
Satu minggu kemudian
Setelah perkenalan dan pertemuan Vina pada teman-teman Dokter Reno, wanita itu semakin ingin tahu tentang hidup seorang Endra Saguna. Beberapa kali ia bertanya pada kekasihnya, tapi hanya ditanggapi biasa dari Dokter Reno.
Endra sudah kembali sehat setelah istirahat di rumah selama 3 hari. Kini ia kembali beraktivitas seperti biasa. Hari ini mereka ada janji temu di restoran yang tak jauh dari rumah sakit. Empat pria tampan ini sudah duduk manis di kursi. Saat ini mereka bergabung dengan pengunjung lain, mata kaum wanita hari ini seperti mendapatkan asupan Vitamin yang menunda kerabunan mereka. Jarang-jarang empat pria ini berkumpul di tempat yang terbuka, entah apa yang mereka bahas mimik wajahnya begitu serius. Selesai pembicaraan penting itu mereka bersantai sejenak di tempat itu.
"Ren, apa kamu yakin Vina mencintai mu? Bukan mencintai uangmu?" Tanya Sandi.
Dokter Reno mengalihkan perhatian pada Sandi. "Apa ada alasannya kamu bicara seperti itu?" Bukan menjawab malah bertanya.
"Maaf sebelumnya, setelah aku perhatikan saat pertemuan waktu lalu di rumah Endra matanya selalu tertuju pada pria ini." Jawab Sandi.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku. Mungkin, dia kagum atau terkejut karena melihat macan jantan berbentuk manusia di depannya." Kekeh dokter Reno.
"Apa mungkin dia jatuh cinta padaku?" Goda Endra.
"Dengan senang hati kuberikan padamu dan imbalannya istrimu yang cantik itu untukku." Balas Dokter Reno tersenyum .
Endra berdecak kesal karena tak bisa membalas ucapan Dokter Reno.
"Ren, aku beri saran padamu. Sebelum kamu menjatuhkan pilihan dia sebagai pendamping hidupmu. Jangan cintai dia100% cukup beri dia 75 % saja dan 25% untukmu jika dia hanya mencintai uangmu saja. Kamu tidak kehabisan cinta dan tak merasa patah hati jika ditinggalkannya, tapi jika dia mencintai dirimu apa ada nya baru kamu berikan 100%." Kata Dimas.
Si pakar cinta sudah memberikan rumusnya, pada pemula yang jatuh cinta. Endra memicingkan matanya lalu mendekat ke kursi Dimas.
"Apa dulu kamu begitu?" Tanya Endra.
"Maksudmu?" Dimas tak mengerti.
"Saat kamu memiliki perasaan pada istriku !" Geram Endra.
Dimas terkekeh. "Tentu, karena aku tahu dia akan menolak karena memilih pria bodoh sepertimu dan ternyata rasa cintaku hanya bersifat sementara padanya. Karena itulah, aku tidak merasa patah hati jadi bisa jatuh cinta lagi dan perasaanku tak perlu diragukan karena aku mencintai istriku lebih dari 100%." Ujar Dimas tersenyum.
"Petuah yang bagus." Seru Sandi.
"Baiklah, terimakasih rumus persenan cinta yang kamu berikan." Ucap Dokter Reno.
Sebenarnya tanpa Dimas mengatakan itu pun, Dokter Reno sudah mengerti. Tapi hatinya berkeyakinan jika Vina wanita yang baik dan mencintainya apa adanya. Selesai pertemuan, empat pria ini kembali ke kantor masing-masing.
...----------------...
__ADS_1
Apartemen...
Selesai membersihkan diri Dokter Reno bersiap untuk bertemu sang kekasih. Perkataan teman-temannya siang tadi tak membekas sedikit pun di hatinya. Walau Dimas berkata dengan sungguh-sungguh. Pria itu tetap percaya jika kekasihnya adalah wanita yang dikirim Tuhan untuknya.
Ditemani alunan musik romantis Dokter Reno tersenyum ceria di dalam mobil. Malam ini tidak ada jadwal praktek. Jadi ia berniat untuk mengunjungi Vina. Beberapa menit kemudian mobilnya terparkir rapi di halaman rumah sederhana milik Vina. Dokter Reno mengetuk pintu beberapa kali.
"Hon." Vina membuka pintu.
Reno membalik badan dan tersenyum. "Kamu siap?" Ia melangkah mendekat.
"Tentu, kita akan kemana?" Vina tersenyum lembut.
"Kemana saja kamu mau?" Balas Dokter Reno.
Vina nampak berfikir. "Kita ke Mall aku ingin berbelanja sedikit"
"Boleh, ayo berangkat." Dokter Reno menggenggam lembut tangan Vina.
"Tunggu, pintunya belum di kunci." Vina menghentikan langkahnya.
"Benar juga, maaf aku lupa." Dokter Reno tersenyum.
Vina mengangguk lalu mengunci pintu, ia hanya tinggal sendiri di rumah itu karena orang tuanya tinggal di kota lain. Di pindah tugaskan makanya, ia ada di kota itu. Di tengah perjalanan Vina yang sangat penasaran dengan kehidupan Endra dan Pingka memberanikan diri bertanya.
