
Kesibukan para pelayan di pagi buta sudah menjadi alarm rutin saat pagi hari. Sekali lagi, gadis manis ini menjalankan perannya sebagai istri dan menantu. Seperti artis hebat dia melakukan tugas- tugasnya tanpa menimbulkan kecurigaan sang mertua. Walau kadang mendapat sorot mata penuh benci padanya. Tapi demi wanita tua yang menyimpan gunung harapan padanya, terpaksa Pingka menelan begitu saja pil pahit itu.
Hari - hari sebagai istri dilalui wanita itu dengan cara berbeda dari pernikahan dilandasi keterpaksaan, saat dirinya beralih tanggung jawab maka dia berusaha menjalankan semuanya dengan rela walau kadang ribuan duri dan jarum siap menusuk tiap saat karena menolaknya. Seperti biasa Pingka melakukan aktivitas biasa tanpa dicurigai oleh ibu mertuanya.
"Pingka, ayo sarapan ! Selama seminggu Ibu tidak pernah melihatmu makan bersama. Apa kamu tidak menyukai Ibu ?" Tanya Ibu Erly lirih ada rasa bersalah di hatinya setelah terjadinya pernikahan paksa ini.
"Tidak, Bu. Aku menyayangi Ibu. Sama seperti Ibu kandungku dan Bibi Halimah. Bukannya aku tidak mau makan bersama Ibu, tapi aku terbiasa makan saat bangun dari tidur." Pingka beralasan lagi.
"Benar begitu ?" Tanya Ibu Erly memastikan.
"Benar, Bu ! Ibu makanlah aku berangkat bekerja biarkan saja disini piringnya nanti. Bi Weni ijin ke kampung hari ini. Maaf tidak mengantar Ibu nanti." Ucap Pingka lembut.
"Iya sayang, hati - hati dijalan" Ibu Erly menepuk punggung tangan menantunya penuh sayang.
Pingka meninggalkan ruang makan dengan rasa bersalah, kebohongan yang diciptakannya semakin dalam dan lebar. Berulang kali hatinya mengucap maaf karena tidak jujur yang sebenarnya terjadi.
Pingka menyusuri pinggiran jalan menuju halte bus. wanita itu sudah tidak menggunakan wig lagi setelah dilepas paksa oleh Rangga waktu itu. Dengan wajah lesu tak bersemangat dia memasuki ruangannya.
"Hai Pingka !" Dimas menyapa duduk di kursi kerja milik Pingka.
"Pak Dimas, anda disini? Sedang apa dimeja kerja saya?" Pingka membalas sapaan Dimas dengan nada datar dan dingin.
"Menunggumu !" Dimas menatap dalam manik mata wanita yang telah mencuri sebagian hatinya ini.
"Untuk apa? Jangan membuat saya dalam masalah Pak Dimas !"
"Jangan takut, aku hanya mengajakmu makan siang nanti dan aku ada pekerjaan hari ini bersama bos mu, nanti kujemput." Ucap Dimas tersenyum.
Pingka belum sempat menjawab lali-laki itu sudah meninggalkan tempat itu. Ravita dan Dinda baru sampai melihat Dimas keluar dari ruangan Pingka.
"Wah, lihatlah wanita tukang pukul ini. Bukan hanya menggoda mantan kekasihku. Tapi juga mulai bermain jauh menggoda rekan bisnis Pak Endra." Ucap Dinda sinis melipat dua tangannya di dada.
"Jaga ucapan mu, Dinda !" Balas Rangga yang baru masuk.
Dinda tersenyum manis lalu masuk ke dalam ruangannya. Ravita menghampiri Pingka yang sejak tadi hanya diam menerima kata - kata dari Dinda.
"Jangan hiraukan." Ravita merangkul pundak sahabatnya itu.
...----------------...
Mereka memulai pekerjaannya dengan tenang seperti biasanya. Pingka selalu bisa membatasi masalah pribadi dengan kantor. Beberapa jam bekerja sampailah saat makan siang.
"Pingka, ayo makan siang !" Dimas berdiri di depan pintu bersama Sandi.
__ADS_1
Endra tidak suka dengan situasi ini karena paksaan Dimas akhirnya dia mengalah untuk ikut ke ruangan di mana istrinya bekerja.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa, saya akan makan siang bersama Ravita." Jawab Pingka.Terlintas perkataan Endra saat itu mirip alarm peringatan untuknya.
Rasa kecewa mencubit pinggiran hati Dimas, senyum paksa diberikannya pada wanita itu. "Baiklah, lain kali tidak ada penolakan. Aku memandangmu sama dengan yang lainnya tidak menoleh ke asal usulmu. Jadi tidak usah malu berteman denganku." Ujarnya berkata penuh makna.
Pingka mengangguk. "Terimakasih pengertiannya, Pak".
Kenapa kamu harus menutup diri seperti ini Pingka ?
Dimas dan yang lain meninggalkan ruangan Pingka. Hati yang kecewa ditutupinya dengan candaan receh bersama Sandi.
...****************...
Tiga laki - laki tampan ini jadi pusat perhatian tiap pengunjung wanita, tak sedikit kalimat pujian yang mereka ucapkan. Merasa risih ? Pastinya tidak. Mereka senang jadi perhatian tiap wanita.
"Kenapa kamu perduli sekali pada wanita udik itu ?" Endra meletakkan ponsel di meja bertanya dengan nada meremehkan.
