
Di pernikahan kedua kalinya dengan orang yang sama, tapi awal yang baru buat dua insan di kamar hotel itu. Mereka menyatukan kembali tali kasih dan ikatan suci yang sempat terputus.
Meski jarak yang jauh dan waktu yang cukup lama, jika Tuhan sudah menautkan dua hati menjadi satu hati. Maka sebesar apa pun upaya untuk melupakan dan menghindarinya, jika berjodoh maka suatu saat nanti pasti akan dipertemukan kembali. Entah di mana dan dengan cara seperti apa ?
Endra begitu bersyukur karena Tuhan memberikannya pelengkap tulang rusuk seperti Pingka, tak hanya cantik fisik tapi juga berhati baik. Mungkin dulu ia menilai wanita dari tampilan dan lingkungan pergaulannya, sehingga ia merasa malu jika Pingka menjadi istrinya yang jauh berbeda dari gaya hidup Endra, tapi pandangan itu berubah pada saat ia kehilangan wanita sebaik Pingka.
Setelah setahun berpisah ia melihat sendiri jika wanita itu tumbuh dewasa dan berbeda. Hal itu membuatnya sangat risih bagaimana tidak, lekuk tubuh yang nyaris sempurna itu sengaja Pingka pamerkan pada orang lain.
Hal semacam ini sangat membuat Endra tak terima jika tubuh wanita yang telah resmi jadi istrinya tersebut dilihat banyak orang. Endra masih menatap dalam diam wajah istrinya yang masih pulas tertidur diperlukannya tanpa ia tahu jika wanita itu sudah bangun sejak tadi.
"Puas menatapku seperti itu ?" Pingka membuka matanya perlahan.
Endra terkejut menjadi salah tingkah.
"Sayang kamu sudah bangun?" Ujarnya mencium kening Pingka.
"Hm, aku mau ke kamar mandi." Pingka duduk dan menggeser tubuhnya di tepi kasur sambil menarik selimut untuk membungkus tubuhnya.
Pingka melangkah ke kamar mandi walau pun perih ia tak meminta bantuan pada Endra. Sementara pria yang masih berbaring di kasur itu segera mengibarkan seprai yang dipenuhi kelopak bunga. Bibirnya tersenyum melihat bercak yang tertinggal.
Endra melepaskan seprai itu lalu melipatnya dengan rapi dan menelpon petugas hotel agar mengganti dengan yang baru.
Pingka keluar dari kamar mandi menggunakan handuk Kimono sambil mengeringkan rambutnya. "Seprainya kemana?" Tanyanya melihat kasur polos tanpa seprai.
"Itu disimpan saja buat kita." Endra menunjuk dengan matanya lalu duduk di tepi kasur dan menarik tubuh Pingka duduk di pangkuannya.
"Buat apa disimpan?" Pingka merapikan anak rambut suaminya.
__ADS_1
"Karena di sana ada darahmu sayang, jangan sampai orang lain melihatnya hanya aku yang boleh." Endra mencium pipi kanan Pingka.
"Terserah padamu, ayo mandi sana kita belum sarapan." Ucap Pingka berdiri.
"Sayang, apa kamu bisa berjalan normal ? Kenapa tidak memintaku mengantarmu ke kamar mandi ?" Endra masih melingkarkan tangannya di pinggang Pingka.
"Bisa, aku tak selemah itu. Ayo sana mandi ! Aku sudah lapar"
Endra mengangguk lalu pergi ke kamar mandi, hampir Sepuluh menit. Ia masih betah di dalam sana sambil menggosok tubuhnya, Endra tersenyum sendiri mengingat kegilaannya saat menghabiskan malam pertama bersama istrinya.
"Gugu !" Teriak Pingka di depan kaca hias.
Endra yang larut dalam fantasinya terkejut mendengar teriakan sang istri dengan wajah panik langsung keluar.
