Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Tumbangnya CEO 1


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian...


Tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat, tiap menit detik terlewati begitu saja. Semakin hari jarak dan waktu yang memisahkan semakin kentara rasanya. Sikap pria ini semakin bertambah kasar, emosi yang tinggi seperti mendarah daging dalam dirinya, ditambah lagi tidak ada kabar berita dari sang pemilik hatinya satu bulan belakangan ini, membuat dirinya semakin tak terkendali.


Tubuh yang mengurus kantung mata yang sedikit menghitam menunjukkan jika Endra tidak dalam keadaan baik-baik saja. Hampir satu bulan ini  makan tak teratur, tidur tak nyenyak dan istirahat tidak cukup. Membuat orang melihatnya dilanda kekhawatiran meskipun ia pandai menutupinya.


Berulangkali keluarga dan temannya mengingatkan jika hidup terus berlanjut jangan meratapi sesuatu yang sudah terjadi, tapi tidak digubrisnya sama sekali. Endra berencana akan pergi lagi ke Desa untuk menjemput wanita pujaan hatinya sesuai janjinya,  keberangkatan ini harus membawa hasil.


Endra merasakan tubuhnya sangat amat lelah hari ini, mungkin terlalu bersemangat pikirnya. Secepatnya ia menyelesaikan pekerjaannya sampai makan siang diabaikan begitu saja supaya cepat berangkat menemui Pingka di Desa.


"Istirahatlah." Kata Sandi. Perasaannya cemas melihat wajah Endra lebih pucat hari ini.


"Sebentar lagi, aku harus menyelesaikan ini, nanti sore aku akan berangkat menjemput Pingka." Endra fokus menandatangani tiap dokumen di atas mejanya.


"Setidaknya makanlah dulu." Sandi tetap berusaha membujuk.


"Nanti saja aku belum lapar." Endra menyakinkan Sandi.


Melan datang tiap hari mengantarkan makanan walau tak pernah dimakan Endra. Ibu Erly sangat mencemaskan keadaan putranya yang semakin hari menyibukkan dirinya di kantor.


"Bagaimana Kak Sandi, apa Kak Endra sudah makan?" Melan bertanya dengan raut wajah khawatir. Sandi menggeleng lemah. Melan mengembuskan nafas kasar.


"Baiklah aku akan pulang, bujuk saja dia terus untuk makan." Melan meninggalkan ruangan Sandi.


Endra yang tengah fokus, tiba-tiba merasakan tubuhnya gemetar dan berkeringat dingin. Dadanya sesak dan merasakan perutnya sakit yang luar biasa. Berulang kali Endra menarik nafas lalu menghembuskan nya perlahan, berharap rasa sakitnya bisa berkurang.


Tapi rasa sakit di ulu hatinya semakin menusuk serta dadanya semakin panas dan sesak, tubuh Endra terhuyung dengan sigap ia memegang sandaran kursinya.


Kepalanya pusing dan penglihatannya berkunang - kunang, beberapa kali ia mengerjabkan matanya. Tapi tetap penglihatannya semakin buram dan pendengarannya yang mulai menghilang.


Sandi mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan dari dalam, ia bingung sendiri tak biasanya seperti ini. Mengingat ini belum istirahat siang pasti Endra masih duduk di kursi kebesarannya.


Endra mendengar sayup - sayup ketukan di pintu. Namun tak mampu menjawab. Mulutnya seakan terkunci karena menahan rasa sakit di ulu hatinya yang semakin sakit.


"Endra !" Sandi berteriak mendapati Endra tersungkur dilantai dengan pelipis berdarah.

__ADS_1


Sandi segera memanggil beberapa orang keamanan Saguna untuk membantu membawa Endra ke rumah sakit melalui pintu darurat di dalam ruangan Endra.


Sandi sengaja menggunakan pintu itu karena langsung terhubung dilantai bawah tempat mobil Endra terparkir. Sandi menghubungi Dokter Reno lalu mengatakan kondisi Endra


Petinggi rumah sakit di sana gempar mendengar tumbangnya si Tuan Muda. Dokter Reno jadi ketar ketir sendiri menyiapkan berbagai macam alat-alat canggih dan menyiapkan Dokter terbaik di sana untuk siaga jika Endra mengalami penyakit serius.


Ibu Erly terduduk lemas di sofa setelah mendapat kabar dari Sandi , hal yang ia takutkan ternyata terjadi. Endra jatuh sakit.


