Pingka Gadis Pedalaman

Pingka Gadis Pedalaman
Tersiksa Rindu


__ADS_3

Lima hari sudah menikmati cuti di kampung halamannya, Pingka benar - benar berbaur dengan masyarakat Desanya tanpa pandang bulu, kepulangannya di sana juga sudah sampai ke telinga sepasang suami istri yang berasal dari serpihan masa lalu Pingka. Ada perasaan geram dan senang pasangan itu mendengar kabar kepulangan gadis jelita ini.


Dendam membara masih mendidih di darah Rania, sahabat yang telah mengkhianati wanita menganggapnya Kakak itu. Rencana perceraian yang sempat panas di kampung itu kini kembali berkoar lagi. Baru lima hari merasakan ketenangan, Pingka mendapatkan hujatan ibu - ibu yang tak suka padanya. Dengan opini retaknya rumah tangga Rania dan Hendri karena kehadirannya.


Seperti biasa Pingka hanya menganggapnya angin lewat, karena dia sudah fokus pada masa depannya yang tertinggal di Kota.  Wanita ini meyakinkan dirinya melalui sikap manis laki - laki  yang disebutnya sebagai suami beberapa minggu belakangan ini. Bolehkah ? Jika dirinya beranggapan Endra sudah berubah.


Pingka di ajak Ferdy dan yang lainnya berkunjung ke rumah guru yang mengajarkan mereka ilmu bela diri. Setelah temu rindu, Pingka mengajak yang lainnya bermain di sungai. Sungai itu sekarang menjelma menjadi danau kecil yang dikerok lagi oleh excavator.


"Sekarang lampu akan masuk Desa kita. Lalu... Kenapa disini tidak dibuat tempat bersantai?"


"Apa ada orang yang mau berkunjung kesini?" Tanya Arif mengalihkan pandangannya pada Pingka.


"Pasti ada, Desa kita dekat dengan perusahaan. Mereka bekerja seharian pasti jenuh rasanya, kalau ada tempat refreshing dekat sini pasti mereka akan datang untuk melepas penat dan jenuh."


"Kamu benar, aku faham maksudmu. Lalu... Dari mana kita memulainya ?" Seru Ferdi berkacak pinggang menghadap sungai.


"Ijin dulu pada Pak Kades kalau sudah mendapat ijin lalu adakan rapat untuk anggota Karang Taruna. Jika semua setuju, mari kita buat sama - sama. Aku punya gambaran yang bagus dibuat apa saja disini. Usahakan kesepakatan yang sempurna dan keamanannya harus disiapkan."


Ferdi dan yang lainnya mengangguk setuju. Mereka memutuskan meninggalkan tempat itu. Dipertengahan jalan, Rania menghadang dengan tatapan penuh kebencian pada Pingka.


"Apa yang membuat wanita penggoda suami orang ini kembali ke kampung ?! Apa mungkin di Kota dia sudah dibuang?" Sarkasme Ravita tersenyum sinis.


"Rania, sudahlah ! Jangan cari masalah." Seru Ferdi jengah.


Pingka memilih diam tak ingin membalas kata - kata Rania, dia melanjutkan langkahnya. Tapi lengannya ditarik kasar oleh Rania.


"Tunggu ! Jangan mimpi kamu bisa merebut Hendri dariku !" Kata Rania dengan nada sedikit tinggi.


Pingka tersenyum lalu melangkah lagi. Dalam hati kecilnya masih menyayangi Rania sebagai sahabatnya.


"Rania ! Apa yang kamu inginkan lagi dari Pingka ? Bukankah ? Hendri sudah kamu dapatkan !" Tutur Ferdi dengan kesal penuh penekanan.


"Sudahlah, Fer. Jangan dipermasalahkan dan tenang saja aku hanya sebentar disini." Balas Pingka dengan nada lembut.


Berharap dengan mengalah, amarah Rania bisa mereda tapi ternyata Pingka salah. Rania semakin menjadi saat teman - temannya membela Pingka. Rania ingin menjambak rambut wanita itu tapi dengan sigap Hendri datang menenangkan Rania.


"Maafkan dia Pingka." Ucap Hendri lembut dengan sorot mata teduh. Pingka melihat sekilas lalu meninggalkan tempat itu bersama yang lainnya.


"Pingka, ada baiknya kamu memaafkan Hendri. Agar dia merasa tak terlalu bersalah, anggap saja dia jodoh orang lain yang dititip padamu saat itu." Ucap Arif sambil melihat ke arah Pingka.


"Iya, Arif benar Pingka. Kamu harus berdamai dengan masa lalu." Balas Salsa menyentuh pundak Pingka.


"Baiklah akan ku usahakan."


Mereka sampai di halaman rumah Bibi Halimah. Ponsel Pingka berdering, digesernya tombol ponsel itu untuk menjawab. Lama Pingka mengobrol dengan Dimas ditelpon sambil tertawa.


...----------------...


