
Fajar, Pingka dan Dimas telah tiba di Kota kecil dekat Desa mereka. Sebelum pulang ke sana, Pingka diperiksa terlebih dulu di rumah sakit kota. Dimas sedikit terkejut sudah ada beberapa orang menunggu di depan rumah sakit.
"Bagaimana keadaan, Pingka?" Arif mendekat dengan masih menggunakan seragam polisinya.
"Masih lemah."
"Tunggu disini, aku daftarkan lebih dulu di poli klinik." Kata Ferdi
Fajar mengangguk. "Bagaimana sudah dapat buktinya?"
"Sudah, sesuai rencana Kak Fajar, aku akan kerahkan anggota ku tapi sebelumnya kita selesaikan pengobatan Pingka dulu." Jawab Arif.
"Baiklah, kenalkan dia temannya Jingga." Fajar memperkenalkan Dimas.
Mereka menyebutkan nama dan saling bersalaman, dari jauh dengan langkah lebar seorang wanita cantik menuju ke arah mereka.
"Kak Fajar, bagaimana keadaan Pingka?" Salsa datang dengan nafas tersengal.
"Masih menunggu antri." Fajar menunjuk ke kursi yang diduduki Pingka bersama Ferdi
Dimas menatap tak percaya, berulang kali ia mengerjabkan matanya. Berharap penglihatannya ini tidak salah. Atau hanya salah mengenali.
"Salsa, kamu Salsa?" Dimas berbinar disertai senyum mengembang.
Salsa langsung menoleh ke arah suara. "Dimas." Gadis itu tersenyum lalu berhamburan memeluk Dimas. Tangisnya pecah di pelukan pria itu, begitu juga dengan Dimas matanya berkaca - kaca setelah menemukan teman masa kecilnya .
"Jadi, setelah kecelakaan yang menimpa Paman dan Bibi kamu pindah dari Kota ke Desa?" Dimas mengusap air mata Salsa
"Iya, aku ikut Nenek. Mereka semua teman-temanku." Salsa tersenyum. Ia masih tak menyangka bisa bertemu dengan teman masa kecilnya ini sekaligus tetangganya waktu masih di Kota.
"Maaf, aku terlambat menemukanmu." Dimas meraih Salsa kedalam pelukannya kembali.
Mereka saling berpelukan melepas rindu yang sudah bertahun-tahun terpendam. Fajar dan yang lain hanya menyaksikan penuh tanda tanya. Apa hubungan Dimas dan Salsa begitu pikir mereka ?
Selesai pengobatan Pingka, mereka kembali ke Desa, Ia minta dirawat jalan dan Fajar menyetujui, mereka semua berangkat dengan naik mobil milik Fajar yang dibawa Ferdi.
Dimas cepat akrab dengan teman-teman Pingka terlebih ada Salsa di sana . Pingka merasa senang melihat pertemuan Dimas dan Salsa. Ia berharap kebahagiaan Dimas terletak pada Salsa.
Setiba di rumah Bibi Halimah menyambut kedatangan Pingka dengan derai air mata. Fajar sudah menceritakan semuanya lewat telpon.
"Ibu jangan menangis, Jingga akan menangis lagi nanti." Fajar menenangkan Ibunya.
Ibu Halimah mengangguk lalu mempersilahkan Pingka istirahat dikamar.
__ADS_1
Salsa datang dari dapur membawa nampan berisi teh hangat dan Camilan untuk teman-temannya.
"Silahkan diminum." Gadis itu membagi gelas teh hangat yang ia bawa.
"Boleh aku minta tolong, temani aku jalan-jalan disini nanti diwaktu senggang." Seru Dimas sambil menyeruput teh miliknya.
"Tentu, kita juga ajak Pingka. Kami sudah tahu ceritanya. Jadi kita akan menemaninya melewati ini semua." Ucap Salsa dan disetujui teman-temannya.
Mereka semua memutuskan untuk beristirahat sejenak, sebelum melanjutkan rencana yang dimaksud Fajar.
...----------------...
Seorang wanita cantik penuh air mata memohon dan bersujud di kaki pria yang duduk di kursi, sementara pria lainnya berdiri dibelakangnya.
Pria ini melemparkan bukti kejahatan seorang putri di depan sepasang suami istri yang telah renta. Air mata mereka mengalir membasahi kulit pipinya yang keriput. Malu dan juga marah bercampur jadi satu. Mereka saling berpelukan menangis merasa gagal dan menatap penuh emosi kepada putri semata wayang mereka.
"Apa yang kamu lakukan, Rania?" Tanya sang Ibu dengan bahu bergetar menangis pilu.
"Ayah dan Ibu tidak pernah mendidik mu menjadi jahat pada seseorang, terlebih itu pada Pingka. Sampai hati kamu ingin membunuhnya !" Ucap sang Ayah dengan tatapan tajam.
Rania menangis tanpa henti menyesali perbuatannya. Karena cemburu Ia melakukan sesuatu yang rendah. "Maafkan aku, Ayah... Ibu." Hanya itu yang mampu keluar dari bibir manisnya.
Dimas masih menyaksikan permainan selanjutnya dimainkan Fajar, menghukum wanita itu dengan cara seperti apa.
"Maafkan kami Nak Fajar yang gagal mendidik putri kami." Ayah Rania menangis malu dan kecewa.
Rania semakin sedih tak mampu menatap kedua manik mata Ayah dan Ibunya.
