Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Pernikahan Ferdy


__ADS_3

Satu bulan kemudian ....


Di sinilah di kampung halaman kebanggaan Pingka. Mereka semua datang untuk menghadiri pernikahan Ferdy dan Indira yang satu hari lagi akan digelar. Endra dan Pingka serta Dokter Reno menempati rumah Bibi Halimah lalu Dimas dan  Salsa menempati rumah Nenek Salsa.


Sandi dan Melan tidak ikut karena tak ingin meninggalkan Bibi Erly sendiri. Endra mengitari sekeliling rumah panggung cukup besar itu.


"Sayang ayo masuk." Seru Pingka dari jendela kamarnya.


"Sebentar lagi udara disini sejuk."


"Kamu benar, En. Aku tidak tahu ada tempat sebagus ini." Tambah Dokter Reno.


Pingka mengalah, ia keluar dari kamar lalu membawakan camilan untuk dua pria yang tengah duduk di kursi bawah pohon itu.


"Ya Tuhan, hati-hati sayang." Endra sigap membantu Pingka turun dari tangga. Walau usia kehamilannya baru lima bulan tapi perutnya seperti usia enam bulan.


"Arin kemana?" Tanya Dokter Reno.


"Ikut Kak Mayang belanja ke pasar bersama Kak Fajar dan juga Rafa." Jawab Pingka


"Dimana pasarnya?"


"Lumayan jauh tiga puluh meter dari sini jika jalan kaki. Tapi mereka naik mobil tadi, cuma pasar dadakan kalau ingin pasar tradisionalnya sebelum kita masuk ke desa ini tadi."


Dokter Reno mengangguk. "Dimana rumah Ferdy?" Bertanya sambil menyesap teh manis buatan Pingka.


"Urutan ke empat dari sini." Jawab Pingka.


"Kenapa disini sepi, sayang?" Tanya Endra.


Memang benar sejak kedatangan mereka tadi malam, tetangganya sepi tidak seperti kedatanganya dua tahun lalu.


"Mereka ke rumah Ferdy bantu-bantu di sana." Balas Pingka.


"Kamu kuat jalan sayang ? Ayo kita ke rumah Ferdy. Aku penasaran seperti apa persiapan pernikahan disini." Ucap Endra.


"Ayo ! Aku kuat jalannya, cuaca juga tidak panas. Selagi Kak Fajar belum datang kita ke sana. Aku juga ingin bertemu dengan Indira kasian dia sebatang kara." Kata Pingka berpamitan pada Bibi Halimah.


Endra, Pingka dan Dokter Reno melangkah menuju kediaman Ferdy. Seperti biasa dua pria tampan itu menjadi pusat perhatian wanita dari usia remaja sampai nenek-nenek.


"Aku seperti aktor tampan saja diperhatikan sepanjang jalan." Seru Dokter Reno percaya diri.


"Mereka bukan memperhatikanmu tapi terkejut adanya manusia aneh seperti kamu." Balas Endra.


"Kamu tidak terima? Lihatlah hama pesonaku sudah merayap kemana-mana." Dokter Reno tersenyum.


"Itu bukan hama pesona tapi hama penyakit !"

__ADS_1


"Kalian bisa diam? Atau pulang saja !" Suara Pingka menghentikan ocehan dua pria itu.


Tanpa terasa mereka sudah sampai dihalaman rumah Ferdy. Mereka disambut hangat oleh orang tua Ferdy.


"Nak, Pingka ! Kalian sudah datang ? Yang mana suami mu?" Tanya Ibu Ferdy ramah.


"Ini, Bi. Kenalkan suamiku dan itu saudaranya Reno."


Endra dan Reno menyambut tangan Ibu Ferdy dengan sopan sambil mengucap nama.


"Masuklah, Bibi panggilkan Ferdy dan Indira."


"Terimakasih, Bi." Balas Pingka .


Endra dan Dokter Reno hanya memberi senyuman sambil melihat sekeliling mereka. Sungguh pemandangan indah menurut mereka, tali kekeluargaan mereka sangat kuat walau hanya tetangga.


Cukup sibuk suasana di sana, mereka tidak menggunakan jasa WO. Tapi memakai jasa tukang rias yang ada di kampung mereka. Para pemuda membantu mendekorasi ruangan. Mereka melakukan sesuai instruksi tukang riasnya. Ada juga yang ikut menghiasi pelaminan, serta membuat bumbu di dapur bersama para ibu-ibu. Lengkap sudah aktivitas mereka.


"Kalian sudah sampai?" Suara Ferdy mengalihkan pandangan mereka bertiga.


Endra sangat terkesan, kebersamaan seperti itulah nanti yang akan jadi cerita yang manis di hari menjelang pernikahan. Berbeda dengan pernikahannya tinggal mengeluarkan titah semua sudah terlaksana sempurna oleh pihak WO.


"Iya, Endra penasaran sejauh mana persiapan pernikahanmu." Balas Pingka.


