Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Segores Tinta


__ADS_3

Waktu berputar dan bergulir dengan cepat manakala pernikahan atas dasar perjodohan itu tepat memasuki usia ketiga bulan. Walau terbilang masih seumur jagung dan harum padi yang baru berisi. Tapi cukup memberikan cerita yang banyak di dalamnya.


Pertengkaran, pertemanan, bahkan kebersamaan. Semua terasa di sana, Pingka bahagia saat kebersamaan mereka karena tidak ada lagi pertengkaran.


Selama kebersamaan itu pula, Dimas tak pernah menghubungi Pingka  seperti biasanya. Dia sengaja memberi ruang untuk Pingka meraih bahagianya. Sejak itu pula hubungan pertemanan Dimas dan Endra kembali membaik. Pingka juga tak mempermasalahkan sikap Dimas karena sesuai keinginannya yang menjaga jarak agar Endra tak salah menilainya.


Pingka bekerja seperti biasa, beberapa minggu terakhir dia sudah banyak tersenyum. Wajah cerianya mulai terlihat, sungguh perubahan besar. Sedalam itukah cinta Pingka pada Endra ? Sampai mampu mengembalikan senyum tulus di bibirnya, wajah yang datar kembali ceria.


Lalu bagaimana dengan hati Endra? Pingka tak ambil pusing karena dia percaya pada satu kata proses. Pingka sudah seratus persen menaruh harap pada pernikahan mereka. Mungkin dia akan jahat kali ini menganggap Endra adalah takdir dan jodohnya, walau dia milik wanita lain.


...----------------...


Hari ini Endra dan Dimas kembali meninjau proyek yang sedang berjalan, janji temu mereka setelah makan siang. Pingka menaiki lift dengan penuh semangat untuk melanjutkan pekerjaannya, baru saja duduk Pingka sudah mendapatkan perintah.


"Pingka keruangan ku." Titah Endra melalui interkom. "Masuk." Seru pria itu dari dalam.


"Permisi." Pingka berdiri didepan meja.


Endra melepaskan pena di tangannya lalu meraih kertas di atas mejanya.


"Ayo duduk di sana." Ajaknya sambil melangkah menuju sofa. Pingka mengangguk dan ikut duduk di sofa. "Pingka, aku ingin bicara serius denganmu." Kata Endra dengan wajah serius .


"Silahkan bicaralah." Pingka tiba-tiba dihinggapi perasaan tak nyaman di hatinya.


"Pingka, pernikahan ini sudah menginjak tiga bulan. Tapi aku belum bisa menerimamu menjadi istriku, karena tidak ada rasa cintaku untukmu dan jangan salah artikan sikapku akhir-akhir ini."


"Aku tidak menyalah artikan perubahan sikapmu padaku, lanjutkan saja apa yang ingin kamu sampaikan." Pingka menutupi kebenaran hatinya yang memang menyimpan harap pada Endra menerima pernikahan mereka. Pingka merasa dadanya bergemuruh hebat dan mulai sesak. Tubuhnya gemetar dan terasa mengambang di udara.


Endra menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya secara perlahan dan berkata. "Aku ingin mengakhiri semua ini. Mari kita berpisah dengan baik-baik."


Segumpal daging lembut dalam tubuh Pingka berdenyut kuat kesakitan. Ngilu menjalar setiap tendon di tubuhnya, gemetar menjalar tiap tulang belulangnya. Matanya menatap sendu pada wajah pria yang baru beberapa minggu mencipta bahagia untuknya. Tapi pria itu juga yang menghancurkannya hingga berkeping. Akhirnya sejarah pahit yang tertulis di bagian lembaran hidup Pingka.


"Jika ini mau mu, baiklah mari kita akhiri." Pingka berusaha mengeluarkan suara yang tercekat di tenggorokannya. Sungguh, ini sesak ! Sangat sesak. Beginikah ? Rasanya patah hati.


"Selain itu, aku juga ingin menghapus cerita tentang kita meski tidak ada yang tahu." Endra mengeluarkan satu kertas lagi.

__ADS_1


"Aku harus apa ?" Suara Pingka terdengar sedikit lemah kesakitan nya mulai mencapai pada puncaknya. Sekali lagi Endra melemparkannya ke bawah pada dasar jurang kesakitan.


"A-aku harus mengeluarkan mu dari perusahaan, karena aku ingin agar Melisa tidak mengetahui tetang pernikahan ini." Suara Endra terbata dan lemah lalu membuka dua kertas di depannya.


Hati Pingka serasa dicambuk ratusan kali, sekujur tubuhnya melemas seakan habis jatuh dari sebuah ketinggian yang luar biasa. Rasa sakitnya ini telah sampai pada puncaknya saat membaca surat perceraian dan pemberhentian.


Dengan tangan gemetar Pingka membubuhkan tanda tangannya di atas kertas perpisahan. Ya, Pingka jatuh sedalam-dalamnya.


"Terimakasih, sudah memberiku kesempatan untuk mengenalmu sebagai suami diwaktu yang singkat ini. Dan sebagai karyawan mu aku senang bekerja denganmu. Semoga  bahagia di pernikahan keduamu dan menghabiskan sisa hidupmu bersamanya orang yang kamu impikan menjadi pendamping hidupmu. Maaf atas kehadiranku yang tiba-tiba dalam hidupmu hingga kita terjebak dalam pernikahan semu ini. Aku pulang, selamat tinggal sampaikan salam ku untuk Ibu dan Melan." Pingka mengumpulkan segenap kekuatannya untuk keluar dari ruangan itu.


