
Hari ini adalah hari yang ditunggu Dokter Reno dan Arin. Setelah undangan pernikahan mereka tersebar di penjuru rumah sakit, hampir tiap Dokter wanita yang masih sendiri merasakan patah hati sebelum berjuang. Tahunan lamanya mereka mencari perhatian Dokter Reno tapi sedikit pun tak dilirik pria itu.
Di sinilah mereka menyaksikan sendiri kebahagiaan Dokter Reno dan Arin bersanding setelah melakukan sumpah pernikahan beberapa jam lalu. Mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri.
Seluruh kerabat ikut bahagia, baik pihak Dokter Reno mau pun Arin. Keluarga Saguna menepati janji membantu Dokter Reno dalam pernikahannya.
Usai pernikahan mereka nanti, Dokter Reno akan memperkenalkan Arin pada mendiang keluarganya di Negara X sekaligus berbulan madu.
"Selamat, Nak ! Bahagia selalu dalam pernikahanmu, kamu adalah putraku meski tidak terlahir dari rahimku. Jika terjadi sesuatu dalam pernikahanmu jangan sungkan berbagi pada Bibi." Ibu Erly memeluk Dokter Reno lalu beralih pada Arin.
"Terimakasih, Bi. Aku bahagia Bibi adalah Ibu pengganti terbaik yang aku miliki, Bibi dan mendiang Paman memberikanku kasih sayang yang sama." Balas Dokter Reno
"Selamat atas pernikahan kalian berdua, jaga putriku dengan baik. Jika suatu hari nanti kau bosan atau tidak mencintainya lagi. Maka beritahu aku, jangan memberitahukan padanya karena itu akan menyakiti hatinya dan aku akan membawanya pulang bersamaku." Ucap Ayah Arin.
Dokter Reno menggenggam tangan kedua orang tua Arin. " Ayah, ibu ! Itu tidak akan terjadi. Jika itu sampai terjadi maka sama saja aku menyakiti Ibu dan Kakakku yang telah tiada, aku mencintai putri Ayah karena hatinya, bukan hanya karena fisiknya saja." Balas Dokter Reno panjang lebar.
Arin terharu mendengar ungkapan cinta dari Dokter Reno untuknya, pertamakali selama mereka kenal pria itu mengucap cinta dengan bibirnya.
"Terimakasih, sudah mencintai putri kami. Arin, berbakti pada suamimu, Nak ! Jika ada hal yang tidak kamu sukai darinya langsung bicarakan padanya jangan dipendam sendiri, itu akan menyebabkan kesalahpahaman yang berkepanjangan nanti." Tambah Ibu Arin.
"Aku mengerti, Bu. Aku pasti bahagia meski jalan dalam menapaki anak tangga kehidupan kami nanti ada kerikilnya. Aku yakin bersamanya bisa terlewati. Suamiku ! Aku mencintaimu." Ucap Arin tersenyum.
__ADS_1
Dokter Reno berjingkrak senang ungkapan cintanya beberapa saat lalu langsung dibayar oleh Arin. Orang tua Arin meninggalkan pelaminan karena akan memberikan kesempatan pada yang lainnya.
Endra dan Pingka mendekat. "Selamat, Ren, akhirnya hama pesona mu sudah dibunuh Arin. Jadi, tidak ada lagi tempatmu tebar pesona karena pisau bedah siap membelah mu jika melakukan itu." Ucap Endra seraya memeluk sahabatnya itu.
"Hama pesonaku bukannya mati, tapi mundur dengan teratur. Karena takut disuntik mati sama Dokter kandungan itu." Balas Dokter Reno tersenyum.
"Selamat atas pernikahanmu Arin, kita bukan hanya menjadi sahabat tapi menjadi saudara. Tetap seperti ini sampai kulit kita keriput." Pingka melepaskan pelukannya pada Arin setelah mengucapkan selamat.
Dia beralih pada Dokter Reno. Pria itu refleks melebarkan tangannya agar Pingka memeluknya.
"Aku tidak mau memelukmu!" Ucap Pingka tiba-tiba kesal.
Senyum Pingka merekah. "Baiklah aku akan memelukmu."
Dokter Reno tersenyum menang lalu melirik pada Endra yang terlihat kesal. Lihat aku bisa menaklukkan macan betina mu begitu arti tatapan Dokter Reno. Endra membawa Pingka menjauh untuk beristirahat karena Pingka mudah lelah.
Dimas dan Salsa ikut ambil bagian bersama Sandi dan Melan. "Masih ingat rumus cinta yang ku ajarkan ?" Dimas memeluk tubuh Dokter Reno tak lupa mengucapkan selamat.
"Aku mengingatnya." Dokter Reno membalas pelukan Dimas.
"Apa kau perlu refrensi?" Sandi bergantian memeluk Dokter Reno.
__ADS_1
"Tidak perlu, kamu pikir aku macan jantan itu?" Balas Dokter Reno berbisik di telinga Sandi.
"Aku yakin dia tak sebodoh itu, buktinya dia menghasilkan dua bayi." Kekeh Sandi.
Dokter Reno ikut tertawa. "Dia hanya berpura-pura polos di depan macan betinanya."
"Kalian membicarakan apa?" Tanya Melan.
"Tidak ada sayang, kamu tahu selama ini Pingka menyimpan dendam pada Reno. Itulah mengapa Pingka kadang marah padanya, Endra baru memberitahu kami kemarin jika dia marah pada Reno karena memakan buah jambu nya." Jelas Sandi mengalihkan dari topik pembicaraannya pada Dokter Reno.
Melan dan lain nya tertawa. "Jadi Kakak ipar menyimpan dendam berbulan-bulan."
"Kamu harus menepati janjimu sebelum dia menjambak mu nanti." Ucap Arin.
"Selamat Arin sekarang jadi istri semoga selalu bahagia." Ucap Salsa.
"Selamat Kak, semoga tidak makan gombalan Kak Reno tiap hari." Tambah Melan.
"Terimakasih ini kebahagiaan yang tak terukur nilainya." Balas Arin.
Pesta pernikahan Dokter Reno dan Arin berlangsung dengan lancar .
__ADS_1