Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Tetap salah ku


__ADS_3

Dimas melihat heran pada Endra yang terlihat begitu membenci Pingka. Laki-laki itu bisa menebak kalau Pingka adalah istri Endra yang dijodohkan dengannya. Dimas tersenyum, kenapa harus lelaki kasar ini menjadi suami wanita cantik itu?


"Masuk." Titah Endra fokus pada ponsel mengirim pesan untuk sang kekasih.


"Permisi, Pak" Rangga mengatur Nafas


"Ada apa Rangga ?" Endra Mengalihkan pandangan pada karyawannya itu.


"Maaf, Pak. Disini saya yang bersalah pada Pingka. Tapi kenapa Bapak memarahi nya berlebihan ? Sampai memukulnya dan sudut bibirnya berdarah !" Ungkap Rangga dengan nada kecewa.


"Berdarah?!" Pekik tiga laki-laki tampan itu bersamaan.


"Iya, saya permisi." Rangga meninggalkan ruangan Endra.


"Sandi cek Cctv-nya." Titah Endra.


Sandi segera bergerak dan mengarahkan ke laptop untuk dilihat bersama - sama.


...----------------...


"Ini dia wanita kasar ! Yang sok jagoan itu, kamu apakan tangan Kekasihku ?! Aku ingin melihat seberapa tangguhnya dirimu !" Dinda mantan kekasih Rangga menghadang langkah Pingka dan melayangkan sebuah tamparan keras.


Pipi mulus Pingka merah dan sudut bibirnya berdarah, tanpa perlawanan wanita itu menerima begitu saja tamparan dari Dinda. Karena masih teringat ucapan Endra mengatakan dirinya membuat kekacauan. Mantan kekasih Rangga ini meninggalkan Pingka dengan perasaan puas.


...----------------...


Wajah Sandi dan Dimas meringis saat melihat sudut bibir Pingka berdarah, Sandi mematikan rekaman itu dan keluar dari sana membawakan es batu dan kain.


"Untuk apa?" Dimas menghentikan langkah Sandi


"Memberikan pada Pingka." Jawab Sandi sambil melanjutkan langkah.


"Aku ikut, pipinya pasti perih." Dimas berdiri meninggalkan ruangan itu.


Endra masih diam ditempatnya duduk, tanpa melakukan apa pun sampai akhirnya, telpon dari sang kekasih membuyarkan lamunannya.


Ravita menatap iba pada Pingka lalu menyentuh bibirnya yang terluka


"Aaaa."


"Ini pasti sakit ?" Ravita bisa merasakannya


"Tidak masalah hanya sakit sebentar." Balas Pingka.


Dimas dan Sandi datang dan masuk keruangan Pingka sambil membawa es batu dan handuk.


"Pingka." Sandi berdiri di depan pintu ruangan.


Wanita itu menoleh ke asal suara. Mata Dimas dan Sandi menelusuri pipi merah Pingka


"Pipimu merah, ini bersihkan noda darah di bibirmu dan kompres pipimu." Sandi memberikan baskom kecil berisi es batu dan handuk.


"Terimakasih, Pak. Tapi dari mana Bapak tahu ?" Pingka bertanya dengan nada datar dan menerima baskom itu.


"Rangga ! Dia mengira Pak Endra yang memukulmu." Jelas Sandi.


Pingka terkejut. "Ini hanya salah paham jangan diperpanjang lagi semua salah saya."


"Kamu hanya membela diri saja, Rangga sudah menjelaskannya."  Dimas bersuara lalu meraih handuk kecil itu dan ingin mengompres pipi Pingka.


"Biarkan saya sendiri !" Wanita itu mengambil alih handuk kecilnya. Dimas sedikit kecewa Pingka menolak niat baiknya. "Saya tahu tempat dan diri saya, apa yang terjadi walau bukan salah saya. Akan tetap menjadi salah saya." Pingka menatap dingin ke depan.


"Baiklah kompres pipi dan sudut bibirmu."


Sandi dan Dimas kembali keruangan Endra membicarakan proyek baru.


...----------------...

__ADS_1


Dimas merasa kecewa pada Endra, walaupun dia tak menyukai Pingka setidaknya bersikap baiklah pada wanita yang berstatus istrinya itu, walau tidak ada cinta diantara mereka.


"Endra, aku kembali ke kantorku, sepertinya aku akan setiap hari kesini. Ada Mahakarya indah dan molek disini ! Siapa tahu dia bisa jatuh ke pelukkan ku suatu saat nanti." Dimas tersenyum penuh arti dan meninggalkan ruangan Endra.


Sandi tersenyum mendengarkan kata kata Dimas.


Kutunggu jatuh pada siapa pesona mu, gadis Desa.


