
Pingka seperti biasa bangun pagi dan menyiapkan segala keperluannya sebelum pergi ke rumah utama. Wanita itu mengendap masuk sebelum orang di sana bangun.
Pingka mengeluarkan bahan makanan untuk membuat sarapan pagi, dia memutuskan berperan sebagai menantu selama ibu Erly tinggal di sana. Sarapan yang dia buat semua telah siap di atas meja makan. Pingka meminta Bi Weni memanggilkan Ibu Erly dan Endra.
"Dimana Pingka ?" Tanya Ibu Erly saat duduk dimeja makan.
"Nak Pingka sudah pergi ke kantor, katanya takut terlambat." Jawab Bi Weni pamit kebelakang
"Apa kalian tidak berangkat bersama, En?" Tanya Ibu Erly menyelidiki.
"Dia tidak mau, Bu. Tidak ingin mencolok katanya." Jawab Endra seadanya.
"Memang menantu yang baik." Puji Ibu Erly lalu menyendok makanannya.
Endra tidak merespon ucapan ibunya dia buru- buru menghabiskan sarapannya dan berangkat ke kantor .
Dalam perjalanan Endra menelpon Sandi menanyakan jadwalnya, setelah mendapatkannya. Endra memutar arah untuk menemui kliennya pagi ini, Sandi sengaja tak menjemputnya atas perintah Endra sendiri. Dia tidak mau ibunya bertanya tentang Pingka.
Mobil Endra terparkir di depan Restoran ternama di kota itu, Sandi sudah menunggu setengah jam lalu di sana.
"Ayo kita mulai." Titah Endra. Sambil mengecek ponselnya kalau ada telpon dari kekasihnya.
Sandi mengangguk dan mulai pembicaraan tentang pekerjaan mereka, hampir satu jam mereka sudah menemukan kesepakatan.
"Apa wanita itu sudah di kantor ?" Tanya Endra datar lalu mengutak-atik ponselnya.
"Ya, sejak pagi sudah di sana. Jangan terlalu keras padanya, En ! Walau kamu tak menerima Pingka setidaknya perlakukan dia dengan baik." Sandi melirik dari kaca depannya menasehati dengan bahasa berbeda diluar kantor.
Endra mendengus kesal. "Kamu tahu, wanita tipe macam dia banyak berserakan dimana - mana. Mereka punya seribu macam cara untuk memikat pria kaya, berhati-hati padanya. Jangan sampai rasa simpatikmu itu menjadi bumerang untukmu sendiri." Endra sedikit emosi.
"Terserah padamu, aku hanya mengingatkan. Berkaca dari sudut pandangku, dia adalah wanita baik." Sandi membela dengan nada sedikit kecewa.
Endra hanya diam dan membuang tatapannya di luar jendela. Mobil itu memasuki halaman kantor, mata Endra melihat mobil yang terparkir sembarangan. "Untuk apa dia kesini lagi ? Bukannya urusan kemarin sudah selesai." Laki-laki arogan itu perlahan keluar dari dalam mobilnya.
Mereka masuk ke dalam dan melihat Dimas sudah duduk di bangku sekretaris yang kosong.
"Kenapa kamu datang lagi ? Apa urusan kita belum selesai ?" Endra menghentikan langkahnya dengan nada sedikit kesal.
"Hei jangan memasang wajah seperti itu, aku kesini hanya ingin menemui Pingka. Sayang sekali karya Tuhan yang begitu indah diabaikan, dia belum menikah, 'kan? Aku hanya ingin memberitahu jika Pingka menghilang dari kantormu, itu tandanya aku menculiknya." Ucap Dimas melenggang pergi.
"Rupanya tidak hanya ibu yang kau goda.Tapi Dimas juga jadi sasaranmu. Dasar wanita udik ! Mungkin urat malunya sudah terputus."
Endra berbicara sendiri sambil masuk ke dalam ruangannya, sementara Sandi memilih masuk kedalam pantri membuat kopi untuknya.
...----------------...
__ADS_1
Beberapa jam bekerja sampai sudah pada waktunya makan siang , Pingka menatap layar komputernya dengan penuh konsentrasi.
"Pingka."
Dimas tersenyum lebar di depan pintu dengan santai nya. Karyawan wanita bisik - bisik dengan yang lainnya atas kedatangan CEO tampan itu di sana.
"Iya, ada yang bisa saya bantu Pak Dimas?"
"Jangan formal padaku, kamu bukan karyawanku." Dimas melangkah masuk.
"Lalu... ?" Tanya Pingka masih ditempatnya berdiri, sementara Ravita sudah cenat - cenut sedari tadi laki - laki tampan itu tak jauh darinya duduk.
"Ayo makan siang ?" Dimas menatap lekat wajah Pingka dengan berdebar - debar.
"Maaf, Pak. Pekerjaan saya belum selesai." Pingka beralasan.
"Nanti lagi bekerja, jika kamu dipecat itu lebih baik. Kamu bisa bekerja di kantorku." Dimas kembali menetralkan dirinya dari rasa gugup
Pingka membulatkan matanya enteng sekali laki - laki ini mengucapkan kata - kata nya. "Baiklah, Tapi bersama Ravita juga. Atau... tidak sama sekali" Ucapnya memberi pilihan tanpa mau dibantah.
