Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Kegusaran Endra


__ADS_3

Suara hujan lebat pagi hari begitu nyaman di telinga gadis cantik ini. Berbalut selimut tipis dan kecil milik asisten rumah itu. Sudah memberikan tempat ternyaman baginya. Mirip pelukan sang ibu yang sudah tiada. Rumah kecil tempat tinggal para asisten rumah tangga ini terasa sepi selama dua minggu sudah. Tinggal beberapa hari lagi Pingka yang mendapatkan cuti tahunannya.


Kali ini dia berencana akan pulang ke kampung halamannya, rindu menggerogotinya tiap waktu sudah tidak tertampung lagi. Pingka membersihkan diri terburu - buru, waktu sudah menunjukkan setengah tujuh. Hari ini dia bangun kesiangan karena dinyanyikan rintik hujan pada pagi hari.


Menghabiskan waktu empat puluh menit, Pingka tiba di kantor dengan terburu - buru tanpa menyadari jika Endra juga masuk bersama Sandi.


Pingka menunduk tanpa menyapa, lalu pintu lift tertutup begitu saja. Dan di sebelahnya ada Endra dan Sandi memasuki lift khusus dirinya. Beberapa menit kemudian lift terbuka kembali.


"Hei, kamu buta atau bisu?! " Endra Menatap tajam pada Pingka yang melewatinya.


Wanita itu menghentikan langkahnya. "Saya menuruti permintaan anda, Pak. Bukannya, Bapak bilang lebih baik memilih tidak melihat atau mendengar suara saya." Balas Pingka datar.


"Apa kamu tidak bisa membedakan di mana kantor dan rumah?" Endra tak mau kalah.


Sandi tersenyum lalu melangkah ke pantri.


"Saya sangat tahu dimana tempat saya dan perlu Bapak ingat kita tidak tinggal satu atap." Pingka menekan kata 'atap'.


Endra mendengus kesal lalu masuk ke ruangannya, dua minggu Pingka menghindarinya di rumah maupun di kantor. Entah kenapa dia sedikit merindukan sosok cantik itu berkeliaran didepannya. Ya, Pingka memilih menghindar setelah memasak makan malam untuk Endra waktu itu.


Ada apa denganku? Apa aku pindahkan saja dia jadi sekretaris ku lagi


Endra menatap kosong layar laptopnya.


Pingka hari ini berada dilantai atas sama dengan ruangan CEO karena ada urusan dengan Sandi. Wanita itu kembali ke lantai bawah tempatnya bekerja, seutas senyum terlihat dibibir merahnya. Dalam hatinya sangat senang melihat wajah kesal Endra.


...----------------...


"Pingka." Sapa Dimas masuk kedalam ruangan Pingka.


Gadis cantik itu menoleh ke asal suara. "Pak Dimas, ada yang bisa saya bantu?"


"Ya, kamu bisa membantuku makan siang bersama?" Dimas memasang wajah penuh harap.


"Maaf, Pak. Saya akan makan siang bersama Ravita." Pingka menolak .


"Tidak apa - apa, aku makan siang bersama Rangga saja. Kamu berangkatlah bersama Pak Dimas." Ravita memberikan solusi.


Dalam hati Dimas berteriak senang dan mengucapkan ribuan terimakasih pada Ravita.


"Baiklah."


Dari kejauhan Endra dan Sandi melihat Dimas dan Pingka berangkat menaiki mobil Laki-laki itu.


"Apa mereka sedekat itu?" Endra bertanya pada Sandi. Tapi matanya masih melihat kearah mobil Dimas yang keluar dari halaman kantornya.


"Tidak juga, tapi tahap pendekatan. Dimas menyukai Pingka. Dia sedang berusaha mendapatkan cinta Pingka." Sandi menjawab penuh senyuman.

__ADS_1


"Sial !" Endra mengumpat ada rasa tak senang dihatinya saat melihat Dimas begitu senang bersama Pingka.


"Jangan mengumpat, ini cukup adil untuk Pingka. Bukannya ? Dia hanya istri di atas kertas dan selebihnya kamu tidak menginginkannya." Sandi bicara tanpa menoleh pada Endra.


"Sudahlah jangan membahas mereka lagi ! Peringatkan Dimas jangan sering - sering datang ke kantorku jika hanya mengganggu karyawan ku bekerja ! Cari tempat makan yang berbeda dari mereka." Endra memberi perintah lalu melangkah mendahului Sandi.


Sandi dan Endra memilih tempat makan yang lain dengan alasan tidak ingin mengganggu Dimas dan Pingka, karena Endra menebak jika Dimas mengajak Pingka makan ditempat biasa mereka makan bertiga.


...----------------...


Dimas merasakan debaran begitu kuat saat bersama Pingka. Ia menatap intens wajah cantik di depannya yang tak membosankan,


Pingka merasakan jika saat ini Dimas memperhatikannya


"Apa ada sesuatu di wajah saya ?"


"Tidak, aku hanya berfikir apa wanita secantik kamu tidak memiliki kekasih." Dimas menjawab sambil menguasai kegugupannya.


"Maksud Pak Dimas?" Pingka sengaja bertanya.


"Apa kamu memiliki kekasih atau suami ?" Dimas balas bertanya langsung pada intinya.


