Pesugihan Mayat Perawan

Pesugihan Mayat Perawan
Bagian 95


__ADS_3

...PESUGIHAN MAYAT PERAWAN...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 95...


...------- o0o -------...


Kesempatan Sadam untuk memperdaya Sumiarsih semakin menampakkan hasil. Apalagi sejak kematian Sukaesih, pikiran dan hatinya kian tertekan. Sejak itulah istri Juragan Juanda tersebut sering jatuh sakit dan sakit-sakitan.


Kisah cinta tiga insan itu ternyata belum berakhir. Berhasil menyingkirkan Sukaesih, hati Selasih justru tertambat pada Juragan Juanda. Kemarahan akan sikap Sadam yang telah mengkhianatinya, membuat janda muda tersebut ingin membalasnya dengan perlakuan sama. Maka Ki Jarok pun menjadi alasan utama untuk dipintai pertolongan.


...-------------------- o0o --------------------...


“Maafin Akang, Neng,” ucap Sadam seraya bersimpuh dan memegangi jemari Asih. “Akang sadar, Akang telah berbuat salah. Janji, setelah kejadian ini ... Akang akan berubah. Akang akan segera menikahi Eneng.”


Asih tersenyum dingin.


‘Basi! Semua sudah berubah, Kang,’ membatin perempuan tersebut. ‘Aku ini perempuan. Tidak semudah itu menyembuhkan hati yang sudah terluka. Apalagi sekarang, Juragan Juanda sudah berada di dalam genggaman. Tinggal menunggu seorang lagi yang menjadi penghalang.’


“Eneng mau ‘kan maafin Akang, Neng?” tanya Sadam penuh harap. “Kita tata lagi hubungan kita ini dari awal. Akang janji, Akang akan berubah.”


Asih masih tidak mau menjawab.


“Neng ....”


Asih menoleh.


“Kenapa Eneng gak juga menjawab? Eneng masih marah sama Akang?”


Asih menghela nafas panjang. “Entahlah, Kang. Aku pengen mikir-mikir dulu.”


Sadam bangkit. Berdiri berhadapan dalam jarak yang kian dekat. Kemudian perlahan lelaki itu memajukan kepala hendak mendaratkan kecupnya pada bibir Asih.


“Jangan, Kang,” ucap Asih seraya memalingkan muka.


“Kenapa, Neng?” tanya Sadam sedikit kecewa. “Akang kangen sama Eneng. Sudah lama kita enggak bertemu.” Lantas mencoba kembali memajukan kepala. “Akang kangen sama masa-masa kita sebelumnya. Eneng kangen juga ‘kan sama Akang?”


Lagi-lagi Asih mengelak.

__ADS_1


“Enggak, Kang. Jangan lakuin lagi perbuatan itu.”


“Kenapa?”


Asih menggeleng.


“Apa karena Juragan Juanda lebih memuaskan daripada Akang?”


PLAK!


Sebuah tamparan telak mendarat di pipi lelaki tersebut.


“Lancang banget mulut Akang itu!” seru Asih dengan tatapan penuh kemarahan. “Akang pikir aku ini perempuan apa?”


Sadam malah tersenyum dingin seraya mengusap pipi. Perlahan dia melirik perempuan tersebut. Nanar sorot matanya seperti tengah memikirkan sesuatu. “Kamu pikir tamparanmu itu sakit, Neng?” tanyanya sinis. “Hati Akang ini yang jauh lebih sakit, Neng! Kamu pikir Akang gak tahu apa yang kamu lakuin sama Juragan Juanda, hah?! Kamu tidur sama laki-laki tua itu, ‘kan? Akui saja, Perempuan Pelacur!”


Tangan Asih kembali terangkat dan bergerak melayang hendak mendaratkan tamparan kedua. Namun kali ini refleks ditahan oleh Sadam, lantas dicengkeram kuat-kuat hingga perempuan itu meringis kesakitan.


Suara kekehan Sadam tiba-tiba menguar mengerikan. “Setan!” makinya di depan muka Asih. “Dasar perempuan tidak tahu diri! Sudah sejak tadi aku berusaha untuk bersabar, tapi kelakuanmu itu semakin membuat aku bernafsu untuk menyakitimu lebih jauh, Asih!”


PLAK!


“Aaahhh!”


“Sakit?” tanya Sadam disusul gelaknya membahana. “Sakit, ‘kan? Uuuhh ... pasti sakit banget. Ha-ha!”


“Kamu nyakitin saya, Sadam!” teriak Asih seraya mengusap-usap wajah. “Jangan harap setelah ini aku—“


PLAK!


“Aww!”


“Lagi? Sakit, ‘kan?”


“Sadam!”