Endra sengaja menyibukkan dirinya agar tidak terlalu memikirkan Pingka yang jauh di sana. Hampir tiap hari dia memarahi karyawan yang melakukan kesalahan, hal itu tak luput dari pengawasan Sandi.


"Keruangan ku." Endra memanggil Sandi melalui saluran interkom di mejanya.


Sandi langsung berdiri menuju ruangan Bosnya lalu mengetuk pintu ruangan CEO.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Sandi bertanya sambil mendaratkan tubuhnya di sofa.


"Kapan cuti wanita itu habis?" Endra bertanya sambil membolak-balikkan dokumen di tangannya.

__ADS_1


"Sepertinya masih lama, cutinya dua minggu." Jawab Sandi sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Lama sekali." Desis Endra menyandarkan tubuh di kursi kebesarannya.


"Kenapa ? Bapak merindukannya." Sandi memperhatikan mimik wajah Endra.


"Siapa dia ? Yang harus aku rindukan. Walau pun aku rindu itu hanyalah untuk Melisa." Jawab Endra datar.


"Lalu kenapa menanyakannya?" Sandi masih mengamati wajah Bos sekaligus sahabatnya itu.


"Dia meninggalkan setumpuk pekerjaan disini, perusahaan menggajinya bukan untuk bermain-main !" Jawab Endra dengan nada sedikit kesal.


Sandi pergi ke pantri membuatkan kopi untuk mereka berdua. Ia terkekeh melihat Endra mempertahankan pendiriannya yang mulai goyah. Sandi bisa melihat bagaimana Endra uring-uringan tak karuan beberapa hari ini.


"Minum kopinya, kamu jangan egois, En ! Wajar dia menikmati hari liburnya sama seperti karyawan lain yang mencari gaji untuk makan. Mereka juga butuh waktu tenang." Kata Sandi duduk menyeruput kopinya.


Endra terdiam lalu ikut meminum kopinya, dia melihat kedalam gelas kopinya lalu melirik pada Sandi yang santai menikmati kopinya.


"Kenapa rasanya berbeda?" Endra masih melihat ke dalam gelas kopinya. Menggoyang-goyang gelasnya.


"Tidak ada yang berbeda takaran kopi dan gulanya sama denganku." Sandi mengalihkan pandangannya pada Endra.


Kopi buatan Pingka lebih enak dari ini


Endra kembali meminum lagi, rasanya tetap tidak berubah diletakkannya gelas itu di atas meja. Sandi hanya menatap penuh arti lalu permisi ingin meninggalkan Endra.


"Menginap di rumahku."


Sandi berbalik dan berkata. "Nikmatilah kesepian mu sendiri."


"Pada siapa sebenarnya rindu ini?" Gumam Endra sambil melihat foto antara Melisa dan Pingka.


...----------------...


Malam hari usai makan malam, Pingka, Fajar dan Bibi Halimah berkumpul di depan televisi. Mereka benar-benar menikmati kebersamaan langka itu.


"Ibu, Aku ingin berhenti dari perusahaan. Aku ingin membuka usaha sendiri dengan uang pesangon ku nanti." Ucap Fajar dengan raut wajah serius.


"Terserah padamu, Nak. Ibu akan mendukungmu selalu dan Pingka bagaimana rencana mu selanjutnya?"


"Aku bingung, Bi. Rumah tangga seperti apa yang aku jalani saat ini ? Sepertinya aku akan kembali ke kos yang dulu, jika terus tinggal bersama orang yang aku anggap suami walau kami tidak satu rumah membuatku menaruh harapan besar padanya. Aku harus memikirkan matang - matang langkah yang harus kuambil." Pingka merebahkan kepalanya di pangkuan Bibi Halimah.


"Semua keputusan ada padamu, melihat dari sikapnya yang kamu ceritakan. Sepertinya dia mulai belajar menerimamu." Bibi Halimah membelai sayang rambut panjang Pingka Jingga Biru.


Nama Pingka dipanggil-panggil dari luar. Di sana  Ferdi, Arif dan Salsa sudah menunggunya. Mereka selalu berkumpul di depan rumah bibi Halimah sambil bernyanyi dan bermain gitar, mereka mencoba menggambar apa saja yang dibuat esok hari untuk desa mereka.


Ponsel Pingka berdering dibacanya nama Sandi di sana. Ia cukup bingung kenapa para laki-laki itu sering menelponnya.


"Halo Pak Sandi." Jawab Pingka membawa ponselnya sedikit jauh dari teras.


"Halo Pingka apa kabarmu ?"


"Baik Pak Sandi, bagaimana di kantor ada kendala?" Pingka seolah mengorek informasi apa saja yang terjadi saat ia cuti.


"Semua aman, tapi tidak dengan hati seseorang disini "


"Maksud Pak Sandi?" Pingka bertanya tak mengerti.

__ADS_1


"Ehm aku merindukanmu Pingka cepatlah kembali."


"Aku juga merindukan teman-teman kantor yang lainnya." Jawab  Pingka sedikit kaku.


