
Selamat Membaca 😘
Jangan lupa Tap Jempolnya terimakasih
...----------------...
Di gudang kosong milik Endra seorang pria jangkung ini diikat kaki dan tangannya di kursi lalu wajahnya di tutupi dengan kain hitam
Segelas air mendarat di wajahnya . Pria itu perlahan membuka mata dan samar-samar pendengarannya mulai jelas.
Dimana ini ?
Ia berusaha memperjelas penglihatannya di celah kain. Tapi sedikit pun tak terlihat.
"Siapa kalian? Lepaskan aku !" Laki-laki itu meronta di kursi dengan kaki tangan terikat.
Dia adalah Dion, beberapa jam lalu diculik dari depan apartemennya. Di depannya seorang pria duduk dengan angkuhnya di sebuah kursi dan di depannya ada sebuah laptop.
"LEPASKAN !" Sekali lagi Dion berteriak.
Pria itu memberikan perintah pada anak buahnya untuk melepas kain hitam penutup kepala Dion.
"KAU !" Dion melotot orang yang menculiknya adalah Endra.
"Jangan terkejut begitu !" Endra tersenyum manis menampilkan deretan giginya yang putih.
"Cih ! Apa segini saja keberanian CEO ternama ini?" Dion tersenyum sinis.
"Jangan mempertanyakan keberanian ku." Suara Endra begitu dingin dan sorot matanya sudah tidak sehangat tadi.
"Jika bukan karena kekuasaan mu, kamu tak berarti apa-apa." sinis Dion.
Endra tersenyum. "Maka dari itu aku menggunakan kekuasaan ku kembali untuk membalas mu dan juga wanita murahan itu !" Ucapnya dengan nada begitu santai.
"Kakakku bukan wanita murahan ! KAMU PRIA BRENGSEK ! Yang tidak berani mengakui kesalahanmu!" Teriak Dion emosi.
"Kamu yakin Kakakmu itu bukan wanita murahan?" Endra terkekeh
"Berhenti menyebutnya murahan ! SIALAN !" Dion meronta di kursinya, matanya merah dan tajam.
"Tunjukkan padanya !" Titah Endra.
Seorang bodyguard nya mengarahkan laptop di hadapan Dion. "Perhatikan baik-baik!" Lanjutnya lagi.
...----------------...
Kilas Balik
__ADS_1
Tiga Tahun Lalu...
Endra Saguna duduk sebagai CEO perusahaan Saguna group, wajah tampan dan pendiam membuatnya didambakan kaum hawa. Dia adalah sosok pria nyaris sempurna. Selain fisik, materi, sifatnya pun jadi pelengkap dirinya. Endra sebelumnya bukan sosok orang yang kasar dan semena-mena pada orang lain. Apa lagi terhadap wanita, ia juga jarang menghabiskan waktu di luar rumah atau ke bar seperti pria kaya pada umumnya.
Endra memiliki sekretaris cantik yang bernama Nesa, dia begitu mengagumi bosnya itu. Sering kali ia memberi perhatian lebih pada Endra tapi tak sedikit pun. Di balas Endra bahkan pria ini juga sering mengabaikannya karena dari diri Endra sendiri tak suka pada sekretaris yang selalu mencari perhatiannya itu.
"Nes, antarkan berkas yang kemarin ke ruanganku." Titah Endra pada sekretarisnya melalui interkom.
Dengan senang hati wanita itu melangkah dengan anggun memasuki ruangan Endra. "Ini Pak." Nesa menyodorkan berkas itu di atas meja.
"Hm"
Nesa bergeming masih berdiri di depan meja Endra. Matanya tak lepas memandang wajah tampan atasannya ini. Rasa sukanya pada pria itu sudah membuncah, hasrat ingin memiliki Endra sebagai kekasihnya sudah memuncak di ubun-ubun. "Pak, En. Boleh saya bicara sebentar?" Suaranya seksi begitu menggoda.
Endra tersentak, ia tak menyadari jika wanita itu masih berdiri di depan mejanya. "Bicaralah" Ucapnya datar.
"Pak, En. Aku serius." Manja Nesa sambil memilin ujung kemejanya.
Endra mengangkat wajahnya lalu melepaskan pena di tangannya. Mungkin ada hal penting begitu pikirnya. "Silahkan bicara di sana !" Ia Berdiri menuju sofa lalu duduk di sana.
Wanita itu tersenyum senang lalu mengekor Bosnya. Tanpa diduga Nesa malah duduk di pangkuan Endra .
"Hei apa yang kamu lakukan ?!" Endra terkejut lalu mendorong tubuh Nesa sampai terjerembab
Wanita itu sudah terputus urat malunya. Ia berdiri kembali dan memeluk tubuh Endra yang berdiri. "Aku mencintaimu Endra, aku ingin menjadi kekasihmu. Jika kamu memiliki kekasih aku siap jadi simpanan mu." Ucapnya tanpa malu menawarkan diri.
"Kenapa? Apa kamu ingin lebih dari ini ? Aku siap melayani mu." Nesa melepaskan paksa jas yang dikenakan Endra.