Dimas mengangguk lesu. "Baiklah." menjawab dengan nada yang lemah.
Pilihan tempat makan siang adalah kantin kantor. Dimas tak berniat jauh karena tidak bisa berdua dengan Gadis pedalaman itu.
"Entahlah, mungkin ingin merampok!" Jawab Pingka seadanya.
"Lalu... Kenapa kamu tidak jauh dari lokasi rumah Endra?" Dimas kembali bertanya dengan raut wajah menyelidik.
"Anda seperti detektif, Tuan ! Itu hanya kebetulan saja. Saya ada urusan di sana." Balas Pingka lalu menaruh sendok di piringnya.
Dimas terkekeh.
Pintar sekali kamu menyembunyikan segalanya Pingka
...****************...
Pingka mengendap masuk kebelakang, dengan cepat dia membersihkan diri sebelum ibu mertuanya itu melihatnya. Pingka segera masuk ke rumah utama dan membantu Bi Weni memasak.
"Pingka, kamu sudah pulang ?" Tanya Ibu Erly yang menghampiri ke dapur.
"Ah iya, Bu. Maaf aku tidak menyapa ibu terlebih dulu, keburu memasak." Pingka tersenyum tipis.
"Tidak apa - apa sayang, apa Endra juga sudah pulang ?" Ibu Erly kembali bertanya lalu duduk di salah satu kursi.
"Sepertinya sudah, hanya belum sampai. Masih ada sedikit pekerjaan di sana." Balas Pingka lalu mengaduk - ngaduk sayur di panci.
__ADS_1
Ibu Erly mengangguk mengerti dan beralih duduk di sofa depan televisi. Usai memasak, Pingka pamit kebelakang beralasan ingin menelpon Bibinya. Dia tahu sebentar lagi Endra akan tiba, Pingka hanya tak ingin menambah rasa benci Endra untuknya.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, Endra sudah kembali dari kantor. Bi Weni memanggilnya untuk makan malam, di sana juga sudah ada ibunya menunggu di meja makan.
"Dimana Pingka ?"
"Entahlah." Jawab Endra pendek seraya menarik kursinya dan duduk.
"Ibu tidak akan makan jika Pingka belum kesini." Ucap Ibu Erly.
Endra melepaskan sendok nasi dan melangkah kebelakang menjemput Pingka. Di sana Gadis itu sedang makan bersama para asisten rumah, dan juga bersenda gurau walau hanya tersirat senyum tipis melengkung di bibirnya. Tapi cukup menggambarkan jika suasana hatinya saat ini baik - baik saja.
"Kamu sangat cocok di sini." Endra muncul dari belakang hingga mengejutkan mereka semua.
"Maaf, Tuan. Kami tidak menyadari kedatangan anda." Ujar Bi Weni
"Teruskan makan kalian, kamu ikut ke rumah utama. Ibu tidak akan makan tanpa kamu" Ujar Endra datar.
Pingka mengangguk tanpa menjawab dan melewati Endra begitu saja. Sampai diruang makan senyum ibu Erly merekah.
"Ayo sayang kita makan sama - sama." Ujar Ibu Erly.
"Maaf, Bu. Aku sudah makan tadi sore, sekarang belum lapar." Ucap Pingka berbohong.
"Baiklah kalau begitu, temani ibu menonton saja nanti setelah makan." Ucap Ibu Erly.
...----------------...
Usai makan, sesuai janjinya Pingka menemani ibu Erly menonton televisi walau mengantuk. Tapi ia tahan, Endra yang baru menyelesaikan pekerjaannya ikut bergabung di ruang tengah.
"Ibu sudah mengantuk, ibu tidur lebih dulu." Ibu Erly beranjak pergi. Sengaja memberikan ruang untuk anak dan menantunya.
Setelah dipastikan mertuanya masuk ke kamar Pingka juga berdiri ingin pergi ke rumah belakang.
"Hebat ! Kamu bisa menaklukkan ibuku, bahkan Sandi dan Dimas pun ikut perduli padamu. Tidak cukupkah ? Kamu menjebakku dengan pernikahan konyol ini ?! Sungguh, aku muak melihatmu ! Andai aku bisa memilih, aku tidak ingin melihatmu berkeliaran disekitarku." Endra meluapkan rasa bencinya.
"Tunggulah beberapa hari lagi, setelah ibu pulang, saya tidak akan menginjakkan kaki disini. Semua ini saya lakukan hanya untuk ibu." Ucap Pingka dengan suara bergetar.
Apa salah ku? Hingga orang orang tidak menginginkan ku. Terlalu hinakah ? Orang sepertiku walau hanya berteman, bahkan suamiku sendiri menolak kehadiranku
Pingka mengusap air matanya sebelum memasuki kamarnya dan Bi Weni.
...----------------...
Terimakasih sudah membaca jangan lupa dukung selalu terimakasih 🥰
__ADS_1