"75% semua sudah siap, pernikahan Arif juga dulu seperti ini." Ferdy sedikit bercerita tentang pernikahan Arif.


Tak lama Indira juga bergabung. "Kak Pingka." Sapa nya. Ia tak enak hati jika harus memanggil nama pada wanita yang telah memberinya pekerjaan itu.


Indira mengangguk. Pingka ijin pada Endra untuk mengikuti gadis itu. Sementara dirinya dan Dokter Reno ikut bergabung pada bapak-bapak yang membuat janur dihalaman rumah bersama Ferdy.


...----------------...


Hari H....


Pingka sudah cantik menggunakan dress panjang tanpa lengan. Rambutnya digerai indah membuat Pingka terlihat lebih anggun dan manis. Sementara Endra hanya menggunakan kemeja dengan warna senada .


"Sayang kamu tambah cantik sekali. Kenapa kamu terlihat seksi saat hamil seperti ini ? Aku jadi malas keluar. Aku tidak mau berbagi kecantikan mu pada orang lain sayang." Ucap Endra manja


"Jangan mulai, Gugu."


Endra semakin erat memeluk tubuh istrinya. "Aku mencintaimu sayang." Menjatuhkan kepalanya di pundak Pingka.


"Aku juga mencintaimu, ayo kita keluar !"


Endra dan Pingka keluar dari kamar, di ruang tengah Fajar dan yang lainnya telah menunggu. Di sana juga ada Dimas dan Salsa, mereka berangkat bersama menuju ke pernikahan Ferdy.


Tanpa terasa jam terus berputar, waktu menunjukkan jam empat sore. Pernikahan Ferdy telah selesai dengan sempurna dan lancar. Pingka dan yang lainnya sudah kembali ke rumah sejak beberapa jam lalu. Mereka berniat akan kembali lagi ketika malam hari.

__ADS_1


...----------------...


Ferdy dan Indira sudah membersihkan diri mereka dan ikut duduk di ruang tengah bergabung bersama Fajar dan Pingka. Mereka datang ke sana untuk memberikan hadiah untuk  Ferdy.


"Fer, aku ada hadiah untukmu." Kata Fajar.


"Kakak tidak perlu memberikan hadiah untukku, kebaikan Kakak selama ini melebihi sebuah hadiah."


"Aku memang menyiapkan hadiah untukmu sudah jauh hari, cabang bengkel ku di jalan S untukmu. Sudah aku balik nama atas namamu" Ucap Fajar.


"Itu berlebihan, Kak."


"Tidak, Fer ! Kami sudah merencanakannya sejak awal terimalah." Tambah Mayang.


"Baiklah terimakasih, Kak." Ucap Ferdy.


Orang tuanya ikut senang atas hadiah di berikan Fajar. Tidak menyangka jika putra mereka mendapatkan hadiah bengkel cabang milik Fajar.


"Aku juga ada hadiah untukmu." Seru Endra. Semua mata melihat kearahnya.


"Jangan memberiku hadiah terlalu banyak. Hadiah dari Kak Fajar saja sudah cukup." Balas Ferdy tersenyum.


Ferdy dan Endra memang tak sedekat Arif karena memang mereka jarang bertemu.


"Tidak ada penolakan !" Tegas Endra mengeluarkan aura kepemimpinannya.


Pingka mencubit lengan suaminya. Lalu mengalihkan pandangannya pada Ferdy dan mengangguk menandakan harus menerimanya


"Baiklah aku akan menerimanya." Balas Ferdy .


"Aku memberikan rumah padamu sama seperti Arif besok Dami mengantar kalian ke sana." Ucap Endra tersenyum.


Ibu Ferdy tak kuasa menahan harunya lalu memeluk tubuh Endra sambil mengucapkan terimakasih.


"Bibi, Ferdy sahabat istriku. Dia juga telah menjaga Pingka sebelum kedatanganku. Jadi, dia juga keluargaku." Endra membalas pelukan Ibu Ferdy


"Terimakasih Pak Endra hanya itu yang bisa ku ucapkan." Balas Ferdy kehabisan kata-kata.


Endra mengangguk sambil menggenggam tangan istrinya. "Berhenti memanggilku Bapak, aku bukan Ayahmu." Ucapnya. Di iringi tawa yang lain.


Dokter Reno hanya menggeleng kepala melihat Endra sejak kemarin mempertontonkan kemesraannya.


"Berapa lama kalian disini, Nak?" Tanya ayah Ferdy.


"Satu minggu, Paman." Jawab Pingka.


"Sering-seringlah kesini di belakang banyak buah besok paman ambilkan." Balas Ayah Ferdy.

__ADS_1


"Iya Paman besok kami kesini lagi."


Menghabiskan waktu satu jam di rumah Ferdy sambil berbincang , akhirnya Fajar dan yang lain berpamitan untuk pulang .


__ADS_2