Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Dekat tak bersentuh


__ADS_3

🌷Selamat Membaca 🌷


Sudah satu bulan di kota yang baru Endra cepat mengenal lingkungannya. Ditemani Dami asistennya yang memang asli orang kota tersebut. Tiap pagi Endra di jemput dan diantar Dami berangkat ke kantor. Hari ini kediaman Endra cukup ramai karena kedatangan Melan dan Ibu Erly.


"Kak besok libur, ajak aku dan Ibu keliling kota ini."


"Hm, bersiaplah besok." Endra bicara sambil menyeka mulutnya dengan tissue.


Ia langsung berpamitan pada ibunya untuk pergi ke kantor bersama Dami. Ibu Erly menatap sendu pada putranya yang tak banyak bicara seperti dulu.


Kehancuran putraku berasal dariku.


Ibu Erly sangat menyesal atas semua yang sudah terjadi. Butiran bening berselancar cantik di pipinya yang mulai menua namun belum juga keriput.


"Bu, sudahlah jangan terus menyalahkan diri Ibu sendiri. Mungkin, ini sudah jadi garis tangan Kak Endra." Melan menghibur ibu Erly.


...----------------...


Endra duduk di kursi kebesarannya. Beberapa hari ini, ia merasakan rindu yang amat dalam pada seseorang yang belum pernah bertemu dengannya setahun ini.


"Dam, keruanganku." Panggil Endra lewat interkom.


Beberapa detik berikutnya. Dami sudah ada di ruangan Endra. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanyanya sopan.


"Istirahat siang kita ambil mobil saya, besok akan dipakai untuk mengajak keluarga mengelilingi Kota."


"Siap, Pak."


Endra dan Dami menyelesaikan beberapa pekerjaan dalam satu ruangan, Dami tersenyum sendiri seperti tak berteman walau ada orang di ruangan itu. Bosnya hanya fokus pada pekerjaannya saja.


Endra dan Dami singgah sebentar disalah satu kafe kota itu untuk makan siang, mata Endra tertuju pada toko di seberangnya. Nampak sangat besar dan di kunjungi banyak orang.


"Dam, kamu tahu itu toko apa? Ramai sekali." Tanya Endra melihat ke seberang jalan.


"Itu toko roti paling terkenal di kota ini, pemiliknya wanita. Roti-rotinya enak sekali. Saya tiap akhir pekan pasti ke sana membeli roti untuk keponakan saya." Jawab Dami panjang lebar.


"Kalau begitu pulang bekerja kita singgah ke sana, saya ingin membeli roti untuk Syila."


"Iya, Pak."


Endra dan Dami menyelesaikan makan siang mereka lalu melanjutkan menuju bengkel tempat mobil Endra di servis. Mobil mereka berhenti di depan bengkel besar dan ada beberapa karyawan yang tengah bekerja di sana.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"


"Iya saya mau ambil mobil yang dua hari lalu diservis disini atas nama Dami." Jawab Dami ramah dan menunjukkan kartunya.


Karyawan itu mengambil kartu lalu masuk ke dalam memastikannya . Endra sejak tadi memperhatikan laki-laki itu yang sangat tidak asing untuknya.


"Tunggu"

__ADS_1


Karyawan itu langsung menoleh pada asal suara. Setelah mendengar seseorang menghentikan langkahnya.


"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya seperti pernah melihatmu, Apa kamu temannya, Pingka ? Aku ingat pernah melihatmu di kampungnya." Endra bertanya hati-hati.


"Sa—"


"Mobil anda sudah selesai pak Dami." Suara tegas menghentikan kalimat Karyawan itu.


" FAJAR !" Pekik Endra berbinar. Ia seakan mendapat kehidupan baru melihat Fajar berdiri kokoh di hadapannya.


"Anda mengenal saya?" Fajar berusaha menenangkan dirinya supaya tidak memberikan perhitungan pada pria di hadapannya ini.


Endra merasakan jika Fajar membentang jarak yang luas antara mereka. Rasanya sakit melihat jarak yang ada di antara mereka. Sementara, Fajar adalah satu-satunya sumber informasi tentang keberadaan Pingka saat ini.


"Fajar, dimana Pingka ? Selama ini aku mencarinya." Kata Endra dengan tatapan melunak dan penuh harap.


Fajar menghembuskan nafas lalu menyuruh Endra masuk ke ruang tamu bengkelnya. Bagaimana pun juga ia masih punya etika dalam menyambut tamu.


"Kita bicara di dalam."


Endra mengangguk. "Dam, kamu pergilah ke kantor. Nanti saya menyusul." Titahnya pada sang asisten


Dami menurut saja lalu memasuki mobil dan melaju membelah jalanan menuju kantor. Meski pun ia teramat penasaran dengan hubungan pemilik bengkel besar itu dengan Bosnya yang kurang baik.


"Jadi, apa tujuanmu ke Kota ini?"


"Jalani hidup bersama keluargamu dengan baik tanpa ada bayang - bayang Adikku, dia sudah hidup bahagia saat ini." Ucap Fajar masih dengan nada suara belum bersahabat.


Endra diam sejenak. Bahagia ? Benarkah? Apa Pingka sudah bahagia. Siapa yang berhasil mendapatkan gadis pedalaman itu ? Hati Endra sakit. Pikirannya tiba-tiba kalut.


"Maafkan aku telah menyakiti Adikmu, tapi jujur sampai saat ini aku masih mencintai Pingka. Selama ini aku mencari keberadaan kalian. Bahkan aku pernah menyusul ke kampung. Ijinkan aku bertemu dengannya."


