Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Hendri Lagi


__ADS_3

Malam itu Hendri mondar mandir di depan rumahnya, pertemuannya pada Pingka sore tadi membuatnya begitu tidak tenang. Sakit dan tidak adil itu yang dirasakannya. Beberapa kali dia menjernihkan pikirannya tapi tetap saja tidak bisa, bayangan wajah Pingka selalu datang menggodanya.


"Pingka salahkah aku masih berharap ? Salahkah jika aku berjuang sekali lagi ? Aku tahu ini terlambat. Tapi aku masih belum bisa merelakan kamu bahagia bersama pria lain. Kebahagiaanmu ada padaku Pingka, aku merindukanmu, rindu dengan kebersamaan kita dulu." Gumam Hendri.


Kemudian dia tersadar jika Pingka saat ini tengah hamil anak Endra. Manusia macam apa dia tega merebut kebahagian bayi yang belum terlahir itu ? Lelah berpikir akhirnya Hendri merebahkan tubuhnya di atas kasur, perlahan tapi pasti matanya tertutup untuk tidur.


...----------------...


Di rumah Bibi Halimah, Endra sangat gelisah setelah pertemuan mereka pada Hendri beberapa jam lalu. Dia dapat melihat ada cinta dan pengharapan yang besar di mata Hendri lalu terselip luka yang dalam juga di sana.


Perasaanku tidak enak


Endra menatap dalam wajah istrinya yang mulai terlelap. Pergerakkan tubuhnya diatas kasur membuat Pingka terbangun.


"Sayang kamu kenapa? Ada yang sakit ? Atau... Kamu lapar?" Pingka bertanya sambil bangun untuk duduk.


"Jibi, aku takut jika terjadi sesuatu padamu. Aku mencintaimu." Endra menarik istrinya itu ke dalam pelukannya


"Sayang, tidak perlu cemas. Aku baik-baik saja, di sini juga ada Dokter Reno dan Arin, sudahlah ayo tidur." Pingka menenangkan Endra yang terlihat cemas.


Endra mengangguk lalu berbaring dan melingkarkan tangannya ke perut Pingka.


Ayah tidak membiarkan kalian atau ibumu disentuh orang lain


...----------------...


Pingka terbangun saat jam 05.00 pagi. Dia berniat untuk jalan pagi menyusuri sekitar pedesaan. Ditatapnya lama wajah suaminya yang masih damai dalam tidurnya.


Pingka turun dari atas dipan lalu ke kamar mandi. Di dapur, Bibi Halimah dan Mayang sudah bangun merebus air untuk membuat kopi dan teh.


"Kamu sudah bangun, Nak."


"Iya Bi, aku ingin jalan-jalan pagi" Balas Pingka.


Dibalas anggukan oleh Bibi Halimah. Beberapa menit kemudian ia kembali ke kamar setelah berbincang sedikit pada Mayang dan Arin.


"Kamu dari mana, sayang?" Suara Endra mengejutkan Pingka.


"Kamu sudah bangun? Aku habis dari kamar mandi, Gugu... Aku ingin jalan-jalan sebentar, kamu ikut?"


"Tunggu sebentar aku ke kamar mandi." Pria itu bergegas ke kamar mandi setelah itu menyeruput kopi hitam yang telah dibuatkan istrinya. "Ayo sayang." Endra mengapit tangan Pingka .


Mereka berdua meninggalkan halaman rumah Bibi Halimah, berjalan santai sambil bercerita menghirup udara segar khas pedesaan. Hanya beberapa tetangga yang bangun itu pun jarang-jarang karena masih jam 5 pagi.


Endra tak melepaskan genggamannya dari tangan Pingka. Langkah mereka berhenti pada sesuatu yang mencuri perhatian. Endra memposisikan tubuhnya di belakang Pingka lalu memeluknya dari belakang. Puas melihat apa yang membuat mereka berhenti, langkah dilanjutkan lagi menuju sungai yang kini menjelma menjadi danau.


"Ahhh." Ringis Endra menyentuh pundaknya yang nyeri. Dia merasakan hantaman keras di pundaknya, penglihatannya buram dan jatuh ke tanah.


"Sayang ! Bangun, kamu kenapa ?" Pingka panik membangunkan Endra yang tergeletak di tanah.


"Dia hanya Pingsan."

__ADS_1


Pingka mengangkat wajahnya lalu melihat kearah suara. "Kamu !" Ucapnya datar.


"Maafkan aku Pingka, aku tidak bermaksud menyakitinya. Aku hanya ingin kamu ikut denganku. Hidup bersamaku." Pria itu adalah Hendri yang mengawasi pasangan suami istri itu saat keluar dari rumah beberapa menit lalu.