Pingka kembali bekerja seperti biasa, sedikit pun kejadian tadi tidak merubah fokusnya dalam bekerja. Rangga datang lalu meminta maaf pada Pingka dan juga kepada Endra, karena sudah salah faham mengira bosnya menampar Pingka.


Ravita sesekali melirik memperhatikan Pingka. Tapi raut wajah cantik itu tak menunjukkan kesakitan atau kesedihan lagi.


"Ayo Pingka kita pulang."


Pingka mengangguk dan menyimpan file lalu mematikan komputer merapikan meja dan meraih tasnya. Pingka melangkah menuju halte bus seperti biasa dia pulang pergi menggunakan bus.


...****************...


"Wajahmu kenapa Nak Pingka ?" Bi Weni menyentuh lembut


"Tidak apa-apa, Bi. Aku baik - baik saja." Pingka menjawab dan memaksakan senyum


"Tunggu di kamar, Bibi akan mengambil kain kompres." Bi Weni masuk ke rumah utama.


Pingka mengangguk dan masuk ke kamar, dia meraih handuk kimono nya dan membersihkan diri. Bi weni menunggu Pingka di kamar mereka.


"Sini, Nak. Bibi kompres." Bi Weni menepuk sisi dipan. Pingka mendekat dan duduk di tepi Ranjang. "Apa sebenarnya terjadi ?" Tanya Bi Weni menempelkan handuk.


"Aku ditampar seseorang di kantor" Ucap Pingka meringis.


Bibi mengompres pipi Pingka dengan lembut selama sepuluh menit. "Istirahatlah." Ucapnya menyentuh pundak Pingka.


Pingka merebahkan tubuhnya, dia tidak berselera makan karena masih merasa sakit di sudut bibirnya. Kata demi kata dan sorot mata tajam penuh bara kebencian begitu membayanginya, Pingka menatap langit kamar yang kosong menerawang jauh, berharap setelah menghadapi dua kali kehilangan dalam kehidupannya dan hatinya berubah. Tapi ternyata Tuhan belum memberi ijin hati berselimut hitam itu berganti hamparan bunga bermekaran, mata cantik nya terpejam perlahan masuk kedalam dunia mimpi.


Saat sudah terlelap tiba - tiba masuk laki - laki tinggi kedalam kamarnya. "Hei wanita udik, bangun ! Ayo ke rumah utama, Ibuku sebentar lagi tiba." Endra berdiri di sisi Dipan.


Beberapa menit kemudian Pingka keluar dengan menggunakan pakaian rumahan rambut di kuncir panjang kebelakang kulit putihnya benar - benar bersih tanpa noda.


Endra kembali menetralkan dirinya dari rasa kagum, sejujurnya dia terpesona dengan kecantikan alami milik Pingka. Bahkan wanita udik disebutnya ini, dua kali lebih cantik dari kekasihnya. "Ayo ! Jangan bicara apapun !" Laki-laki itu kembali dingin.


Pingka hanya mengangguk dan mengekor di belakang Endra. Pingka memasuki rumah utama, di sana ibu Erly dan Melan sudah ada di ruang keluarga. Melan menatap kakak iparnya dengan penuh benci walau dalam hatinya mengagumi kecantikan Pingka.


"Kamu dari mana, Nak ?" Tanya Ibu Erly sambil menerima tangan menantunya saat menyalaminya.


"Dari belakang." Jawab Pingka memaksakan tersenyum.


"Kenapa bibirmu?"


"Ini tadi terjadi kesalahpahaman kecil bersama teman sekantor."


Ibu Erly mengangguk. "Nak, Ibu kesini ingin mengajakmu memasak. Kita makan bersama ya, semenjak kalian menikah kita tidak pernah makan bersama."


"Maaf, Bu. Aku tidak pandai memasak." Balas Pingka membuat alasan. Masih segar di ingatannya ucapan Endra waktu itu jangan sampai menyentuh barang - barangnya.


Endra menatap tajam pada Pingka. "Kamu ingin membuat Ibuku kecewa, memasaklah !" Bisiknya dengan nada mengancam.


Pingka menarik nafas. "Ayo, Bu. Kita ke dapur, aku akan belajar bersama Ibu." Ia tersenyum lembut.


"Benarkah ? Baiklah ayo, Nak !" Balas Ibu Erly senang.


Pingka dan Ibu Erly melangkah ke dapur dan mulai mengeluarkan bahan bahan di kulkas. Pingka sudah menggunakan apron berwarna pink di tubuhnya, dengan lincah dia mulai memotong bahan-bahan makanan tanpa banyak bicara.


Dari ruang keluarga, Endra curi - curi pandang pada Pingka, Ibu Erly tersenyum melihat menantunya yang suka menutupi kelebihannya.