Endra membisu melihat goresan tinta di atas nama Pingka Jingga Biru di kertas perpisahan. Pingka menarik nafasnya yang mulai berat dan semakin sesak, menghembuskan nafas perlahan agar dapat meringankan sedikit rasa sakit yang semakin menggerogoti hati dan tubuhnya. Pingka memesan taksi lalu berkemas.


"Pingka maaf tak bisa mempertahankan mu disini." Lirih Sandi dengan nada yang lemah.


Di tatapnya dua bola mata indah itu ada kesakitan yang luar biasa di sana, dia bisa melihat kesakitan yang sama dirasakan Winda kala itu.


"Terimakasih sudah membimbingku dengan baik selama ini." Ucap Pingka lemah tampak matanya sudah memerah.


Sandi meraih Pingka dalam pelukannya. "Aku yakin kamu wanita kuat, Endra sudah memilih jalan hidup nya sendiri." Pria itu menepuk punggung wanita yang matanya mulai berkaca-kaca.


Pingka mengangguk lalu meninggalkan Sandi yang masih melihatnya. Wanita ini berjalan dengan tatapan kosong sambil menggendong boks ditangannya.


"Belikan tiket untuk ke Jepang, aku akan menjemput Melisa." Titah Endra tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang dipegangnya.


"Iya, Pak." Jawab Sandi sambil mengepalkan tangannya menahan emosi.


Pingka melangkah dengan sekuat tenaga yang tersisa sampai dilantai dasar.


"Pingka kamu kenapa?" Tanya Ravita menatap heran.


"Aku berhenti dan akan pulang ketempat asalku." Jawab Pingka lemah lalu meneruskan langkahnya kembali.


Tanpa menghiraukan tatapan Ravita dan yang lainnya dengan penuh kebingungan. Pingka terus melangkah keluar. Taksi yang dipesannya sudah menunggu di bawah. Ia bertanya memastikan lalu sopir itu mengangguk.


Pingka masuk dan duduk di mobil dengan perasaan hati yang amat sakit, sesak di dadanya semakin menjadi. Tiba - tiba dirinya merasakan kerinduan yang begitu dalam. Rindu yang tak pernah terbalaskan. Rindu yang tak pernah tersalurkan dengan benar. Rindu pada pelukan yang menangkan, rindu pada senyuman dan belaian yang menguatkannya. Setetes demi setetes air mata mengalir di pipinya , berulang kali diseka nya tapi air bening itu tetap membandel untuk keluar.

__ADS_1


Sopir taksi hanya mampu mengawasi penumpangnya yang sedang dirundung kesedihan, tanpa bisa berbuat apa-apa walau hanya sekedar menenangkan.


Sopir taksi mengemudi dengan santai tanpa tahu arah tujuan bertanya pun enggan melihat kondisi wanita yang duduk di kursi penumpang begitu kacau. Matanya sesekali melirik pada kaca di depannya mengawasi gerak gerik Pingka. Tanpa ada yang bicara hanya keheningan dan lagu menemani mereka dalam mobil itu.


Kuingin saat ini engkau ada di disini


Tertawa bersamaku seperti dulu lagi


Walau hanya sebentar Tuhan tolong kabulkanlah


Bukannya diri ini tak terima kenyataan


Oh bukannya diri ini tak terima kenyataan


Hati Ini hanya rindu oh


Hati Ini hanya rindu hm


Kurindu senyummu Ibu


Penggalan lagu itu mampu menghancurkan dinding pertahanan Pingka. Bahunya mulai bergetar serta isak tangisnya mulai terdengar. Saat ini dia benar-benar merindukan dan membutuhkan kedua orang tuanya.


Sopir taksi menatap sendu pada wanita yang sedang terisak ini, seakan sadar dengan keadaan sopir taksi itu menepi lalu mengganti lagunya dan memutar tombol volumenya agak nyaring.


Sopir taksi itu keluar dari mobil sengaja memberi ruang untuk Pingka menumpahkan kesedihannya. Ia menangis sejadi -jadinya di dalam mobil, suaranya sampai mengalahkan bunyi musik yang nyaring.


Sopir taksi itu berdiri bersandar di belakang mobil ikut merasakan apa yang dirasakan penumpangnya, telinganya dapat mendengar suara tangis pilu di dalam mobil itu . Merasa cukup lama sopir itu masuk kembali ke dalam mobil dan mengganti lagu sedikit santai.


"Terimakasih." Ucap Pingka dengan suara serak


Sopir itu mengangguk lalu melirik kaca di depannya melihat Pingka sedikit tenang, ia berinisiatif membawa Pingka ke pantai berharap wanita ini mendapat angin segar dan melupakan sejenak keterpurukannya.


Tanpa protes Pingka mengikuti saja kemana sopir itu membawanya. Tatapan kosong dan hampa terlihat sekali di matanya saat ini. Baru saja ia merasakan bahagia. Namun, terampas dengan sempurna oleh orang yang dicintainya sendiri.


Mobil menepi, lalu Pingka turun melangkah menuju bibir pantai. Sampai di sana, dia memandang hamparan laut yang luas dan matahari yang perlahan akan tenggelam. Setelah melihat sunset Pingka berniat kembali ke taksi. Tiba-tiba matanya membulat sempurna merasakan kulitnya perih dan sobek.

__ADS_1


...----------------...


Terimakasih sudah membaca semoga suka ya 😍


__ADS_2