"Ada apa sayang ? Apa kamu terluka?" Meraba tiap bagian tubuh istrinya.
Tawa Endra pecah, rupanya istrinya berteriak histeris karena melihat tanda merah hampir penuh di lehernya.
"Itu karya indah ku, sayang." Endra tersenyum manis.
Pingka mencebik kesal, bagaimana ia nanti keluar jika kulitnya penuh stempel kepemilikan itu. Matanya melihat pantulan tubuh Endra di kaca cermin.
"Gugu ! Kenapa kamu keluar dengan seperti ini." Pingka kembali berteriak tapi tak nyaring seperti tadi.
Endra melihat tubuhnya sendiri yang masih dipenuhi sabun dan shampoo, parahnya tak ada sehelai benang pun menempel di tubuhnya. Wajah Pingka bersemu merah malu sendiri. Tapi tidak dengan Endra, ia sangat santai dan tersenyum menatap wajah istrinya yang malu.
"Jibi, aku tadi panik karena sedang berfantasi jadi tidak sempat membilas tubuhku dan memakai handuk, kamu pesan sarapan aku mandi dulu." Endra melenggang pergi masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Pingka mengusap dadanya yang gugup dan berdebar.
Fantasi? Jadi dia berfantasi didalam sana pantas saja tongkat pusaka nya berdiri kokoh seperti itu
Pingka menggelengkan kepala dan menghembus nafasnya agar bayangan bugil suaminya hilang dari kepalanya.
...----------------...
Mereka berdua sarapan di kamar sebelum pulang ke rumah Endra, sambil menyusun rencana ke depannya. Pria itu tak ingin jika Pingka ikut dengannya dalam keterpaksaan karena merasa tanggung jawab sebagai istri.
Endra mencari solusi agar Pingka meninggalkan kota itu dengan tenang tanpa terpikir masalah apa pun. Ia juga bisa membawa istrinya tanpa rasa bersalah karena memisahkannya dengan pekerjaan dan keluarganya.
Setelah berkemas mereka pulang ke kediaman Endra, di rumah itu sudah terlihat sepi hanya ada beberapa asisten rumah tangga. Di atas balkon kamarnya Endra memeluk istrinya dari belakang sambil bercerita menatap jauh bangunan yang terlihat rendah di sana.
"Jibi setelah kita menikah aku sangat takut jika terjadi sesuatu padamu. Mungkin, orang-orang sudah mengenalmu sebagai istriku dari pemberitaan. Boleh aku menempatkan pengawal bersamamu?" Endra menangkup wajah Pingka dengan telapak tangannya.
"Apa itu harus?" Pingka menatap manik mata Endra.
"Iya, itu perlu walau pun Dimas mengatakan jika kamu punya kemampuan bela diri, tapi aku belum pernah melihatnya dan bagiku kamu tetap seorang wanita yang harus aku lindungi."
"Baiklah, terserah padamu jika itu membuatmu tenang" Balas Pingka lembut.
Endra mengangguk, sebenarnya pengawalan Pingka sudah diberikan Endra sejak mereka bertemu lagi dan diperketat saat Rania dibebaskan. Ia hanya tak ingin Pingka mengetahui dari orang lain masalah pengawal yang selalu mengikutinya.
Sebelum mengenalkan Pingka ke publik. Endra berpikir berulang kali jika suatu hari nanti 'orang itu' akan kembali mengusik kehidupan keluarganya, terlebih ada istri disisinya. Endra harus memiliki kewaspadaan tingkat tinggi.
Ia berpikir bisa saja 'orang itu' nanti bukan datang padanya tapi pada Pingka yang tidak tahu apa-apa. Tapi ia harus bisa siap menghadapinya karena memperkenalkan istrinya ke publik adalah keputusan yang besar diambilnya.
__ADS_1
Endra berjanji ia akan menuntas orang itu tanpa sisa jika berani menyentuh anggota keluarganya seperti tiga tahun lalu.