"Saya tidak memiliki kekasih atau suami."


"Benarkah ?" Dimas berbinar senang padahal dia tahu jika Pingka berbohong.


"Ya, saya tidak bisa jatuh cinta lagi karena cinta yang saya miliki sudah tertanam kuat pada orang lain." Jawaban Pingka langsung mematahkan semangat juang Dimas.


"Bisa dikatakan begitu." Pingka membenarkan walau dalam hatinya berbohong.


Bukan dia, tapi Endra suamimu sendiri yang membuatmu jatuh cinta. Sial kenapa harus dia Pingka ?


Dimas merasakan sakit dihatinya, pengungkapan cinta yang direncanakan sejak semalam diurungkannya begitu saja, karena jawaban yang sebenarnya sudah didapatnya.


Biarkan kali ini aku serakah Pingka. Semoga Tuhan merubah hatimu dan mau membuka pintu hatimu untukku. Dimas tersenyum


"Ada yang lucu ?" Pingka bingung melihat Dimas tersenyum manis.


"Tidak, aku hanya berdoa agar Tuhan membukakan pintu hati seseorang untukku" Jawab Dimas.


Pingka mengangguk dan tersenyum tipis.


...----------------...


Endra menatap tak berselera pada makanan di depannya. Pikirannya merayap kemana - mana. Rindu pada kekasihnya tidak menggebu seperti sebelumnya, bahkan saat ini dia memikirkan kedekatan Pingka dan Dimas.


"Kenapa tidak dimakan ?" Sandi menghentikan kunyahan nya.

__ADS_1


"Sudah kenyang !" Endra menarik nafas berat.


"Ada yang kamu pikirkan ?"


"Bisa - bisanya wanita itu makan bersama laki - laki lain, sementara dia sudah menjadi istri orang." Endra berucap.


"Istri orang, 'kan ? Bukan istri istrimu, tidak masalah menurut ku. Jangan katakan kalau kamu sudah jatuh cinta pada Pingka." Sandi menyelidik


"Tidak akan ! Aku memiliki Melisa yang jauh lebih baik darinya." Endra menjawab cepat.


"Baguslah, setidaknya Pingka bisa menjalani kehidupan normal. Bisa memiliki kekasih walau status sebagai istrimu, diantara kalian juga tidak ada cinta." Sandi melanjutkan makannya.


Wajah Endra menjadi gusar ada perasaan dongkol saat Sandi mengatakan itu. Setelah makan mereka kembali ke kantor, bersamaan itu pula. Pingka dan Dimas juga baru sampai. Endra menatap tajam pada mereka, Pingka mengangguk tanpa bersuara lalu masuk ke dalam kantor dan menuju ke ruangannya.


"Jangan mengganggu karyawan ku bekerja." Ujar Endra berdiri didepan Dimas.


"Aku tidak mengganggunya, kami pergi saat jam makan siang. Apa itu salah?" Dimas memasang wajah menantang.


"Tentu salah, dia wanita yang sudah bersuami." Endra keceplosan.


Dimas tersenyum mengejek.


"Kamu yakin?"


"Yakin." Endra senyum bangga. Seolah kebenaran yang diungkapkan bisa membatalkan niat sahabatnya itu untuk mendekati istrinya.


"Kamu salah ! Dia baru saja mengakui tidak memiliki kekasih atau suami." Dimas melipat tangannya lalu bersandar di mobil miliknya.


Wajah Endra berubah drastis lalu mengepalkan tangannya erat, sangat terlihat jika dia sedang emosi. Sandi dan Dimas bisa melihat itu.


"Cukup ! Apa kalian akan bertengkar hanya karena wanita udik itu ?!" Sandi bersuara dan menekan kata - katanya.


"Aku tak perduli dia berasal dari mana, di mataku dia wanita nyaris sempurna. Dan dia akan sempurna jika sudah menjadi istriku dan melahirkan anak - anak kami, kamu bayangkan Sandi bagaimana wajah putra - putri kami terlahir dari rahim wanita secantik Pingka." Ujar Dimas. Entah kenapa setelah mengucapkan itu rasa kecewanya terbayarkan.


Sandi mengangguk lalu menepuk pundak Endra membawanya masuk, sementara Dimas segera meninggalkan kantor Endra.


...----------------...


Endra melampiaskan amarahnya dengan menghamburkan barang - barang di atas meja .


"Sandi ke ruanganku." Endra menekan tombol interkom di mejanya .


Sandi bergegas masuk dilihatnya dalam ruangan itu seperti kapal pecah . "Bapak kenapa, kesurupan ?" Ujarnya berusaha mencairkan suasana.


"Jadikan Pingka sekretaris ku kembali." Titah Endra masih dengan wajah merah emosi.


"Baiklah akan saya atur." Sandi menjawab sambil memungut barang - barang berserakan.

__ADS_1


Cemburu bilang bos !


Setelah beres semua, Endra tidak bekerja melainkan menyandarkan tubuhnya di sofa lalu mengubungi kekasihnya mencoba mencari ketenangan melalui suara Melisa. Tapi tak sesuai harapan, perkataan Dimas masih terngiang di telinganya. Endra mematikan telpon secara sepihak. Ponsel mahal itu pecah terbentur tembok.


__ADS_2