"Tapi kamu sudah menyakitiku dengan cara memukul suamiku."


"Ayo Pingka kita pergi dari sini." Hendri menarik tangan Pingka.


"Lepaskan !" Pingka menarik tangannya. Ia kembali duduk mencoba membangunkan Endra. "Sayang bangun." Panggilnya menepuk pelan pipi Endra.


Hendri memanas langsung menyeret Pingka dari tempat itu. "IKUT AKU !" Bentaknya keras.


"LEPASKAN AKU HENDRI !!" Teriak Pingka meronta. Hendri tak mendengarkan teriakannya. Laki-laki itu masih saja menarik tangan Pingka tanpa peduli ia hamil. "LEPASKAN !!" Wanita hamil ini sekuat tenaga mengibaskan tangannya. Jika tidak dalam kondisi hamil Pingka sudah bisa melumpuhkan Hendri


Pria itu terhenti, matanya menatap tajam pada Pingka. "Ikut dengan ku ! Kebahagiaanmu ada bersamaku. Tinggalkan pria itu dan bayi dalam kandungan mu akan tetap memiliki Ayah. Aku akan menjadi Ayahnya"


Pingka melihat sekitar tapi tak ada satu orang pun yang lewat, di lihatnya Endra kebelakang masih saja tergeletak.


"Ayo." Hendri menarik tangan Pingka.


"Lepaskan ! Sebelum kesabaran ku habis." Balas Pingka dingin.


Hendri tertawa. "Kamu bisa apa ? Dalam kondisi seperti ini ! Sudahlah ikut saja dengan ku, kamu masih mencintai ku, Pingka"


Tubuh Hendri terhuyung ke depan. Laki-laki itu terkejut tiba-tiba mendapatkan serangan mendadak. Tendangan itu tepat pundaknya.


"Jauhi  Pingka !" Dokter Reno tersenyum sinis.


Pingka mundur kebelakang lalu melangkah pelan untuk kembali pada Endra yang mulai membuka mata nya perlahan.


"Sayang bangun" Pingka membantu Endra duduk.


Cukup lama Endra menguasai diri nya lalu menatap wajah istrinya.


"Kamu terluka ? Ada yang sakit ? katakan !" Endra tiba-tiba panik.


Pingka menggeleng dan tersenyum.


"Aku baik-baik saja , aku bisa mengulur waktu." Matanya beralih pada dokter Reno dan Hendri.


Hendri menyerang dokter Reno tapi siapa sangka pria kocak itu pandai bela diri. Sebelum tinju Hendri mendarat di wajah tampannya, Dokter Reno sudah menangkisnya hingga Hendri terjerembab ketanah.


"Ini karena kamu sudah memukul ku" Endra menindih tubuh Hendri  ketanah. Ia langsung bangkit dari posisi setelah menyadari pelaku yang membuat pingsan adalah Hendri. "Ini karena kamu menyentuh kulit istriku" Endra kembali memukul Hendri.


Para warga berdatangan di sana lalu memisahkan mereka.


Dokter Reno berdecak kesal. "Ah tidak seru ! Kenapa harus dipisah ? Pertunjukkan nya belum habis." menggerutu pelan.


"Tenang, Pak. Kita selesaikan di kantor desa, maaf keterlambatan saya." Dami datang menenangkan tuan nya.


"Benar, pak. Ayo kita ke balai desa !" Ajak salah satu warga.

__ADS_1


Endra mengangguk lalu menarik istri nya ke dalam pelukannya. "Kamu tidak apa-apa, sayang?" Ia Mengecup pucuk kepala Pingka.


"Aku tidak apa-apa, ayo kita ke balai Desa"


"Kamu pulanglah bersama Reno, minta Arin memeriksa kandungan mu atau ke kota saja. Kita pergi ke rumah sakit pakai Helikopter biar cepat sampai." Ucap Endra cemas.


"Sayang, aku tidak apa-apa" Pingka meyakinkan.


Hendri tersenyum tipis. Begitu besar cinta Endra pikirnya. Mereka semua pergi ke balai desa. Dokter Reno dan Pingka juga hadir di sana karena mereka juga perlu bersaksi atas kejadian sebenarnya. Tapi Hendri tetap tak mau mengalah, ia menuduh Endra dan dokter Reno mengeroyoknya. Namun siapa sangka tuduhannya itu dipatahkan oleh seorang saksi yang melihat kejadian dari awal. Dia bersembunyi karena merasa takut. Melihat Endra dan dokter Reno disudutkan, ia memantapkan dirinya untuk bersaksi.


