Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Tanyakan hatimu


__ADS_3

Mereka makan malam bersama hanya Pingka yang makan dikamar. Endra terburu-buru menyelesaikan makan malamnya, makanan yang ditelannya saat ini seperti hambar tanpa rasa, walau sebenarnya masakan Bibi Halimah sangat enak.


Seperti malam sebelumnya depan televisi diramaikan anak - anak  yang ikut menonton, khususnya anak tetangga, mereka bukan tak mampu untuk membeli televisi hanya saja listrik yang tak mendukung.


Sejak tadi Endra sudah gelisah di meja makan, berharap Pingka bergabung makan malam bersama mereka dan harapan itu tidak terjadi. Ia sangat merasakan jika dirinya dan Pingka tak sedekat dulu lagi.


Ada jarak yang tercipta diantara mereka, membuat keduanya seperti baru mengenal. Pingka sengaja membatasi dirinya agar bisa menghilangkan rasa cintanya pada Endra.


"Bibi, Fajar. Boleh aku masuk ke kamar Pingka?" Endra hati-hati meminta ijin.


"Silahkan, Nak."


Pria itu meninggalkan meja makan dan melangkah sedikit ragu di depan pintu kamar lalu mengetuknya perlahan.


"Masuk." Seru Pingka dari dalam.


Endra membuka pintu perlahan lalu mengitari seluruh isi kamar Pingka.


Sungguh wanita yang sederhana sekali pikirnya.


"Pingka, boleh aku duduk?" Tanya Endra hati-hati. Entahlah ia merasa kali ini harus menjaga sikap dan kata-katanya.


"Duduklah."


Endra duduk ditepi kasur menatap lekat wajah pucat dan bola mata yang sayu ini, ingin rasanya ia memeluk dan mencium melepaskan segala kerinduannya.


"Bagaimana kondisimu?" Tanya Endra dengan raut wajah cemas. Jari-jarinya nya terlihat gelisah saling bertautan mencari kalimat pembuka yang baik.


"Seperti yang kamu lihat."


"Maaf, aku tidak ada saat itu. Pingka, aku minta maaf atas semua salahku selama ini, aku menyesal sudah memperlakukanmu tidak baik." Endra memberanikan diri meraih kedua tangan Pingka ke genggamannya.


Pingka tak menolak Endra menyentuh tangannya, matanya melihat wajah Pria yang sedang bicara padanya saat ini.


"Kenapa kamu ada disini ? Dan meminta maaf atas sesuatu yang sudah lampau, harusnya kamu menyusun hari bahagia bersama kekasihmu."


"Jangan menyebutnya jika kamu sedang bersamaku." Endra tiba-tiba  kesal.


Pingka tertawa palsu. "Kenapa?"


"Dia mengkhianati ku." Endra melepaskan tangan wanita itu.


Pingka sedikit tersentak tapi ia mampu meredam rasa keterkejutannya mendengar kabar kandasnya hubungan Endra dan Melisa. "Jadi, apa sebenarnya tujuanmu kesini?" Tanya nya berusaha meraih gelas disisi dipan.


Endra mengambilkan gelas itu lalu memberikan pada Pingka. "Aku ingin kamu kembali padaku, kita belum resmi berpisah. Ayo kita buka lembaran baru di pernikahan kita !" Kata pria ini penuh harap.


"Apa aku tidak salah dengar ? Atas dasar apa kamu memintaku kembali padamu?" Pingka mulai merasakan ngilu di lukanya lalu mengupas obat satu-persatu.

__ADS_1


"Pendengaran mu tidak salah. Aku mulai mencintaimu." Endra menatap bola mata Pingka begitu dalam.


Jantung Pingka berdegup manja, hatinya bersorak senang atas pengakuan Endra. Tapi bukan Pingka namanya jika meleleh begitu saja dengan kata-kata manis yang tak berdasar.


"Kamu yakin ? Bukan karena pelarian setelah dikhianati." Kalimat Pingka langsung menghujam hati Endra. Pria itu mematung sejenak berusaha mencerna kalimat Pingka. Tak mampu menjawab Endra memilih diam. "Tanyakan hatimu untuk siapa cinta yang kamu miliki ? Jangan memaksakan dirimu untuk menerima pernikahan yang sudah di ujung tanduk ini. Maaf aku tidak bisa ikut denganmu."


Endra tak bisa bicara lagi, dadanya sesak seakan dihantam pukulan yang amat keras. Pertama kali ia ditolak wanita. Ia pun mulai ragu apa memang ia mencintai Pingka atau hanya pelariannya saja ? Kesalahan kedua yang ia lakukan kenapa tidak memastikan hatinya terlebih dulu baru mendatangi Pingka.


"Kamu tidak perlu merasa bersalah, karena dalam masalah ini tidak ada yang salah. Istirahatlah bersama Kak Fajar dan Dimas." Pingka perlahan menurunkan tubuh dari sandarannya .


Disini aku yang bersalah karena jatuh cinta padamu dan menaruh harapan besar pada pernikahan kita


Endra keluar dari kamar Pingka dengan pikiran kosong dan tatapan hampa. Dimas dan Fajar tak bertanya mereka bisa melihat jawaban apa yang didapat Endra.


Pria itu duduk menyendiri di teras rumah, sunyi itu yang dirasakannya walau suara tawa anak-anak memenuhi ruangan tengah. Endra berpikir keras dan mulai menyaring kata-kata Pingka sehalus-halusnya.


Dirinya harus meyakini hatinya. Apakah ada cinta untuk Pingka ? Atau hanya pelarian semata karena takut kesepian. Bukankah ? Terlalu kejam setelah dikhianati lalu mengharap Pingka kembali ke sisinya. Sementara dirinya sendiri yang tak ingin wanita itu menjadi istrinya.


