
Sudah satu minggu jawaban yang ditunggu Endra belum kunjung ia dapatkan, semakin hari kegelisahan terus menghantuinya. Haruskah ? Ia melepaskan wanita yang begitu amat dicintainya itu. Atau ia harus menggunakan kekuasaannya sebagai CEO perusahaan yang merajai bisnis ini untuk melumpuhkan gerak Pingka agar menikah dengannya.
Endra tak bersemangat hari ini, mengingat dua minggu lagi. Ia akan pulang ke Kota P dan kembali di perusahaan induk karena kondisi anak cabang yang di Kota S sudah stabil.
Target Endra memboyong Pingka sebagai istri saat ia pulang sepertinya terancam gagal. Pria ini juga sudah melamar Pingka pada Fajar dan Bibi Halimah secara resmi. Dari mereka berdua tidak ada masalah selama Pingka bahagia mereka mengikuti keputusannya.
Beberapa kali Endra mengulang membaca dokumen yang ia pegang, tapi tetap tak bisa ia pelajari. Pikirannya terfokus pada Pingka yang terkesan biasa saja padanya.
Apa memang dia sudah tidak memiliki rasa lagi padaku ?
Endra bertanya dalam hatinya.
"Bapak kenapa?" Dami sejak tadi memperhatikan jadi tak sabar bertanya.
"Aku ingin tidur sebentar jangan menggangguku." Endra langsung melepaskan dokumen dari tangannya dan masuk kedalam kamar pribadinya.
Dami hanya mengangguk mungkin Tuannya tak ingin berbagi, agak lucu juga seorang CEO ternama seperti Endra gagal fokus pada pekerjaan hanya karena seorang wanita pikir Dami. Ia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Hampir setengah hari, Endra hanya menghabiskan waktu dan marah-marah tak jelas. Merasa bosan, ia memilih pulang lebih dulu ke apartemen. Berharap akan mendapatkan jawaban atas lamaran dan pernyataan cintanya minggu lalu.
...----------------...
Pingka banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya di rumah Fajar, nampak sekali jika mereka sedang sibuk mengurus pekerjaannya masing-masing. Sehingga wanita ini kerap kali pulang pergi keluar kota tanpa sepengetahuan Endra. Karena pria itu hanya menugaskan orang- orang suruhannya mengawasi Pingka sampai di depan pintu rumah Fajar saja. Karena ia yakin Fajar pasti menjaga Pingka.
Endra menatap sendu pada pintu unit Pingka. Tangannya terangkat ingin mengetuk tapi menggantung di udara, ia menjadi ragu antara ingin mengetuk dan tidak.
Endra menghembuskan nafasnya lalu mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu itu, ia memutar tubuhnya lalu masuk ke unitnya sendiri. Tanpa ia sadari jika wanita pujaan hatinya sudah memperhatikan tingkahnya yang mematung di depan pintu.
Pingka yang baru sampai hanya diam melihat sikap Endra yang badmood, ia sudah dapat kabar dari Dami, jika pria ini suasana hatinya sedang buruk.
Pingka memesan makanan atas nama Endra, karena ia yakin pria itu saat ini belum makan siang. Tak berapa lama kurir datang mengantar makanan. Endra merasa heran siapa yang memesan makanan untuk nya?
Tak ingin membuang waktu, ia pun menerima dan memakan makanan itu, semoga saja suasana hatinya berubah nanti. Endra memegang ponselnya dan mengetik pesan di sana.
💌 Jibi... Bagaimana, apa aku bisa mendapatkan jawabannya sekarang?
Pesan itu terkirim tapi hanya dibaca tanpa ada balasan. Endra semakin resah jarinya kembali mengetik pesan.
💌 Sangat tidak pantaskah ? Aku untukmu, Jibi.
Lagi pesan itu hanya terbaca masih tidak ada balasannya, ingin rasanya ia melemparkan benda pipih itu ke dinding tapi akal sehatnya mencegahnya melakukan itu. Endra semakin tak karuan dibuatnya.
