Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Penjelasan


__ADS_3

Pingka baru saja akan memasak sarapannya sendiri. Terdengar ketukkan di pintu unitnya. Siapa yang bertamu sepagi ini begitu pikirnya. Masih mengenakan apron, Ia bergegas membuka pintu.


"Kamu !" Pingka langsung menutup pintu. Tapi ia kalah cepat pria itu sudah melesat masuk dan memeluk tubuhnya dengan erat . "LEPASKAN !" Dorong Pingka.


"Diam, biarkan seperti ini dulu. Aku merindukanmu." Endra memejamkan matanya menyalurkan segala kerinduannya pada Pingka .


"Jaga batasan anda ! Apa anda ingin istri anda menyerang saya disini ?!" Pingka berusaha melepaskan pelukan Endra.


Endra mengecup kening Pingka dengan cepat lalu melepaskan pelukannya. Rindu itu belum selesai. Demi memadamkan api amarah dan rasa benci gadis pedalaman itu. Endra terpaksa melepaskan lingkaran tangannya.


"KAMU." Teriak Pingka marah. "Tidak hanya pemaksaan tapi juga menyebalkan." Ia ingin meraih tissue basah untuk menghapus bekas ciuman Endra di keningnya, tapi tempat tissue itu dengan cepat ditarik oleh laki-laki itu.


"Jangan coba - coba menghapusnya ! Atau... Akan kulakukan lebih banyak dari itu!" Wajah Endra berubah serius dengan sorot mata yang tajam.


Pingka mengalah walau hatinya sangat dongkol, ia tak mengerti kenapa Endra jadi seperti ini. Apakah pria ini sengaja menempatkannya dalam sebuah masalah ? Atau memang Endra masih menyimpan sebuah rasa untuknya, malas memikirkannya Pingka melanjutkan memasak sarapannya.


Endra sudah menggunakan pakaian kantor sengaja langsung mendatangi Apartemen Pingka, sangat mudah untuk Endra mendapatkan alamatnya.


Pingka memasang wajah kesalnya melihat pria itu santai duduk di sofa dengan gaya kepemimpinannya yang tampak sangat elegan.


"Kamu tidak memberiku minum atau sarapan misalnya ?" Endra meraih remote televisi dan menyalakannya.


"Siapa kamu ?! Minta semua itu disini !" Ketus Pingka sambil mengaduk nasi goreng yang sempat ia tinggalkan.


"Suamimu ! Siapa lagi" Endra menggantikan channel televisi


"Hei, Tuan ! Mengigau juga ada batasannya." Seru Pingka dengan posisi masih membelakangi Endra.


"Aku lapar sayang, selama setahun aku tidak makan dengan benar." Lirih Endra menatap punggung Pingka .


Kalau kamu tidak makan dengan benar, bagaimana bisa kamu bernafas sampai sekarang?


"Apa urusannya denganku ?! Kamu bukan suamiku ! Pulang sana ! Istrimu pasti sudah membuatkan mu sarapan ! Kenapa kamu kelayapan kesini ?!" Pingka bicara sambil memindahkan nasi kedalam piring  besar.


"Tidak mau  ! Aku mau disini"


Pingka semakin kesal pria ini seperti tak punya malu pikirnya. "Jangan membuat masalah untukku, nanti suami dan putraku kembali. Lebih baik kamu pulang saja." Ucapnya sambil berusaha sabar, gaya bahasa Pingka juga berubah.

__ADS_1


"Tidak perlu membohongiku ! Aku sudah tahu semuanya. Kamu belum menikah." Endra meraih piring nasi goreng.


Pingka  terkejut. "Baiklah karena kamu sudah tahu. Jadi, sebagai pria beristri kamu pasti tahu batasanmu." Ia menarik piring nasi gorengnya dari hadapan pria menyebalkan itu.


Endra hanya diam mengambil piring nasi goreng itu lagi. Pingka mengalah lalu membiarkan Endra menghabiskan nasi gorengnya.


"Kamu tidak makan?" Endra menghentikan kunyahan nya.


"Makanlah mumpung aku baik hati pagi ini."


Endra mengangguk lalu menikmati nasi goreng di hadapannya, ia akan membayar kerinduannya pada masakan Pingka. Endra juga akan balas dendam pada makanannya karena selama setahun tidak makan dengan benar seperti yang baru dikatakannya tadi.


"Akan kuceritakan."


...----------------...


Kilas Balik ...


Dua bulan sudah Endra dan Pingka berpisah tanpa ada kabar berita dari Pingka. Endra terus mencoba menghubungi Pingka tapi tak bisa.


