
Masa itu...
Laki - laki tampan berwajah manis ini bisa dikatakan dia pria berwajah wanita. Dia bertengkar hebat pada sang Ayah. Keras kepala yang mereka miliki sama levelnya. Dia adalah Sandi. Sang Ayah yang memaksakan perjodohannya dengan putri partner bisnisnya yang bisa dianggap pernikahan bisnis.
Sandi menolak dengan keras perjodohan itu. Hingga, berulang kali mendapatkan tamparan keras di wajahnya dari sang Ayah. Tapi Demi Ibunya yang berlutut kesekian kalinya dihadapan sang Ayah yang keras hati, Sandi mengalah menerima perjodohan itu.
Pertemuan dua keluarga itu di rumah milik Pak Gianto partner bisnis Ayah Sandi. Pertama kalinya kedua anak manusia ini dipertemukan.
"Kamu menerima perjodohan ini ?" Sandi bertanya dengan nada datarnya.
"Ya, demi Ayahku walau kita tidak saling mengenal. Aku yakin kamu orang baik." Ucap Winda nama gadis itu.
"Kamu yakin?" Sandi bertanya kembali.
Winda mengangguk lalu tersenyum. "Aku yakin."
"Jangan mimpi ! Aku tidak sebaik yang kamu pikirkan, bayangkan saja hidup bersama orang bukan pilihan hati sendiri. Akan jadi apa nanti rumah tangga ini ?!" Sandi memutuskan harapan. Senyum wanita yang lembut itu langsung sirna saat Sandi mengucapkan kalimat penolakan secara halus dan bernada sedikit tinggi.
Paksaan demi paksaan datang pada mereka berdua akhirnya pernikahan itu terjadi. Berbulan - bulan lamanya. Sandi tidak memperdulikan wanita yang berstatus istrinya itu, jangankan tidur bersama untuk bertemu saja. Sandi selalu menghindar.
Sakit hati itu pasti dirasakan Winda, peran sebagai istri dijalaninya dengan baik. Apapun keperluan Sandi semua disiapkan dengan benar. Walau pun tak pernah disentuh oleh suaminya.
Harapan Winda tak pernah pudar, gunung kesabaran begitu tinggi menghadapi suami yang tak menginginkannya. Telinganya seakan kebal mendengarkan kata kasar dari Sandi.
__ADS_1
Pertahanan itu runtuh saat Dokter memvonisnya kanker hati. Saat itu lah dirinya membatasi segalanya, perubahannya pun juga dapat dirasakan Sandi .
Sampai pada akhirnya, Sandi membawa wanita pujaan hatinya pulang ke rumah. Di situlah akhir pertemuan Sandi pada istri yang bisa mencintai dan menerimanya.
Winda menangis pilu di dalam kamarnya yang sepi, mendengar candaan manis dari kamar sebelahnya. Ia mengemasi barang seperlunya dan akan pulang ke rumah orang tuanya. Tanpa pamit Winda meninggalkan rumah yang beberapa bulan ini ia tempati. Namun, saat di perjalanan tubuhnya mulai melemah kanker yang dideritanya sudah memasuki stadium akhir. Dalam kesakitannya Winda meminta sopir mengantarkan dirinya ke rumah sakit dan memberitahukan orang tuanya.
...----------------...
Pagi itu Sandi merasakan ada yang berbeda, sosok wanita cantik yang sering menyapu dan memasak di rumahnya hari ini tidak terlihat. Dalam hatinya bertanya ke mana Winda ?
Tergerak hatinya untuk mengetuk pintu kamar istrinya. Namun, tidak ada sahutan lembut dari dalam sana. Perlahan Sandi membuka pintu kamar Winda. Tidak ada orang di sana, seprai pun masih rapi dan pintu lemari yang sedikit terbuka. Sandi bergegas membuka lemari. Tapi hanya mendapati sedikit baju bahkan koper pun sudah tidak ada di sana.
Sandi kesana - kemari berlari memanggil Winda. Namun, tetap tidak ada jawaban dari yang punya nama. Sandi yakin Winda pulang ke rumah orang tuanya. Entah kenapa dia merasa sudut hatinya kosong setelah kepergian Winda.
...----------------...