"Bertanyalah."
"Dimana Pak Endra kenal dengan istrinya?"
"Kamu penasaran? Memang cerita kehidupan mereka kadang membuat orang iri. Mereka dijodohkan ! Waktu itu Endra menolak Pingka. Namun, pernikahan tetap terjadi. kebersamaan mereka membuat Pingka belajar mencintai suaminya, tapi tetap saja Endra tidak bisa menerima Pingka. Sampai akhirnya dia mundur dan Endra baru menyadari perasaannya setelah kehilangan istrinya. Ternyata memang mereka berjodoh sampai akhirnya Endra yang mengejar Pingka mati-matian, pria bodoh itu datang saat cinta Pingka sudah hilang untuknya. Jadi, dia berusaha membuat Pingka jatuh cinta lagi padanya." Jawab Dokter Reno .
Vina mengangguk rasa penasarannya terjawab setelah mendengar cerita dari pria di sisinya, dokter Reno sengaja mengurangi cerita yang sesungguh nya.
Mereka sampai di tempat tujuan, seperti rencana awal Vina belanja barang kebutuhannya, sebagai pria Reno yang membayarnya walau Vina menolak. Hal itu membuat pria itu semakin yakin jika Vina bersungguh-sungguh padanya.
...----------------...
Kediaman Erly Saguna...
Setelah makan malam keluarga ini berkumpul di ruang keluarga. Malam ini Endra dan Pingka menginap di sana karena sang Ibu tidak terlalu sehat. Ibu Erly memutuskan istirahat di kamar setelah berbincang sedikit pada anak menantunya. Begitu juga Endra dan Sandi mereka memilih melanjutkan bekerja di ruangan lain. Kini hanya ada Pingka dan Melan yang tersisa bersama Syila.
__ADS_1
"Kak, apa Kakak ipar menyukai kekasih Kak Reno?" Melan duduk di sisi Pingka.
"Suka, dia ramah dan sopan."
"Semoga mereka berjodoh." Balas Melan.
Keduanya larut dalam perbincangan seputar Reno dan Vina. Sebenarnya Melan tidak terlalu suka pada Vina, tapi karena Pingka mengatakan jika wanita itu ramah dan sopan. Melan mengubur perasaan tidak sukanya. Pingka mengetahui apa maksud Melan, tapi ia terlebih dulu membantahnya mengingat Melan juga pernah membencinya.
...----------------...
Pagi hari setelah sarapan Pingka minta di antarkan ke rumah Dimas karena merindukan sahabatnya Salsa. Endra mengetuk pintu rumah Dimas dengan malas karena bukan tipenya bisa bertamu ke rumah orang. Namun orang lain yang datang ke rumahnya, tapi demi istri ia harus melakukannya.
Asisten rumah tangga membuka pintu lalu mempersilahkan mereka masuk, sementara itu Dami masih setia menunggu di mobil.
"Ada apa membuat Tuan Muda datang kemari?" Ejek Dimas turun dari tangga.
"Aku tidak ingin bertemu denganmu, tapi istrimu." Balas Endra dengan wajah datarnya.
"Hei kenapa kamu mencari istriku? Ingat dia wanita bersuami."
"Bukan aku tapi istriku." Endra meralat kata-katanya.
Dimas terkekeh, tak lama Salsa turun dari kamar. Pingka menghampirinya dan menuntunnya dengan perlahan.
"Dimas, apa kamu tidak berfikir untuk pindah ke kamar kebawah ? Lihatlah istrimu hamil besar begini susah turun naik tangga." Kata Pingka memasang wajah garangnya.
Macan betina menunjukkan taringnya, lihat suaminya tersenyum senang mentertawakan raut wajah Dimas yang lucu.
"Kamu benar, nanti aku minta bantu pada Bibi memindahkan barang-barang seperlunya." Balas Dimas
"Seharusnya kamu ambil cuti mengingat Salsa sudah menunggu hari melahirkan, kita tidak tahu kapan dia akan kontraksi." Ujar Pingka mirip seperti ibu mertua pada menantunya.
Dua pria ini dapat pencerahan pagi-pagi. Endra tertegun baik sekali istrinya ini sampai memikirkan kondisi orang lain.
"Pingka, aku masih kuat. Nanti jika aku sakit perut aku bisa menelpon Dimas." Ujar Salsa tertawa geli melihat ekspresi Pingka.
"Pingka benar sayang, Baiklah besok aku akan bekerja dari rumah." Dimas membenarkan ucapan Pingka.
Setelah mendapat salam hangat pagi hari. Dimas dan Endra pergi ke kantor, sementara Pingka tinggal di rumah Dimas melepas rindu pada Sahabatnya. Pingka sengaja datang siang ke toko rotinya hanya untuk mengunjungi Salsa. Tanpa ia tahu kedatangannya di toko sudah ditunggu seseorang sejak lama.
__ADS_1
Siapa ya yang nunggu Pingka?
Terimakasih sudah membaca 🥰