"Apa kamu yakin bayi yang ada dalam kandungan Melisa itu anakmu?" Dimas bertanya dengan nada yang dingin. Kecewa itu pasti dirasakan Dimas, Sandi dan Reno.


"Kamu hanya perlu jujur, En ! Terhitung sejak pengakuannya sekarang kehamilannya memasuki usia ke enam bulan. Seiring dengan masa pernikahanmu dan Pingka." Suara dokter Reno mulai kesal.


Endra hanya diam tak bisa menjawab. Pikirannya tertuju pada Pingka yang sampai saat ini tanpa kabar. Sementara proses perpisahan mereka yang diajukan Pingka sudah berjalan.


"Aku sepemikiran dengan Pingka. Bertanggung jawablah pada Melisa walau kamu tak mencintainya, cukup cintai bayi yang ada di kandungannya." Seru Sandi.


Endra semakin hancur rasanya mendengar kata-kata Sandi. " Aku sudah menyakiti istriku" Lirihnya tertunduk menatap ujung sepatunya.


"Itu sudah menjadi resikonya, kamu harus melepaskan Pingka." Balas Sandi.


Empat pria ini diam dengan pemikiran mereka masing - masing .


...----------------...


Hari pernikahan Endra dan Melisa sudah tiba. Berbeda dari hari biasanya, Endra lebih bersemangat dari sebelumnya, apakah Endra sudah mengakui bayi itu anaknya ? Atau ia mulai menerima Melisa. Hanya Endra yang tahu

__ADS_1


Pernikahan sederhana seperti yang diinginkan Endra dan disetujui Melisa, akhirnya mereka berada di hadapan semua orang. Endra mulai mengucapkan sumpah pernikahan.


"Pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan !"


Sebelum kalimat Endra habis dan baru permulaan, tiba- tiba dari arah luar ada beberapa orang yang menggandeng pria bertubuh tinggi .


"Ro-robby " Lirih Melisa terbata.


Wajah cantik merona penuh semangat tadi berubah menjadi pucat dan gemetar. Suasana tegang segera menguasai orang-orang di sana.


"Siapa kamu?" Tanya Endra datar.


"Aku suaminya, dia pergi tanpa ijinku. Kami menikah tiga bulan lalu." Jawab laki-laki itu bernama Robby.


"Lalu, bayi siapa yang ada di kandungannya?"


"Bayi Kami " Jawab Robby


Endra menghembuskan nafas lega, beban yang ditanggungnya seketika itu juga terlepas.


Aku benar ! Aku tidak pernah menyentuhnya atau wanita lainnya.


"Ada yang perlu aku jelaskan disini padamu, hubunganku dengan Melisa berjalan sudah satu tahun lamanya " Sambung  Robby.


"Itu artinya Melisa menduakan ku sejak awal hubungan kami?"


"Iya, aku juga baru tahu saat kamu datang ke Jepang, sekarang ia akan meninggalkanku karena perusahaanku gulung tikar, saat itu Melisa sudah hamil tiga bulan." Jawab Robby.


Melan melangkah dan mengangkat tangannya ke udara. "Ini tamparan karena kamu sudah menduakan kakakku yang tulus padamu !" Adik Endra ini melayangkan tamparan kedua. "Ini untuk bayi tidak bersalah yang sudah kamu peralat ! Dan ini karena kamu Kak Pingka pergi dengan luka di hatinya !" Ucap Melan dengan penuh amarah. Sekali lagi ia akan melayangkan tangannya, tapi Sandi sudah terlebih dulu memeluk dan menenangkannya. "LEPASKAN KAK SANDI ! WANITA INI HARUS DAPAT GANJARANNYA ! " Teriak Melan dengan nafas masih memburu.


"Jangan mengotori tangan berharga mu hanya untuk menyentuh kulitnya." Balas Sandi dengan posisi masih memeluk Melan.


Sudut bibir Melisa berdarah kulit wajahnya merah dan basah bercampur air mata. Reputasinya benar - benar hancur sebagai model terkenal. Ia harus berhenti menjadi model karena banyaknya masalah yang ia lakukan.


Semua orang sudah tenang Melisa dan juga Robby sudah di antar ke bandara dipulangkan kembali ke Jepang.


"Nak, kamu pergilah susul Pingka ke desanya, jelaskan semuanya. Bawa Melan ikut bersamamu. Biar ibu yang akan mengurus disini."

__ADS_1


"Baiklah, Bu."


__ADS_2