
Semenjak bertemu Hendri di cafe, Pingka lebih banyak diam dan murung, perubahan itu juga dirasakan Endra. Pria ini begitu gelisah, ketakutan memenjarakan hatinya saat ini. Takut yang luar biasa dirasakannya. Ia hanya tak ingin kehilangan lagi, Endra mulai curiga jika Hendri menggunakan Mora untuk mendekati Pingka kembali.
Endra tak ingin banyak menduga, ia akhirnya memutuskan menemui Pingka di tokonya.
"Dam, aku pergi ke toko. Kamu selesaikan pekerjaan disini dan pakailah mobil yang ada di kantor nanti." Titahnya sambil berlalu.
"Baik, Pak. Hati-hati dijalan."
Endra melajukan mobilnya menuju toko roti milik Pingka, sampai di sana ia mengendap bermaksud ingin mengejutkan wanita pujaan hatinya. Tapi kenyataannya terbalik, ia sendiri yang dibuat terkejut.
Di sana ia melihat Hendri sedang memohon sambil menyatukan tangannya di hadapan Pingka . Nampak wanita itu seperti berpikir keras menatap kosong pada Hendri.
" Sayang ..." Endra mendekat langsung mengecup kening Pingka. Matanya melihat tajam pada Hendri yang masih pada posisinya.
"Berdirilah." Pingka menyentuh pundak Hendri.
Endra mendengus kesal. "Sayang jangan menyentuh pria lain." Suaranya begitu ditekan dan syarat akan perintah.
Pingka tersenyum lalu mengusap lembut pipi Endra dengan sorot mata teduh menenangkan.
"Hendri kamu tunggu aku di rumah Kak Fajar, kita selesaikan di sana." Pingka melihat Hendri dengan tatapan iba. Hendri mengangguk tapi matanya tak lepas menatap Pingka.
Cih lihatlah matanya itu, apa perlu aku congkel bola matanya dan di ganti biji cempedak
Darah Endra turun naik. Merasa gerah, ia melepaskan jasnya dan hanya menggunakan kemeja . Tampan itu pasti sehingga membuat pipi Pingka bersemu merah.
Hendri tersenyum tipis.
Kamu masih saja menggemaskan
Endra menangkap raut wajah Hendri begitu memuja pada calon istrinya lalu bertambah kesal. "Apa yang kamu tunggu?"
__ADS_1
Hendri tersentak. "Baiklah aku menunggumu, Pingka." Ucapnya tersenyum manis.
Endra semakin kesal lalu duduk di sofa tamu. Pingka menuangkan air putih dan memberikannya pada pria itu. "Minumlah." Ia duduk disisi Endra. Pria itu langsung menghabiskan segelas air dan membiarkan air itu turun ke perutnya sebentar.
"Jibi aku lelah, biarkan sebentar aku berbaring di pangkuan mu." Ucap Endra manja. Pingka memberikan ruang untuk Endra dan membiarkan pahanya menjadi bantal. "Untuk apa dia menemui mu? Jujur aku cemburu, sayang ! Jika dia ingin kamu kembali padanya dengan memanfaatkan anak kecil itu, maka aku tidak segan menghancurkannya." Endra menatap dalam manik mata Pingka.
"Terimakasih sudah memberiku cinta yang begitu besar." Pingka menunduk lalu mengecup pelipis Endra.
Endra merona saking bahagianya, ini pertama kalinya Pingka menciumnya. Ia menenggelamkan wajahnya di perut tipis Pingka menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
"Ayo kita ke rumah Kak Fajar, sekalian makan siang di sana." Pingka membelai lembut rambut pria itu. Endra mengangguk dan duduk memakai jas nya kembali. "Jangan dipakai lagi sini kubawa. Tunggu sebentar, aku mengambil roti untuk Rafa." Pingka mengambil jas dari tangan Endra.
Selesai berkemas mereka langsung menuju kediaman Fajar karena Hendri sudah menunggu di sana. Sampai di sana, Rafa melihat kedatangan Pingka langsung mengangkat tangannya minta di gendong.
"Halo Sayang kangen ya." Pingka mengambil Rafa dari gendongan Mayang.