"STOP !! Aku tidak memiliki perasaan padamu dan aku membenci wanita liar sepertimu !!" Suara Endra mulai meninggi.
"Kamu berbohong ! Bukankah ? Bos sepertimu butuh wanita di sisimu?" Nesa kembali memeluk Endra.
Kesabaran Endra habis lalu menarik tangan Nesa keluar dari ruangannya.
"Berkemaslah! Detik ini juga aku memecat mu!" Endra menutup pintunya dengan keras.
Karyawan yang tak sengaja ada di lantai itu melihat ke arah Nesa yang dikeluarkan paksa dari ruangan CEO, wajah Nesa merah bercampur malu.
"Aku harus mendapatkan mu Endra, kamu harus membayar rasa maluku hari ini." Nesa mengemas barangnya lalu pergi entah kemana.
Beberapa jam terlewati Endra kembali ke kantor setelah makan siang, ia mulai bekerja kembali. Menit berikutnya Endra membuat kopi untuknya sendiri ke pantri setelah itu meletakkan kopinya di meja.
Endra keluar lagi dari ruangannya untuk menemui petugas yang menjaga Cctv agar menghapus rekaman yang terjadi beberapa saat lalu. Supaya Nesa tak merasa malu dan menjadi bahan gosip jika orang lain tahu begitu pikirnya. Petugas itu mengangguk faham.
Endra kembali ke ruangannya lalu meminum kopinya dengan perlahan. Seiring kopinya habis laki-laki itu merasakan tubuhnya panas dan sedikit pusing.
Pria itu melepaskan jasnya lalu masuk ke kamar pribadinya bermaksud mengganti kemejanya dan mandi. Tapi setelah masuk, Endra terkejut melihat Nesa duduk di atas kasur dengan kemeja terbuka bagian atas dan rok naik sebatas paha, pria itu merasakan reaksi tubuhnya yang tak biasa.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan disini?"
"Melayani mu sayang, sepertinya kamu membutuhkanku saat ini." Nesa berdiri melepaskan kancing kemeja Endra.
"Jadi kamu mencampurkan sesuatu di kopi ku?" Endra merasakan denyutan dan libido yang mulai naik perlahan.
"Tebakan mu benar dan kamu tidak ada pilihan selain melepaskannya bersamaku." Nesa tersenyum menang. Tangannya melanjutkan membuka kancing kemeja Endra
Emosi pria itu naik seketika. Ada wanita seperti ini merendahkan dirinya hanya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
"****** SIALAN ! DASAR TAK PUNYA MALU !" Endra Mendorong Nesa jatuh terlentang di kasur.
Ia berusaha menenangkan dirinya dan meraih jas serta tas kerjanya dengan cepat lalu keluar dari kamar menggunakan pintu darurat di dalam ruangannya. Endra berusaha menelpon seseorang sebelum obat itu semakin menguasai dirinya.
"Halo."
"Bantu aku." Endra merasakan tubuhnya semakin panas
"Kamu kenapa?"
"Aku minum sesuatu yang dicampurkan ke dalam gelasku." Jawab Endra sambil mengemudi
"Cari hotel terdekat jangan matikan ponselmu, biar aku ke sana dan jangan biarkan orang lain masuk. Aku akan masuk menggunakan kunci cadangan."
Berhasil mendapatkan lokasi Endra dari GPS, orang itu tak lain adalah Dokter Reno. Dokter itu membuka pintu menggunakan kunci cadangan. Ia berdebat dulu dengan petugas hotel. Endra meringkuk di atas kasur wajahnya merah dan nafasnya memburu tak karuan.
Dokter Reno segera memaksa Endra meminum air putih yang banyak tak lupa, ia melonggarkan pakaian laki-laki itu. Agar Endra bernafas dengan normal. Untuk menjaga suhu tubuhnya tetap hangat, Dokter Reno mengisi air di bathtup dengan kondisi hangat.
"Ayo lepas pakaianmu masuk kedalam bathtub. Setelah ini minum air kelapa, aku sudah memesannya."
Endra mengangguk lalu masuk dan berendam, Dokter Reno menelpon Sandi memberitahukan kejadian yang menimpa Endra. Saat itu Sandi yang baru menjadi asisten Endra sedang bertugas meninjau proyek bersama Dimas.
Beberapa jam kemudian tubuh Endra normal kembali, ia sudah berpakaian lengkap lalu menceritakannya ke pada Dokter Reno.
Kilas Balik Selesai....
...----------------...
Tubuh Dion melemas, setelah melihat Vidio yang di putar dihadapannya.
"Bagaimana sekarang kamu percaya bahwa Kakakmu itu murahan ? Lihatlah betapa agresifnya dia menggodaku ! Istriku yang cantik saja masih malu-malu. Ah, aku jadi merindukannya." Endra tersenyum manis.
"Aku tidak percaya ! Bisa saja kamu mempermainkan ku."
"Baiklah masih ada seseorang yang membuktikannya padamu, Bawa dia masuk !" Titah Endra.
Segini dulu ya Authornya tumbang, dari kemarin belum bisa nulis banyak 😥
__ADS_1