"Walau dia udik, tapi kecantikan dan sikapnya berbeda pada wanita umumnya." Dimas juga meletakkan ponselnya.
"Jangan terpengaruh pada wajah polosnya." Endra bicara seperti ultimatum.
Dimas memberikan senyum meremehkan. "Aku tidak terpengaruh, aku menyukainya. Wanita tangguh yang belum pernah kutemui, malam itu saat sebilah pisau hampir menusuk kulitnya, wajah pucat menahan sakit itu tidak terlihat ketakutan. Bahkan berteriak minta tolong." Ucapnya menerawang kembali peristiwa malam itu.
"Pisau ?" Endra mengulangi kata itu dengan wajah sedikit terkejut.
"Ya, aku tidak mengerti. Apa dia saat itu memiliki kekasih atau tidak? Tapi yang jelas orang itu bodoh ! Membiarkannya sendiri ditengah malam. Karena aku yakin dari dirinya tidak mungkin keluar tengah malam begitu." Dimas menatap laki-laki arogan itu dengan sorot mata tajam.
Endra mengepalkan tangannya kesal, manusia bodoh yang dimaksud Dimas adalah dirinya secara tidak langsung. Makanan mereka datang, debat kecil itu terhenti seketika. Namun, saat menikmati makanan tiba - tiba dari tempat tak jauh ada seorang wanita memaki wanita lainnya dengan lantang.
"Bagus kamu disini, aku sengaja mencarimu ! Kamu tahu, HAH ! Gara - gara dirimu ! Hendri ingin menceraikanku !"
Ya, yang datang dengan membawa emosi adalah Rania sahabat Pingka di kampung. Sahabat yang telah mengkhianati dengan menikahi tunangannya.
Suara Rania yang nyaring membuat mereka menjadi pusat perhatian orang - orang. Ketiga laki - laki ini juga melepaskan sendok dari tangan masing-masing setelah tahu siapa lawan wanita yang memaki.
"Pingka!" Dimas dan Sandi ingin berdiri
"Biarkan !" Endra menghentikan pergerakkan Sandi dan Endra
Pingka dan Ravita masih santai menghabiskan nasi di piring tanpa menghiraukan Rania yang emosi di puncak ubun-ubun.
"Dasar wanita penggoda ! Hendri suamiku ! Kenapa masih kamu goda juga ?! Bahkan dirimu menghadiri pernikahan kami" Rania kembali mengingatkan.
__ADS_1
"Aku ingat ! Dan sangat ingat ! Pernikahan atas dasar pengkhianatan itu, aku bahkan belum lupa dengan senyum manismu saat memberiku kartu undangan !"
Pengkhianatan...
Endra memasang telinga setajam - tajamnya.
"Jadi, dia dikhianati. Kurang ajar ! Aku jadi penasaran, siapa laki - laki yang mencampakkan karya Tuhan yang indah itu." Dimas mengepalkan tangannya.
Pingka menarik tangan Ravita untuk meninggalkan tempat itu. Rania geram lalu mendorong Pingka dari belakang, tubuh itu langsung terjerembab ke depan. Namun, sebelum menyentuh lantai. Dua tangan kekar menopangnya dari depan.
"Pingka."
"Hendri."
Ucap mereka bersamaan. Dimas dan Sandi berdiri lagi dari tempat mereka duduk. Sementara Endra hanya jadi penonton di kursinya.
Laki-laki yang menahan tubuh Pingka adalah Hendi. Sang tunangan yang mengkhianatinya. Dengan bukti yang tidak akurat, Hendri tega mencampakkan Pingka dan menikahi Rania.
Pingka menepis kasar tangan Hendri yang menatapnya penuh rindu. "Maaf membuat keributan" Ucapnya pada pemilik kafe lalu melenggang pergi dari sana.
"Pingka, Tunggu ! Aku minta maaf. Aku bersalah... Aku dijebaknya Pingka, aku akan menceraikannya." Hendri menarik pergelangan tangan wanita itu menahannya untuk pergi.
Dari jauh Dimas geram melihat Hendri menyentuh Pingka "Dia rupanya laki - laki itu." Tuturnya mengamati wajah Hendri dari kursinya.
"Lepaskan !" Pingka menarik tangannya kasar
"Aku masih mencintaimu, kembalilah padaku." Hendri berkata penuh harap.
Pingka menatap dua bola mata laki - laki itu tajam dan dingin, tidak ada lagi kehangatan atau cinta di sana. Senyum dan wajah ceria saat bertemu sudah tidak terlihat, hanya ada wajah datar tanpa ekspresi.
"Pasti kembali" Celetuk Endra tersenyum meremehkan pada Pingka.
"Sayangnya, jarum jam berputar dari kanan ke kiri bukan dari kiri ke kanan."
Pingka menjawab singkat sehingga mengejutkan Endra. Sementara Dimas tersenyum puas ternyata Pingka menolak laki - laki itu dengan tegas.
"Kamu benar Pingka, jarum jam akan berputar dari kanan ke kiri, bukan kiri ke kanan, waktu yang hilang tidak akan kembali lagi." Ucap Sandi tersenyum menatap luar kafe dimana bayangan Pingka sudah menghilang.
Endra berusaha mencermati, tapi tak mampu. Bagaimana pun dia sudah dibutakan dengan kebenciannya, sisi baik Pingka saja sudah tidak bisa dilihatnya.
...----------------...
Terimakasih sudah membaca selalu dukung ya🤗
__ADS_1