
Dua minggu pergi bulan madu, Endra dan Pingka kembali ke tanah air. Ibu Erly menyambut kedatangan mereka dengan pelukan hangatnya.
"Bagaimana kabar kalian?" Ibu Erly mengajak Pingka duduk di sofa.
"Baik, Bu. Semua sesuai jadwal."
"Maaf penyerangan di sana luar dari pantauan Ibu. Apa Melisa menyakiti mu?" Ibu Erly merasa bersalah.
"Semua sudah selesai, Bu. Aku tidak terluka sedikit pun." Balas Pingka lembut.
Endra ikut bergabung setelah membantu Dami mengeluarkan barang dari mobil. "Istriku ini wanita tangguh, Bu ! Aku pun takjub dibuatnya." Ucapnya memuji dengan tangan yang tak bisa dikondisikan.
"Jadi, itu yang membuatmu sampai lengah dan terluka?" Pingka menghentikan tangan Endra memainkan rambutnya.
"Kakak terluka?" Melan Menatap cemas pada Endra.
"Hanya tergores sedikit saja dan itu tidak akan terjadi lagi." Endra menyakinkan semua orang.
"Baiklah sekarang kalian istirahat dulu, setelah Sandi pulang dari kantor kita makan malam bersama." Titah Ibu Erly.
Endra dan Pingka beranjak pergi dari ruang tamu menuju kamar mereka. Selesai membersihkan diri, Pingka menyiapkan oleh-oleh untuk keluarganya agar besok bisa di paketkan ke kota S. Ia juga sudah mempersiapkan oleh - oleh untuk keluarga Endra.
"Sayang."
Endra duduk di tepi kasur sambil mengeringkan rambutnya. Pingka berdiri lalu mengambil alih handuk kecil itu, dengan perlahan mulai mengeringkan rambut Endra.
"Ada apa?" Pingka menangkap raut kebingungan di wajah suaminya.
"Apa kamu senang tinggal di sini?" Endra menarik tubuhnya bersandar di bantal yang tersusun.
"Senang, katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan ? Aku akan mendengarkannya." Pingka menatap serius wajah suaminya.
"Apa kamu mau kita tinggal di rumah kita sendiri?" Endra bertanya perlahan.
"Aku mau, apa yang terbaik menurutmu dan sepemikiran denganku, pasti aku menyetujuinya." Pingka tersenyum lembut.
__ADS_1
"Tapi, aku khawatir kamu kesepian." ucap Endra khawatir.
"Tidak perlu cemas aku bisa mengatasi rasa kesepian ku."
"Baiklah, besok pagi kita pindah sebelum aku berangkat ke kantor. Barang-barang kita akan dibawa Dami malam ini." Endra menarik Pingka ke dalam pelukannya.
...----------------...
Sandi sudah pulang bekerja. Mereka semua berkumpul di meja makan untuk makan malam. Syila yang selalu merecoki Endra membuat semua orang gemas pada bayi itu.
Ibu Erly merasakan bahagia disaat anak dan menantunya berkumpul meramaikan rumahnya. Selama ini Sandi dan Melan memilih tinggal bersama Ibu Erly karena tidak tega membiarkan sang Ibu sendiri dan kesepian.
Suamiku, apa di sana kamu melihat binar bahagia di wajah kedua anak kita ? Semua ini karena Tuhan mengirimkan menantu seperti Sandi dan Pingka
Ibu Erly mengulum senyum.
Sandi masuk keluarga Saguna saat Endra terpuruk dalam kehancuran ditinggal Pingka kala itu. Melan yang terlarut dalam kesedihan melihat kehidupan sang Kakak berantakan menjadikan Sandi tempat sandaran ternyaman nya. Sering menghabiskan waktu bersama tanpa sadar menumbuhkan benih cinta di hati keduanya.Tidak ingin memiliki hubungan yang disebut sepasang kekasih. Mereka memutuskan untuk menikah menjadi sepasang suami istri.
"Ibu." Endra buka suara.
"Besok pagi aku dan Pingka akan pindah. Apa Ibu keberatan?" Endra menatap lembut wajah wanita istimewa itu.