Lelaki itu mendorong tubuh Asih hingga terjengkang dan jatuh ke lantai tanah dengan keras. Disusul gelak tawa Sadam memenuhi ruang gubuk. “Berdiri kamu!” titahnya kasar sambil menarik tangan Asih dan memaksanya berdiri. Tidak cukup sampai di situ, kembali dia dorong perempuan tersebut ke atas balai-balai dipan.


“Jangan, Sadam! Aku mohon!” seru Asih ketakutan begitu Sadam maju mendekat. Lelaki itu segera melonggarkan ikatan celananya dan bersiap-siap untuk menindih. “Enggak, Sadam! Jangan lakuin itu! Aku mohon!”

__ADS_1


BRUK!


“Aahhh!” Asih melenguh lirih menahan sesak nafas akibat ditumpangi berat badan Sadam.


Di saat-saat genting seperti itu, tiba-tiba jerit kesakitan menggema dari mulut Sadam. Lelaki itu memegangi kepala, lantas menggelosor ke samping tubuh Asih.


Belum usai penderitaan Sadam, sebuah pukulan susulan telak menghantam tengkuk lelaki tersebut.


“Aaahhh!”


BUK!


“Aaahhh!”


BUK!


Kali ini tidak lagi terdengar lengking kesakitan darinya. Sadam tergolek diam di atas balai-balai dipan, berlumuran darah. Namun pukulan demi pukulan masih menghantam membabi buta. Sampai kemudian, semuanya mendadak sunyi.


Asih tersurut mundur dengan raut wajah ketakutan. Perlahan-lahan dia lepaskan balok kayu di tangan yang sudah bercampur lelehan darah segar.


“Kang Sadam ....” desah perempuan itu seakan tidak memercayai apa telah terjadi.


Entah setan dari mana, saat ketakutan mulai memuncak tadi, tiba-tiba saja jemari Asih terasa seperti menyentuh sebuah benda keras dan panjang. Lalu tanpa dipikir panjang, segera dia raih dan menghantamkannya ke arah kepala Sadam. Tidak cukup sekali, bahkan sampai beberapa pukulan. Tidak terhitung hingga akhirnya melihat sosok lelaki tersebut diam tidak berkutik. Diam sebagaimana detak jantungnya yang turut berhenti untuk selamanya.


“Enggak! Ini bukan salahku! Ini benar-benar bukan salahku ....” ceracau Asih seraya menggeleng-geleng tidak percaya. “Aku hanya membela diri, ‘kan? Ah, enggak! A-aku ... a-aku ....”


Lantas perempuan itu pun beringsut menjauh. Turun dari balai-balai dengan kaki gemetar, kemudian terhuyung melangkah, menghambur dari dalam gubuk dengan nafas terengah-engah. Dia bingung harus bagaimana dan ke mana. Maka di antara tekanan keterkejutan, Asih berlari pulang secepat mungkin tanpa mau menoleh sekalipun ke belakang. Meninggalkan gubuk dan sosok Sadam yang tergeletak bersimbah darah.


Di tengah jalan, secara tidak sengaja berpapasan dengan Mbah Jarwo.


“Ada apa, Asih?” tanya lelaki tua tersebut terheran-heran dan nanar menatap percikan darah segar yang mengenai bagian baju Asih.


“Enggak! Ini bukan salahku, Mbah!” seru perempuan itu tersurut mundur, menjauh dari sosok Tetua Kampung Kedawung. “Aku bersumpah! Ini bukan salahku!”


Mbah Jarwo mengerutkan kening. Dia mulai menduga-duga ada sesuatu yang baru saja terjadi pada salah seorang warganya itu. “Tenang, Asih. Tenang. Semua akan baik-baik saja. Tenang. Apa yang sebenarnya terjadi, hhmmm?”


Bukannya menjawab, Asih malah menggeleng-geleng. Sejenak dia menatap lelaki tua tersebut dengan bias ketakutan. Kemudian berlari kembali meninggalkan Mbah Jarwo begitu saja.


‘Sesuatu telah terjadi dan itu pasti!’ membatin lelaki tua tersebut. ‘Darah itu ... darah itu masih tampak basah dan segar. Entah darah apa dan siapa. Tapi dari arah dia datang barusan, sepertinya berasal dari sana ....’ Dia menoleh ke arah yang diduga. Lantas pikirnya langsung mengingat pada sebuah tempat yang pernah dia singgahi sebelumnya. ‘Gubuk itu. Pasti di gubuk itu! Tempat dimana Asih dan Sadam bertemu malam-malam, melakukan sesuatu yang terkutuk itu. Hhmmm, sebaiknya aku harus segera ke sana. T-tapi ....’

__ADS_1


“Ah, aku harus mencari dulu si Sarkim!”


...BERSAMBUNG...


__ADS_2