Sandi merasa rindu, dia masuk ke dalam kamar yang ditempati Winda. Wangi parfum khas milik istrinya itu masih melekat di kamarnya. Tangan Sandi tergerak menyentuh bantal, selimut dan seprai. Rasa rindu Sandi semakin menekan dalam dirinya. Dia membuka laci meja rias, di sana ada buku diary milik Winda. Sandi menatapnya penasaran, tangannya meraih buku itu lalu membuka lembarannya. Ia membaca tiap lembaran kertas itu. Terasa air matanya sudah membanjiri wajahnya. Sumur penyesalan Sandi semakin dalam saat kalimat terakhir tertulis di dalam diary itu.
'Jika tidak bisa mencintai dan menerima. Cukup terimalah aku jadi temanmu karena itu lebih baik untukku dari pada dibenci'
Sandi melorot ke lantai, menangis sejadi - jadinya. Hampir satu jam meratapi kebodohan dan penyesalannya. Sandi bergegas membersihkan dirinya.
Ya, Sandi meyakini hatinya kalau dia sudah jatuh cinta pada wanita itu. Dengan kecepatan penuh Sandi membawa mobil hingga dalam waktu tak lama. Dia tiba di kediaman Pak Gianto, Ayah mertuanya.
__ADS_1
Netra Sandi membulat sempurna
melihat bendera kuning berkibar cantik di atas pagar rumah itu. Kembali hatinya risau, tubuh Sandi gemetar dan terselip ketakutan yang luar biasa. Saat lantunan doa - doa dibacakan di ruang tengah rumah itu.
Dengan sedikit keberanian, Sandi memasuki rumah mewah di depannya. Tubuh Sandi langsung lumpuh ke lantai saat menyaksikan wanita yang masih jadi istrinya itu terbaring kaku ditengah orang banyak. Wajahnya pucat pasi dan kelopak mata yang tertutup rapat tidak ada lagi gelombang nafas di dadanya.
Sandi meraung dalam tangis kesedihannya. "Bangun Winda ... Bangun sayang ... Aku minta maaf ... Aku salah ... Aku mencintaimu .... Bangun... Kamu boleh menghukumku dengan cara yang lain. Tapi tidak dengan ini." Ia mengerakkan tubuh Winda yang sudah kaku itu.
"Terlambat ! Jika kamu tidak menyayanginya. Cukup kamu beritahu aku. Dan aku akan datang menjemputnya untuk pulang bersamaku." Ucap Pak Gianto kembali terisak
Sandi bersujud dibawah kaki mertuanya meminta maaf. Tapi sayang walau kata maaf terlahir tidak dapat mengembalikan keadaan.
"Bawa dia ! Jadilah pria yang baik setelah ini, hargailah orang lain walau sekali pun kamu membencinya." Pesan Pak Gianto pada Sandi lalu memberi perintahkan pada keamanannya.
Sandi meronta memohon untuk tetap tinggal di sana. Tapi si Tuan rumah sudah bersikap tuli, buta dan bisu. Orang tua Sandi hanya mampu meminta maaf dan ikut menyesali keputusannya menikahkan paksa putranya. Sandi menyaksikan dari jarak jauh pemakaman Winda, air mata penyesalan itu masih membasahi pipinya.
Ini kali pertamanya Sandi merasakan kehilangan luar biasa dalam hidupnya, setiap hari dia terpuruk di dalam rumahnya sendiri meringkuk di atas kasur yang ditempati istrinya kala itu. Bayangan Winda menyapu, memasak dan duduk di depan televisi menyambutnya pulang bekerja menari - nari di pelupuk matanya. Wajah Sandi yang sedih perlahan dilatih ceria agar bisa menyenangkan istrinya yang tiada.
...----------------...
Masa kini...
Sandi berdiri didepan gundukan tanah yang sudah dua tahun lamanya ini. Ia duduk lalu menyusun bunga - bunga segar kesukaan istrinya. "Hai sayang, aku datang hari ini. Kamu tetap menjadi istri kesayanganku. Tenang di sana... Tunggu aku di lorong waktu yang sama denganmu." Ucapnya mencium batu nisan itu dengan lembut .
__ADS_1
Hubungan yang semula tidak baik pada keluarga Winda kini kembali seperti semua, Sandi juga sudah mengetahui tetang penyakit istrinya. Maka dari itu tersimpan kesedihan tersendiri di hati Sandi saat melihat sikap kasar Endra pada Pingka.