Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Dokter Vs Asisten


__ADS_3

Tiga hari kemudian...


Endra, Pingka dan Dokter Reno beserta Fajar sangat menikmati cutinya saat ini, hanya Dimas dan Salsa yang pulang terlebih dulu.


Pingka mengajak suaminya dan Dokter Reno melihat beberapa objek wisata yang dibangun Dimas dua tahun lalu, letaknya tak terlalu jauh dari desa dan hanya menghabiskan waktu tiga puluh menit. Dokter Reno berdecak kagum atas keindahan yang dilihatnya.


"Aku terlambat." Endra duduk disalah satu kursi.


"Terlambat?" Dokter Reno mengulangi kalimat Endra.


"Ya, seharusnya akulah yang membangun disini."


"Kamu dan Dimas apa bedanya? Bukankah perusahaan Dimas dibawah naungan perusahaan mu?" Balas Dokter Reno.


"Kamu benar, tapi aku bisa membuat tempat wisata disini untuk istriku. Dengan adanya tempat itu maka orang-orang akan tahu itu bukti cintaku pada Pingka yang bisa dinikmati banyak orang." Jelas Endra.


Dokter Reno mengangguk lalu ide konyol terlintas dibenaknya. "Kenapa kamu tidak membuat monumen saja di kota S tempat pertemuan kedua dengan istrimu." Ia tersenyum lebar atas idenya.


"Kamu benar, kenapa aku tidak terpikir. Dam ! Kamu persiapkan pembuatan monumen untukku di kota S." Titah Endra segera.


"Hei aku hanya bercanda, kamu bukan pahlawan yang harus diingat jasanya atau kamu juga buka pasangan romantis sedunia yang harus dibuat monumen agar semua orang mengingat kisah cintamu." Seru Dokter Reno kesal.


"Katakan jika kamu iri." Balas Endra santai.


"Kalian diamlah ! Aku sampai tidak mendengar musik ini karena suara kalian." Seru Pingka.


Kedua pria itu terdiam lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Sementara Arin sedang fokus berbicara pada Dami. Dokter Reno menjadi kesal sendiri tidak mungkinkan ? Asisten Endra mengibarkan bendera persaingan padanya.

__ADS_1


Lama-lama Dami jadi ancaman untuk Dokter Reno, jika diantara mereka lebih dekat dan Arin merasa nyaman pada Dami. Maka bisa saja Dokter cantik itu putar haluan.


Setelah diamati dengan benar ternyata Dami juga tampan hanya saja tidak terlihat karena dirinya sering sibuk. Bahkan Adi asisten Dimas saja masih jauh di bawah Dami.


"Arin."


Wanita itu mengalihkan. pandangannya. "Iya Dokter Reno." Arin menjawab sambil tersenyum.


"Apa yang menarik dari pria pendek itu?" Dokter Reno bertanya dengan sorot mata kearah Dami.


Dami tersenyum tipis.


Apa kamu cemburu, Dokter ?


"Menyenangkan, ramah dan juga baik dia sangat manis." Jawab Arin jujur.


"Lalu apa yang menarik dari diriku?" Tanya dokter Reno lagi.


"Kamu baik, menarik, humoris dan menyenangkan tidak membosankan dan tentu sangat tampan." Jawab Arin keceplosan. Lalu ia refleks menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya.


Wajahnya sudah merona merah, Dokter Reno tersenyum manis pada  Dami. Kau lihat aku dua kali lebih baik darimu begitu arti senyuman Dokter Reno.


Endra dan Pingka tertawa atas pertanyaan jebakan dari Dokter Reno, karena secara tidak langsung Arin menyampaikan kekaguman dan ketertarikannya.


Lampu hijau tapi aku tidak mau menjadikanmu kekasihku


Dokter Reno menatap lekat wajah Arin yang merah merona tak jauh darinya.

__ADS_1


Siapa yang tahu isi hati Dokter Reno? Kenapa ia tidak mau menjadikan Arin sebagai kekasih ? Padahal, ia sendiri mulai menyukai wanita itu. Bahkan ia bisa melihat jika Arin memiliki rasa padanya.


Tunggu jawaban di part berikutnya.


...----------------...


Merasa cukup lama di sana, Pingka dan yang lainnya berencana untuk pulang.


"Hati-hati sayang perhatikan langkahmu." Endra membantu Pingka turun dari atas tangga. Seolah tersadar dari perkataannya Endra terkekeh. "Aku lupa jika ujung kakimu tertutup perutmu." Sambungnya lalu menggandeng tangan istrinya. Mereka melangkah santai menuju mobil yang sedikit jauh terparkir.


"Pingka" Suara berat seseorang menghentikan langkah Wanita itu dan yang lainnya. "Kamu disini?" Suara itu membuat mereka menoleh kebelakang.


"Hendri."


Mata Hendri menatap lekat pada wajah yang ia rindukan itu lalu matanya terfokus pada perut buncit Pingka.


"Ka-kamu hamil." Suara Hendri terbata dan bergetar. Ada kesakitan dalam kalimatnya. Hatinya kembali sakit melihat wanita yang pernah mengisi hidupnya itu telah mengandung bayi pria di sisinya.


"Seperti yang kamu lihat, istriku sedang hamil. Jadi, kami harus kembali dia perlu istirahat." Sahut Endra.


Hendri hanya diam ada luka dimatanya, satu tahun tidak pernah bertemu pada Pingka sudah banyak yang berubah. Tapi hari ini mereka dipertemukan Tuhan kembali, masih seperti dulu rasa yang dimilikinya sangat dalam.


Hanya ada dua tujuan Tuhan mempertemukan mereka, memperlihatkan kenyataan jika Pingka telah bahagia dan ia berhenti berharap. Atau memicunya untuk mendapatkan Pingka kembali. Hanya Hendri yang tahu arti dari tatapannya pada punggung wanita yang telah menjauh dari hadapannya ini


Seperti yang telah dilihatnya Pingka sangat dingin, ia pun bisa menebak jika sikap Pingka terjadi setelah pembebasan Rania waktu itu. Saat ia mencoba mempertanyakan keputusan Pingka yang dirasa nya tak cukup adil.


"Sekuat apa pun aku mencoba membuang perasaanku tetap aku tidak bisa Pingka, aku adalah pria terbodoh melepaskan mu atas dasar kesalahan yang tidak pernah kamu lakukan." Lirih Hendri.

__ADS_1


__ADS_2