Hendri tersenyum tipis begitu pun Endra.
"Masalah Rania."
Mendengar nama Rania Endra juga ikut duduk di sofa bersama Fajar.
"Apa ada masalah?" Tanya Fajar.
Hendri mulai menceritakan semuanya pada Fajar. Ada kelegaan di sudut hati Endra ternyata Hendri bukan meminta Pingka kembali padanya, tapi tak dipungkiri ada perasaan cemas juga di sana. Bisa saja pria itu nekat melihat dari sikap dan sorot matanya masih menyimpan cinta dan seberapa dalam perasaannya pada Pingka hanya dia yang tahu.
"Mengingat perlakuannya pada Jingga, aku enggan memaafkannya. Tapi bagaimana pun juga, ia sudah menyesalinya dan aku tidak akan tega membiarkan Mora terkena dampaknya. Karena kamu datang secara kekeluargaan seperti ini, akan aku serahkan keputusan pada Jingga" kata Fajar.
"Aku tidak setuju, bisa saja ia melukai Pingka lagi." Endra menyampaikan pendapatnya.
"Aku yang akan menjamin jika Rania tidak melakukan hal buruk lagi pada Pingka." Kata Hendri tanpa ragu.
__ADS_1
"Bagaimana Jingga, apa kamu sudah mengambilkan keputusan?" Fajar melihat pada Pingka yang masih berdiri menggendong Rafa.
Pingka duduk disisi Endra sambil menyuapi kue yang dibawanya tadi.
"Aku sudah memikirkannya dari kemarin, demi Mora aku akan membebaskan Rania."
"Tapi sayang, aku takut dia menyakitimu lagi." Endra masih tetap pada pendiriannya.
"Gugu jangan cemas, dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Pingka menenangkan Endra.
"Baiklah jika itu mau mu, kamu tetap hati - hati." Endra mengambil alih Rafa dari pangkuan Pingka.
"Baiklah ! Besok pagi kita ke sana biarkan Arif mengurus berkasnya hari ini." Ucap Fajar.
Selesai berbincang Hendri pamit pulang. Endra tak tinggal diam ia segera menelpon Dami.
"Halo Pak"
"Dam, ditambah lagi keamanan untuk Pingka dari sebelumnya dan tempatkan orang terlatih dengan jarak satu meter darinya, satu lagi tak perlu mencolok Pingka pasti tidak suka." Titah Endra panjang lebar.
"Baik, Pak"
Endra tak ingin ambil resiko lagi jika menyangkut ke selamatan keluarganya. Penusukan Pingka kala itu membuatnya belajar. Sahabat pun bisa jadi monster jika urusan hati, tak banyak orang menerima kebahagian orang yang disayangi bersama orang lain dengan lapang dada.
Sampai saat ini pun, Endra belum melihat bekas luka tusukan di dada Pingka. Beberapa kali ingin mengintip tapi setelah dapat tatapan tajam dari si empu dada membuat nyalinya menciut. Bukannya untung yang ada buntung bisa saja Endra dipecat jadi calon suami, membayangkannya saja ia ngeri. Apa lagi itu benar terjadi ? Mungkin dunia pria itu runtuh seketika dan efeknya akan mengguncang perusahaan raksasanya.
Sepulang dari tempat Fajar, Endra langsung menuju kediamannya dan menceritakan semuanya pada yang lain.
Dimas juga ikut khawatir karena dia satu-satunya saksi Pingka menghadapi maut dan berjuang sendiri melawannya dengan membawa luka hati digoreskan Endra.
"Percayalah Pingka bisa menjaga diri, kejadian waktu itu hanya bertepatan dengan perpisahan kalian. Itu membuat Pingka lengah dan jika dalam kondisi hati yang baik. Mungkin dengan mudah ia melumpuhkan dua pria bertopeng itu." Dimas meyakini Endra.
__ADS_1
"Tetap saja aku tidak yakin, Bagaimana pun dia wanita." Balas Endra yang masih dirundung keresahan. Ya, sebagai laki-laki ia berkewajiban menjaga wanita nya meski pun, Pingka memiliki kemampuan untuk membela diri.