"Paman, Bibi ! Aku ingin keadilan untuk Adikku. Bukankah Ini kejahatan terencana ? Berniat menghabisi nyawa seseorang." Fajar kembali duduk di kursinya.
Ayah dan Ibu Rania tak mampu berkata-kata hanya air mata yang mewakili perasaan mereka saat ini.
"Aku harap, Paman dan Bibi tidak terkejut, aku akan memberinya efek Jera. Ini bukti kejahatannya ! Ijinkan aku menjebloskannya ke penjara." Fajar menatap tajam pada Rania. Wanita itu tanpa bisa berbuat apa-apa lagi hanya menangis dan meminta maaf.
"Terserah padamu Nak Fajar, semoga setelah ini ia akan jadi lebih baik." Ibu Rania mencoba tegar.
"Rania, kamu tahu sebelum penusukkan itu. Jingga telah diceraikan suaminya, dia terpukul dan sakit hati. Dalam pernikahan mereka Jingga tidak diterima oleh suaminya karena mereka dijodohkan. Andai... waktu itu Jingga kalah dengan rasa sakitnya, maka dia akan terkubur dengan membawa luka hati dan luka tusukkan. Sakit mana antara kamu dan Jingga?" Fajar merasa sesak dan emosional. Sudut matanya tiba-tiba berair, ia pun tak mampu membayangkan jika pisau itu menembus jantung Pingka.
Rania tersentak tak menyangka jika Pingka sudah menikah. "Maafkan aku Kak Fajar, antar aku bertemu dengannya sebelum aku mempertanggung jawabkan perbuatan ku." Kata Rania tanpa ragu.
Fajar tersenyum tipis lalu memberikan isyarat pada Arif untuk membawanya bertemu Pingka lalu ke kantor polisi.
Dimas tersenyum, semudah itu Fajar menyadarkan Rania dari kesalahan.
__ADS_1
Tentu sangat mudah karena Rania bukan penjahat berkelas yang tak berperasaan dalam melumpuhkan musuh.
...----------------...
Pingka berbaring di ranjang kecil miliknya di dalam kamar, luka tusukkan itu masih terasa nyeri jika ia bergerak. Ia juga sudah mulai menerima perpisahannya dengan Endra. Saat ini Pinkga akan fokus untuk kesembuhan luka di tubuh dan hatinya. Pingka minta bantuan pada Salsa untuk mengantarnya keruang tengah dengan senang hati gadis itu membantunya.
"Kamu berhutang cerita padaku."
Salsa tersenyum. "Dimas adalah tetanggaku sewaktu di Kota, hubunganku dengannya sangat baik begitu juga orang tua kami. Setelah kepergian orang tuaku, Nenek datang menjemputku. Kepergian kami ke Desa tanpa sepengetahuan Dimas saat itu." Cerita Salsa dengan tatapan menerawang jauh.
"Kamu menyukainya?"
Salsa mengangguk lalu tersenyum malu. "Sejak dulu. Tapi dia menyukaimu, aku bisa melihat cara dia memperlakukanmu."
"Tapi aku tidak bisa menyukainya dan dia tahu itu, gantilah posisiku di hatinya. Aku melihat ada sesuatu di matanya untukmu, tapi ia belum menyadarinya. Aku yakin rasa sayangnya sebagai teman masa kecilmu akan berubah menjadi rasa sayang pada wanita dewasa suatu hari nanti. Sembuhkan luka yang aku torehkan di hati Dimas. Aku yakin perasaannya untukku bukan cinta tapi hanya rasa kagum." Pingka tersenyum tipis.
"Kita lihat nanti, jika ia menyukaiku maka aku akan memperjuangkannya" Ucap Salsa semangat.
Salsa sudah menyukai Dimas sejak mereka SMP, sempat terpisah lalu bertemu kembali. Lama berpisah tak menghilangkan rasa yang dimiliki Salsa karena dalam doanya selalu berharap bisa dipertemukan kembali.
Tengah berbincang-bincang, tiba-tiba ada seorang wanita duduk bersimpuh dihadapan Pingka dengan menyatukan kedua tangannya.
"Pingka ... Maafkan aku .... Maafkan semua kesalahan ku selama ini." Rania datang sambil berderai air mata. Pingka menjadi bingung kenapa Rania tiba-tiba meminta maaf. "Aku yang merencanakan penusukan padamu, maafkan aku." wanita itu semakin memohon.
Pingka terkejut sekaligus marah, Mata indahnya kembali mengeluarkan cairan bening.
"Pergilah ..." Ucapnya dingin .
"Pingka aku mohon." Sekali lagi Rania bersimpuh.
"PERGI !!" Teriak Pingka langsung meringis merasakan ngilu di dadanya.
Dimas mendekati Pingka lalu mengusap pundak wanita itu.
"Tenangkan dirimu."
Kamu selalu saja dewasa
Salsa tersenyum, Dimas jadi salah tingkah karena Salsa menatapnya.
Rania penuh kesedihan meninggalkan rumah Pingka begitu juga orang tuanya meminta maaf secara langsung pada Pingka dan keluarganya.
Seburuk itu kah citraku sebagai wanita? Sampai ada yang menginginkan kematian ku... Andai aku bisa memilih, aku pun ingin ikut bersama Ayah dan Ibu
__ADS_1
Pingka mengusap air matanya, merasa sesak atas pengakuan Rania