginan untuk mengubah hidupnya. Bukan hanya sebagai seorang kuli atau juga buruh kasar. Tidak peduli walaupun akhirnya dia harus memilih langkah keliru, yang terpenting cita-citanya bisa segera terwujud.
“Di zaman sekarang, kalo kepengen ngerubah hidup dengan cara cepet ... gak lagi cara lain, selain jadi penjahat atau ngelakuin pesugihan, Ned.”
“Masa, sih? Apa cuman itu? Gak ada yang lain?” tanya Juned lirih.
“Iyalah. Semuanya ‘kan butuh proses dan perjuangan. Terus kudu tahan ujian juga. Nah, cobaannya pun kadang datang gak sekali dua kali, Ned, bahkan ada yang sampe bisa bikin gila. Ha-ha.”
“Sialan!” rutuk Juned.
“Elu tahu gak, para cukong gede yang sekarang jadi konglomerat di atas sana itu, dulunya mereka itu adalah orang-orang kecil dan dekil, Ned. Ada yang jadi tukang loper koran, jualan kecil, tukang nyemir, dan lain-lain. Tapi karena mereka yakin dan gigih, sedikit demi sedikit impiannya itu terwujud. Makanya jangan heran, rata-rata cukong orang kaya yang masih ada sekarang itu usianya sudah pada tua. Kalopun masih muda, paling juga dari golongan anak-mantunya. Ha-ha.”
“Terus menurut elu ‘gimana? Apa gua mesti jadi babi ngepet buat sementara sampe gua entar kaya?” tanya Juned kembali.
__ADS_1
“Ya, terserah elu, sih. Cuman tiap-tiap perbuatan pasti ada risiko ama konsekuensinya tersendiri, Ned.”
“Maksudnya?”
“Yaaa ... misal, kalo jadi penjahat, resikonya kalo kena tangkap bakal digebukin warga. Masih mending hidup, lah ... kalo sampe dibakar massa ... modar, mau apa? Terus, jadi pengabdi setan atau pesugihan, itu juga jauh lebih gede potensinya, Ned. Menjadi kaya bisa jauh lebih cepat, tapi jiwa elu bakal dijual sama mereka.”
“Mereka?”
“Iya, makhluk gaib itu.”
“Ooohhh.”
“Ada perjanjian kontrak yang HARUS elu setujui. Gak ada pilihan lain, terkecuali elu mesti tunduk ama aturan mereka. Nah, mengenai perjanjian kontrak ini ... banyak ragamnya, Ned, salah satunya adalah kesanggupan elu buat nyiapin tumbal atau bisa juga target hidup elu cuman buat beberapa tahun saja. Intinya sih begini ... gak ada yang gratis di dunia ini. Kencing aja kudu bayar dua ribu. Mereka bakal ngemanjain hidup elu ama limpahan harta, tapi sebenarnya itu godaan buat elu supaya jauh dari Tuhan. Terus setelah itu mereka bakal nagih sumpah elu buat menghamba di dunia mereka kelak sampai akhir hidup.”
“Kira-kira ... menurut elu, pesugihan yang terbilang aman tanpa perjanjian umur itu, ada gak?” tanya Juned penasaran.
“Tentu aja ada. Cuma syarat dan ujiannya lumayan berat banget, Ned.”
“Apaan emang?”
“Elu kudu ngebongkar kuburan tertentu di tengah malam, sendirian, dan kudu tuntas malam itu juga.”
“Cuman segitu?”
“Hhmmm,” deham Juned sambil meraba tengkuknya yang tiba-tiba meremang. “Yakin cuman begitu?”
“Caranya juga gak bisa sembarangan, Ned.”
“Memangnya kenapa?”
“Gak boleh make alat apa pun, terkecuali anggota tubuh elu sendiri.”
“Maksudnya?”
“Elu kudu ngegali kuburan pake tangan elu sendiri dan ngambil sesuatu dari mayatnya wajib pake mulut atau gigi elu sendiri. Sekali aja elu berbuat curang, semuanya bakal batal dan gagal.”