"Sudahlah, lupakan dia ! Cintai orang yang pantas kamu cintai. Jingga sudah menerima semuanya. Jadi, kuharap jangan membuat masalah untuknya lagi." Tegas Fajar tanpa belas kasih. Meski wajah pria di hadapannya ini terlihat mengiba dan menyedihkan.


Endra tak menjawab, ia memikirkan cara lain di waktu yang berbeda untuk kembali mendekat pada Fajar.


"Maaf sepertinya aku harus kembali ke kantor. Terimakasih sudah memperbaiki mobilku." Pamit Endra.


Fajar hanya mengangguk dalam pikirannya berkecamuk. Bagaimana reaksi Pingka jika bertemu Endra di Kota itu ?


...----------------...


Waktu menunjukkan pukul empat sore, seluruh karyawan bersiap pulang begitu juga dengan Endra. Ia memutuskan untuk pulang cepat karena Ibu Erly dan Melan ada di rumahnya. Endra menyentuh bingkai foto Pingka yang baru saja di ambilnya dari dalam laci meja kerjanya. Iris matanya melihat lekat pada foto yang tersenyum manis saat di rumah sakit setahun lalu.


Dimana kamu saat ini Jibi ku?


Dami melihat foto yang dipegang Bosnya menjadi penasaran, siapa wanita di foto itu ? Sampai tak di ijinkan oleh Endra orang lain menyentuhnya.

__ADS_1


"Pak boleh saya lihat fotonya?" Tanya Dami hati-hati.


"Untuk apa?"


"Saya seperti pernah melihat wajahnya." Jawab Dami seolah berfikir.


Endra menatap tajam pada Dami. "Wajahnya tidak pasaran jadi mana mungkin kamu mengenalnya."


"Benar, Pak. Saya seperti pernah melihatnya di Kota ini." Dami berusaha meyakinkan.


Endra diam sejenak lalu memperlihatkan foto Pingka yang lain dari ponselnya. "Ini fotonya jangan terlalu lama melihatnya" Ia meletakkan ponselnya di atas meja.


Dami tersenyum rada -rada gila pikirnya, matanya memperhatikan foto itu satu persatu. "Pak, dia pemilik toko roti yang kita lihat tadi. Dia sangat cantik tapi dia dingin serta galak juga."


Endra langsung berdiri dari kursinya menatap penuh harap pada Dami jika informasi yang di dapatnya itu benar.


"Kamu yakin?" Tanya Endra semangat .


"Yakin, Pak. Tapi dia siapa ?" Tanya Dami ingin tahu.


"Istri saya" Jawab Endra berbohong. Walau sebenarnya mereka telah resmi berpisah


Dami mengangguk paham karena Ibu  Erly pernah menceritakan tentang Putranya. Ibu Erly sangat mempercayai Dami karena dia termasuk jajaran orang terpenting di Saguna Group.


"Kita pulang lebih cepat jika memang benar pemilik toko itu adalah dia maka bonusmu akan saya tambah." Ucap Endra senang dan tersenyum.


Dami sampai dibuatnya melongo, hampir satu bulan belum pernah melihat senyum dari bos barunya itu .


"Anda memiliki senyum yang menawan kenapa pelit sekali." Ucap Dami tanpa sadar.


Endra tersadar dan kembali datar lagi. "Ayo, antar aku  ke sana."


Dami mengangguk, Endra segera membereskan meja dan berkemas. Ia dan Dami langsung menuju ke toko roti milik Pingka. Di sepanjang jalan Endra selalu tersenyum membayangkan pertemuannya pada gadis pedalaman itu. Rasanya sudah tidak sabar ingin memeluk wanita itu dengan erat. Bunga-bunga di hati Endra bermekaran siap menebarkan aroma cinta pada sang pemilik hatinya itu.


...----------------...


"Pak, saya harus mengatakan ini sebelum anda terkejut." Seru Dami. Mobil berhenti sempurna di halaman toko roti.


Endra mengurungkan niatnya membuka pintu mobil. "Katakan !" ia merasa kesal karena asistennya itu lancang menghentikan langkahnya.


"Nona itu memiliki putra belum genap satu tahun dan pria yang tadi di bengkel. Siapa namanya Fe—ferdi itu yang sering mengantar jemput mereka. Kata orang-orang itu suaminya."


Endra terdiam sejenak mendengar ucapan Dami. Otaknya berusaha keras mencerna perkataan asistennya itu. Memiliki putra ? Tubuh Endra gemetar disertai detak jantung yang bertalu-talu tak karuan. Dadanya sesak mengetahui fakta itu. Jadi Pingka Jingga Biru sudah menikah ? Bunga cinta yang bermekaran di hatinya menguncup seketika. Rindu yang tadinya menggebu menguap hilang tak tahu arah hanya tersisa kehampaan.


Endra melihat seseorang yang keluar dari toko dengan menggendong bayi dan di ikuti pengasuhnya memasuki mobil. Perasaannya rasa di remas melihat sosok bayi laki-laki yang ada di gendongan mantan istrinya itu.


Mata Endra tak berkedip melihat sosok yang rindukan nya selama ini begitu cantik dan dewasa. Ingin Endra berlari memeluknya. Tapi, fakta yang baru di dengarnya ini. Menjerat sekujur tubuhnya agar terpaku di tempatnya duduk.


"Ayo kita pulang ! Syila menungguku "

__ADS_1


"Jadi, tidak jadi membeli rotinya?" Dami bertanya. Ia juga bisa melihat ada kerinduan dan kesedihan yang bercampur dalam diri Endra.


"Tidak, Ibunya bisa saja membuatkannya roti."


__ADS_2