
Lima hari berlalu ..
Setelah acara pernikahan Endra dan Pingka. Hari ini mereka akan terbang ke kota P. Sesuai rencana awal jika Pingka mengikuti kemana saja Endra pergi membawanya. Meski sedih dan berat hati tapi Fajar dan bibi Halimah harus bisa melepaskan Pingka demi kebahagiaan yang sempat tertunda.
Pingka sudah menyerahkan toko roti miliknya untuk dikelola pada Bibi Halimah dibantu oleh Ferdy. Endra akan mengajak istrinya untuk bulan madu, mereka akan tinggal beberapa hari di kediaman Ibu Erly. Dimas dan Salsa sudah terlebih dulu pulang bersama Dokter Reno dan yang lainnya, karena kondisi Salsa yang hamil muda Dimas ingin fokus pada istrinya.
Endra sengaja merahasiakan tempat bulan madu yang akan dikunjungi mereka. Mendengar bisik - bisik tetangga Dokter Reno ingin ikut. Dipikir secara sadar untuk apa pria itu ikut? Hanya Dokter Reno yang tahu .
Sebelum pergi Endra dan Pingka sudah mengunjungi makam kedua orang tuanya di Desa.
...----------------...
Bandara
Pingka memeluk anggota keluarganya satu persatu. Tidak ada tangisan di sana, jika rindu Pingka akan pulang ke kota S .
"Jaga dirimu, Jingga." Fajar memeluk dan mencium pucuk kepala Adiknya.
"Jangan lama - lama." Endra sudah menahan rasa cemburu sejak tadi. Entahlah pria ini selalu merasa cemburu jika orang lain mendekati istrinya apa lagi tanpa ijinnya.
Fajar tak menggubrisnya, ia seperti sengaja berlama - lama memeluk Pingka sambil tersenyum sinis pada Endra.
Satu jam di ruangan tunggu akhirnya mereka masuk kedalam Pesawat. Semakin tinggi terbang maka semakin kecil kota itu terlihat.
Endra melihat ke bawah dari kaca jendela .
"Terimakasih kota S sudah menjadi tempat pertemuanku dengan istri kesayanganku." Endra mengecup pipi kanan Pingka.
"Kenapa ?"
"Tidak apa- apa sayang, aku hanya bersyukur di kota ini kita pertemukan." Endra menjatuhkan kepalanya di pundak Pingka.
Pingka tersenyum lembut. "Jangan tidur kita hanya terbang tiga puluh menit."
"Kamu benar, harusnya tadi kita jalan darat saja walau 5 jam tapi tidak terasa jika bersama mu."
"Dari mana kamu dapat kata-kata manis seperti itu?" Pingka mengambil majalah yang tersimpan di belakang kursi penumpang di hadapannya.
Endra hanya terkekeh lalu memejamkan matanya sejenak. Pingka belum tahu saja suaminya itu punya penyakit lebay seperti Dokter Reno hanya saja tak terlihat.
Selama ini Endra bersikap datar dan dingin pada orang lain tapi jika sudah bersama orang terdekatnya. Ia bisa bersikap hangat dan rasa cemburu yang berlebihan itu didapatnya setelah bertemu Pingka.
...----------------...
Dami asisten tetap Endra, memarkirkan mobil tepat di depan pintu utama. Ibu Erly dan Melan berdiri menyambut kedatangan anak menantunya.
"Ayo, Nak ! Kita masuk kamu pasti lelah." Ibu Erly menggandeng lengan menantunya.
"Tidak, Bu. Perjalanannya hanya sebentar."
"Kakak ipar, kamar Kak Endra masih seperti yang dulu. Kakak bisa beristirahat di sana." Kata Melan sambil duduk.
"Iya, sini baby Syila." Pingka mengambil anak manis itu dari pangkuan Melan.
Endra baru masuk setelah menerima telpon. Laki-laki ini langsung duduk di sofa dan bersandar di bahu istrinya.
"Kalian sudah sampai?" Sandi turun dari anak tangga.
"Iya Pak Sandi." jawab Pingka .
"Hei sampai kapan kamu memanggilku begitu? Panggil namaku saja." Sandi tersenyum.
"Baiklah"
"Duduk yang benar, En ! Apa kamu tidak kasian istrimu juga lelah?" Kata Sandi.
Endra menegakkan duduknya. "Aku masih merindukannya." Ia menjawab dengan wajah terlewat santai.