“Aauuhhh!” Juned mengerang ngeri. Semakin meremang bulu kuduknya. “Ngeri banget, ya? Hiks!”
“Pesugihan ini adalah untuk mendapatkan Jimat Tali Mayat. Dengan benda itu pula, elu bakalan bisa cepet kaya. Jago maen judi dan jadi primadona kaum hawa. Hi-hi.”
“Jimat Tali Mayat ....”
__ADS_1
“Ya, semua orang banyak yang menginginkannya, tapi sedikit sekali yang sudi dan lulus buat ngejalanin ritualnya. Bayangin ... ngambil tali pengikat mayat pas di bagian leher, pake gigi! Bayangin, Ned, bayangiinnn! Apa gak ngeri-ngeri sedap, tuh! Hi-hi!”
Juned termenung. Ingin sekali dia memiliki benda tersebut, akan tetapi mengingat prosesnya yang begitu berat, rasanya sangat mustahil bakal mau menjalaninya.
“Tapi gua harus ngedapetinnya!”
“Elu mau ngejalanin ritualnya, Ned?”
“Gak perlu! Cukup orang lain saja, Mong! Atau kalo bisa, elu aja juga boleh,” balas Juned bernada bercanda.
“Sialan lu! Ha-ha!” timpal teman Juned yang bernama Cemong itu sambil tergelak hebat.
Berbekal informasi yang didapatkannya tadi dari Cemong, Juned berusaha menyusun strategi. Menunggu kesempatan demi kesempatan hingga akhirnya seseorang pun datang bersama keluh kesahnya. Siapa lagi kalau bukan Basri.
Pilihan Juned memang tidak salah. Basri berhasil melewati semua ujian mengerikan tersebut. Membongkar makam Sukaesih dan sukses mendapatkan Jimat Tali Mayat.
Rencana lain Juned pun kemudian berlanjut kembali. Bersama seorang temannya, Cemong, Basri diperkenalkan. Akhirnya mereka bertiga pun menjadi akrab satu dengan lainnya. Kerap berfoya-foya bersama di berbagai tempat hiburan malam dan di sana pula bertemu dengan Lilis.
“Akang beneran, serius mau ngajak aku nikah?” tanya Lilis suatu ketika. Jawab Juned antusias, “Lah, iyalah, Neng. Akang serius banget. Akang jatuh cinta sama Eneng.”
“Kapan atuh ngelamar akunya?”
Di sinilah rencana itu mulai disusun. Kesungguhan seorang Juned hendak memperistri Lilis, tentu saja sangat memabukkan perempuan tersebut. Dia mau melakukan apa pun yang dipinta sang kekasih, asalkan rencana pernikahan mereka benar-benar terwujud.
“Aku punya temen, namanya Basri atau Abas,” tutur Juned mengawali kisah. “Deketin dia, Neng. Aku gak peduli cara apa pun yang Neng pilih, pasti aku dukung. Nanti orangnya aku ajak deh ke tempat kerjaan Eneng, ya? Perlakuin dia sebagaimana Eneng merlakuin aku selama ini.”
“Serius, Kang?”
“Serius dong, Neng. ‘Kan, demi cinta kita berdua.”
“Iya juga sih, Kang.”
“Pokoknya, Eneng harus profesional.”
“Iya, Kang.”
“Lakuin tugas seperti yang aku pintakan ya, Neng. Makin cepet misi ini beres, pernikahan kita bakal jauh lebih cepet juga dilaksanain. Oke gak, Neng?”
“Oke banget, Kang! Hi-hi!” jawab Lilis semringah. “Pokoknya apa pun yang Akang pinta, aku akan ngelaksanainnya, Kang. Yang terpenting, aku bisa segera terbebas dari si Kang Brutus.”
“Iya, Neng. Percayalah. Begitu misi ini selesai, aku akan langsung ngebawa Eneng jauh dari kehidupan dan masa lalu Eneng sebelumnya. Kita bakal ngemulai hidup baru, Neng. Dunia ini milik aku dan kamu seorang, orang lain mah pada ngontrak semua.”
__ADS_1
“Hi-hi!”
...BERSAMBUNG...