Pria ini memutuskan untuk kembali ke rumahnya dan meninggalkan Apartemen. Tak ada satu barang pun yang tersisa, ia meminta orang - orangnya untuk mengemasnya.
Mungkin ini akhir dari perjuangan cinta Endra, ternyata hasilnya berbuah pahit, ia berfikir ini salah satu cara Pingka menolaknya dengan menghindarinya akhir-akhir ini.
...----------------...
Endra sampai di kediaman pribadinya, wajahnya terlihat ditekuk dan dingin. Ketika masuk dirinya dikejutkan dengan beberapa orang di dalam rumahnya. Di Sana ada keluarganya, Dimas dan Salsa serta Dokter Reno. Mereka semua berkumpul di ruang keluarga.
"Kenapa wajahmu ditekuk begitu ? Apa kamu ditolak Kakak ipar ? Kalau begitu, itu tandanya dia akan menemukan jodoh lain sepertiku." Dokter Reno mulai menggoda.
Endra melirik tajam tanpa menjawab, ia mengambil alih Syila dari gendongan Melan lalu melangkah naik ke atas tangga menuju kamarnya.
__ADS_1
"Ck... Ternyata Pingka berpengaruh besar pada kehidupannya, lihatlah kita merindukannya. Tapi dia mengabaikan kita." Seru Dimas sambil bersandar di sofa.
"Dia butuh waktu sendiri." Sambung Salsa.
Ibu Erly tak ikut bicara, entah apa yang membuatnya begitu sibuk bersama Melan. Sandi juga kebagian sibuk sehingga tidak ikut mengejek Endra.
Di dalam kamar Endra membaringkan baby Syila yang sudah mulai belajar mengoceh di atas kasur, ia memberi pembatas agar bayi itu tidak terjatuh saat akan mengganti bajunya. Selesai mengganti baju Endra mengangkat tubuh bayi itu di atas perut kotak-kotaknya.
"Hai sayang, kamu tahu ? Saat ini pamanmu yang tampan ini sedang digantung antara diterima atau tidak." Curhat Endra pada bayi lucu itu.
"Bibimu itu, sepertinya tidak mau lagi hidup dengan pamanmu ini, apa pamanmu ini sudah Jel—"
Ucapan Endra terputus karena ketukan lembut di luar pintu. Ia dengan malas melangkah sambil menggendong baby Syila untuk membuka pintu.
Pintu terbuka semua orang dibawah tadi berdiri di depan pintu . "Kenapa kalian disini?" Suara datar Endra keluar.
"Kami hanya ingin tahu kondisimu." Jawab Sandi.
"Aku baik-baik saja." Endra ingin menutup pintu kembali .
Tapi Dimas dengan cepat menahannya. "Apa begini caramu memperlakukan tamu?"
"Istirahatlah nanti malam kita bertemu." Ujar Endra malas.
"Jika tahu begini lebih baik aku tidak ikut, kami kesini hanya ingin menghiburmu agar kamu tidak salah langkah untuk mengakhiri hidupmu karena patah hati." Seru dokter Reno santai.
Wajah Endra berubah kesal menatap tajam Dokter Reno. "Kamu pikir aku sebodoh itu !"
"Aku sudah makan, Bu. Tadi di Apartemen."
"Berikan padaku Syila, ayo kita turun ke bawah." Melan mengambil putrinya dari gendongan Endra.
"Kalian saja aku ingin istirahat." Endra menutup pintu.
Belum sempat mendaratkan tubuhnya, Endra kembali mendengarkan ketukan, dengan wajah kesal dan malas ia membuka pintu.
"SURPRISE"
"Selamat hari lahir, Gugu..."
Endra mematung tak mampu bersuara antara haru dan bahagia. Terharu saat wanita ini memanggil namanya 'Gugu' panggilan khusus yang dibuat wanita ini diwaktu kecil.
Bahagia karena wanita yang sudah menggantung perasaannya beberapa hari ini tersenyum manis berdiri didepannya.
"Jibi..." Wajah Endra berbinar.
"Ayo tiup lilinnya."
Endra masih bergeming matanya menatap dalam pada Pingka.
"Apa ini nyata?" Lirihnya tak berkedip.