Dami selesai membawa koper dan barang lain nya masuk, ia juga ikut pindah ke kota ini bersama Endra. Setelah berbincang pendek Endra dan Pingka memutuskan beristirahat sebentar.
__ADS_1
"Sayang, ayo ke kamar." Endra menarik tangan Pingka.
Pingka menurut tak lupa berpamitan pada yang lain. Di kamar mereka merapikan barang bawaan sampai selesai, merasa lengket Pingka ingin membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
"Sayang aku ikut." Endra gerak cepat menyusul Pingka.
"Bergantian saja." Pingka ingin menutup pintu.
"Tidak mau." Pria itu memaksa.
"Ayo masuk." Pingka membuka pintu dengan lebar.
Endra tersenyum senang, tanpa mengganggu istrinya. Laki-laki itu mandi dengan benar. Selesai mandi keduanya beristirahat di atas kasur.
"Sayang sini aku mau di peluk kamu" Endra berkata dengan manja.
Pingka menggeser tubuhnya mendekat lalu membiarkan suaminya itu menyusupkan kepala di dadanya.
"Kenapa kamu manja begini." Pingka mulai memejamkan mata Ingin tidur.
"Aku suka aroma tubuhmu. Semenjak menikah, aku kecanduan sentuhanmu sayang. Kamu tahu ? Jika aku disentuh olehmu, tubuhku seperti terkena sengatan yang membuatku segar dan bugar. Sepertinya itu menjadi kebutuhan pokok." Tangan Endra tiba-tiba usil menyentuh gundukan yang ada di depan matanya.
"Gugu ! Apa yang kamu lakukan, ayo tidur siang aku mengantuk." Ucap Pingka tanpa membuka mata.
"Jibi, sebelum kamu melahirkan anakku, ini milikku lalu jika kita memiliki bayi nanti ini akan jadi miliknya." Racau Endra sambil menoel - noel benda padat dan besar hampir melebih genggamannya itu.
Saking mengantuknya, Pingka hanya membiarkan begitu saja tangan nakal itu menggangunya. Puas berceloteh akhirnya pria itu terlelap sendiri setelah merubah posisi dengan memeluk istrinya yang sudah terlelap.
...----------------...
Tanpa terasa jika waktu sudah menunjukkan jam 3 sore. Pingka bangun perlahan lalu mencuci wajahnya, tak lama ikut bergabung di ruang keluarga.
Melan dan Sandi tengah bermain bersama Syila, hari ini Sandi pulang cepat karena permintaan Ibu Erly. Pria itu tidak lagi menjadi asisten Endra setelah menikah, tapi memimpin sebuah perusahaan milik ayahnya dengan menggabungkan anak cabang milik keluarga Saguna. Wanita paruh baya ini ingin mengadakan makan bersama untuk menyambut kedatangan putra dan menantunya.
"Ibu kemana?" Pingka mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Aku akan menyusul Ibu" Pingka berdiri ingin melangkah.
Tapi bajunya ditarik baby Syila, Pingka berbalik lalu menggendong bayi itu membawanya kebelakang. Pingka berbincang bersama Ibu Erly di belakang sambil menikmati secangkir teh dan roti.
"Nak, kalian ingin bulan madu ke mana?" Ibu Erly membuang daun tanaman yang mulai mengering.
"Terserah Endra saja, Bu." Jawab Pingka sambil menyuapi roti ke mulut Syila.
Mereka berbincang cukup lama di sana, sampai ada seseorang dengan wajah cemberutnya melingkarkan tangan di perut tipis Pingka.
"Sayang, kenapa aku di tinggalkan?" Endra membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
"Kamu masih nyenyak tadi, aku tidak tega membangunkan mu." Pingka mengelus sayang pipi pria itu.
Endra duduk disalah satu kursi lalu menyeruput teh milik Pingka dan bercanda dengan Syila. Waktu berlalu begitu cepat hingga malam tiba menjemput senja.
...----------------...
Endra dan Pingka selesai membersihkan diri. Terdengar dari luar pintu kamar diketuk saat keduanya sedang berbincang. Pingka membuka pintu
"Makan malam sudah siap, Nak." Ucap Bi Lia .
"Baik, Bi ! Kami akan turun."
Lima menit kemudian dua insan itu turun ke lantai bawah. Mata Endra hampir melotot melihat seorang pria dengan santainya memegang ponsel duduk di kursi meja makan.