Endra berperang dengan hati dan pikirannya sendiri, beberapa kali namanya dipanggil Dimas tak ia dengarkan. Endra bangun dari pikiran yang berkecamuk di otaknya saat bahunya disentuh Dimas.


"Bagaimana?" Dimas ikut duduk di teras rumah.


"Ia menolak."


"Berikan waktu untuk kamu dan dia, kalian sama-sama harus berpikir ulang. Untuk saat ini hati dan pikiran kalian masih dibalut emosi." Tutur Dimas.


"Bagus, setidaknya kalian tidak mengambil keputusan yang tergesa-gesa." Balas Dimas.


"Bagaimana pelaku penusukan nya?"


"Sudah di penjara, temannya sendiri.  Rania mantan istri Hendri"


Endra merasa marah bercampur kecewa. Kenapa harus orang dari masa lalu Pingka yang datang menyakitinya dan kecewa kenapa bukan dia yang menemukan pelakunya.


"Besok aku kembali ke Kota, masih banyak pekerjaan yang menungguku." Kata Dimas menatap kejauhan yang gelap.


"Aku juga, terimakasih sudah membantu Pingka saat itu." Ucap Endra tulus.


Tak lama bergabunglah Fajar setelah cukup lama berbincang mereka memutuskan untuk beristirahat , karena anak-anak sudah pulang semua.


...----------------...


Pria - pria tampan itu sudah bangun sejak pagi buta, mereka duduk di teras rumah sambil menikmati teh hangat sembari menunggu matahari terbit memberi cahayanya.


Sebelum sarapan Dimas pergi ke rumah Salsa untuk berpamitan dan berjanji akan kembali ke Desa itu lagi


Endra sekali lagi membujuk Pingka, berharap pikirannya berubah dan mau menerimanya untuk ikut kembali ke Kota.

__ADS_1


"Pingka, ayo ikutlah denganku ! Kita susun lagi rumah tangga yang hampir hancur ini." Endra duduk di tepi kasur.


Pingka hanya diam dan memandang luar jendela belum berniat menjawab Endra. Tatapan sendu dan penuh harap dari pria ini membuat Pingka bersedih, terlalu kejamkah dirinya ? Tapi tidak, baru beberapa hari lalu dengan jelas pria ini mengatakan tidak bisa menerima dan mencintai Pingka sebagai istrinya. Lalu, kenapa dalam hitungan hari dengan cepat Endra mengatakan mencintainya ? Berarti ini tak lain hanyalah pelariannya semata. Atau rasa bersalah pada Ibunya. Itu lah yang tercerna dalam otak dan hati Pingka.


"Pingka, beri aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya." Endra meraih kedua tangan Pingka.


"Pak Endra keputusanku sudah bulat, untuk saat ini aku belum bisa kembali padamu, sebelum kamu benar - benar memastikan hatimu untuk siapa?" Pingka menarik kedua tangannya dari tangan Endra.


Endra menunduk kecewa tanpa bisa berbuat apa -apa. Menyesal sudah sejak kemarin tapi apa daya nasi sudah jadi bubur, ia tak bisa memutar waktu kembali.


"Tatalah hatimu yang sedang terluka, begitu juga aku akan menata kehidupanku kembali. Pulanglah bersama Dimas, ribuan karyawan mu sedang menanti di sana,  jangan lemah hanya masalah ini. Aku yakin kamu bisa menemukan kebahagiaanmu di sana, jangan lupa jaga kesehatanmu." Pingka berusaha tersenyum bercampur lelehan air matanya.


Endra berusaha menahan air matanya yang sudah menganak sungai, beberapa kali ia menengadah ke atas agar air mata itu tidak terjatuh, Ia merasa terusik dan kesal Pingka mengatakan itu semua.


"Aku pulang dan aku berjanji akan menjemputmu kembali, Aku Endra Saguna tidak akan melepaskanmu begitu saja. Apa yang sudah menjadi milikku akan tetap jadi milikku ! Walau aku sudah pernah mencampakkannya akan kuraih lagi meski itu akan menempuh berbagai cara." Ucap Endra datar dengan sorot mata yang tajam.


Pingka juga menatap dua bola mata Endra dingin dan datar. "Jangan pernah berjanji karena aku benci sebuah perjanjian."


Endra sebenarnya rindu tatapan hangat dan senyum manis seorang Pingka. Ia memutuskan memberi ruang dan waktu untuk Pingka serta menenangkan dirinya sejenak.


Endra mendekat pada Bibi Halimah untuk berpamitan dan meminta maaf begitu juga dengan Fajar, mereka saling merangkul bagaimana pun urusan hati tak ada yang bisa ikut campur selain pemilik hati itu sendiri. Fajar juga masih memakai akal sehatnya tidak selamanya kekerasan bisa menyelesaikan suatu masalah.


Pingka mengintip dari jendela kamarnya menyaksikan kepergian Endra dan Dimas menaiki mobil milik Fajar.


Dimas dan Endra kembali ke Kota diantar oleh Arif dan Ferdi. Endra lebih banyak diam dan menatap kosong keluar jendela. Berbeda dengan Dimas yang selalu tersenyum.


Pingka menutup gorden lalu duduk membuka ponselnya mengusap layar ponsel yang terdapat foto Endra.


Kutempatkan cinta di hatimu...


Kutanamkan butir-butir kasih sayangku untukmu...


Aku terluka...


Aku lelah menyayangimu...


Aku letih mencintaimu...


Pupus harapanku mendambakanmu ...


Terkikis anganku untuk milikimu...


Karena kupatah hati dalam tangisku..


...----------------...


Terimakasih sudah membaca 🥰 jangan lupa kasih 👍⭐ dan Vote nya terimakasih 😍

__ADS_1


__ADS_2