Tamparan mendarat di wajah Hendri dari sang ayah. "Ayah malu Hendri ! Nak Endra dan Nak Dokter maafkan putraku yang mengganggu kalian, terutama padamu Pingka. Maafkan dia. Saya tidak akan melarang kalian jika ingin menuntutnya." ucap nya sedih


"Saya akan menuntutnya, dia sudah melakukan tindakan kekerasan pada saya dan hampir mencelakai istri dan calon anak saya. Dam, kamu urus masalah ini ! saya tidak akan ambil resiko atas keselamatan Pingka" Ucap Endra tegas.


Hendri tersenyum palsu ada kehampaan dan keputus-asaan terselip di sana. Pingka tak bisa merubah keputusan suami nya itu. Tapi ia bisa memberikan semangat untuk Hendri. Mereka semua membubarkan diri dari sana, Fajar yang baru tahu kabarnya langsung mencerca pertanyaan saat sampai di balai desa.


Hendri di kawal oleh Dami dan aparat Desa untuk ke kantor polisi, mata nya menatap sendu pada Pingka dari kejauhan. Merasa diperhatikan Pingka menghentikan langkah nya.


"Ada apa, sayang?" Endra juga berhenti.


"Gugu... Boleh aku bicara pada Hendri sebentar?"


"Tidak boleh ! Dia pasti menyakiti mu lagi jika terlalu dekat" Balas Endra


" Ini yang terakhir " Mohon Pingka.


Endra menghembuskan nafasnya kasar. "Baiklah, tapi aku mengawasi dari sini."


Pingka mengangguk lalu melangkah pada Hendri yang sedikit jauh. Pria itu menundukkan kepala nya melihat kaki Pingka melangkah kearah nya. Dami memberikan ruang untuk Pingka dan Hendri begitu juga dengan dua aparat Desa.


Pingka melayangkan tangan nya ke wajah Hendri. Hingga menyisakan merah dan perih. Endra dan yang lain nya terkejut melihat Pingka memukul Hendri.


"Aku kecewa padamu, dulu aku pikir kita bisa berteman. Nyata nya tidak ! Setelah pembebasan Rania, kamu dengan lancangnya mempertanyakan keputusan ku" Ujar Pingka.


Hendri hanya diam membisu terbesit sesal dalam hatinya, jika ia tak egois setidak nya saat ini ia bisa berteman baik dengan Pingka. Walau tak bisa memiliki nya dan penyesalan itu terlambat Pingka telah jauh dan sangat menjauhinya.


"Maaf" Hanya itu yang keluar dari mulut Hendri. Ia tak mampu melihat wajah Pingka.


"Apa kamu bahagia setelah kejadian ini ?" Tanya Pingka. Hendri menggeleng lemah. "Lihat aku !" Hendri perlahan mengangkat wajah nya dan memberanikan diri melihat wajah wanita dihadapan nya itu. "Aku tidak bisa membantu mu dari jeratan hukum. Tapi aku bisa memberikan mu semangat, perbaiki diri mu di dalam sana. Jadilah, Hendri yang baru lebih dewasa dan lapang dada. Tinggalkan ! Hendri lama yang tidak dewasa dan tidak penyabar." Sambung Pingka lagi.


Hendri mengangguk ada cairan bening meleleh di pipi nya. "Aku berjanji ! aku akan memperbaiki diriku, tapi berjanjilah padaku jangan membenci ku karena aku tidak sanggup" Suara nya bergetar menahan tangis.


"Aku tidak bisa membenci mu, Hen. Kamu dan Rania ada di tempat yang khusus di hatiku, kamu tahu aku yang terluka disini. Hanya karena aku, kamu dan Rania merasakan hidup dibalik jeruji besi. Seburuk itukah aku sampai jadi penyebab kehancuran kamu dan dia?" Air mata Pingka lolos begitu saja.


"Tidak, jangan bicara seperti itu, kamu yang terbaik Pingka, kami yang egois menempatkan mu di posisi seperti itu. Aku minta maaf... Aku berjanji ! Aku akan hidup lebih baik lagi" Hendri menangkup wajah Pingka dengan telapak tangan nya.


Pingka mengangguk mengusap air mata nya lalu merentangkan tangannya meminta Hendri memeluk nya sejenak. Pria itu tersenyum dalam tangis nya membalas pelukan Pingka.


Keduanya larut dalam air mata hingga menciptakan suasana haru untuk yang lainnya, sampai Endra pun ikut berkaca-kaca, rasa cemburu yang biasa nya menggebu lenyap begitu saja.


"Aku pergi " Hendri melepaskan pelukannya lalu masuk kedalam mobil yang akan membawa nya ke kantor polisi.

__ADS_1


__ADS_2