"Kenapa manusia langka itu ada disini?" Endra menghentikan langkahnya.
Pingka tersenyum. "Ayo ke sana ! Mungkin, ibu yang mengundang mereka."
Endra melangkah bersama menuju meja makan. Di sana ada Dimas dan Salsa lalu Dokter Reno.
"Selamat malam semuanya." Sapa Pingka tersenyum.
__ADS_1
"Selamat malam."
"Pingka , bagaimana kabarmu?" Sapa Dokter Reno.
"Sangat baik Dokter Reno."
"Pingka jangan memanggilku Dokter Reno, panggil saja namaku. Jika kamu mau boleh panggil aku, cinta, sayang, kekasihku. Atau... Apapun menurutmu bagus." Goda Dokter Reno.
Endra menatap tajam. "Apa maksudmu ? Siapa kamu sampai istriku harus memanggil seperti itu !" Ia menggeser kursi tempatnya duduk lebih dekat dengan Pingka.
Dokter tampan itu berdiri. "Kamu belum mengenalku ?! Ehm ! Perkenalkan namaku Reno Andriawan. Seorang dokter umum yang tampan dan mempesona di mata kaum hawa." Ucapnya dengan bibir tersenyum semanis madu.
Endra, Sandi dan Dimas reflek menutup mata istri mereka masing-masing. Takut terpesona dengan senyum khas milik dokter Reno. Tiga pria itu mengakui jika sahabatnya yang satu ini nilai plusnya terletak di senyumnya.
Dokter Reno terbahak. "Apa kalian takut ? Jika tiga wanita ini bertekuk lutut padaku." Ia tersenyum meremehkan.
"Tidak."
"Ayo kita makan dulu ! Nanti lanjut lagi bercandanya." Ibu Erly duduk disalah satu kursi.
"Bibi dalam rangka apa mengundang kami." Salsa mengambil makanan untuk Dimas.
"Bibi hanya ingin makan malam bersama kalian dan juga untuk menyambut menantuku." Balas Ibu Erly.
"Terimakasih, Bu." ucap Pingka lalu mengambil makanan untuk Endra.
"Tidak perlu berterima kasih, Nak ! Ini kewajiban Ibu menjamu kalian yang baru datang." Ibu Erly tersenyum hangat.
Melan juga berdiri mengambil makan untuk Sandi. Dokter Reno hanya diam menyaksikan pemandangan di depan matanya tanpa berniat bergerak mengambil makanannya sendiri.
"Ayo makan, Nak !" Ibu Erly melihat pada Dokter Reno.
"Iya Bibi, tapi siapa yang mengambilkan untukku ?" Dokter Reno memasang wajah iba di iringi tawa yang lain.
Pingka meraih satu piring lalu mengambilkan makanan. "Ayo makan." Ucapnya memberikan piring berisi makanan untuk Dokter Reno.
Dokter itu tersenyum senang
"Terimakasih, cinta."
"Kamu ingin membunuhku !" mata Endra menajam.
Pingka memberikan segelas air putih pada suaminya dan mengusap punggungnya pelan karena tersedak.
"Kamu saja makan tidak hati-hati."
"Kenapa kamu menyebut istriku seperti itu ?!" Raut wajah Endra mulai kesal.
"Itu panggilan sayangku untuknya"
"Tidak boleh ! Hanya aku yang memiliki panggilan sayang padanya." Endra menyuap kembali makanannya.
Ibu Erly dan yang lain hanya tersenyum sambil makan melihat keduanya yang jarang akur.
Dokter Reno melihat pada Endra.
"Kamu iri ? Baiklah mulai sekarang aku panggil kamu baby."
Dimas dan Sandi ikut tersedak, segera istri mereka memberikan segelas air putih.
"Reno sialan !!" Desis kedua pria itu.
Dokter Reno terkekeh menang, ia meletakkan sendok lalu mengikuti Bibi Erly yang lebih dulu meninggalkan meja makan.
"Ayo para kesayanganku, kita tinggal pria -pria lemah ini." Ucap Dokter Reno. Menarik tangan tiga istri sahabatnya itu.
"Kenapa ada makhluk seperti dia di muka bumi ini." Geram Sandi.
Dimas juga tak kalah kesalnya saat menikmati makan malam tiba-tiba tersedak karena ulah Dokter itu. Mereka meneruskan makannya lalu membiarkan Dokter itu berbincang hangat pada Ibu Erly dan istri mereka.
__ADS_1