"Apa kamu pikir ini mimpi?" Seru Dokter Reno.
__ADS_1
"Seperti mimpi." Balas Endra linglung.
"Baiklah, akan aku bangunkan kamu dari mimpimu."
Pelipis Endra disentil Dokter Reno walau tak kuat tapi cukup membuatnya terkejut dan menyisakan perih.
"Kamu !" Endra melototkan matanya karena marah bercampur kaget.
Dokter Reno dan yang lainnya tertawa, kapan lagi pikirnya bisa menganiaya pria itu jika tidak pada saat dirinya terlihat bodoh.
Endra meniup lilin lalu meraih Pingka ke dalam pelukannya. "Terimakasih, Jibi." Pria itu mengecup pucuk kepala Pingka.
"Sekarang kamu mandi, masih ada kejutan lainnya." Pingka memberikan nampan kue kepada Ibu Erly. Mereka mengucapkan selamat pada Endra satu - persatu.
"Ibu tunggu dibawah." Ibu Erly mengajak yang lainnya turun dari sana.
Endra merasa bahagia, perasaan yang tadi pagi sangat menyiksanya terbalik 180 derajat. Tidak pakai lama pria itu selesai membersihkan dirinya, dengan lilitan handuk sepinggang serta bertelanjang dada. Ia menghampiri Pingka yang sedang menyiapkan pakaiannya. Endra memeluknya dari belakang.
"Terimakasih atas semuanya." Endra mengecup pipi kanan Pingka.
"Ayo pakai bajumu, kenapa kamu suka sekali menciumiku tanpa ijin?" Pipi Pingka bersemu merah.
"Kenapa mengabaikan ku beberapa hari ini?" Bukan menjawab tapi bertanya. Endra masih enggan melepaskan pelukannya.
"Aku hanya meyakini hatiku." Pingka melepaskan tautan tangan Endra.
"Jadi, apa kamu menerimaku?" Endra memutar tubuh Pingka untuk menghadapnya.
"Menurutmu ? Untuk apa aku disini jika tidak menerimamu." Pingka menunduk malu.
"Terimakasih, sayang." Endra menarik tubuh Pingka dalam pelukannya.
Wajah wanita itu semakin bersemu karena pipinya menempel pada kulit putih dada Endra. "Pakai bajumu." Pingka mendorong tubuh pria itu.
"Kamu harus terbiasa sayang, ini hanya setengahnya yang terlihat. Setelah menikah, semuanya akan terlihat olehmu." Endra mengedipkan matanya.
Gerak cepat ia mencuri ciuman di bibir Pingka. Beberapa detik saling membalas. Endra merasakan sesuatu di tubuhnya meminta lebih, dengan cepat ia melepaskan pagutan bibir itu lalu mengusap sudut bibir Pingka yang memerah akibat ulahnya.
"Kita sudah ditunggu." Pingka melangkah menuju meja rias. Merapikan tampilannya.
"Jangan menggunakan bedak dan lipstik tebal aku tidak suka." Kata Endra sambil memakai bajunya.
Tidak ada batasan lagi untuknya. Ia memakai baju di hadapan Pingka tanpa rasa canggung. Mungkin, di atas kertas tahun lalu status mereka berpisah tapi di lubuk hatinya yang paling dalam. Pingka tetap istrinya.
"Kenapa ?"
"Aku tidak mau saat mencium mu seperti mencium dempul dan saos." Jawab Endra.
Pingka terkekeh. "Asal kamu tahu, aku memang tidak suka berdandan tebal." Ujarnya sambil menyisir rambut Endra.
Setelah selesai menyiapkan dirinya, Endra dan Pingka turun ke bawah menyusul yang lainnya. Pria itu terperangah melihat orang - orang yang tengah berkumpul di sana, bukan hanya keluarganya tapi juga keluarga Pingka serta karyawan kantornya.
Endra begitu bahagia dihari bertambah usianya mendapatkan jawaban dari Pingka. Mereka menikmati pesta kejutan yang dibuat oleh Pingka dan Ibu Erly tanpa canggung.
__ADS_1