"Ayo, Nak. Kita susul kakakmu." Kata Ibu Erly sudah merasa tenang.


"Ayo, Bu." Jawab Melan juga berhenti menangis.


Ibu Erly dan Melan pergi ke rumah sakit di antar sopir pribadi mereka, tak lupa membawa beberapa keperluan Endra.


...----------------...


Para Dokter UGD berjejer rapi siap menyambut sang pemilik rumah sakit, begitu juga para Dokter spesialis semua sudah disiapkan dokter Reno di tempatnya masing-masing.


Dokter Reno memberi kode agar perawat mendorong brankar mendekat ke mobil Endra yang baru memasuki halaman rumah sakit.


"Apa yang terjadi ? Pria ini tergeletak lemah seperti ini." Dokter Reno mengeluarkan peralatan medisnya sambil terkekeh.


"Periksa saja dulu nanti kita bercerita panjang lebar." Jawab Sandi merasa kesal.


Dokter Reno tersenyum lalu mulai melaksanakan rangkaian pemeriksaan bersama Dokter IGD lainnya. Sandi duduk di kursi tunggu di luar ruangan masih memikirkan penyebab Endra sampai jatuh pingsan.


Dari kejauhan Ibu Erly dan Melan melangkah tergesa - gesa, mereka tak menghiraukan lagi sapaan hormat para Dokter di sana karena kecemasan mereka. Sandi berdiri lalu membungkuk hormat pada Ibu Erly.


"Bagaimana keadaan Endra?" Ibu Erly bertanya dengan nafas tersengal.


"Bibi duduklah terlebih dulu, Dokter Reno masih memeriksa kondisinya." Jawab Sandi sopan.


Ibu Erly mengangguk dan duduk di kursi tunggu begitu juga dengan Melan. Setelah menunggu cukup lama, Dokter Reno keluar dengan senyum manisnya .


"Bagaimana kondisinya?" Ibu Erly memegang kedua tangan Dokter Reno.

__ADS_1


"Bibi, Endra kurang istirahat dan pola makannya tidak teratur. Ia memforsir tenaganya sangat keras, dia juga kekurangan cairan. Ini juga efek stres, saat ini Endra terkena Maag dan asam lambungnya tinggi. Sementara Endra dirawat saja terlebih dulu sampai benar-benar sembuh." Jelas dokter Reno.


Ibu Erly mengangguk "Terimakasih rawat dia dengan baik, apa aku boleh melihatnya ?"


"Boleh, tapi alangkah baiknya kita pindahkan saja dia dulu keruang rawat inap, saat ini Endra belum bangun biarkan dia istirahat banyak hari ini." Ucap Dokter Reno.


Ibu Erly duduk kembali mengurungkan niatnya masuk, ia mempersiapkan keperluan putranya terlebih dulu. Sandi membantu Dokter Reno mendorong brankar Endra.


...----------------...


Pingka sudah sembuh total, ia ikut sibuk membantu Fajar mempersiapkan pernikahannya dengan Mayang. Hubungan mereka sudah lama terjalin Mayang seorang bidan di kampung mereka.


Karena kesibukannya, Mayang jarang sekali berkumpul dengan Fajar dan teman-temannya yang lain, karena ia harus siap ditempat jika ada yang memerlukan dirinya.


Mereka mempersiapkan acara pernikahan yang sempurna mengingat tamu undangan Fajar bukan hanya orang Desa, melainkan juga dari perusahaan. Mereka harus mempersiapkan segalanya dengan matang agar tidak menjadi buah malu.


Pingka meraih ponselnya yang berdering sejak tadi sangat mengganggu dirinya yang menulis nama di kartu undangan.


"Halo" jawabnya lembut.


"Pingka apa kabarmu?"


"Baik Pak Sandi." Jawab Pingka pendek.


"Pingka begini, aku hanya ingin mengabarkan jika Endra sedang sakit. Saat ini dia belum sadarkan diri sejak pingsan di kantornya."


"Lalu... Apa hubungannya denganku?" Tanya Pingka dingin.


"Bisakah ? Kamu datang menjenguknya, sekali saja."


"Maaf Pak Sandi, saya tidak bisa ke sana, di rumah dua minggu lagi ada acara pernikahan. Jadi saya harus membantu Kak Fajar." Pingka menolak.


"Baiklah kalau begitu terimakasih, selamat malam."


Pingka termenung sejenak lalu memberitahukan kabar itu pada Fajar dan Bibi Halimah.

__ADS_1


__ADS_2