Ibu Erly tersenyum. "Ibu tidak keberatan dan sangat setuju dengan rencana mu. Jadi, Ibu punya waktu untuk tinggal di dua tempat. Ibu bisa menginap di rumahmu dan bisa pulang ke rumah ini. Bukankah ? Itu hal menyenangkan."
Endra bernafas lega begitu juga dengan Pingka. Mereka larut dalam obrolan seputar pekerjaan hingga tak menyadari jika waktu sudah menunjukan jam 10 malam.
Endra mengajak Pingka kembali ke kamar begitu juga dengan yang lainnya .
...----------------...
Mentari pmenyapa dengan bahagia pagi ini, tidak ada awan hitam atau angin kencang yang menandakan hujan akan turun. Sama seperti isi hati wanita berstatus istri yang meringkuk dalam pelukan si macan jantan. Wajahnya sumringah menatap rahang tegas masih pulas tertidur dengan nafas beraturan lembut.
Dengan perlahan Pingka memindahkan lengan kekar yang memeluknya posesif. Setelah berhasil ia membersihkan diri dan akan turun membantu Bi Lia menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi, Bi ! Ada yang bisa aku bantu?" Sapa Pingka ramah.
__ADS_1
"Selamat pagi. Tidak perlu, Nak ! Ini sudah tugas Bibi."
"Jangan sungkan, Ayo ! Kita kerjakan sama-sama." Pingka mengambil cangkir membuat kopi untuk suaminya.
Selesai membuatkan minuman hangat. Pingka melanjutkan menyiapkan bahan untuk membuat sarapan
"Selamat pagi Kakak ipar." Sapa Melan bergabung .
"Pagi Melan ! Mana Syila?" Pingka kembali mengupas bumbu.
"Masih tidur. Kakak tahu ? Sekarang, Kak Endra sudah pandai memasak. Ia bahkan menguasai resep masakan yang sering dibuat Kakak ipar untuknya." Melan ambil bagian menyiapkan sayur.
Pingka terkekeh dan menyelesaikan memasak sarapan lalu mereka membangunkan pasangannya masing-masing.
"Sayang ayo bangun." Pingka membuka gorden dan membiarkan cahaya masuk melalui tirai.
Wanita itu merangkak di atas kasur lalu menciumi kening, pipi dan bibir suaminya. Yang merupakan hal utama dilakukan atas perintah suaminya itu sendiri. Endra membuka mata perlahan dan meregangkan ototnya lalu duduk sebentar mengumpul nyawa.
"Sayang." Endra menepuk kasus sebelahnya.
Pingka mendekat, paham dengan kebiasaan baru pria itu setelah bangun tidur. Ia membiarkan Endra menjatuhkan kepala di atas pangkuannya dan membelai lembut rambut pria itu.
"Ayo mandi kamu terlambat nanti." Ucap Pingka lembut.
Endra berdiri melangkah ke kamar mandi, sementara Pingka merapikan kasur dan menyiapkan pakaian kerja suaminya. Setelah sarapan Dami mengantarkan Endra dan Pingka menuju rumah mereka sendiri.
"Silahkan masuk. Pak, Bu ! " ucap Dami sopan.
"Gugu ini rumah siapa? Bukannya ? Rumah yang dulu alamatnya tidak disini." Pingka bertanya bingung.
"Ini rumah kita sayang, rumah itu sudah aku jual banyak kenangan pahit di sana." Endra menarik tubuh Pingka yang masih bergeming.
Pingka melihat Bi Weni di ruang tengah. Ia berhamburan memeluk Bi Weni yang berdiri menyambut mereka di ruang tengah. Endra membiarkan Pingka melepas rindu pada asisten rumahnya itu dan meninggalkan mereka.
"Sayang, aku ke kantor dulu. Makan siang aku pulang." Endra mencium pucuk kepala istrinya.
__ADS_1
Endra dan Dami melajukan mobil ke arah kantor yang hanya berjarak 20 menit dari rumah. Pria itu sudah menyiapkan semua dengan baik. Sengaja membeli rumah dan direhab ulang sesuai keinginannya, rumah itu disiapkan semenjak bertemu Pingka di kota S. Karena Endra berkeyakinan jika wanita itu menjadi nyonya di rumahnya.