Hampir satu jam, masakan Pingka sudah matang semua. Aromanya menyeruak manja ke dalam hidung, menggoda setiap orang yang menciumnya untuk mencicipi rasanya. Pingka menyajikan makanan serta perlengkapan makan lainnya.


"Ibu, sudah selesai. Makanlah ! Pak Endra, Melan. Silahkan." Ucap Pingka melepaskan apronnya.

__ADS_1


Endra dan Melan melangkah ke meja makan, walau berat rasanya ingin mencicipi. Tapi mau tidak mau kakak beradik itu duduk juga di sana demi ibu mereka.


"Pingka, ayo makan, Nak." Ucap Ibu Erly


"Maaf Bu, aku sudah kenyang. Kalian makanlah. Aku ke belakang sebentar, tadi ponselku ketinggalan di kamar Bi Weni."


Ibu Erly memasang wajah kecewanya. Tapi memaksa pun tak mungkin karena Pingka berkata sudah kenyang.


Endra perlahan memasukkan makanan ke mulutnya, matanya membulat menikmati masakan istrinya itu. Di awalnya jijik melihat masakan rumahan itu setelah tersentuh lidahnya, dia dengan lahapnya menghabiskan makanannya. Bahkan, masakan kekasihnya pun tak pernah ia cicipi.


Melan memuji masakan kakak iparnya walau menu rumahan. Tapi begitu lezat, dari awal memang sudah tidak menyukai nya, jadi gengsi untuk mengakui. Ibu Erly hanya tersenyum pada kedua anaknya. Beberapa menit kemudian Pingka kembali ke rumah utama.


"Kamu lama sekali, Nak."


"Iya, Bu. Tadi Bibi di kampung menelpon." Pingka membereskan kembali meja makan.


"Ada yang ibu ingin bicarakan pada kalian berdua." Ujar Ibu Erly.


Endra hanya mengangguk kini mereka menunggu Pingka di ruang keluarga. Beberapa saat kemudian wanita itu kembali bergabung.


"Duduklah, Nak." Titah Ibu Erly


Pingka menurut walau sebenarnya tak enak hati pada Endra.


"Ada apa, Bu ?" Endra bertanya sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Begini, Melan akan keluar kota selama satu minggu, dari pada ibu kesepian di rumah lebih baik Ibu  menginap disini"


"Terserah Ibu saja." Balas Endra datar dan menatap tajam pada Pingka.


Rencana apa lagi yang kamu mainkan wanita udik ?!


Pingka seakan menangkap sinyal ketidak-sukaan Endra padanya.


Pasti kamu berpikir aku yang meminta Ibumu menginap disini, tenanglah akan kubuat dengan sesuai kemauan mu


Ibu Erly menguap lalu berkata. "Pingka istirahatlah di kamarmu dan Endra jika lelah."


Jantung Endra tiba - tiba berdebar, bingung membuat alasan apa.


"Nanti saja, Bu. Aku masih belum mengantuk, Ibu saja yang beristirahat. Melan juga besok harus pergi pagi, 'kan?" Pingka beralasan.


"Jangan mengaturku, urus saja urusanmu !" Ucap Melan dengan nada membentak.


Pingka tak membalas lalu menatap datar adik iparnya yang sombong.


"Melan tidak boleh begitu, dia Kakak iparmu ! Baiklah Ibu istirahat dulu." Ibu Erly meninggalkan ruang keluarga.


Endra menarik nafas lega saat Ibunya sudah masuk kedalam kamar.


"Dengar ya wanita udik ! Sampai kapan pun, aku tidak pernah menerimamu menjadi bagian keluargaku. Hanya Kak Melisa yang pantas menjadi Kakak iparku." Ucap Melan berapi- api  dan masuk ke kamarnya.


Endra hanya tersenyum saat Melan menegaskan siapa yang pantas menjadi istrinya.


Pingka merasa sesak saat kakak beradik itu terangan terang menolaknya.


Aku tak perlu memaksa masuk di kehidupan kalian setidaknya hargailah aku


Pingka memang jarang tersenyum setelah Endra memusuhinya. Dia berdiri dan meninggalkan laki-laki itu sendiri di ruangan tengah.


"Tunggu ! Kamu dengarkan ? Adikku saja tahu yang mana yang pantas untukku. Jadi, jangan berharap pada pernikahan ini walau Ibuku baik padamu !"  Endra tersenyum sinis.


Pingka berpaling menatap lekat wajah Endra dan kembali menghadap kedepannya pulang ke rumah belakang tanpa menjawab.


...----------------...


Terimakasih sudah membaca jangan lupa dukungan nya terimakasih 🥰

__ADS_1


__ADS_2