"Baiklah kamu sedang apa sekarang ?"


"Aku sedang berkumpul bersama teman-temanku." Pingka menatap satu persatu temannya.


"Kalau begitu Aku tutup telponnya dulu, selamat malam."


Sandi dipaksa Endra untuk menginap karena dia beralasan ingin melanjutkan pekerjaan yang tertunda, sebenarnya Endra merasa kesepian semenjak ditinggal gadis Dusun itu pulang. Endra uring-uringan sendiri, sering ia berhalusinasi melihat Pingka dimana-mana.


...----------------...


Pingka meraih gitar lalu menyanyikan lagu syarat akan makna, lagu yang mewakili perasaannya saat ini.


Menyelesaikan satu lagu, Pingka dan teman-temannya menyantap jagung rebus hasil panen dari kebun Nenek Salsa. Tengah berbincang datanglah seorang laki - laki menghampiri mereka.


"Pingka." Sapa Laki - laki itu berdiri menatap penuh rindu pada wanita yang pernah mengisi hari-harinya.


"Hendri."


"Boleh aku bicara padamu sebentar." Tutur Hendri penuh harap.


Pingka menatap teman-temannya satu persatu termasuk juga Fajar. Setelah mendapat anggukan persetujuan, Pingka menyetujui ajakan Hendri dengan syarat masih dilingkungan rumah Bibi Halimah.


Dari teras depan rumah, Fajar selalu mengawasi Hendri. Sebenarnya dia masih menyimpan amarah untuk laki-laki itu. Tapi demi damai dengan masa lalu dia menyetujui Pingka bicara pada pria itu.


"Pingka, aku minta maaf atas kesalahanku selama ini. Aku tidak sempat menjelaskan apapun padamu. Kenapa aku bisa menikahi Rania? Sebelum pernikahan itu terjadi dia mengusikku dengan cerita palsunya, dia memberitahuku. Kalau... Kamu selingkuh di kota. Dia memberikanku foto saat kamu bersama pria lain. Aku emosi dan melampiaskannya pada alkohol, kesempatan itu lah yang dimanfaatkan Rania. Kami melakukan hal yang seharusnya tidak kami lakukan. Demi mempertanggung jawabkan perbuatanku. Aku harus menikahinya, aku sangat membencimu saat itu. Setelah aku tahu kebenarannya, aku menyesal ... Rania sengaja meminta temannya mengambil fotomu saat bersama pria itu. Maafkan aku Pingka." Kata Hendri menatap sendu.


Pingka tersenyum tipis walau dalam hatinya terkejut mendengar cerita mantan tunangannya itu. "Aku memaafkan mu, aku juga bangga kamu bukan laki - laki pengecut lari dari tanggung jawab. Sekarang, kamu memiliki putri belajarlah mencintai Ibunya dengan ikhlas dan melupakan kenangan antara kita. Jangan bercerai darinya."


"Terimakasih atas semuanya, aku akan bela—"


"Ternyata kamu masih saja menggoda suamiku, HAH !" Teriak Rania.


Ucapan Hendri terputus karena Rania dengan kasar menarik rambut Pingka. "Lepaskan dia, Ran ! Aku yang datang kesini sendiri." Kata Hendri berusaha melepaskan rambut Pingka dari genggaman istrinya.


Sebenarnya Pingka bisa saja melumpuhkan Rania. Tapi enggan dilakukannya. Pingka masih punya hati nurani pada wanita lemah itu.


"Lepaskan Adikku." Suara Fajar menajam dan datar. Tatapan matanya galak seakan mencabik wanita di hadapannya ini.


Rania tertawa tanpa melepaskan rambut Pingka. "Jadi, kalian masih membela wanita hina ini ?! Lihatlah betapa mirisnya kehidupannya sampai dia menggoda suami orang lain !" Kata wanita itu dengan nada sedikit tinggi.


"Aku yang datang kesini ingin meminta maaf padanya." Hendri masih berusaha melepaskan cengkraman Rania.


Pingka sudah tak mampu menahan sakit dia berdiri dan menepis tangan Rania dengan begitu kasar sampai wanita itu meringis kesakitan.


"Pergi ! Atau... Akan kulakukan lebih dari itu !" Bentak Pingka.


Fajar dan yang lainnya terkejut saat melihat aura dingin dan datar dari wajah Pingka.


Hendri segera menarik tangan Rania menjauh dari sana saat Fajar memerintahkan untuk cepat pergi. Dia paham betul jika Pingka sudah menampakkan aura semacam itu berarti emosinya sampai pada puncaknya. Sulit menghentikannya, dia akan merasa puas jika lawannya sudah lemah tak berdaya.


Rania berhenti melangkah lalu kembali berbalik melihat Pingka yang menatapnya dengan tajam.


Semuanya belum berakhir, kamu sudah menang dariku sejak kecil . Kali ini akan aku buat semua sesuai kemauanku

__ADS_1


__ADS_2